RICH MAN

RICH MAN
PERASAAN YANG BERUBAH



Marwa sedang duduk di gazebo belakang rumah, sepertinya dia sedang menghubungi suaminya. Akan tetapi tidak ada jawaban dari Rey. Perempuan paruh baya itu mendekati anaknya dan duduk di samping Marwa.


“Pulang, kalau memang kamu kangen sama suami kamu, lebih baik kamu pulang sayang! Kasihan juga Rey sendirian di rumah. Sudah seminggu lebih kamu di sini, Mama enggak apa-apa kok. Lagian ada asisten, dan juga ada Papa yang bakalan ngurusin Mama,”


“Tapi, Ma,”


“Marwa, kadang apa yang Rey perintah itu kamu nggak ngerti. Dia mau ngajak kamu pulang, tapi dia malu sama Mama dan Papa. Apa kamu nggak ngerti juga, selama ini dia diami kamu, nggak pernah bisa dihubungi. Bahkan setiap kali kamu chat, dia nggak pernah balas, kamu nggak peka sayang,”


Dia memang khawatir mengenai suaminya. Hingga dia menghubungi mama mertuanya mengenai Rey yang tidak bisa dihubungi. Bahkan Marwa mengatakan kepada mama mertuanya bahwa dia akan pulang. Barangkali suaminya nanti pulang ke rumah, karena sudah dua hari ini dia berada di rumah mamanya. Itulah yang dikatakan oleh mamanya. Dan Rey baik-baik saja selama berada di sana. Tidak melakukan hal yang aneh-aneh.


Ketika mamanya berkata dia boleh pulang ke rumah suaminya. Dia memang bahagia, akan tetapi berat juga untuk meninggalkan mamanya sendirian di sana. Mau tidak mau karena dia harus mengikuti perintah suaminya juga. Maka dari itu dia harus pulang, seperti yang dikatakan oleh mamanya, bahwasanya barangkali Rey malu untuk mengajaknya pulang.


Sore itu juga Marwa menyanggupi perintah mamanya untuk pulang. Karena dia harus mengurus Rey di rumah. Semua keperluan suaminya beberapa hari ini di urus oleh asisten mereka. Marwa pun langsung mengajak mamanya masuk ke dalam kamar untuk menyiapkan semua barang bawaan yang akan dibawa pulang.


“Ma, aku pulang pakai taksi ya?” izinnya kepada mamanya. Akan tetapi mamanya menggeleng pelan. Dia tidak mau jika anaknya itu pulang dengan sendirinya.


“Nggak bisa sayang. Nanti Papa bakalan nganterin kamu kok. Jadi jangan pulang sendirian, karena Mama nggak bakalan pernah ngerasa tenang kalau kamu sampai pulang sendirian, jadi tunggu Papa bentar lagi pulang,”


Sambil menunggu papanya pulang, Marwa melipat beberapa pakaiannya dan dibiarkan di rumah mamanya. Karena tidak mungkin baginya membawa semua pakaiannya.


Tiba-tiba papanya pun mengucapkan salam dan Marwa langsung membawa barang-barangnya keluar menemui papanya. “Sudah siap pulangnya sayang?” perempuan itu mengangguk pelan.


“Mama kapan telepon, Papa?”


“Bukan Mama yang telepon Papa. Tapi karena kamu sepertinya beberapa hari terakhir memang nggak fokus di sini. Jadi ini semua rencana Papa kamu,” ucap Mamanya. Dia langsung memeluk papanya. Dia begitu merindukan papanya yang dia temui pagi dan sore sampai malam hari. Karena kesibukan papanya di kantor, Marwa terkadang ingin bercengkaram lama dengan papanya. Akan tetapi dia mengerti dengan semua itu, kesibukannya beda tipis dengan Rey.


Perempuan itu langsung mendekati mamanya dan mencium mamanya. Dia rindu, karena jarang sekali dia bisa tinggal dalam jangka waktu lama seperti sekarang ini. Suaminya yang sibuk bekerja tidak mungkin dia tinggalkan dihari biasanya.


“Jaga diri baik-baik. Jaga kandungan kamu, makan yang banyak seperti kamu makan di sini. Jangan sampai nggak makan, sekarang yang makan itu dua orang. Ingat pesan suami, jangan pernah ngelawan. Kalau suami kamu marah, diam dan tunggu sampai dia berhenti ngeluarin unek-uneknya, kalau keadaannya sudah baik. Baru kamu boleh ngomong, tapi jangan dengan emosi, karena kadang emosi itu hanya untuk memberi makan ego yang di mana kita enggak pernah tahu bahwa pria itu bisa bosan karena sifat keras kepala perempuan. Jadi Mama nggak mau kamu sampai ngelawan sama suami kamu, tunggu keadaannya tenang baru ngomong baik-baik. Semisal Rey marah nanti kalau kamu pulang, ngomong baik-baik. Jangan dilawan, dia juga capek kerja,”


Marwa menganggukkan kepalanya mencerna setiap kata apa yang dipesan oleh mamanya. Papanya membantunya membawa barang-barang itu. Sebelum berpisah, dia sampai menangis karena begitu merindukan mamanya. Apalagi keadaan mamanya yang belum sembuh total harus dia tinggalkan karena suaminya adalah orang yang bertanggung jawab atas dirinya saat ini.


Sampai di dalam mobil, dia menyeka air matanya. Papanya pun membantunya untuk menenangkan. Di sana dia juga mendapatkan pesan yang begitu baik dari papanya.


Beberapa menit mereka di perjalanan. Mereka tiba di rumahnya, akan tetapi sebelum keluar papanya menahan. “Marwa, ini ada rezeki buat kamu,” papanya memberikan kartu debit dan Marwa mengangat sebelah alisnya.


“Kenapa ngasih aku, Pa?”


“Karena Papa dengar, kalau Rey baru saja membatalkan kontrak. Itu pasti uangnya banyak yang keluar karena ganti rugi,”


“Pa, kalau untuk belanja sehari-hari Marwa ada, kok,”


“Bukan itu. Tapi ini buat tabungan kamu. Anggap saja ini tabungan untuk kamu dan calon buah hati kamu. Jangan ditolak, siapa lagi yang mau Papa sama Mama kasih kalau bukan kamu?”


“Mama tahu soal ini?”


“Mama tahu, bahkan Mama dari dulu pengin ngasih ini untuk kamu. Ingat kalau kamu itu anak tunggal, Mama sama Papa punya kamu saja, Nak. Jadi berat banget rasanya ngrelain kamu waktu itu, tapi karena sekarang kamu sudah ada yang tanggung jawabin, jadi kamu lebih baik simpan ini. Siapa tahu kamu butuh, simpan yang baik,”


“Pa, jumlahnya berapa?”


“Udah nggak usah ditanyain berapa nominalnya. Yang penting kamu simpan. Ini bakalan berarti untuk kamu nantinya. Kalau kurang, jangan sungkan minta sama Papa!”


Marwa memeluk papanya, “Makasih ya, Pa,”


“Jaga calon cucu Papa baik-baik. Kamu udah lama nggak periksa nih pasti? Kamu terlalu banyak begadang nungguin Mama di rumah. Besok pergi ke dokter, cek kandungan kamu,”


“Papa nggak mampir?”


“Papa ada urusan penting banget, karena Papa banyak urusan. Maaf ya karena nggak bisa mampir ke rumah anak Papa satu-satunya ini,”


“Nggak apa-apa, Pa. semoga urusannya lancar. Aku doain Pa semoga nggak ada masalah lagi sama Mama, semoga benar-benar tetap sayang sama Mama sekarang. Jaga Mama baik-baik ya, Pa!”


“Pastinya, kamu juga jaga diri di sini. Nggak ada harapan lain selain lihat kamu tersenyum bahagia karena suami kamu dan calon buah hati kamu,”


Dia pun bersalaman dengan papanya kemudia keluar dari mobil papanya.


Setelah merapikan pakaiannya, Marwa keluar dari dalam kamarnya dan melihat beberapa bahan masakan yang ada di kulkas, yang dipastikan bahwa asistennya sudah belanja itu semua. Dia pun berinisiatif memasak untuk suaminya.


“Nyonya pulang? Ibu sehat?” tanya bibi yang baru saja selesai mengepel di ruang tamu, Marwa menyapa akan tetapi bibi sedang menggunakan earphone hingga tidak mendengar panggilan Marwa.


“Seperti biasanya, nggak ada yang berubah dari tuan kok, Nyonya,”


“Memangnya dia itu manusia yang bisa berubah jadi robot kayak di film-film itu, Bi?” tanya Marwa tersenyum dengan bibi. Dia pun membuka pintu kulkas yang satunya dan melihat box makanan yang masih dengan posisi semula seperti beberapa hari lalu.


“Mas Rey nggak makan di rumah, Bi?”


“Tuan mana pernah makan di rumah, Nyonya,”


Marwa berusaha mengerti dengan hal itu. Dia pun tidak masalah dengan makanan yang tidak dimakan oleh Rey. Karena dia tahu bahwa suaminya selama dua hari berada di rumah orang tuanya.


Setelah selesai, bibi berpamitan pulang karena semua pekerjaan telah selesai dikerjakan. Marwa pun mengizinkannya pulang.


Dia memasak untuk suaminya, sebagai sambutan untuk suaminya nanti.


Beberapa jam kemudian berlalu begitu saja. Jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Dia berusaha menghubungi Rey, akan tetapi pria itu tetap saja tidak mau menjawab teleponnya.


Hingga pukul setengah satu, suara bel rumah terdengar. Dia pun terbangun dari tempat tidur, Marwa tidur di sofa menunggu suaminya pulang bekerja. Dengan senyum semringah beberapa hari tidak bertemu dengan suaminya, dia pun langsung membuka pintu dan menemukan suaminya yang baru saja pulang bekerja.


Marwa mengambil tas yang ditenteng oleh Rey. Kemudian pria itu duduk di ruang tamu, “Mas, kamu sudah makan? Aku udah masakin makanan kesukaan ka-“


“Sudah makan kok. Kamu masih ingat untuk pulang? Ku pikir kamu bakalan tinggal di sana selamanya,”


Marwa tercengang mendengar ucapan suaminya barusan. “Kenapa kamu bilang begitu, Mas?”


“Aku siapin ini itu sendirian, Marwa,”


“Aku di sana atas perintah kamu, Mas,”


“Jadi kamu nggak peka? Aku begitu karena aku segan sama orang tua kamu. Kalau aku ajak kamu pulang yang ada Mama sama Papa kamu mikir kalau aku itu kekang kamu karena bertemu sama orang tuanya,”


“Aku di sana juga karena perintah kamu, Mas. Kalau kamu sedikit saja bilang pulang dan singgung-singgung tentang pulang. Aku bakalan pulang,”


“Harusnya kamu ngerti tahu!” ucap Rey membentaknya. Selama ini Rey tidak pernah membentaknya sekalipun.


Dia memang tidak peka dengan apa yang dikataka oleh suaminya. Benar apa yang dikatakan oleh mamanya bahwa Rey ingin dia pulang. Akan tetapi pria itu malu untuk sekadar mengajaknya pulang.


“Maaf? Terserah kamulah, mau pulang atau nggak,”


“Ayo makan, Mas. Kamu pasti capek, kan? Aku udah sediain semuanya,” ajaknya ingin meredakan emosi Rey.


“Makan? Aku bilang kalau aku sudah makan, kamu makan aja sendirian,”


“Aku dari tadi nungguin kamu biar makan bareng, Mas,”


“Aku capek baru pulang kerja kamu paksa makan. Makanya belajar cari duit biar ngerti gimana capeknya nyari duit itu kayak gimana. Nggak minta melulu dari suami,” Marwa yang baru saja membuka sepatu suaminya langsung menyangga tubuhnya dan bangun dari tempat duduknya. Dengan susah payah dia berusaha menahan air matanya supaya tidak jatuh. “Kamu mau nangis? Mau ngadu sama orang tua kamu?” akan tetapi apa pun yang dikatakan oleh Rey. Sama sekali dia tidak menanggapi itu. Dia menghindari Rey agar emosi pria itu tidak semakin meninggi karena kehamilannya harus dijaga. Dia juga harus menjaga ucapannya.


Dibelakang, Marwa mengelus dadanya tanpa disengaja air matanya jatuh begitu saja. Dia tidak pernah dibentak, apalagi ketika Rey menyinggung soal pekerjaan. Memang selama ini Rey adalah orang yang selalu menafkahinya. Akan tetapi tidak seperti itu Rey menjatuhkan dirinya.


Marwa berusaha untuk menyeka air matanya dan dia langsung masuk ke kamar tanpa membereskan makanan yang ada di meja makan. Ia berusaha memejamkan matanya, akan tetapi rasa sakitnya tidak bisa hilang begitu saja karena ucapan suaminya seolah masuk begitu dalam jiwa.


Rey bangun kemudian melihat ke arah jam dinding setelah mendengar suara sendok jatuh. Baru saja dia keluar, di sana ada istrinya yang tengah mencuci piring sisa makanan tadi. Dia melihat ke arah jam yang menunjukkan pukul tiga dini hari. Dia pun melanjutkan tidurnya setelah melihat apa yang terjadi.


Ketika itu juga, Rey bangun karena merasa tidak tenang. Baru saja dia membuka mata tanpa bergerak, suara isakan tangis istrinya terdengar yang begitu halus saat sedang melakukan sholat disepertiga malamnya. Rutinitas yang tidak pernah ditinggalkan oleh Marwa adalah sholat malamnya.


“Cengeng,” ucap Rey kemudian menutup telinganya dengan bantal.


 


 


Entah apa yang ada di dalam pikirannya hingga perasaan terhadap istrinya memudar begitu saja. Rey pun tidak tahu lagi harus berkata apa, mungkin suatu karma baginya karena pernah mencampakkan Alin waktu itu. Kini, justru perasaannya jauh lebih besari kepada Alin dibandingkan istrinya sendiri.