
Di salah satu kafe tidak jauh dari kantor Reynand. Rey, Fendi dan juga Leo telah memiliki janji untuk bertemu sekadar makan siang bersama.
Di kafe paling pojok, Fendi dan juga Leo datang terlebih dahulu, sementara Rey meminta untuk ditunggu karena masih dalam perjalanan.
"Gue kok enggak sabar gitu dengar kabar si Rey tahu kalau yang dia nikahi itu si Bintang,"
"Gue rasa kalau dia tahu lebih cepat, itu kayaknya bakalan buat dia kecewa deh, yang gue tahu si Rey itu enggak maksa gitu kan ya untuk Marwa buka cadarnya,"
"Walaupun gitu, mereka kan satu kamar, mana mungkin sih Rey enggak tahu kalau itu Bintang," tukas Fendi.
Leo yang di sana asyik berdebat dengan Fendi mengenai Rey dan juga Marwa. "Ya kita lihat aja nanti gimana ekspresinya. Kalau dia senyum-senyum gitu, ya sudah dipastikan sudah tahu," jawab Leo.
"Gue yakin--"
"Rey datang," jawab Leo memotong pembicaraan Fendi. Mereka berdua pun langsung membahas hal lain. Melihat ekspresi Reynand yang berbeda dari biasanya. Keduanya saling lempar tatap.
Rey di sana justru mengingat kejadian tadi pagi yang di mana dibuat senyum-senyum sendiri oleh tingkah istrinya.
"Lo kenapa Rey?"
Rey tersadar karena ucapan Fendi. "Eh, sorry,"
"Pengantin baru emang gitu ya Leo. Kalau udah dapat jatah ya gitu,"
"Jatah apaan?"
"Ya itulah pokoknya,"
Rey memutar bola matanya. Dia tidak ingin menceritakan perihal rumah tangganya kepada orang lain, biarlah dia dan Marwa yang menjalani sebuah rahasia yang di mana dia bahkan pisah ranjang dengan istrinya.
"Kalian tuh ya, ngomongin hal yang aneh-aneh. Gimana Fendi lo setelah nikah? Kamu juga Leo? Gimana keadaan Amanda?"
"Gue sama Jenny ya nikmati masa-masa pengantin baru gue tentunya,"
Fendi sengaja menceritakan hal itu untuk memancing Rey menceritakan tentang rumah tangganya bersama dengan Marwa yang sepertinya disembunyikan dengan begitu apik.
Rey mendengar suara notifikasi ponselnya dan merogok sakunya lalu membuka pesan masuk dari istrinya. "Jangan lupa makan, Mas!" Rey tersenyum.
Kedua orang yang ada didepannya mengangkat alis merasa heran dengan sikap aneh Reynand yang awalnya selalu saja datar, tetapi kini seperti orang gila yang membalas pesan dengan senyum-senyum sendiri.
Pada awalnya dia berpikir bahwa pernikahannya akan memburuk karena mereka tidak saling mengenal satu sama lain, tetapi sikap mereka berdua yang sama-sama berusaha untuk menjadi hangat barangkali itu yang membuat mereka menjadi pasangan yang berusaha saling menerima satu sama lain.
Semua itu pasti ada perbedaan. Baik Rey maupun Marwa, mereka berdua memiliki perbedaan yang pelan-pelan sudah mulai terungkap.
Rey pun menyadari bahwa restoran tempat mereka makan siang kali ini adalah tempat di mana dia menghabiskan waktu bersama Bintang beberapa tahun yang lalu ketika membantu pedagang yang waktu itu anaknya sedang kelaparan.
Leo dan Fendi saling tatap satu sama lain merasa ada yang aneh dari sikap Rey yang tiba-tiba ingin pindah.
"Aku akan berusaha untuk hindari semua masa lalu aku untuk lupain kamu, Bintang. Tempat di mana kita pernah menghabiskan waktu berdua, canda tawa yang dulu pernah kita lewati dulu," ucapnya dalam hati. Sebagai bentuk menghargai istrinya, Rey akan berusaha untuk meninggalkan hal-hal yang lalu. Kelak, dia juga akan menghilangkan barang-barang yang diberikan oleh Bintang sebelum itu menjadi petaka bagi rumah tangganya di masa mendatang.
Tidak ingin jika masa lalu itu tiba-tiba datang di saat dirinya berusaha untuk membuka lembaran baru bersama dengan Marwa. Apalagi dia tahu bahwa istrinya tidak pernah berpacaran sekalipun, mungkin itu tidak akan pernah ada yang dia cemburui. Tidak seperti dirinya yang terjebak dengan masa lalu, barangkali itu akan menjadi masalah yang besar jika Marwa tahu bahwa dirinya masih berada di dalam masa lalu bersama perempuan lain.
Dia terus berusaha terlihat tenang ketika mereka bertiga memilih untuk pindah ke restoran lain. Kedua orang itu menyetujui permintaan dirinya yang ingin pindah.
Rey baru ingat, bahwa dia menyimpan barang yang diberikan oleh Bintang. Yaitu sebuah gelang yang ada di kamar di rumah mamanya diberikan oleh Bintang. Di sana ada nama perempuan itu.
Rey mengetik pesan dan memberitahukan kepada mamanya agar melarang Marwa masuk ke dalam kamarnya karena belum sempat mengasingkan barang-barang itu ke tempat lain.
"Mama, minta tolong jangan berikan kunci cadangan itu ke Marwa ya. Jangan kasih kunci kamar aku, di sana ada beberapa barang sama perempuan lain, aku takut Marwa mikir yang enggak-enggak!"
Rey menarik napasnya lega, dia tidak ingin jika tiba-tiba nanti istrinya bersikap aneh karena menemukan barang miliknya bersama dengan Bintang dulu.
"Rey, lo enggak minat bulan madu sama istri lo?" tiba-tiba ucapan Fendi mampu membuat Rey tersadar dari lamunannya.
"Enggak. Nanti aja, mungkin nanti gue bisa bulan madu kalau waktunya cukup,"
Leo menatap sepupunya dengan tatapan iba. "Tentang Bintang gimana?"
"Bintang, aku enggak tahu harus bagaimana lagi bahas dia, Leo. Yang jelas jauh di dalam hati aku, dia masih ada. Masih selalu hadir, apalagi sosok Marwa hadir seolah ngingetin aku sama dia, mulai dari hal-hal yang mirip, apa yang dia enggak sukai, aku merasa sedang melihat Bintang di Marwa,"
"Andai kak Rey tahu bahwa Marwa adalah Bintang. Bagaimana perasaan Kak Rey yang selama ini perempuan yang kakak cari ada disebelah kakak, hanya saja kalian enggak saling tahu satu sama lain, Bintang hilang ingatan, Kak Rey mencari dia, tetapi yang dicari menjadi sosok yang berbeda," ucap Leo dalam hati. Bagaimanapun juga dia tidak ingin mengejutkan kakaknya dengan kenyataan itu. Biarlah Rey tahu dengan sendirinya bahwa yang dia nikahi itu adalah Bintang yang selama ini dia cari dalam hidupnya.
"Kak Rey, aku harap Kak Rey semarah apa pun sama Marwa, jangan pernah dipukul, dibentak apalagi. Marwa memiliki suatu trauma yang besar terhadap laki-laki. Aku enggak tahu juga kenapa dia mau menerima kakak, waktu itu dia sempat berpikir bahwa yang melamar dia itu adalah aku, Marwa memiliki trauma, karena dia pernah mengalami suatu kejadian di mana itu semua membuatnya takut,"
"Maksud kamu?"
"Dia pernah mengalami suatu kejadian tidak mengenakkan, dia pernah dipukul kepalanya hingga semua yang berkaitan dengan kekerasan akan mengingatkan dia tentang kejadian itu, apa dia enggak pernah cerita sama Kak Rey?"
Rey terkejut mendengar kenyataan tentang istrinya dari Leo. "Ini kapan?"
"Sudah lama, tapi orang tuanya selalu berusaha untuk tidak berlaku kasar walaupun Marwa salah. Dia enggak bisa dikasarin, kalau dia dengar ucapan yang tidak pantas atau emosian. Mungkin dia akan mengingat trauma itu lagi, jadi Kak Rey, aku harap Kak Rey bisa membantu dia untuk sembuh dari trauma yang pernah dia hadapi,"
Rey mengangguk pelan. "Lalu apalagi yang kamu tahu tentang dia?"
"Kak Rey suaminya tentu kakak yang bakalan jauh lebih tahu mengenai dia, aku cuman berharap bahwa kakak akan bisa didik dia dengan sabar. Kasihan sih waktu lamaran itu orang tuanya cerita tentang hal itu."
Rey pun tersentuh hatinya ketika mendengar ucapan Leo karena pria itu yang hadir di lamarannya beberapa waktu lalu. Sedangkan dia hanya menerima kabar bahwa dia harus menikahi perempuan asing. Dan kali ini dia sedikit paham, yang hanya menjadi pertanyaannya. Mengapa Marwa menerimanya waktu itu jika dia memiliki trauma yang menakutkan terhadap pria?