
Rey sudah mengingatkan agar Zibran berlaku adil kepada keduanya. Sekalipun pria itu menikahi Hana hanya untuk tanggungjawab semata. Tapi Hana tetaplah istrinya dan harus berbagi dengan cukup adil. Jangan sampai salah satunya terluka dan itu sudah menjadi pilihan Zibran untuk menikahi Hana.
Dia memang sempat kecewa karena istrinya harus ikut dalam berperan di dalam masalah mereka. Sampai-sampai dia dengan Marwa bertengkar dengan hebat hanya untuk membela Zibran dan juga Hana. Tapi, semua itu telah berlalu, mungkin Marwa juga yang terlalu sayang dan tidak mau jika temannya menjadi bahan olokan orang lain nantinya. Sedih, adalah ketika dia melihat istrinya ikut ke dalam urusan orang lain terlalu jauh. Sekalipun itu untuk membantu. Tapi, bagi Rey, itu tetaplah salah karena bagaimanapun juga itu bukan urusan istrinya. Membantu boleh saja, asal jangan sampai terlalu jauh, apalagi meminta Rey menikahi Hana karena Zibran kabur waktu itu.
Keterlaluan adalah ketika istrinya yang justru ingin mengorbankan kebahagiaannya demi kebahagiaan orang lain. Mungkin, waktu itu memang Hana hanya tinggal beberapa waktu dengan mereka. Dan, Marwa bilang jika Hana tidak tahu bahwa Marwa memaksa Rey untuk menikahi Hana.
Seusai makan malam di rumah Marwa, istrinya menoleh sesekali. Barangkali dia berpikir jika Rey masih kesal dengan permintaan itu. tentu saja Rey kesal dan benar-benar sangat kesal karena permintaan Marwa sangat tidak masuk akal. Bagaimana Audri, bagaimana jika anaknya itu juga ikut terkena dampaknya.
“Mas, masih marah?”
Marwa menghampirinya ketika dia sedang menggendong Audri dan menidurkan anaknya. Ketika dia berbalik, dia tersenyum kepada istrinya. Bagaimana dia bisa marah dengan sangat lama ketika dia sudah berhadapan dengan istrinya dan justru membuat istrinya terus menangis. Dia merentangkan sebelah tangannya meminta Marwa masuk ke dalam pelukannya.
“Kenapa aku harus marah? Aku udah nggak marah lagi kok. Selama kamu nggak bakalan minta hal yang aneh lagi. Aku pasti nggak bakalan marah, kalau sekali lagi kamu minta, awas aja, ya. Aku bakalan marah besar sama kamu, aku nggak bakalan pernah mau untuk jemput kamu lagi seperti sekarang ini. Kamu yang salah, aku yang minta maaf. Aku nggak mau menangin ego aku cuman untuk buat kamu sakit hati. Andai aku mau egois, mungkin kamu adalah orang yang bakalan sakit hati lagi. Aku nggak mau lihat kamu nangis, apalagi kata Papa kamu nangis tiap hari selama di sini. Apa kamu pikir aku ngapa-ngapain di rumah sama teman kamu?”
Marwa menganggukkan dengan pelan. “Sayangnya kamu salah. Aku ada di rumah kedua orang tua aku. aku juga sudah cerita sama papa dan Mama kamu kalau permintaan kamu itu memang sangat konyol. Dan, aku juga menjadi sasaran mereka untuk dimarahi pastinya. Karena aku nggak bisa marahi kamu ketika kamu minta hal seperti itu. berhentilah berkorban, karena orang lain belum tentu berkorban juga buat kamu. Aku juga nggak bakalan pernah mau kalau kamu itu marah sama aku hanya karena belain orang lain,”
“Maaf kekasihku, suamiku tersayang,”
Rey mengalihkan pandangannya begitu istrinya menatapnya dengan seperti itu. malu, dia merasakan malu yang luar biasa.
“Mas,” panggil Marwa pelan ketika masih berada di dalam rangkulannya. Pria itu menolah dan seketika Marwa mengecup bibirnya sekilas.
Raut wajah Rey kali ini benar-benar seperti kepiting rebus yang sangat merah karena ciuman singkat itu mampu membuatnya bersemu. Bisa-bisanya istrinya melakukan itu. apalagi di rumah kedua orang tuanya langsung. Rey mengalihkan pandangannya karena dia rasa sedari tadi istrinya memperhatikannya dengan jelas.
Mencoba mengabaikan istrinya bahkan melepaskan rangkulannya karena ingin fokus untuk menidurkan Audri. Tapi tingkah istrinya yang sedari tadi menggodanya cukup membuat Rey kesal karena dia tidak bisa menyembunyikan dirinya dari istrinya.
Rey seperti seorang perjaka yang baru saja kehilangan ciuman pertamanya oleh seorang gadis yang mampu membuatnya tersipu seperti sekarang ini. Marwa, entah kenapa perempuan satu anak itu sudah mampu membuatnya meleleh seperti sekarang ini.
“Apa?” tanya Rey dengan tetap mengalihkan pandangannya.
“Mas kenapa coba?” Marwa malah menengoknya dari depan sambil memeluknya. “Mas, ih kok pipinya merah sih?”
Ia salah tingkah dan mendorong kepala istrinya dengan tangannya untuk menjauh. Tapi istrinya tetap menggodanya dengan tingkah seperti itu. marwa memang sudah benar-benar membuatnya hampir gila malam ini. Apalagi di rumah mertuanya sendiri. Jika di rumah, Marwa seperti ini tidak akan apa-apa. Tapi, jika di rumah mertuanya istrinya melakukan hal ini, Rey malu untuk romantis.
“Ke kamar yuk!”
“Audri belum tidur,”
Dia melihat mertuanya sedang menonton televisi di ruang tengah. Rey mengglengkan kepalanya jika mertuanya berkomentar nantinya. Astaga, kenapa bisa dia seperti ini hanya karena ciuman istrinya barusan?
“Malu sama, Papa dan juga Mama,”
Marwa menggeleng sekalipun dia sudah membisikkan itu kepada istrinya. Namun, Marwa bisa bersikap menyebalkan seperti itu. sungguh, Marwa memang benar sudah kelewatan kali ini menggodanya dengan cara seperti itu.
Sebagai seorang suami apalagi dia tidak bisa digoda seperti itu akan membuatnya langsung ingin memeluk istrinya seperti ada di rumah. “Marwa, ayo ke kamar!”
Tetap saja, istrinya menggeleng. Rey menghela napasnya dan menjauhi Marwa. Yang dipastikan bahwa nanti istrinya akan mengikutinya ke kamar. Karena dia tidak mau dilihat seperti itu oleh papa mertuanya sendiri,
Audri memberontak meminta untuk diturunkan malam itu. “Duh, tidur dong!” pinta Rey kepada anaknya. Tapi anak itu justru terus berusaha untuk turun dari gendongan Rey. Marwa yang justru menertawakan Rey ketika Audri bersikap seperti itu. sangat disayangkan jika anaknya tidak tidur untuk malam ini karena dia ingin membuat istrinya jera agar tidak menggodanya lagi. Sudah sangat tidak tahan dirinya ketika anaknya tidak mau tidur.
Mau tidak mau. Maka Rey menurunkan anaknya dari gendongannya dan membiarkan anaknya berjalan dengan pelan. Anaknya itu memang sangat lucu karena baru bisa berjalan. Jika anak seusia Audri masih merangkak atau belajar berdiri, tapi anaknya ini sungguh luar biasa bisa berjalan di usia sepuluh bulan karena dia tetap mengajari anaknya dan tidak menyalahkan Marwa jika Audri terjauh ketika belajar berjalan. Apalagi di rumah, Audri sering main tanah dibelakang rumah mereka dan di sanalah anaknya mulai berani untuk belajar berjalan. Sekalipun dia tidak suka anaknya kotor. Tapi kata mamanya, anaknya jika sudah bisa duduk, maka sering-sering diturunkan ditanah, agar terbiasa dan bisa belajar berjalan nantinya. Rey berpikir jika anaknya juga bisa berjalan di dalam rumah. Tapi, Leo juga mengatakn hal seperti itu dulu kepadanya. Jika dia harus sering membiasakan Audri turun dan bermain ditanah.
“Papa kejar nih,” ucap Rey yang kemudian anaknya tertawa dan berjalan menuju mertuanya yang sedang berada di ruang tengah,” Audri berdiri di depan televisi sambil membelakangi televisi itu.
“Lho, berdiri di sana, sini sayang!” panggil mama mertuanya.
Audri justru berbelok dan berjalan menuju papa mertuanya yang ada di sofa tunggal yang sedari tadi memperhatikan Audri berjalan.
“Nah, kalau dia tinggal di sini pasti ramai banget. Kenapa nggak mau tinggal di sini coba?” pinta orang tua Marwa. Rey punya rumah, dia juga berpikir jika tinggal dengan keluarga kecilnya jauh lebih baik. Sekalipun orang tua mereka berdua tidak pernah ikut campur. Tapi tetap saja Rey tidak leluasa menyuruh istrinya atau menegur Marwa jika salah nantinya. Dia juga rela meninggalkan rumah untuk bisa hidup bersama dengan istri dan juga anaknya. Tapi, kali ini papa mertunya memintainya untuk tinggal di sana. Rey tidak bisa menuruti itu. tinggal di rumah Oma dan Juga Opanya pun Rey memilih untuk pulang. Membiarkan orang tuanya saja yang tinggal di sana agar tidak sepi. Sekalipun dia ingin sekali tinggal di sana. Tapi tetap saja jika dia ingin tinggal bersama dengan keluarga kecilnya.
Mereka berbincang di sana. Sementara itu Marwa sibuk memberikan Audri kentang yang digoreng oleh mamanya. “Dia bisa kunyah?” tanya mama mertuanya. Tapi jangan ditanya untuk perihal itu, anaknya ini sangat suka sekali makan dan juga Rey memilihkan makanan yang baik untuk anaknya. Tubuh Audri saja yang tidak terlalu gemuk. Tapi pipinya pasti akan membuat orang yang melihatnya akan gemas. Tubuh Audri sedikit berisi tapi dibagian pipi sangat menggemaskan ketika dicium.
“Dia bisa kunyah digigi depan, Ma. Lagian aku pilih kok kentangnya yang agak lunak,” jelas Marwa. Audri berdiri di dekat meja sambil terus mengunyah makanan yang disuapi oleh Marwa.
Obrolan mereka pun berlanjut begitu saja dengan membiarkan Audri yang tetap makan disuapi oleh Marwa. Ada pembahasan mengenai rumah tangga mereka juga yang di mana harus cerita kepada orang tua ketika ada masalah. Peran orang tua adalah menjadi penengah di rumah tangga anaknya. Memang beruntung keduanya punya mertua yang sangat baik. Baik Marwa ataupun Rey. Karena selalu diperlakukan dengan cara yang begitu baik oleh mertua mereka berdua.
Rey yang diperlakukan baik dan dihargai juga ketika berada di rumah sang istri. Begitupun juga dengan Marwa yang bahkan lebih disayang oleh kedua orang tua Rey karena mamanya menganggap bahwa Marwa juga merupakan anaknya karena sudah bergabung di keluarga tersebut.
Memiliki orang tua yang baik, serta mendapatkan mertua yang baik pula pasti menjadi dambaan bagi setiap wanita begitu pun dengan Marwa dan juga Reynand yang sangat bersykur jika kedua orang tua mereka tidak pernah mau ikut campur atau menyalahkan mereka berdua ketika berselisih. Kecuali ketika perselingkuhan Reynand dulu yang disimpan begitu rapat oleh Marwa tanpa memberitahu mertuanya dan itu menjadi sasaran yang begitu besar baginya dimarahi oleh mertuanya sendiri karena menyembunyikan kesalahan suaminya. Sedangkan mertuanya sangat benci kepada Rey yang waktu itu juga sempat ingin menceraikan Marwa karena tergoda oleh perempuan lain. Mamanya yang mengingatkan dengan baik. Begitupun juga dengan papanya yang bahkan bermain kasar memukuli Rey memperingati bahwa dia dulu pernah hancur karena perceraian orang tua yang harusnya tidak dia berikan lagi rasa itu kepada anaknya.
“Audri, udah ya! Nggak boleh makan yang banyak!” peringat Rey kepada anaknya yang kemudian dia mengambil piring yang berisikan kentang goreng itu. baru saja dia mengangkat piring tersebut Audri menangis dan langsung duduk dilantai. Suara tangisnya begitu kencang padahal dia tidak mau anaknya makan yang berminyak.
“Biarin aja kenapa sih, Rey? Nggak apa-apa kok!” tegur mama mertuanya yang mengambil piring itu lagi dan memberikannya tepat di depan Audri. Perlahan tangis anaknya pun mulai reda sambil tetap makan anaknya menangis dan justru membuat orang tua Marwa tertawa melihat kelakuan cucu mereka.
“Memang akal-akalan Audri aja nih,” ucap Marwa sambil tetap membiarkan anaknya makan yang di mana tadi Rey berusaha mengambil tapi anaknya justru menangis dengan begitu kencang.
Rey tetap menarik tangan Marwa agar naik di sofa dan menggelengkan kepalanya. Itu tandanya bahwa Rey tidak suka dengan ucapan Marwa yang mengatakan bahwa itu akal-akalannya Audri.
Audri berdiri kemudian menyuapi Rey bekas gigitannya barusan. Tapi tetap saja Rey membuka mulutnya dan memakannya. Lagipula itu adalah bekas anaknya yang masih kecil dan Audri juga makan tidak selalu mengemut hingga menimbulkan air liur yang banyak di sana. Anaknya makan dengan bersih tapi tidak akan berhenti makan jika makanan itu belum habis.
“Suapin lagi sayang!” anaknya menunduk dan mengambil kentang itu lagi dan menyuapinya kepada Rey. Sengaja dia meminta anaknya untuk menyuapinya karena dia tahu anaknya tidak akan berhenti sampai makanan itu habis.
“Rey, nanti nangis lho!” tegur mama mertuanya.
“Nggak bakalan, Ma. Dia itu berhenti kalau udah habis nanti, nggak nangis kok,” ucap Rey yang terus menerima suapan dari anaknya. Kali ini piringnya berpindah ke tangan Marwa agar Audri tidak perlu lagi menunduk mengambil makanan itu.
Dengan cepat juga ketika anaknya sibuk menyuapi, Rey justru tidak membiarkan tangannya diam. Dia justru menyuapi istrinya juga agar makanan itu cepat habis dan juga ketika Audri berbalik dia langsung memakan yang dia ambil barusan secara diam-diam.
“Awas nangis. Kalau dia nangis Papa nggak ikut campur. Papa nggak bakalan mau gendong nanti. Ini orang tuanya kompak banget emang nggak bolehin anaknya ngemil,” protes papanya Marwa sepertinya tidak akan mempan bagi mereka berdua.
“Rey, udah dong! Kamu tuh ya nggak bisa bikin anak senang bentar aja!”
Begitu melihat ke piring dan makanannya habis. Audri memaksa Rey membuka mulutnya tapi pria itu tetap mengunyah makanannya dan seketika anaknya memang menangis lagi.
“Kerjaan kamu tuh! Dikasih tahu malah bilangnya enggak-enggak mulu, sekarang rasain deh,”
Rey menggendong anaknya karena menangis dengan kencang. Marwa juga justru tertawa melihat anaknya yang mengamuk dilantai tadi dan membanting piring yang kosong itu. beruntunglah piringnya jatuh ke karpet yang cukup tebal dan tidak pecah.
“Makanya kalau dikasih tahu orang tua itu didengerin. Bukan malah bilangnya enggak terus. Kita kan pengalaman jadi orang tua, makanya bisa ngomong gitu. Biar anak kamu nggak nangis juga. Kamu tuh sama aja kayak istrimu, Rey! Kompak banget bikin anak nangis. Sana buatin lagi, kalau Mama sih malas banget,” ujar mama mertuanya.
Anaknya menangis karena perbuatannya. “Ya udah aku pesenin dulu,” kata Rey. Tapi mama mertuanya tidak mengizinkan. “Kenapa, Ma?”
“Kamu nggak tahu kan minyaknya sekali pakai atau gimana. Lebih baik buatin aja sana! Toh kalian yang punya perbuatan juga. Marwa yang masak, kamu yang gendong, biar kapok kerjai anak kayak tadi,” protes mama mertuanya.
Bukannya merasa bersalah. Keduanya justru tertawa dan pergi ke dapur untuk membuatkan Audri kentang goreng lagi. “Ma, kentang gorengnya masih?”
“Buat lagi, Marwa. Kan Mama bilang juga buat lagi, bukan nyari di dapur,”
Keduanya tertawa di dapur karena dimarahi mama Marwa.
“Kamu sih, Mas,”
Pria itu menyeringai dan mencubit hidung istrinya. “Kita buat lagi ya, nih Mama kupas kentangnya dulu,” ucap Marwa ketika dia berusaha menenangkan anaknya. Tapi Rey justru menyeringai bukannya membantu malah dia tertawa saja dari tadi melihat anaknya yang masih sesenggukkan. “Tumben banget dimarahi, Mama. Itu karena kamu, Mas,”
“Biarin, dimarahinnya kan kompak,”
“Kompak jaga anak nggak apa-apa, Mas. Tapi kalau kompak dimarahi. Aku nggak mau lagi diajak jailin anak.”