
Berapa kali Rey menjelaskan bahwa dia tidak bisa menikahi Hana karena itu bukan salahnya. Tapi karena sikap keras kepala Marwa yang mengatakan bahwa dia begitu peduli dengan temannya. Bagi Rey. Peduli itu boleh saja, asal jangan mengorbankan kebahagiaan diri sendiri untuk berjuang demi kebahagiaan orang lain yang belum kita ketahui sepenuhnya. Kadang manusia saja tidak bisa menilai dirinya dengan baik sepenuhnya. Apalagi orang lain yang menilai kita.
Dibandingkan dia harus berduaan di rumah bersama dengan Hana. Rey meminta asistennya tinggal bersama dengan Hana untuk sementara waktu di rumah. Rey tidak pernah mau pulang jika istrinya sendiri tidak mau pulang. Biarlah dia menginap untuk beberapa hari di rumahnya. Sekarang, dia bersama dengan orang tuanya di ruang tamu.
Sudah tiga malam tidak pulang ke rumah dan justru selalu pulang terlambat ketika bekerja. “Rey, kamu nggak apa-apa?”
Rey menggelengkan kepalanya dengan pelan. Sempat dia melamun karena memikirkan bagaimana istrinya tersebut berpikir sudah tidak waras lagi untuk menikah dengan Hana. Sungguh, dia merasa seperti orang gila ketika dia harus membiarkan istrinya bersikap bodoh seperti itu.
“Rey, kalau ada apa-apa cerita sama kita!” pinta papanya.
Ia menghela napas panjang, “Nggak ada apa-apa, Ma. Aku kangen aja sama anak aku,” alasannya. Padahal dia dan Marwa tengah bertengkar hebat. Setiap kali istrinya pulang ke rumah orang tuanya. Pasti Rey akan menginap di rumah orang tuanya juga karena tidak mungkin dia tetap di rumah. Rey akan kesepian.
Dia menyunggingkan senyuman kepada kedua orang tuanya agar orang tuanya tidka khawatir tentang masalah yang sedang dia hadapi sekarang ini.
“Ma, Pa. aku istirahat dulu ke kamar ya?” pamitnya.
Dia bisa gila jika memikirkan Hana dan juga Marwa. Apalagi perempuan itu ditinggal oleh Zibran begitu dia ditahu hamil oleh pria tersebut. Benar-benar kelakuan yang sangat luar biasa jahat. Menikmati dan langsung pergi begitu saja. Otak pria itu entah di mana sampai membiarkan beban itu ada pada rumah tangganya dengan Marwa.
Baru kali ini Rey sekesal ini dengan istrinya. Awalnya dia tidak pernah menganggap hal seperti ini menjadi sebuah masalah yang teramat besar. Namun, istrinya justru tidak mengindahkan apa yang dia katakan sehingga Marwa benar-benar pergi dan kali ini mungkin sedang mengadu pada orang tuanya.
Dia berdiri di balkon kamarnya. Mencoba menghubungi Zibran beberapa kali.
Setelah empat kali Rey mencoba menghubungi pria itu, barulah Zibran menjawab teleponnya. “Halo, Rey,”
“Ran, gimana? Kamu nggak ada niat baik nikahin Hana atau gimana? Kasihan perutnya makin besar,”
“Aku di rumahnya, Hana, Rey,”
“Ngapain?”
“Aku minta izin sama istri aku untuk tanggungjawabi Hana. Tapi, hanya sampai Hana melahirkan. Setelah itu cerai,”
Dada Rey begitu sakti mendengarnya. Tidak ada perempuan yang mau dimadu. Benar-benar tidak akan pernah ada yang ikhlas menerima itu semua. Pasti akan ada rasa sakit atau iri hati begitu melihat suaminya bersama dengan perempuan lain. Sakit itu pasti, sehebat apa pun dia menyembunyikan. Pasti akan terasa sakit juga. Sekalipun dia mengatakan bahwa dia sudah terbiasa menerima itu semua. Tapi, Rey tidak akan pernah percaya ada hati yang begitu tulus menerima itu. Marwa sekalipun, apalagi dia tahu jika istrinya itu sangat cengeng. Bagaimana mungkin Marwa bisa ia madu. Sekalipun itu hanya sebagai bentuk prihatin. Karena akan ada hati yang ingin merasa menguasai. Salah satu dari mereka itu pasti akan ada yang seperti itu. Rey langsung tersenyum begitu dia mengingat betapa istrinya keras kepala ingin menjodohkan dia dengan Hana.
Tapi, ini adalah kenyataannya sekarang. Zibran berada di rumah orang tua Hana sekalipun perempuan itu tidak tahu.
“Ah iya, lalu bagaimana tanggapan orang tua, Hana?”
“Mau nggak mau, Rey. Sekalipun tadi sempat ada emosi yang nggak bisa ditahan lagi. Yang namanya orang tua pasti akan kecewa,”
“Kamu tahu itu akan sakit, tapi kamu nggak bisa berhenti untuk lakukan itu dengan Hana. Kamu juga nggak mikirin gimana sakitnya istri kamu. Terlebih anak-anak dan juga hati orang tuanya, Hana. Dan Hana sendiri, apa tanggapan dia mengenai dia yang bakalan kamu tinggal nanti, Ran?”
Rey tentu saja terkejut mendengar pengakuan dari Zibran mengenai dia yang akan bertanggunjawab tapi sampai Hana melahirkan saja. Karena istrinya tidak memperbolehkan dia melanjutkan pernikahan itu.
“Kamu di mana sekarang?” tanya Rey dengan begitu yakin bahwa dia akan bertemu dengna pria itu.
“Kita ketemu di kafe dekat kantor kamu, Rey. Aku sebentar lagi pulang, sekalian mau ke apartemennya Hana. Mau jelasin ini semua,”
“Aku di rumah orang tua aku. dan, Hana ada di rumah aku. dia dibawa sama istri aku ke rumah waktu Hana masuk rumah sakit karena waktu itu dia ingin bunuh diri karena kamu kabur,”
Ya, itu adalah alasan terbesar Marwa memaksa Rey menikah dengan Hana. Karena Hana yang mendapati kabar bahwa Zibran pindah dan tidak tinggal di rumah itu lagi. Rasanya begitu sakit, ditambah lagi dia yang benci dengan kebodohan istrinya yang ikut campur. Memang dia akui bahwa istrinya memang baik. Tapi tidak perlu sampai sejauh itu. Apalagi sampai memaksa dia yang menikahi Hana. Sangat tidak masuk akal.
“Aku tunggu kamu di depan rumah, nanti aku kirimkan alamatnya. Kamu bisa jemput Hana ke rumahku!” pinta Rey.
Kemudian Zibran menyanggupinya dan langsung bergegas pulang dari rumah kedua orang tua Hana. Ya, itu memang sebuah kesalahan yang harus dipertanggungjawabkan. Baik Hana maupun Zibran. Sudah berapa kali Rey mengingatkan, tapi tidak ada komentar baik yang dia terima. Justru pria itu tidak mau berhenti dan tidak mau melepaskan Hana begitu saja.
Rey menunggu satu jam di depan rumahnya karena dia tahu bahwa jarak yang diberitahukan oleh Zibran tadi cukup jauh. Dia juga yang merasa bahwa pria itu memang berani untuk bertanggungjawab. Sekalipun itu hanya sebagai penutup aib mereka. Inilah kesalahannya ketika Hana bermain dengan pria yang sudah beristri, menjadi korban dari ketidakpuasan seorang pria terhadap istrinya. Sungguh, ini yang Rey takutkan ketika dia dan Marwa bertengkar justru menjadikan dirinya mencari perempuan lain lagi seperti dulu. Tapi, beruntunglah pernikahannya dengan marwa masih bisa diselamatkan karena Rey tidak melakukan hal sejauh itu dengan mantan kekasihnya dulu.
Rey turun dari mobil suv berwarna putih dan melihat mobil sedan menuju dirinya yang dia yakini bahw aitu adalah Zibran yang datang untuk menjemput Hana. Agar semua kesakitan itu tidak dirasakan lagi oleh Rey. Apalagi dipaksa menikah oleh istrinya sendiri adalah sebuah rasa sakit yang tidak bisa digambarkan oleh Rey. Membayangkan dirinya yang menyakiti hati Marwa saja sudah cukup. Apalagi benar-benar menyakiti.
Zibran turun dari mobilnya dan menghampiri Rey yang sedang berdiri disamping mobilnya. Dia tahu bahwa pria itu memang sangat takut berduaan dengan seorang perempuan karena dia menjaga hati istrinya. Apalagi Hana yang bisa dikatakan bahwa perempuan itu jauh dari kata sempurna seperti Marwa.
Rey mengajaknya masuk ke dalam rumah dan begitu dia membuka pintu. Hana berdiri di sana dengan perut yang membuncit dan daster merah muda yang dia kenakan.
Bagaimana perasaan Zibran ketika melihat perempuan yang hampir dua tahun ini menemaninya tapi justru hamil anaknya dan sekarang ini justru tumbuh sehat di dalam sana. Rey tidak ingin berkomentar karena itu bukan urusannya. Apalagi ketika melihat Zibran memeluk Hana sambil menangis dan meminta maaf atas apa yang dia perbuat selama ini.
“Han, maafin aku,”
Hana mencoba melepaskan pelukan itu, tapi Rey tetap memperhatikan ketika dia melihat Hana yang mencoba menahan tangisnya tapi tetap keluar juga. Sakit, tentu saja. Apalagi ketika dia hamil seperti itu justru pria yang sedang memeluknya pergi meninggalkan dia.
“Kamu ke mana? Kamu ke mana yang katanya mau tanggungjawab waktu itu?”
“Han, dengerin aku ngomong dulu!”
Rey mengajak Zibran duduk dulu untuk menjadi penengah diantara mereka. Memang kali ini Hana berada di posisi yang paling sakit hati karena dia yang ditinggalkan. Tapi ketika itu bagaimana Hana yang juga mencob mengambil Zibran dari pelukan istri pria itu. Pasti itu akan sakit juga.
“Han, aku nyariin kamu di apartemen. Sejak kapan kamu di sini?”
Perempuan itu menatap Rey kemudian dia sadar bahwa pembicaraan itu mungkin hanya butuh mereka berdua tanpa kehadiran Rey di sana. “Aku pergi dulu! Kalian selesaikan saja pembicaraan kalian yang mungkin saja masih ada hal yang harus dijelaskan. Kamu juga Hana, ceritakan apa yang kamu lalui,”
Rey berpamitan dan menunggu diluar karena dia tahu jika keduanya butuh waktu untuk bicara empat mata tanpa ada kehadiran orang lain. Hana juga yang salah ketika itu tahu bahwa Zibran punya istri. Dan itu juga salah Zibran yang tidak menyelesaikan masalahnya dengan istrinya. Justru mencari perempuan lain. Andai saja dia lebih hebat dalam menyelesaikan masalah itu. Pasti tidak akan ada korban seperti ini.
Rey yang menunggu diteras rumahnya dan tak lama kemudian Zibran keluar. “Bagaimana?”
“Dia mau nikah sama aku,”
Sekalipun itu hanyalah bentuk tanggunjawab. Tapi Rey tetap tak akan berkomentar banyak. Karena kesalahannya cukup keduanya saja yang tahu dan dosanya biar Tuhan yang ampunin. Mengenai kesalahan mereka, tak ada manusia yang berhak menghardik keduanya dan cukuplah Rey dan Marwa tahu perihal ini.
Bukan berarti dia mendukung Zibran. Tapi, karena pria itu mengatakan bahwa istrinya sudah memintanya untuk menikah. Tapi hanya sampai Hana melahirkan saja. Yang artinya itu akan kurang dari enam bulan. Waktu singkat itu sebaiknya digunakan dengan baik oleh Zibran dan juga Hana.
“Dia nyariin kamu ke rumah kamu. Tapi kamu ke mana?”
“Aku di rumah sakit, Rey. Aku yang sakit karena operasi usus buntu,”
“Orang rumah kamu bilang kalau kamu pindah. Hana putus asa dan celakai dirinya sampai mau bunuh diri, itu yang aku dengar dari istri aku,”
“Maaf,”
“Mengenai istri kamu? Apa dia ikhlas?”
“Aku nggak tahu, Rey. Tapi aku nggak bisa tinggalin dia, aku nggak bisa lihat Hana seperti ini juga, karena itu adalah salahku. Aku jujur aku sudah punya istri waktu sudah ngelakuin itu semua,”
Ia hanya menganggukkan kepalanya tanpa berkomentar apa-apa.
Zibran duduk di dekatnya. “Aku nyesel,”
“Nggak ada gunanya, Hana pernah keguguran satu kali. Dan itu juga kamu sudah tahu dulu, sampai hampir dua tahun kamu khianati istri kamu. Sampai sekarang ini kamu punya anak sama Hana,” Rey tak ingin berkomentar banyak. Ia hanya benci dengan kenyataan bahwa perselingkuhan itu harus menghasilkan anak seperti itu untuk menyingkirkan sang istri pertama. Barangkali, itu juga dipikrikan oleh mantan kekasihnya dulu ketika mereka berlibur dan justru mengajak Rey berhubungan tapi Rey tolak dengan sangat halus karena itu dia sadar bahwa selama ini dia salah telah menyakiti hatinya. Dia juga pernah melakukan hal yang salah.
Hujan turun kemudian Rey tersenyum dan menyamarkan suaranya. “Yang paling terluka itu bukan kamu maupun Hana, Ran. Tapi, yang paling terluka itu adalah istri kamu. Dia yang sudah berusaha berjuang untuk bertahan. Bahkan merelakan dirinya di madu karena perbuatan kamu. Andai saja kamu bisa menyelesaikan masalah ini sendiri. Pasti tidak akan pernah terjadi hal seburuk sekarang yang di mana Hana hamil. Dan kamu juga tidak akan pernah merasakan posisi seperti sekarang ini, nggak semuanya istri itu punya hati selembut istri kamu,”
“Dia itu keras kepala, Rey. Aku sendiri nggak bisa didik dia,”
“Hana? Lalu dia bagaimana? Bukan aku ingin menjatuhkan dia dihadapanmu,”
“Hana itu selalu menurut,”
“Awalnya kamu sama istri kamu juga pasti seperti itu, Ran. Dia pasti juga penurut. Tugas kamu itu kan mendidik dia. Kenapa justru mencari perempuan lain lagi?”
Sekalipun dia pernah melakukan kesalahan, tidak ada pembelaan untuk dirinya yang pernah berselingkuh juga. Namun, kali ini dia bangga terhadap istri Zibran yang mau di madu sekalipun itu mengizinkan Zibran hanya sampai tahap Hana melahirkan. Itu juga hak istrinya melarang dan juga menerima. Tapi beruntunglah istrinya mau dimadu. Tetapi tidak semua istri bisa punya perasaan kuat apalagi dengan alasan memikirkan hati anak yang sedang dikandung oleh Hana saat ini.