
Jam istirahat pertama pun di mulai. Reynand memilih untuk ke UKS mengobati kakinya, tadi memang sempat tidak terlihat luka, tapi setelah merasakan perih pada jempol kakinya, dia langsung memutuskan pergi ke UKS.
Kaki kanan Reynand pincang dan tidak bisa berjalan dengan normal karena ditindih oleh kursi yang sedang di duduki oleh Bintang.
Ia keluar dari pintu UKS sebelah kanan yang jaraknya beberapa meter dari pintu utama. Di sana dia melihat Bintang sedang mengintip dari balik jendela. Reynand pun diam-diam mendekati gadis yang terlihat sedang khawatir itu.
Reynand diam-diam mendekatkan wajahnya dan berbisik pada Bintang. "Lihat apa?"
Sontak gadis itu terkejut hingga membuat kepala mereka terjedot berdua. Bintang yang mengaduh sedangkan Reynand mengangkat sebelah alisnya kemudian melihat gadis itu dengan sorot mata yang penasaran.
"Kamu ngapain ngagetin aku, Rey? Kamu juga lagi lihatin apa?" protes Bintang.
"Aku lihat apa yang kamu lihat, emangnya enggak boleh? Kamu lagi jengukin aku ke UKS ya?" ucapnya dengan nada merendah seolah menebak hal itu adalah benar. Gadis dengan poni yang menggantung dan raut wajah yang tiba-tiba berubah. Pipi yang merona dan matanya berkali-kali berputar menatap hal lain dan seolah sedang tertangkap basah.
Reynand masih menunggu jawaban itu sambil menyangga tubuhnya dengan tangan kiri yang ditempelkan di tembok. Sementara Bintang tepat berada di depannya.
"Kamu ngapain?"
"A-aku. Aku ta-tadi cuman lewat... ah iya benar cuman lewat,"
Lelaki yang berdiri di depan gadis itu pun menarik napas dan terlihat putus asa. "Yaaah, tadi aku pikir kamu jengukin aku kemari, padahal berharap banget gitu kamu minta maaf setelah kamu buat kaki aku jadi begini," tunjuk Reynand pada kaki kanannya yang sakit dan dia hanya mengenakan sebelah sepatunya karena kakinya bengkak.
"Kamu enggak apa-apa, Rey?"
Rey tersenyum dan mencari cara untuk mengerjai gadis itu, "Aduuuh, Bintang. Kaki aku sakit banget tahu enggak, apalagi kelas kita jauh banget di ujung sana, aku enggak kuat jalan,"
"Terus, kamu maunya gimana? Duh, maaf sama kejadian tadi, ya. Aku enggak tahu kamu taruh kamu kaki di bawah kaki kursi,"
"Kamu sih ngambek, aku enggak tahu kamu tuh bisa jadi kayak gini,"
"Yang salah itu kamu, Rey. Kamu yang salah, kamu yang enggak kabari aku, kamu juga yang enggak balas chat aku, setiap aku telepon juga enggak ada kabar. Kemarin ada berita kalau ada anak kecelakaan ketika berangkat sekolah, motornya itu sama persis kayak kamu. Jadi aku pikir itu kamu, aku khawatir, Re-"
Rey meletakkan telunjuknya tepat di depan bibir Bintang hingga membuat gadis itu terdiam dari ocehannya yang sangat panjang dan sempat membuat Reynand merasa bersalah juga karena tidak mengabari gadis itu.
"Alasan aku enggak kabari kamu itu karena aku sedang menemani anak asuh dari Papa aku, Bintang. Dia operasi karena Jantungnya bocor, aku di rumah sakit seharian,"
"Tapi seengaknya kamu tuh ngomong, Reynand. Seharusnya kamu bilang sama aku kalau kamu itu sedang ada di rumah sakit,"
"Apa yang bisa aku lakukan, Bintang? Sedangkan Papa aku minta kalau aku enggak boleh beritahu perihal ini sama orang lain, aku cuman butuh waktu juga untuk bareng sama keluarga aku sendiri,"
"Maaf, aku ganggu kamu ya?"
Reynand terdiam, dia lupa bahwa Bintang memiliki keluarga tapi tidak seperti keluarganya yang selalu bersama dan berkumpul ketika ada waktu senggang. Reynand meraih leher Bintang dan mengalungkan tangannya, "Bawa ke kelas, kalau dengan cara begini, aku bakalan maafin kamu," ucapnya untuk menghilangkan kekesalan gadis itu. Bintang yang tadinya memberontak, tapi setelah Reynand pura-pura mengaduh, gadis itu langsung menuruti keinginan Reynand.
Mereka berdua melewati ruang BK, dan beberapa sorot mata yang berpapasan dengan mereka berdua menatap dengan tatapan tidak suka, terlebih tatapan itu tertuju pada Bintang. Mengingat Reynand adalah anak yang cukup terkenal karena prestasinya, dan juga keramahannya pada siapa saja yang tidak pernah mengabaikan permintaan orang lain selama bisa dia penuhi.
"Rey, kaki kamu kenapa?" ucap Pak Hilman yang baru saja keluar dari ruang BK dan melihat Reynand yang berjalan pincang.
"Terus sekarang kamu nagih maaf dari Bintang, gitu?"
Reynand menyeringai dan mengangguk, Pak Hilman hanya menggeleng karena dengan tingkah keduanya, lelaki itu pun pamit pada pria yang sedang berdiri di ambang pintu sambil berdecak pinggang. Sepasang anak itu pun pergi dan melanjutkan perjalanan menuju ke kelas, dia tidak merasakan sakit yang teramat parah. Tetapi itu cukup untuk memberikan efek jera pada Bintang agar tidak langsung menyimpulkan suatu masalah dan mendiaminya seperti tadi.
Tiba di kelas, Reynand melepas rangkulannya. Sedari tadi banyak yang menyorakinya, tetapi dia tidak peduli. Toh dia dan Bintang hanya status teman sekelas, tidak lebih. Barangkali orang lain salah paham terhadapnya yang menganggap bahwa mereka berdua memiliki suatu hubungan yang lebih dari sekadar teman biasa.
"Rey, kampret cari celah lo?" Fendi datang setelah Bintang pamit ke kantin.
Rey pun menyeringai ketika Fendi duduk di tempat duduk Bintang dan menghadap belakang. "Sebenarnya gue lagi iseng ngerjain dia,"
"Gila lo, Rey,"
"Ya elah, lo tahu kan dia tuh enggak bisa ketebak,"
"Kemarin dia itu nanyain lo waktu lo enggak masuk sekolah, lo ke mana?"
"Ke rumah sakit,"
"Gimana keadaan dia?"
Reynand pun menceritakan hal itu secara mendetail kepada Fendi, karena hanya satu orang yang bisa dia percaya untuk merahasiakan tentang itu, selama ini Fendi hanya tahu bahwa orang tuanya memiliki anak asuh. Dan Rey tetap merahasiakan itu juga karena tidak ingin terlalu berlebihan memperlihatkan kebaikan orang tuanya.
"Kalau untuk saat ini sih masih tahap perawatan, operasi dia berjalan lancar,"
"Semoga adik asuh lo cepat sembuh ya,"
"Rey itu kan selalu peduli sama orang, enggak heran sama adik asuhnya dia begitu sayangnya dan rela enggak sekolah," timpal Jenny yang menarik kursi dan ikut bergabung bersama kedua remaja itu.
Reynand pun tahu mengenai Jenny yang terlebih dahulu tahu, karena papanya pasti menceritakan hal itu, mengingat bahwa papa Jenny juga merupakan orang penting di perusahaan papanya, dan tidak menutup kemungkinan bahwa pria itu tahu.
"Rey, pulang sekolah gimana kalau kita jengukin dia?"
Rey mengangguk setuju dengan ucapan Jenny. "Kalian mau ke mana?" Bintang datang sambil membawa beberapa minuman dan roti isi.
"Aku mau ke rumah sakit,"
"Jengukin adik kamu?"
Rey mengangguk pelan, "Kamu mau ikut?"
"Mau," jawab gadis itu singkat.
Reynand pun mengeluarkan kunci motornya dari saku seragamnya. "Lo pulang sama Jenny pakai motor gue ya, sekalian ganti oli di bengkel. Biar gue naik taksi, hitung-hitung gue ngasih kesempatan buat lo berduaan sama Jenny," ledek Reynand.
"Bilang aja lo mau pulang bareng juga bersama dengan Bintang," tukas Fendi. Ucapan itu cukup membuat Bintang tersenyum dan Reynand benar menikmati senyuman dari Bintang. Bahkan terkadang dia ingin menikmati senyuman itu sendirian, tidak ada orang lain yang boleh menikmati senyuman Bintang. Tapi dia tidak ingin egois, tidak ingin mengklaim bahwa Bintang adalah miliknya. Belum tentu juga Bintang memiliki rasa ingin memiliki seperti yang dia rasakan.