RICH MAN

RICH MAN
Rencana Liburan



Panik adalah perasaan yang pertama kali Rey rasakan ketika dia tahu bahwa istrinya sedang sakit tifus dan ditahan selama beberapa hari ini. Sempat dia menyalahkan dirinya sendiri karena pertengkaran mereka mengenai Hana sempat membuat keduanya bertengkar hebat dan tidak peduli lagi dengan apa yang dirasakan oleh Rey. Yaitu perasaan takut ketika mengkhianati istrinya. Namun, istrinya sangatlah sensitif dan menganggap bahwa dia tidak mau mengikuti apa yang dikatakan oleh istrinya.


Pagi harinya Rey selalu berangkat bekerja dari rumah sakit karena semalaman dia menunggu istrinya di sana menggantikan mama mertua atapun mama kandungnya sendiri. Rey sendiri juga merasa sangat berat ketika meninggalkan istrinya. Tapi mau bagaimana lagi kalau dia tidak bekerja, istri, anak serta anak buahnya mau diberi makan apa? Rey memikirkan semuanya dan terlebih karena dia peduli juga dengan karyawannya.


Kali ini dia sedang menunggu istrinya yang sudah cukup membaik, ada keluarga besarnya juga yang datang menjenguk istrinya hari itu juga. Audri yang dibawa oleh mama Rey karena di sana mungkin akan ada yang menggantikan untuk mengasuh Audri. Sedangkan mama mertuanya butuh istirahat yang lebih sering menunggu Marwa ketika Rey pergi bekerja.


“Minum obatnya! Kalau sakit jangan ditahan lagi. Apalagi nanti malah buat orang lain khawatir!” perintah mama Marwa yang menyodorkan obat dan juga air kepada Marwa. Setiap hari, Marwa selalu diberikan obat agar tenaganya juga cepat pulih. Ditambah lagi karena Marwa yang belum sembuh total dan mengeluhkan mual yang tak kunjung berhenti.


Ketika Marwa muntah waktu itu, semua anggota keluarganya menyarankan agar Marwa tes kehamilan juga. Namun Rey menolak karena dia tahu bahwa istrinya tidak hamil sebab Marwa pernah datang bulan untuk bulan ini.


Keluarga yang lainnya justru ikut menertawakan ekspresi Rey ketika dia menolak untuk kehamilan Marwa. Ini adalah momen di mana semua orang bisa meledeknya dengan puas. Terlebih lagi Leo yang begitu bangga karena kali ini calon buah hati mereka adalah anak kembar. Padahal Papanya sendiri tidak pernah menyangka waktu itu bahwa dia akan mempunyai anak kembar. Tapi lihat sekarang ini buktinya bahwa Leo yang justru menurunkan gen itu dari papanya. Harusnya dia yang punya anak kembar. Atau bahkan cucunya nanti yang bisa punya anak kembar. Bukan justru Leo yang sebagai sepupunya. Tapi jika mengingat kembali, bahwa oma merekalah yang kembar. Tapi kembarannya meninggal waktu kecil. Itu cerita yang mereka dapatkan ketika Rey protes bahwa anak Leo kembar.


“Rey kayaknya nggak sabaran banget nih istrinya sembuh. Udah seminggu lho di rumah sakit. Tapi istrinya masih di rumah sakit,”


“Ya, nanti mungkin kak Rey mau dipinjamin lotion gitu sama aku?” celetuk Leo yang membuat Rey kesal dan ingin memukul pria yang berdiri disampingnya ini. Memang dia butuh kepuasan. Tapi tidak untuk saat ini ketika istrinya sakit apalagi Marwa yang terbaring lemah diatas brankarnya.


“Kampret,” celetuk Leo. Suara tawa di ruangan itu pun pecah karena ekspresi Rey yang berubah. Harusnya papanya ikut membelanya bukan justru ikut mengejeknya seperti barusan yang diucapkan oleh Leo.


“Besok kalau Marwa sembuh kita rayakan di mana?” tanya Clara tiba-tiba nyeletuk juga karena dari tadi dia menahan diri untuk ikut campur di pembahasan orang dewasa tadi.


“Liburan dong. Kita ke Jepang, tapi bukan bulan ini. Melainkan bulan depan ya,”


“Serius nih?” tanya mamanya yang sedang menggendong Audri.


“Oh tentu dong. Mama mertua juga pengin banget ke sana. Tapi nggak pernah ke sana. Jadi kita bakalan ke sana. Oma dan Opa juga dong. Aku yang bayarin semuanya. Termasuk Om Dimas dan keluarganya yang lain,”


Clara dan si kembar mengangkat tangannya karena senang jika nanti mereka akan berlibur pergi ke sana. Senyum semringah tercipta diwajah Marwa ketika dia mendengar suaminya akan mengajak semua keluarganya untuk liburan.


“Rey, memangnya kamu ada uang?” tanya papanya.


Sejenak dia langsung berkedip dan tersenyum saat dia mendapatkan proyek besar dari papanya waktu itu mampu membuatnya dan keluarganya untuk liburan ke sana entah untuk beberapa hari di sana. Karena Rey sudah lama sekali tidak kembali lagi ke negara itu. dia yang dulunya selalu berada di sana setiap kali libur sekolah. Baru bisa kembali lagi nantinya bersama dengan keluarga besarnya.


“Ada, Pa. maka dari itu aku bisa ajakin kalian liburan semuanya,”


“Bagus, ini baru benar,” puji papanya.


“Aku juga diajak kak?”


“Nggak, Leo. Istri kamu lagi hamil muda, jadi nggak boleh dulu dong. Apalagi ini jauh banget. Mending di rumah dulu,”


“Ya, kamu nggak usah bikin istrimu capek, Leo,” timpal tante Naura.


Senyuman Amanda pun tersungging dibibirnya. “Aku juga nggak berani, kak,”


Rey mengeritkan dahinya. “Kenapa?”


“Nggak berani pokoknya kalau pergi jauh, kak,”


“Ya udah nanti aku belikan hadiah. Kamu mau apa?” tanya Rey kepada orang yang salah. Dia menanyakan hal itu kepada orang yang sedang ngidam dan bahkan bisa berakhir dengan sangat fatal. Yaitu meminta barang yang paling langka, atau bahkan makanan yang paling langka sekalipun. Tidak jera bagi Rey untuk disiksa ketika Marwa hamil waktu itu. apalagi sekarang dia menanyakan kepada Amanda.


Rey mengerti bahwa ini adalah bencana yang bisa jadi paling besar baginya ketika Clara membisikkan sesuatu kepadanya. Ya, bisikan itu adalah cerita tentang Amanda yang hamil dan meminta makanan pada tengah malam.


Dengan susah payah Rey menelan salivanya dan memilih untuk mundur untuk duduk di sofa di mana semua keluarga yang lainnya ada di sana. “Kak, kakak beneran mau beliin aku?”


Rey menggeleng. “Kakak kasih hadiahnya nanti kalau kamu lahiran. Kakak bakalan kasih apa yang kamu mau deh. Tapi waktu kakak di rumah sih,” balas Rey karena dia memang sedikit merasa tertekan begitu mendengar ucapan Clara. Bisa-bisa dia yang akan diminta untuk mencari makanan oleh Amanda. Marwa yang sakit, belum lagi dia harus menuruti ucapan perempuan yang sedang hamil itu.


“Kapan memangnya rencana mau liburan, Rey?” mamanya yang membuka penutup plastik yang berisikan jelly yang diinginkan oleh Marwa sedari tadi.


“Bulan depan sih kayaknya,”


“Marwa, kamu kok dari tadi makanannya aneh melulu. Hamil beneran kali,” celetuk Om Reno.


Sialnya, Rey langsung menggeleng dengan cepat untuk membantah pernyataan itu. marwa memang tidak hamil, itu yang dipikirkan oleh Rey.


“Kita panggil dokter nih untuk periksa. Kalau memang hamil, tahu rasa kamu. Anak kamu masih kecil main nambah-nambah aja,” protes Om Reno ketika mengingat usia Audri yang masih terlalu kecil. Bahkan belum genap satu tahun justru mereka akan punya keturunan lagi. Itu adalah mimpi buruk bagi Rey jika itu terjadi. Maka dia tidak akan pernah berhenti menyalahkan dirinya sendiri jika hal itu terjadi.


“Rey, mau hamil atau enggak itu bisa di deteksi cepat kok. Kalau Marwa datang bulannya tiga minggu yang lalu. Ya siapa tahu anak kamu sekarang udah jadi gitu,”


Dengan cepat dia menyangkal pernyataan itu bahwa istrinya memang tidak hamil untuk saat ini. Bagaimana mungkin dia bisa membuat Marwa hamil dengan cepat di saat anaknya masih terlalu kecil. Bicara saja Audri belum bisa. Masa iya dia menghamili Marwa lagi dan keluarga yang lain keras kepala mengatakan bahwa istrinya itu sedang hamil. Rey tidak pernah menyangka bahwa itu akan terjadi. Apalagi dia menyesal mengatakan bahwa Marwa ada gejala muntah-muntah. Apalagi gelagat yang diperlihatkan oleh Marwa adalah dia yang ngotot makan yang aneh-aneh dan meminta Rey untuk mencarikannya makanan yang diinginkan olehnya. Maka dari itu semua anggota keluarga curiga dengan gelagatnya.


“Terserah deh,”


Rey memilih untuk keluar karena jika sudah berkumpul seperti ini sudah dipastikan dia akan menjadi bullyan dan keluarga besarnya.


Ia memilih untuk duduk di luar karena tidak mau dijadikan bahan bullyan oleh keluarganya. Apalagi Om Reno, yang selalu meledeknya sedari dulu. Ketika menikah juga, pria itu selalu memberikannya kode agar dia segera menyentuh istrinya. Tapi bagaimana Rey mau menyentuh istrinya ketika dia memikirkan mantan kekasihnya dulu ketika masih SMA.


Ralat, Rey tidak pernah pacara dengan Marwa atau Bintang ketika SMA dulu. Dia hanya menjadi teman baik, teman curhat. Mau mengungkapkan perasaan tapi tidak pernah sampai di sana. Karena selalu saja ada alasan mereka tidak bisa pacaran. Terutama Rey yang takut jika dulu dia menyakiti hati Bintang ketika mereka tidak menyatu. Dan, alhasil melalui perjodohan yang sempat ditolak oleh Rey yang akhirnya setelah rayuan dari om dan juga mamanya. Rey mau menerima perjodohan itu. ada masa di mana Rey benar tidak bisa membayangkan jika istrinya itu adalah Bintang. Perempuan yang dicarinya selama ini.


Mengingat kenangan bodohnya, Rey menjadi salah tingkah begitu dia tahu jika istrinya adalah perempuan masa lalu. Namun, cintanya pernah diuji ketika dia percaya bahwa jodohnya memang Bintang. Namun, ketika ditengah hubungan itu. Rey mengkhianati istrinya.


Diluar, dia mengusap wajahnya dengan gusar.


“Suami yang hebat,”


Rey menolehkan kepalanya begitu melihat Leo yang datang menghampirinya. “Kenapa bilang begitu?”


“Nggak ada, aku salut aja sama kakak kalau kakak bisa perbaiki apa yang pernah salah itu. kemudian kakak nggak niat lagi lakukan apa yang memang pernah sangat salah itu. kakak sekarang bahagia banget kelihatannya,”


“Menurutmu bagaimana? Kamu pikir aku nggak gila, Leo. Beberapa waktu lalu Marwa maksa aku buat nikahi temannya,”


Leo tertawa keras begitu mendengar penjelasan Rey. “Kenapa?”


“Entah, panjang ceritanya. Kepalaku pusing, belum lagi dipaksa menikah. Belum lagi karen Marwa ngambek, banyak lagi lah pokoknya,”


“Aku juga sempat seperti kakak kok. Ngerasa gimana gitu, antara tergoda atau bagaimana ketika pergi bekerja. Ada perempuan cantik, ya ada hasrat ingin selingkuh. Tapi kalau ingat-ingat kesalahan kakak, aku ngeri banget deh sama ingatan itu. apalagi Amanda hamil lagi. Anak aku ada, Amanda nggak punya siapa-siapa,”


“Bagus kalau kamu mikir kayak gitu. Kamu jadi urungkan niat kan untuk selingkuh?”


“Aku nggak minat kak. Cuman senang aja gitu lihat cewek cantik,”


Rey tertawa ketika Leo dengan begitu jujurnya mengatakan bahwa dia senang melihat perempuan cantik. Tentu saja Rey juga senang, tapi tidak untuk seperti dulu. Apalagi dia punya yang jauh lebih cantik. Tertutup dan hanya dia yang bisa menikmati kecantikan itu.


“Aduuuuuh, awhhh,” Rey menoleh ketika melihat Leo ditarik telinganya oleh Amanda.


“Bini hamil gini, anak kecil juga punya, malah ngomongin cewek cantik diluar,”


Rey melihat keduanya berdebat di sana. “Amanda, kamu salah paham, kok. Nggak seperti yang kamu dengar. Ini nggak ada kaitannya sama sekali seperti yang kamu pikirkan itu. aku sama Leo nggak bahas perempuan lain. Cuman kami berdua lagi ingat aja gitu,”


“Ingat apa?”


“Masa sekolah,” sela Rey karena tidak mungkin dia berkata jujur dan membuat keduanya justru bertengkar nanti. Rey tidak ingin jika melihat adik sepupunya bertengkar dengan istrinya.


dia mencoba melerai keduanya. Apalagi istrinya sedang membawa si kecil yang sedang berdiri didekatnya. “Papa, gendong,”


“Ingat anak, Leo. Tuh hasil cinta, jadi nggak usah ingat-ingat cewek lagi. Apalagi ada bidadari secantik Amanda,” sindir Rey. Padahal dia yang pernah menjadi brengsek dulu. Tapi bisa-bisanya dia menggurui Leo untuk perihal ini.


Teruntuk raga yang pernah egois waktu itu. benar-benar bahwa Rey minta maaf untuk hal itu. dia tidak bisa membayangkan bagaimana sakitnya hati seorang istri di rumah ketika hamil dia justru berselingkuh diluar sana.


“Ya udah, aku masuk duluan deh kalau gitu. Kalian pacaran di sini ya!”


 


 


Amanda memukul punggung Rey dengan tangan yang dikepal hingga Rey mengaduh ketika perempuan itu memukulnya. “Sayang, nggak boleh gitu dong sama Kak Rey!” tegur Leo ketika Rey justru tertawa ketika Amanda terlihat sangat kesal seperti itu.