
Keduanya masih saja tidak saling tegur sapa seperti biasa. Rey yang tahu bahwa istrinya benar-benar merasakan sakit itu. Bahkan meskipun mereka berdua bertengkar, tetapi Marwa tidak meminta untuk pulang ke rumah orang tuanya. Bahkan barangkali orang tua Marwa tidak tahu bahwa mereka berdua sedang bertengkar.
Rey juga yang beberapa hari ini pulang bekerja lebih awal. Dia selalu menanyakan kabar istrinya setiap kali pulang bekerja. Meski bertengkar, Marwa tetap melaksanakan kewajibannya sebagai seorang istri.
Perempuan yang ada di depan Rey tengah merapikan pakaian dan memasukkan ke dalam lemari. Perempuan yang begitu sempurna untuk Rey. Tetapi kini dia berpikir kenapa bisa dirinya terkenal rayuan perempuan lain dan justru membuat istrinya menangis terus menerus.
“Marwa,” panggilnya dengan pelan. Dia ingin sekali berdamai.
Perempuan itu selesai memasukkan pakaian ke dalam lemari dan berbalik. “Ada apa, Mas? Kamu mau aku siapin makanan?”
“Tolong jangan pura-pura lagi, aku tahu kamu sakit. Tapi nggak harus seperti ini terus kan?” ucapnya dan kemudian mendekati istrinya itu. Rey tahu bahwa rasa sakit itu mungkin mampu disembunyikan oleh istrinya. Akan tetapi tidak akan pernah mampu membohongi dirinya sendiri.
Sejak kejadian itu memang Marwa berusaha untuk bersikap seperti biasanya. Akan tetapi siapa yang tahu bahwa hatinya sedang menangis? Rey sudah tidak tahan melihat istrinya terus saja pura-pura baik dan tetap melakukan kewajibannya. Dia tahu ditengah malam istrinya sering kali terbangun dan menangis. Suami macam apa dia yang sudah membuat istrinya menangis?
Dia tidak pernah mau membuat Marwa menangis lagi. Mengenai dia meniduri Alin. Hingga saat ini perempuan itu memang mendekatinya. Akan tetapi dia tidak pernah lagi merespon dengan baik. Justru dia mengusir, meskipun Alin mengancam dengan memberikan foto itu. Rey sudah tahu bahwa Alin sudah melakukannya. Dia tahu bahwa Alin mengirim foto itu ke nomor Marwa beberapa hari lalu.
Baru saja Rey mau masuk ke dalam kamar mandi. Ponselnya berbunyi, Marwa berbalik dan melihat siapa yang menghubungi. “Siapa? Selingkuhan kamu lagi?” tanya Marwa dengan dingin. Akan tetapi Rey menggeleng dan langsung menarik Marwa agar perempuan itu tetap berada di sisinya dan dia menjawab telepon itu dengan menggunakan load speaker.
“Kamu di mana, Rey?”
“Di rumah, ini siapa?”
“Bisa datang ke sini? Aku bakalan ngasih kamu sesuatu, ajak istri kamu!”
Rey dan Marwa saling tatap mendengar sosok pria itu. “Sebentar, kamu siapa?” tanya Rey.
“Siapapun aku, pasti istri kamu kenal,” ucap pria itu. Kemudian dia melirik Marwa. Pria itu menutup telepn dan mengirim lokasi kepadanya.
“Kamu kenal dia?” tanyanya pada Marwa.
“Gimana aku kenal, kalau dengar suara dia aja tumben,”
Rey tidak ingin memperpanjang masalah. “Daripada kita penasaran sama orang ini. Lebih baik ikut aku. Kita pergi temui dia,” ajak Rey. Tapi Marwa menolak untuk diajak bertemu dengna pria itu.
“Kenapa nggak mau?”
“Kamu ada musuh diluar?”
“Nggak. Aku nggak kenal dia, tapi dia bilang kalau kamu kenal sama dia. Ayo!”
Dengan sedikit paksaan Rey berhasil membujuk istrinya. “Bentar, Mas,” ucap Marwa kemudian memasang cadarnya.
Rey terdiam sejenak. “Aku tahu belum bisa menjadi imam dan ayah terbaik untuk kamu dan anak kita. Akan tetapi aku bakalan terus berusaha untuk ini semua, Marwa. Kamu terlalu sempurna untuk disakiti, dan cukup kali ini aku nggak mau lihat kamu nangis lagi, aku nggak mau lagi untuk lihat kamu berbohong dan pura-pura kuat,” ucap Rey kemudian memperbaiki cadar istrinya. “Sekarang apalagi yang menjadi alasan aku nyakitin kamu. Memang kemarin-kemarin aku sedang tergoda oleh perempuan lain. Bahkan aku sadar betapa kurang ajarnya aku, aku yang berusaha untuk selalu menjadi suami yang baik justru menghancurkan hati kamu, menghancurkan hati seorang istri yang baiknya kayak kamu,” ucap Rey dan langsung menggandeng tangan istrinya.
Rey tidak akan pernah mengatakan lagi bahwa dirinya malu mengajak istrinya keluar dengan penampilan yang seperti itu. Dia tidak akan membanggakan Alin lagi yang selalu berpakaian seksi dihadapannya dan kini dia sadar bahwa perempuan yang menjaga dirinya dan hanya pada dirinya Marwa berias, dia sadar bahwa selama ini kesalahannya fatal dan hampir saja kehilangan.
Tiba di alamat yang pria itu kirimkan, baru saja mereka berdua masuk. “Dhyo,” ucap Marwa yang terkejut melihat Dhyo yang ada di sana dan duduk manis tepat di tempat yang telah diberitahukan dan meja nomor berapa tempat mereka berjanji untuk bertemu.
“Kamu kenal?” tanya Rey.
“Tentu saja kami berdua kenal meski aku nggak pernah lihat wajah istri kamu, Rey,”
Rey berhenti sejenak sambil mengangkat telunjuknya berusaha mengingat karena pria ini sepertinya tidak asing baginya. “Kamu siapa?” tanya Rey karena dia tidak ingat sama sekali mengenai pria itu.
“Aku? Aku pacarnya Alin selingkuhan kamu itu,” jawab Dhyo dengan lantangnya dan membuat Marwa menatap Rey dengan tatapan yang tidak percaya dengan semua ini.
“Dunia ini sempit sekali ya. Bahkan kita tidak pernah tahu kapan kita akan dipertemukan dengan sengaja atau tidak disengaja. Tetap saja kalau ternyata aku adalah orang yang bakalan ngasih tahu semua ini lebih jelas sama kalian berdua,” ucap pria itu dengan angkuh. “Pertama aku tahu kalau ternyata Marwa membayar Iriana untuk menyiapkan perceraian kalian nantinya, dia telah mengatakan itu kepada Iriana, dia adalah rekanku. Dan Iriana merupakan teman kuliah kami dulu, tetapi karena berbeda jurusan, yang jelas Marwa kenal dengan sosok perempuan itu,”
Rey melihat istrinya dengan tatapannya yang benar-benar emosi kali ini. “Siapa yang bakalan cerai?”
“Rey, harusnya kamu tahu kalau kamu hanya jadi umpan bagi Alin. Aku tahu kamu tidur sama, Alin. Tapi apa benar-benar kamu ngerasa kamu tidur sama dia?” sungguh di dalam hati Rey sama sekali dia tidak pernah yakin mengenai hal itu.
“Kamu nggak pernah tidur sama dia. Kalau dia bilang dia hamil anak kamu, itu akal-akalan dia doang, dia itu pacar aku. Tidurnya juga sama aku, sekarang demi buat kamu cerai dan dia sangat terobsesi sama kamu. Jadi dia melakukan semua cara untuk membuat kamu dan istri kamu cerai. Rey, jangan mudah percaya. Apalagi aku tahu kalau Alin ngirim pesan dengan cara mengirim gambar ke nomor istri kamu waktu kamu tidur sama dia. Yang benar saja kamu sampai berani nidurin dia?” ucap Dhyo dengan kekehannya.
“Maksud kamu apa Dhyo?” tanya Marwa yang sepertinya penasaran dengan pembicaraan itu.
“Kamu percaya suami kamu berselingkuh dengan cara nidurin Alin dan hamil? Kamu nggak cari tahu dulu? Marwa, dia itu ular berbisa, dia itu benar-benar perempuan yang nggak bakalan bisa kamu hentikan kalau dia nggak dijebak,”
Marwa menatap suaminya dengan penuh sesal karena telah menuduh suaminya. Tetapi video waktu itu membuat dirinya masih enggan untuk sekadar melirik ke arah suaminya. “Kamu boleh kok marah sama dia. Tapi kamu jangan pernah percaya tentang suami kamu tidur sama Alin. Karena semua itu nggak pernah terjadi,”
“Sejak kapan kalian dekat?” tanya Rey kepada Dhyo.
“Aku sama dia itu udah lama. Tapi karena kami nggak pernah ketemu, jadi dia lebih milih kamu waktu itu. Tapi saran aku sih, jangan pernah kamu mau sama dia apalagi nanti kalau seandainya dia hamil. Kamu tenang aja, aku punya semua bukti. Kamu cukup jalani hidup kamu tanpa ada hambatan,”
“Kamu dapat nomor aku darimana?”
“Dari sekretaris kamu. Aku ke kantor kamu beberapa waktu lalu. Tapi justru kamu ketemu sama Alin. Dan karena aku nggak mau main buru-buru, jadinya ya seperti ini. Aku diam-diam ketemu sama kamu,”
“Dhyo, kamu nggak bercanda kan? Apalagi kamu nggak fitnah Alin, kan?”
Rey masih kesal dengan istrinya kenapa harus bela perempuan itu di saat rumah tangganya sendiri dalam keadaan masalah besar.
“Rey, jaga istri kamu baik-baik. Dia pernah aku cintai dulu semasih kuliah, jangan sampai kamu lepasin dia dan justru buat aku mau ngejar dia lagi. Nggak peduli dia janda kamu atau apa,” ucap Dhyo meyakinkan agar pria itu tidak melepaskan Marwa. Karena di mana lagi dia mendapatkan istri sebaik Marwa.
Rey terlihat menatapa Dhyo dengan tatapan ingin menghajar pria itu. “Pulang!” ajak Rey dan langsung mengajak istrinya pulang. Meski pembicaraan mereka berdua belum selesai. Akan tetapi dia tidak tahan dengan ucapan pria itu yang ingin mendapatkan Marwa.
Setiba di rumah Rey masih terdiam karena dia masih kesal terhadap istrinya yang diam-diam kenal dengan pria lain dan membuat Rey cemburu dengan hal itu.
“Kamu kenapa, Mas?”
“Memangnya aku kenapa? Aku nggak bisa cemburu gitu?”
“Mas, Dhyo itu teman kuliah aku,”
“Dan kenapa kamu justru nyari pengacara buat ngurus perceraian kita. Siapa yang mau bercerai, Marwa? Siapa yang mau lepasin kamu?” suara Rey meninggi ketika mereka sedang berada di ruang tamu.
“Malu-maluin,” ucap Marwa.
“Kamu yang nyari masalah, Marwa. Kamu kenapa bisa berpikiran mau pisah, sih?”
“Itu karena aku nggak bisa lagi tahan semua ini, Mas. Gimana lagi aku harus sabar kalau seandainya kamu benar menghamili perempuan lain?”
Rey tersadar bahwa untuk hal itu dia tidak bisa lagi mengelak. Dia tahu bahwa Marwa sakit hati dengan foto-foto itu. “Kamu sendiri udah dengar dari teman kamu itu, kalau aku nggak pernah lakukan itu,”
“Itu akal-akalan kamu aja, Mas,” ucap Marwa kemudian meninggalkan Rey sendirian di ruang tamu. Sontak pria itu antara mau marah atau justru tertawa mendengar ucapan istrinya yang barusan. Karena dia tidak pernah mendengar Marwa protes sebelumnya.
“Sumpah. Aku bakalan buktikan kalau aku sayang sama kamu,”
“Nggak sayang anak kamu?”
“Kalian berdua pokoknya,”
“Nggak percaya,”
“Mau bukti apa?”
“Intinya kamu buktiin,”
“Hubungi dulu teman kamu. Bilang sama dia, kalau nggak ada yang mau cerai,”
“Kalau kamu nggak bertingkah lagi baru aku kasih tahu dia,”
Rey menggaruk kepalanya dan langsung merasa kesal terhadap istrinya itu.