
Setibanya di rumah, Reynand langsung turun dan mengangkat adiknya yang tidur. Sedangkan Clara membantu menurunkan Nabila yang masih terjaga, "Bawa masuk!" perintahnya.
Reynand menggendong Salsabila yang ada di belakang dalam keadaan tertidur dan langsung membawanya masuk, "Ma, bentar ya aku bawa dia ke kamar," pamitnya. Adiknya yang tertidur pulas dibahunya langsung dibawa ke kamar.
"Rey, bangunin adikmu! Udah mau maghrib, enggak baik. Nanti aja tidurnya," perintah mamanya.
"Tapi, Ma. Nanti kepalanya sakit terus nangis?"
"Bangunin aja, enggak baik tidur jam segini. Nanti aja sehabis maghrib tidurnya!"
Rey yang tadinya mau mengantarkan adiknya justru mengurungkan niatnya dan mengikuti perintah mamanya untuk membangunkan Salsabila. Walaupun pada awalnya anak itu menangis dan sangat rewel, tetapi semenjak melihat Clara di sana, Salsabila memilih untuk bermain.
"Dia enggak tidur tadi siang, Ma?"
"Mereka nungguin kamu pulang sekolah, kan udah janji mau bawa mereka pergi. Clara tadi kamu jemput?"
"Enggak Ma. Kan tadi mau ke rumah Om Dimas, tapi karena Om Dimas enggak ada di rumahnya dan Bibi bilang kalau mereka lagi pergi ke rumah Tante Viona di sana ada acara keluarga, ya udah aku pergi ke rumah Oma, mereka enggak mau pulang maunya nginap di sana, Ma. Sekalian aja aku bawa Clara biar bisa ajak mereka pulang,"
Mamanya ber-oh ria, "kamu enggak sibuk, kan Clara?"
"Enggak kok tante, malah senang di ajak nginap di sini,"
"Leo enggak ikut?"
"Enggak, ngomong-ngomong Mama enggak tahu kabar Tante Naura hamil?" Rey mengikuti mamanya duduk di sofa bersama dengan Clara dan juga adik-adiknya.
"Papa lupa ngasih tahu kalian," tiba-tiba papanya muncul dan membawa segelas kopi.
"Mama kan emang, hamil. Tapi Kak Leo enggak setuju waktu itu,"
"Asyik sebenarnya, Clara. Aku aja malah pengin punya adik seumuran kayak kamu,"
"Abang angkat aku aja jadi adik, Abang. Iya kan Om?" lirik Clara pada papanya Rey.
"Itupun kalau Rey mau, Ra. Ngomong-ngomong kamu enggak marah gitu dapat adik umur segini?" balas papanya Rey.
"Enggak, malah kalau Mama mau nambah, aku siap. Aku iri sama Abang yang punya adik kembar, kalau bisa sih aku juga dikasih adik kembar,"
"Janga, Ra. Yang ada kamu bakalan capek urusin mereka, belum lagi kalau salah satunya kamu gendong, satunya nangis. Terus waktu kamu berangkat sekolah, itu wajib banget nangis pengin ikut. Bangunnya juga selalu diganggu," jelas Reynand karena mengalami hal itu setiap hari. Dibangunkan dan kadang dijambak oleh kedua adiknya jika lama bangun.
Rey menceritakan jika dirinya memang selalu dijahili oleh adiknya pagi hari. Kadang dirinya dianggap pura-pura dan digigit oleh Nabila. Begitu banyak hal yang berubah semenjak kehadiran si kembar dalam kehidupannya.
Mulai dari kasih sayang kedua orang tuanya yang kini lebih adil dalam berbagi, dan lagi waktu orang tuanya kini lebih banyak bersama dibandingkan sibuk dengan urusan masing-masing seperti dulu. Setidaknya dirinya bersyukur jika kedua adiknya tidak mengalami kejadian yang serupa seperti yang dia rasakan dulu. Mulai dari perpisahan orang tua, kebohongan yang tak pernah berakhir, bahkan hingga menerima kehadiran orang baru di dalam rumah tangga mamanya.
Terkadang Rey berandai-andai mengenai Syakila, bahkan jika anak itu masih ada, mungkin usianya akan beda satu tahun dari Clara. Walaupun lahir dari rahim yang berbeda, Rey tak pernah berhenti berdoa untuk adiknya yang sudah tiada. Maka cukup pelajaran dari orang tuanya membuatnya untuk tidak mengulangi kejadian yang sama.
Syakila merupakan adik yang lahir dari rahim berbeda namun satu papa. Kejadian di mana Rey harus menerima kenyataan dahulu bahwa dirinya memiliki seorang adik yang sudah sekarat, Rey ingat sepanjang hari bahwa dirinya menemani anak itu di rumah sakit. Memberikan kebahagiaan walaupun hanya sesaat.
Rey beranjak dari tempat duduknya dan ingin menghindar dari semua orang yang ada di sana. Dia merindukan Syakila, tawa dan ketegaran gadis kecil yang waktu itu tersenyum begitu ikhlas saat menghadapi suatu penyakit yang merenggut nyawanya.
"Aku ke kamar. Sebentar lagi maghrib, mau mandi lagi dan sholat," ucapnya lirih.
Setelah mendengar adzan berkumandang, Reynand langsung mengambil air wudhu dan melaksanakan kewajibannya.
Selesai sholat, Rey sejenak berdiam diri dan berdoa untuk adiknya. Dibalik ceria dan sifat jahilnya ada yang tidak diketahui oleh orang tuanya, yaitu hancurnya perasaan Reynand yang harus mengikhlaskan kepergian Syakila. Kejadian itu memang sangat lama, tapi jika mengingatnya tak jarang juga Reynand meneteskan air mata disela-sela doa yang ia panjatkan untuk adiknya itu.
Rey memang tidak ingin terlihat layaknya pria lemah, tetapi dalam kesendiriannya ia juga terkadang kesepian walaupun dirinya termasuk pria yang ceria. Menerima kehilangan saat dirinya berusaha untuk menerima kehadiran gadis kecil itu. Hanya ada satu foto yang ia miliki bersama dengan Syakila, foto dirinya yang duduk di atas brankar Syakila yang dikirim oleh tante Deana kepadanya dulu. Reynand bahkan sering berkunjung ke makam adiknya dan bertemu Deana di sana. Tanpa sepengetahuan orang tuanya. Tidak mungkin mengungkit kejadian masa lalu saat perempuan itu adalah dalang dibalik hancurnya kebahagiaan Reynand.
Tetapi semua itu adalah masa lalu, tidak ada kebencian untuk Syakila. Yang salah adalah Papa dan juga tante Deana yang telah menghadirkan Syakila dengan cara yang salah. Bahkan kepergian Syakila merupakan kehilangan terbesar bagi Reynand dibalik derita perpisahan orang tua yang dia rasakan.
Reynand mengusap air matanya dan keluar untuk makan malam karena telah berjanji akan bertemu dengan Fendi nantinya.
Rey bercermin dan melihat ke arah matanya untuk tidak menyisakkan kesedihan di sana. Ia langsung keluar dari kamarnya dan bertemu dengan papanya yang juga baru saja keluar dari kamarnya.
"Sudah sholat, Pa?"
"Udah,"
Reynand mengangguk, moodnya berantakan kali ini dan enggak untuk bertegur sapa untuk sesaat karena kejadian tadi.
"Anak Papa kenapa?" Rey menoleh ke arah papanya yang tiba-tiba saja merangkulnya saat menuruni anak tangga.
"Aku enggak apa-apa, kok,"
"Kadang apa yang enggak kamu ceritakan itu terlihat dari matamu, sebuah kesedihan yang mungkin tidak banyak orang yang tahu, sebenarnya ada apa?"
"Aku enggak apa-apa, Pa. Cuman lapar aja,"
"Rey, jangan sembunyikan apa pun dari, Papa. Enggak ada orang tua yang mau lihat anaknya sedih, termasuk itu Papa. Kalau ada masalah, cerita!"
Rey tetap berjalan, tidak mungkin baginya mengatakan bahwa dia sedang merindukan Syakila. Sedangkan Mamanya pernah mengingatkan dahulu agar tidak membahas perihal Syakila dan itu akan membuat Papanya semakin merasa hancur, Rey menarik napas berusaha mengembalikan ekspresi cerianya. Tidak ingin orang tuanya tahu mengenai hal ini.
"Aku enggak apa-apa, kok. Aku cuman kepikiran tentang ucapan Papa Widya yang katanya mau ngomongin perjodohan aku sama Widya itu ke Papa," Reynand bukan bermaksud berbohong. Tetapi dia sedang mengalihkan pembicaraan agar papanya tidak curiga.
"Rey, apa pun alasannya, Papa enggak bakalan setuju. Kalau kamu yang suka sama Widya, maka Papa persilakan. Tapi kalau untuk jodohin, tenang saja! Papa enggak semudah itu lepasin anak laki-laki yang papa miliki ke perempuan lain, dia akan kamu tanggung jawabi, dia yang akan kamu temani dalam keadaan apa pun, tapi bisakah dia menemani kamu dalam susah maupun senang? Papa hanya mau kamu mencari yang terbaik dan itu adalah pilihan kamu,"
"Terima kasih ya, Pa,"
"Jangan pernah nilai orang dari latar pendidikannya, Mama kamu itu hanya lulusan SMA dulu, dia itu bekerja di kantor, Papa. Kalau sudah jodoh mau diapakan? Jangan rendahin orang hanya dari status sosial, Papa enggak permasalahin kamu nanti mau nikah sama perempuan yang lulusan apa pun juga, yang jelas dia baik dan keturunannya juga jelas. Kamu yang harus tanggung jawab, jangan biarkan perempuan bekerja, asal jangan kamu jangan diinjak oleh dia nantinya. Cari yang seperti Mama!"
Rey menoleh ke arah Papanya. Mencari yang seperti Mamanya tentu saja akan sangat sulit karena dari sekian banyak perempuan yang bisa bersabar dan kuat seperti Mamanya itu sangatlah sulit.
"Santai, Pa. Sekolah dulu, nanti aku akan carikan yang baiknya kayak Mama. Yang perannya bukan hanya sekadar menantu, tapi bisa berperan layaknya anak kandung,"
"Papa percaya kok. Anak Papa ini kan memang baik, jadi pasangannya juga harus baik."
Rey tersenyum, bahkan belum ada dalam benaknya untuk berusaha mencari pasangan di saat kelas sebelas seperti ini. Tidak seperti Leo yang sibuk dengan dekat sana sini dengan beberapa gadis di sekolahnya.