
Selama satu minggu penuh dia tinggal di rumah Oma menjadikan Rey sudah terbiasa di sana. Namun, dia malu jika berada di sana. Apalagi ketika salah satu di antara mereka bertengkar mengenai rumah tangga. Terlebih Leo yang sering memarahi istrinya karena apa yang dia lakukan itu bisa memicu keguguran bagi anak mereka.
Jadi, Rey memutuskan untuk kembali lagi ke rumah bersama dengan Marwa seperti perintah orang tuanya juga. Karena dia tidak ingin jika istrinya mendengar pertengkaran-pertengkaran itu. Dia dan Marwa tidak pernah bertengkar sampai seperti itu dan dilihat oleh orang lain.
Kali ini dia sedang melepaskan dasi begitu dia pulang bekerja dan juga dia mampir ke rumah oma dan juga opanya tadi sebelum pulang ke rumah. Rey yang melihat anaknya justru sedang bermain sendirian di atas ranjang. Sedangkan Marwa sedang menyiapkan air panas untuk dirinya mandi. Rey pernah bilang jika dia bisa melakukannya sendiri. Namun yang namanya istri tersayang itu, pasti Rey akan mengalah karena dia tidak akan pernah menang melawan istrinya. Hanya dari tatapan dan cemberut. Rey akan mengalah, dia tahu bahwa hati istrinya itu benar-benar lembut dan karena itulah dia harus mengalah dengan alasan apa pun. Tidak boleh bertengkar hanya karena masalah spele.
Oma dan Opa pun berangsur membaik. Justru keduanya mengajak Rey liburan minggu depan dan akan dituruti oleh Rey nantinya. Itu juga demi kebahagiaan sang oma dan juga opanya. Maka dia tidak akan pernah menolak permintaan tersebut. Sejenak dia menghela napas panjang dan menciumi putri kesayangannya.
“Panggil Papa dulu, Nak!” pinta Rey mengajarkan anaknya memanggil namanya.
Rey memang pulang terlambat karena dia pergi mengunjungi oma dan opa tadi. Namun, Marwa tak mengatakan apa pun justru langsung menyiapkan air hangat dan juga makanan sudah siap untuk dirinya.
Ketika dia keluar dari kamar mandi dan mengeringkan rambutnya. Sedangkan anaknya sudah tertidur dengan botol susu yang masih berada pada tangannya. Dia melihat Marwa berdiri sambil mengusap punggung anaknya.
“Makan malam dulu, Mas!”
Rey mengibas rambutnya. Ini adalah pose yang paling ganteng bagi Marwa ketika melihat suaminya seperti barusan. Siapa yang menyangka jika pria itu begitu tampan dan sudah memiliki istri dan juga anak. Pasti di luaran sana banyak mata para gadis yang mungkin saja menggoda Rey dengan balutan rok seksi dan juga tatapan mata yang begitu tanjam atau bahkan menyipit karena eye liner yang mereka gunakan sehingga tatapan mereka akan menjadi syahdu. Atau, justru maskara yang begitu membuat bulu mata menjadi lentik.
Ah sudahlah, Marwa menepis itu semua dan menyajikan makan malam untuk cinta pertama sekaligus suami yang begitu dia sayang. Siapa yang berani mendekat, maka bersiaplah mendapatkan sikap buruk Rey yang begitu dingin terhadap perempuan lain kali ini. Atau bahkan, mulut pedasnya jauh lebih pedas dibandingkan dengan bon cabe level 30. Tidak percaya? Maka buktikan saja untuk merayunya!
Marwa tersenyum ketika melihat pria ini benar-benar tampan. “Jadi, apa yang nggak disykuri? Punya suami tampan, mertua yang baik, punya anak yang lucu,”
“Kenapa?” Rey bertanya sok tampan ketika melihat Marwa yang menyangga dagunya sambil tersenyum begitu manis.
“Istri kesayangan, anak yang cantik. Astaga,” puji Rey di dalam hati. Jika dia mengungkapkannya tentu saja raut wajah Marwa seperti kepiting rebus lagi seperti waktu itu. Marwa memang paling tidak bisa digoda dan langsung berekspresi yang begitu menggemaskan. Istri pilihan orang tua dan juga Om Dimas. Terlebih, ini adalah pilihan sang Maha pemberi Cinta. Begitulah yang dipikiran oleh Rey yang sangat bersykur diberikan istri secantik Marwa apalagi dengan keturunan yang benar-benar mengkopi-paste dirinya dalam versi perempuan. Sungguh, itu adalah anugerah yang paling disyukuri oleh Rey karena wajahnya yang sangat mirip dengan sang anak.
Siapa yang berani menyangkal itu semua? Karena tentu saja itu adalah anaknya. Tidak mungkin istrinya melakukan dengan orang lain. Naudzubillah, ucap Rey dengan pelan. Kemudian selesai makan. Seperti biasanya dia membantu sang istri mencuci piring.
Laki laki tidak pernah menyusahkan perempuan.
Laki-laki jangan sampai membuat perempuan menangis karena sakit hati. Jangan sampai, karena nanti sumpahnya bisa bikin laki-laki mandul
Rey menggeleng pelan karena ucapan tadi dia ucapkan sempurna di dalam hatinya.
“Ya Allah, istri kenapa semanis ini? Pengin telan hidup-hidup saking cantiknya,” puji Rey ketika dia sudah selesai mencuci piring dan juga istrinya mengambil air panas yang akan digunakan nanti untuk membuatkan si malaikat kecil hasil cinta mereka itu.
Rey tidak munafik, dia memang punya nafsu yang sangat luar biasa. Setidaknya dia tidak pernah melakukan hal itu bersama dengan perempuan lain. Dia punya istri yang cantik, apalagi dia adalah pria pertama yang menyentuh istrinya. Sampai kapanpun, dia akan menjadi pertama dan terakhir nantinya. ‘aamiin’ ucapnya di dalam hati lalu mengajak sang istri masuk ke kamar.
Mungkin waktu itu dia bisa sampai kapanpun menyentuh istrinya ketika berada di hotel ketika papanya meminta dirinya untuk bulan madu. Tapi, untuk saat ini. Rey menahan diri karena ada bocah yang bisa saja membuatnya mati kutu ketika sedang berada pada turn on lalu anaknya menangis. Mungkin dia akan menangis juga di kamar mandi karena nafsunya tidak teratasi dengan baik karena gangguan si kecil.
Ketika tiba di kamar, mereka justru duduk bedua di sofa yang disediakan di kamar. Istilahnya adalah ‘pacaran’ karena dulu mereka belum pernah pacaran sama sekali. Dekat, tapi sayang tidak bisa dimiliki, ketika masih muda.
Rey melanjutkan lagi aksinya untuk menggoda sang istri. Mungkin ditahan dulu untuk beberapa saat karena makan malam yang dia konsumsi belum juga dicerana secara sempurna oleh lambungnya atau mungkin sebagian masih dibejek-bejek oleh lambungnya sebelum ke usus. Kali ini dia menyeringai dan memeluk sang istri.
Cantik, pintar, dan banyak lagi kelebihan yang mungkin saja belum Rey ceritakan pada orang lain. Tapi biarlah semua itu hanya dia yang menikmati sebagai seorang suami. Apalagi kecantikan istrinya yang tidak pernah diperlihatkan kepada orang lain selain kedua orang tua. Dan waktu itu yang sempat melihat adalah Leo. Kurang beruntung apalag? Sekalipun Marwa tidak berdandan, perempuan ini sangatlah cantik.
“Mas, gimana menurut kamu kalau perempuan lajang jadi selingkuhan pria yang sudah punya istri dan juga punya anak?”
Kali ini Marwa berkata demikian seolah sedang menceritakan temannya yang mungkin dipikirkan oleh Rey bahwa itu adalah Hana. Yang waktu itu dia lihat masuk ke dalam kamar hotel bersama dengan Zibran. Rey tidak ingin su’udzon kepada orang lain. Apa pun yang mereka lakukan di dalam kamar itu adalah urusan mereka berdua. Rey tidak akan ikut campur.
Dia kemudian menggenggam tangan istirnya. “Kenapa bertanya begitu?”
“Aku cuman nanya, Mas,”
Rey menghela napasnya kemudian menyuruh istrinya duduk lebih dekat lagi. Karena dia akan menjelaskannya lebih detail kepada sang istri. Mungkin ini juga akan menyakiti hati istrinya karena akan menyangkut masa lalu juga. Dia juga pernah membaca chat Hana di handphone Marwa dan itu benar-benar sangat menjijikkan bagi Rey. Kenapa? Karena di sana tertulis bahwa pria itu akan menceraikan istrinya demi si perempuan ini.
Oke, karena dia pernah berselingkuh. Maka dia akui bahwa itu adalah omongan kosong dari seorang pria yang punya istri apalagi punya anak. Sekali pria berslingkuh, maka kemungkinan besar dia akan melakukan hal yang sama lagi. Itulah yang Rey ingat ketika dia berselingkuh dulu dan benar-benar tobat melakukannya. Rey tidak akan pernah lagi berselingkuh apalagi mengingat perempuan yang pernah menjadi selingkuhannya.
“Mas, jawab dong! Aku serius nanya,”
Dia akan mengatakannya dengan sangat jujur dan berharap bahwa istrinya tidak akan pernah terluka oleh ucapannya nanti. Rey memang berselingkuh waktu itu. Tapi, dia tidak akan pernah melakukannya lagi. Dan, haram baginya menjatuhkan air mata istrinya hanya karena rasa sakit itu lagi. Maka dia tidak akan berhenti mengeluarkan kata-kata sumpah serapah untuk dirinya sendiri jika dia membuat istrinya menangis lagi karena sakti hati.
“Mas,” panggil Marwa dengan pelan.
“Siapa yang berselingkuh?” tanya Rey dengan sangat hati-hati.
Marwa sejenak melihat suaminya dengan tatapan yang berbeda. “Teman aku,”
“Dia jadi simpanan?”
Marwa mengangguk. “Iya, Mas. Dia pacaran sama suami orang yang bahkan pria itu sudah punya dua anak. Dan katanya mereka nggak bisa lagi perbaiki hubungan suami-istri itu. Terus teman aku ini jadi selingkuhan. Maaf, Mas. Aku nggak bermaksud bahas yang aneh-aneh sama kamu. Tapi aku pengin tahu aja mengenai apa tanggapan kamu mengenai pria yang berselingkuh,”
“Kalau aku jujur, aku harap kamu jangan tersinggung, Marwa,” pinta Rey dengan sangat hati-hati. “Setelah aku jujur, kita bakalan pelukan sampai nggak ada lagi yang tersakiti. Baik aku maupun kamu. Nggak boleh ada yang terluka, Marwa,”
Rey kemudian menangkup kedua pipi istrinya. Dia menghela napas panjang dan memejamkan matanya sejenak.
“Marwa, yang selingkuh itu teman kamu dengan pria yang beristri?”
“Aib, dalam arti?”
“Mereka pernah melakukan hubungan terlarang itu. Karena si pria ini bilang kalau dia diusir dari rumah sama istrinya. Kemudian setelah itu istrinya pergi dari rumah dan memilih tinggal di rumah kedua orang tuanya bersama anak-anak mereka,”
“Itu versi teman kamu?”
Marwa mengangguk. Rey paham karena dia juga sebagai seorang pria pasti paham dengan perselingkuhan yang didasari hanya untuk memenuhi nafsu. Mana ada pria yang berselingkuh mengatakan bahwa dia yang brengsek dan justru akan menjelekkan istrinya. Haram seorang pria berselingkuh itu mengatakan dirinya yang salah. Yang tetap salah adalah istri. Padahal tugasnya adalah membimbing, bukan justru meninggalkan untuk berselingkuh.
“Terus, dia bilang kalau mereka bukan hanya sekali ngelakuinnya,”
“Teman kamu hamil?”
Marwa menggeleng, “Belum, tapi kata si cowok itu, dia akan nikahin teman aku kalau misalnya dia hamil,”
“Kenapa nikahnya bukan sekarang?”
“Karena dia punya istri,”
“Kalau punya istri kenapa cari perempuan lain untuk nafsunya? Dia punya istri halal baginya untuk dia gauli. Kenapa perempuan yang bukan istrinya justru dia gauli?”
Pertanyaan Rey membuat Marwa menunduk sejenak dan mencari kejujuran atas apa yang ditanyakan oleh Marwa. Mungkin ini memang benar bahwa ini berkaitan dengan Hana. Karena seingatnya waktu itu mereka berada di hotel dan Marwa tidak tahu kalau temannya berada di hotel yang sama dengan dirinya.
Zibran, pria sialan yang mungkin saja menjanjikan untuk menikah ketika sudah berhasil meniduri perempuan itu. Tapi, Rey tidak ingin salah paham untuk saat ini. Dia ingin mencari tahu kebenaran itu.
“Kamu nggak boleh terlibat urusan orang lain, sayang! Udah cukup sampai di sini kamu ikut campur sama urusan orang lain. Apa kamu pernah nyuruh dia ninggalin cowok itu?”
“Udah, Mas. Tapi dia bilang kalau dia sayang banget sama cowok itu karena cowok itu adalah orang pertama yang ngelakuin itu sama dia,”
“Dia sudah tahu kalau pria itu punya istri. Tapi kenapa dia lanjutkan hubungan itu?”
Tanpa ada sedikitpun niat untuk berkedip dan mengalihkan pandangan dari mata istrinay. Rey tetap memegang kedua pipi istrinya agar istrinya bicara dengan jujur. Berharap dia punya solusi terbaik untuk hal ini.
“Mas, ngerti kan posisi dia saat ini?”
Rey mengangukkan kepalanya. “Karena dia sudah nggak perawan?”
Marwa mengangguk pelan. “Benar, dia takut kalau cowok ini pergi ninggalin dia,”
“Marwa, kenapa juga teman kamu mau? Dia bisa mencari pria lain untuk menikah dengan dia tanpa harus ngelakuin hubungan itu,”
“Dia sudah terlanjur sayang, Mas. Cowok ini juga memelas kalau dia nggak mau putus sama teman aku,”
“Dia belum ceraikan istrinya. Dan kamu tahu? Ada hati yang mereka sakiti ketika berselingkuh. Oke, kali ini aku jujur sama kamu. Sama halnya ketika aku dulu nyakitin kamu. Pasti alasannya adalah aku nggak baik-baik aja sama pernikahan kita. Semua pria itu sama. Aku laki-laki, dia juga laki-laki. Kamu perempuan, dan teman kamu juga perempuan. Pasti kamu paham maksud aku sekalipun aku nggak jelasin secara rinci. Kamu di sini punya perasaan. Sekarang aku tanya, gimana perasaan kamu ketika tahu aku selingkuh dulu?” Rey menelan salivanya dengan terpaksa karena takut istrinya menangis lagi karena dia bahas hal lalu hanya karena masalah temannya Marwa.
“Sakit, Mas. Pengin bunuh diri, karena aku nggak bisa jelasin itu dengan rinci,”
“Sakit itu sama seperti yang dirasakan oleh istri pria yang berselingkuh itu. Sakit teman kamu nggak seberapa, seolah dia ngerasa bahwa dia yang paling takut kehilangan. Tapi, bagaimana sama istri pria itu? Dia yang didzolimi, Marwa. Dia yang paling sakit. Posisi kamu sama istri pria itu sama. Apa pun alasan kamu membenarkan teman kamu itu, sekalipun mereka sudah pernah melakukan hubungan itu,” Rey menahan suara sejenak. “Maaf, dalam arti mereka sudah berhubungan badan. Tetap saja yang paling sakit itu adalah si istri pertama dari pria itu, Marwa. Yakin kamu kalau pria itu mau ninggalin istrinya? Kalau memang dia sayang sama teman kamu. Otomatis dia akan ceraikan istrinya. Bukan justru menikmati teman kamu dengan alih-alih dia akan pisah dengan istrinya. Lihat aku Marwa!”
Rey mencoba menahan diri dan benar-benar meminta agar istrinya menatapnya dengan tatapan yang begitu tajam kali ini. “Pria itu akan menceraikan istrinya dan akan memilih teman kamu. Bukan justru berselingkuh dan bilang kalau dia bakalan nikahin teman kamau kalau seandainya teman kamu itu hamil,”
“Aku kasihan sama dia, Mas,”
“Sayangku, istri tercintaku. Sulit bagi seorang pria untuk benar-benar ninggalin istri pertamanya untuk perempuan lain. Apalagi kalau misalkan istrinya itu adalah teman berjuangnya dari nol. Dan mungkin saja yang kedua itu adalah opsi ketika yang pertama benar-benar pergi. Tidak ada perselingkuhan itu berakhir bahagia. Yang ada hanyalah gerbang menuju kesengsaraan. Mungkin sekarang dia yang bahagia, karma itu akan tetap datang. Sekalipun tidak di dalam waktu yang bersamaan. Apalagi dia sampai melakukan hubungan itu. Apa dia yakin kalau misalnya dia hamil, laki-laki itu akan menikahi dia? Marwa, kalau memang pria itu serius. Bisa jadi kan kalau mereka menikah secara siri. Tanpa harus melakukan hubungan yang salah itu?”
Marwa menganggukkan kepalanya dengan pelan begitu Rey menjelaskan.
“Tanyakan apa yang mengganjal dipikiran kamu! Aku nggak mau kamu nanti terlibat jauh dengan teman kamu itu. Aku nggak mau kalau kamu justru ikut-ikutan sama masalah teman kamu. Suruh dia minta kepastian, suruh nikah dan jadi istri kedua. Dibandingkan itu melakukan hal yang salah. Kalau memang dia punya perasaan, suruh dia ninggalin cowok itu. Suatu saat dia pasti akan diterima oleh pria lain yang tulus mencintai dia. Sekalipun dia tidak perawan lagi. Aku akui kalau mereka berdua itu memang salah, Marwa. Please banget kamu nggak usah ikut campur sayang!”
“Dia lagi kebingungan untuk saat ini, Mas,”
“Biarkan mereka menyelesaikan masalahnya berdua. Aku nggak mau kamu terlibat, sayang. Itu adalah urusan mereka. Bagaimana nanti kalau kamu dilabrak sama istri pria itu yang justru ikut-ikutan dan kamu pasti bakalan belain teman kamu. Ingat ya, kamu pernah berada diposisi istrinya itu. Jadi sangat sakit kalau kamu justru belain teman kamu. Marwa, ada banyak sekali yang tidak bisa kita ikut campuri. Dan mengenai teman kamu, percayalah kalau ada pria yang bakalan nerima dia dengan lapang dada sekalipun dia berikan kehormatannya kepada pria yang dia sayang. Kita nggak pernah tahu bagaimana dia nyerahin itu ke pria yang beristri,”
“Mas, kamu dulu nggak pernah kan?”
“Aku berani bersumpah, aku nggak pernah sampai melakukan hal itu, Marwa. Aku ngomong gini sebagai laki-laki yang beristri ya. Aku tahu bagaimana rasanya jadi pria yang sembunyikan istrinya dari selingkuhan. Dan aku berdiri di sini sebagai orang yang ingin lindungi kamu.”
Apa yang dilakukan oleh Rey kali ini memang benar. Jika dia memang harus melakukan itu. Dia tidak ingin jika istrinya nanti terlihat dalam urusan orang lain. Marwa yang dia sayangi. Perempuan yang harusnya tetap diam di rumah dan mengurus rumah tangga tidak seharusnya dia rasakan semua masalah itu. Sudah cukup kesalahannya dulu dipandang sebagai pelajaran. Justru kali ini istrinya menjadi orang yang seolah mendukung temannya menjadi selingkuhan itu.