
Memiliki istri yang setia menemaninya dalam setiap perjuangan pasti sangat membahagiakan. Banyak suka dan duka yang dialaminya saat menjalani rumah tangga yang sudah pasti pernah bermasalah juga. Tapi kesabaran istrinya dalam menghadapi dirinya yang kadang sering mengomel ketika lelah bekerja ditambah lagi karena ada kesalahan di rumah yang kadang menjadikan dirinya tidak mengontrol emosinya.
Rey yang selama ini biasanya selalu bersabar menemani sang istri kemanapun istrinya mau. Namun kadang dia membiarkan istrinya pergi dengan anak-anaknya.
Pernikahan yang dijalani sudah beberapa tahun lamanya, dikaruniai dua orang anak yang sangat lucu. Sudah pasti juga sifat anak-anaknya bersumber dari didikan sang istri. Jika diingat kembali, Marwa adalah pewaris tunggal di perusahaan mertuanya. Tapi Rey tidak memperbolehkannya untuk bekerja. Karena semua kebutuhannya sudah dipenuhi oleh Rey. Apa yang diinginkan oleh istrinya dan juga anaknya pasti akan dipenuhi juga.
Beberapa hari lalu mereka kembali dari liburan akhir tahunnya ke beberapa negara dengan membawa kedua anaknya. Dulunya dia tidak pernah menyangka akan bisa bertahan seperti ini usai pertengkaran ketika Marwa bersikeras ingin bercerai tapi pada akhirnya mereka berdua bisa menyelesaikan masalahnya berdua.
“Abi, pasang jaketnya dulu, Nak!” panggil Marwa ketika anak keduanya yang berjenis kelamin laki-laki masih duduk di depan televisi bersama dengan Audri.
Sedangkan Rey yang baru pulang dari kantor disambut dengan anaknya yang berlarian di ruang tengah.
Dia menyambar anaknya. “Naaaaah, hmm kebiasaan ya kalau Mama yang manggil harus lari-larian dulu,” kata Rey mencium anaknya.
“Papa,” Audri berdiri lalu menghampiri Rey kemudian bersalaman. Anak yang baru saja masuk TK itu terlihat menggemaskan. “Papa capek?”
Dia menggendong kedua anaknya usai menyerahkan tas dan kunci mobil ke istrinya. “Capek dikit, Ody mau pijitin Papa?”
Audri tersenyum, “Papa nanti kita jalan-jalan malam, yuk! Kita ke mall, Ody pengen main,”
“Ajak Mama dulu dong! Kalau Papa sih oke,”
Audry mencium pipi Rey, kemudian diikuti oleh Abi yang mencium pipinya.
Ketika dia duduk di sofa, kedua anaknya turun dari pangkuannya. Marwa duduk disebelahnya kemudian dia cium kening istrinya, Marwa malah mencium pipinya. “Ada apa? Kenapa senyum terus?”
Rey mengangkat sebelah alisnya mendengar istrinya hamil anak ketiga yang justru membuatnya tersenyum. “Yang bener?”
“Iya, katanya baru beberapa minggu. Aku kan khawatir nggak pernah datang bulan, terus periksa,”
Rey merangkul istrinya. “Banyak anak nih kita,” kata Rey yang senang mendengar istrinya hamil lagi anak ketiga mereka yang dulu pernah sempat keguguran sebelum Abi. “Nggak apa-apa, aku masih sanggup bantu kamu jagain anak-anak,”
Marwa memeluk Rey kemudian tersenyum. “Makasih ya Mas udah sayang banget sama aku. Semua kebutuhan aku Mas penuhi, anak-anak juga baik-baik banget,”
“Karena istrinya juga baik, kalau istrinya nggak baik. Pasti aku jitak,”
Marwa mencubit perut Rey. “Nyebelin ih,”
“Biar nyebelin gini yang penting sekarang nggak bisa berpaling dari kamu,”
Marwa menempel padanya seperti ini, ya mereka berdua memang sudah memiliki dua anak yang sekarang ditambah lagi dengan anak ketiga yang masih di dalam kandungan. Rey juga pernah bilang bahwa dia tidak mau istrinya menggunakan alat kontrasepsi. “Kalau misalnya nanti aku nggak cantik lagi, nggak terurus gimana?”
Rey menaruh telunjuknya di depan bibir istrinya. “Nggak ada yang bicara fisik lagi, kita bakalan punya tiga anak sekarang. Kita belajar saling mencintai, saling menerima satu sama lain. Kalau aku akui dulu memang kesalahan, tapi nggak ada lagi yang aku sembunyikan sekarang dari kamu. Aku tetap sayang sama kamu dan juga anak-anak.”