RICH MAN

RICH MAN
KARENA AKU



Di rumah yang sangat besar dengan penghuni seadanya, Bintang duduk di balkon kamarnya, rutinitas yang sudah berlalu dua bulan terakhir. Bintang adalah anak tunggal yang selalu kesepian tidak memiliki teman berbagi cerita setiap kali menjelang tidur.


Pukul delapan malam, papanya belum juga pulang dari kantor, Bintang sudah menerima mama tirinya hadir di rumah itu. Bahkan Bintang memiliki saudara tiri yang tidak lain adalah kakak kelasnya sendiri, tapi selama ini tidak ada yang tahu bahwa kakak tirinya berada di sekolah yang sama dengan dirinya.


Bintang jarang sekali terbuka dengan teman-teman yang lainnya. Termasuk kepada Rey, walaupun lelaki itu adalah teman baiknya sekalipun.


Terkadang Bintang iri kepada Reynand jika lelaki itu membahas adik-adiknya, tidak jarang pulang Rey mengajaknya untuk menikmati hidup yang lebih baik dengan didikan yang selama ini diajarkan oleh Reynand. Pernah suatu hari Bintang merasa hatinya tersentuh saat Rey sedang membaca Kitab Suci Al Qur'an dan itu membuat Bintang tersentuh hingga meneteskan air mata.


Selama ini Bintang tak pernah kekurangan dalam materi, namun tetap saja sebagai gadis yang dalam fase pertumbuhan, dia membutuhkan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Setiap pulang sekolah dia tidak pernah bertemu dengan papanya, apalagi hingga malam. Bintang hanya bertemu saat berangkat sekolah, dan sudah mulai terlihat dengan jelas perubahan yang terjadi pada papanya semenjak saudara tirinya datang ke rumah itu. Papanya lebih memanjakan anak tirinya dibandingkan dengan Bintang sendiri.


Jarak rumahnya dengan Rey tidak terlalu jauh, tetapi saat kesepian melanda, tidak ada salahnya dia mengajak lelaki itu untuk bertemu sekadar menghilangkan rasa bosan. Lagipula Rey tidak pernah menolak jika diajak bertemu sekalipun.


Bintang menghubungi Rey dan mereka berdua berjanji akan bertemu di taman dekat rumah Bintang.


Menunggu sekitar dua puluh menit, Rey tiba di sana dengan setelan khasnya. Walaupun termasuk lelaki yang selalu tampil modis, Rey tetap sopan dalam berpakaian. Tak pernah menggunakan celana pendek sekalipun selama mereka bertemu.


Rey berlarian menuju ke arahnya, "Sorry lama, aku tadi harus izin dulu sama, Papa,"


Bintang mengangguk pelan saat Rey duduk disampingnya, tanpa sadar dia bersandar begitu saja di pundak Reynand hingga membuat lelaki itu terdiam seribu bahasa hingga beberapa menit kemudian.


Hingga pada akhirnya Rey menceritakan betapa beruntungnya seorang Fendi yang berasal dari keluarga tidak berada akan tetapi kasih sayang orang tuanya selalu saja tulus kepadanya, apalagi dengan kelengkapan anggota keluarga, sungguh dihati Bintang tersirat rasa iri terhadap teman sekelasnya itu, apalah artinya harta berlimpah namun kasih sayang orang tua tidak dia dapatkan dari keduanya. Mengandalkan waktu bersama dengan papanya pun Bintang masih sangat sulit, tak seperti orang tua Rey yang selalu mengimbangi waktu bersama dengan keluarga, apalagi orang tua Reynand begitu hebat dalam mengatur waktu untuk berkumpul. Terkadang Rey akan menolak untuk bertemu dengan dirinya hanya saat berkumpul dengan keluarga, selebihnya lelaki itu akan mudah diajak bertemu kapan pun.


Bintang yang kecil dahulu kini tumbuh remaja, usianya belum genap 17 tahun, akan tetapi kurangnya kasih sayang membuatnya harus berantakan seperti sekarang ini.


"Rey, apa kamu juga akan ninggalin aku?"


Bintang tetap pada posisinya yang menyandarkan kepalanya pada bahu pundak Reynand, "Ninggalin gimana?"


"Kalau seandainya suatu waktu kamu menemukan orang yang lebih pantas untuk dijadikan teman, apa kamu akan pergi?"


"Apa kamu berpikiran untuk ninggalin aku?"


"Bukan, Rey. Tapi aku memang butuh kamu,"


Bintang terkejut saat mendapati tangan kiri Rey mengusap pundaknya dan tangan lelaki itu justru menggenggamnya dengan erat, padahal selama ini Rey selalu berusaha untuk tidak terlalu dekat dengan perempuan.


"Aku akan sama kamu, jika kamu bersedia menemani dalam keadaan apa pun, dan dalam suasana apa pun,"


"Maksud kamu?"


"Kamu kesepian kan?"


Bintang membalas genggaman Reynand, "Jangan pernah berpikir bahwa kamu akan sendiri, ada aku. Kamu merasa sepi, hubungi aku. Aku akan datang buat kamu, jangan melakukan tindakan bodoh yang dapat merugikan diri kamu sendiri, apa pun itu Bintang. Jangan pernah kamu simpan sendiri, apalagi kamu bilang kalau kamu punya mama tiri, dan papa kamu enggak pernah ada waktu buat kamu,"


"Rey, kita yang seperti ini. Aku takut jika suatu waktu ada yang salah sama kita,"


"Salah? Memangnya gimana?"


"Tahu Ulfa?"


"Kakak kelas kita?"


"Iya, kamu tahu, kan?"


"Tahu, kenapa?"


"Dia kakak tiri aku, Rey. Aku selalu ngajakin kamu keluar saat pacarnya datang, kamu tahu Rey mereka pacaran itu keterlaluan, aku takut. Apalagi kalau ada teman-temannya yang lain, mereka sering mabuk-mabukan juga,"


"Iya, makanya aku selalu cari alasan buat keluar sama kamu. Kadang mereka sampai malam di rumah, nginap, Papa enggak tahu itu karena kalau Papa ke luar kota, dia akan bawa pacarnya. Mama tiri aku biarin itu terjadi,"


"Aku janji bakalan jagain kamu," Rey mengelus pundaknya lagi, namun kini dengan sedikit menggosok kasar untuk menenangkan.


Bintang meneteskan air matanya karena menahan perih yang ada dipundaknya akibat pukulan mama tirinya saat Bintang hendak mengadu kepada papanya mengenai perbuatan kakak tirinya yang membawa pacarnya ke rumah.


"Kamu nangis?"


Bintang buru-buru mengusap air matanya agar tidak terlihat oleh Reynand. Namun Bintang sadar bahwa pundak kirinya sedang berdarah dan menahan perih itu. Tangan Rey berhenti mengusapnya, "Bintang, ini darah, kamu kenapa?" ucap Rey panik. Bintang mengusap air matanya saat menahan perih itu.


Karena dia tidak mau jujur mengenai pukulan yang dia dapatkan dari mama tiri dan kakak tirinya, Reynand menariknya ke mobil dan memaksa Bintang untuk jujur.


"Kamu kenapa?" suara Rey meninggi dan membuat Bintang ketakutan.


"Aku enggak apa-apa, Rey,"


"Enggak apa-apa gimana? Ini berdarah Bintang, siapa yang mukulin kamu? Mana yang terluka, aku mau lihat,"


Bintang menggeleng, namun lelaki itu tidak berhenti untuk memaksanya memperlihatkan luka itu, sebenarnya dia malu untuk memperlihatkan luka itu karena mengingat Rey bukanlah lelaki yang mencari kesempatan dalam keadaan seperti ini.


"Tutup mata kamu, Rey!" ucapnya lirih, Bintang mulai membuka kaos panjangnya dan menutupi bagian dadanya karena pakaian dalam yang dia kenakan sangat menonjolkan bagian dadanya.


Perlahan ia menyuruh Rey untuk membuka matanya dan berbalik. Begitu banyak bekas pukulan yang ada dibelakang tubuhnya dan yang paling parah di pundak Bintang hingga berdarah.


Bintang melihat Rey menutup mulutnya dan terus menggeleng karena tidak percaya bahwa perlakuan itu didapatkan oleh Bintang dari mama tirinya. "Ini kapan terjadinya? Kenapa kamu diam, hah?"


Rey membuka jaketnya dan memberikan kepada Bintang untuk menutupi bagian tubuh yang lain. "Sudah tiga hari, Rey. Dan tadi waktu kamu usap secara enggak langsung kamu ngenain yang luka itu tadi,"


"Kita ke klinik sekarang buat obati luka kamu,"


Bintang mengangguk sambil terus menahan darah itu keluar dengan tisu yang ada di mobil Rey. Bukan untuk mencari perhatian, tetapi lelaki itu termasuk orang yang tidak suka dengan kekerasan, apalagi setelah melihat luka yang ada di bagian tubuh Bintang, lelaki itu bertindak dengan sangat cepat. Melihat raut wajah marah Rey yang bahkan tidak menanggapi ucapannya sama sekali, Bintang berkali-kali meminta maaf.


"Rey, kamu marah? Aku minta maaf,"


"Bukan itu yang mau aku dengar, Bintang. Aku enggak suka kalau kamu itu sembunyikan hal seperti ini sama aku, gimana reaksi Papa kamu?"


"Dia enggak tahu,"


"Mama kamu mana?"


"Di usir dari rumah sama Papa. Dan sampai sekarang aku enggak tahu dia di mana,"


"Hah, terus kamu mendapat perlakuan begini dari Mama tiri kamu?"


"Iya, Rey,"


Hingga tiba di klinik, raut wajah emosi Rey belum juga padam. Bintang menggenggam tangan Rey, "Rey, maaf,"


"Enggak Bintang. Kamu sudah main rahasia-rahasiaan sama aku,"


"Kenapa kamu peduli sama aku?" ucapnya pelan. Hal itu membuat ekspresi Rey berubah seketika. "Kenapa, Rey?"


"Karena aku..."