RICH MAN

RICH MAN
PERJUANGAN DULU



Seburuk apa pun keadaan, dia tidak pernah berusaha untuk melarikan diri dari masalah itu ke alkohol. Dia tahu bahwa itu adalah bukan jalan keluar untuk setiap masalah. Beberapa waktu lalu istrinya telah melakukan tujuh bulanan di rumah orang tua Rey. Dia juga menghadiri itu semua hingga selesai. Anak pertama dari Marwa, sebuah penantian yang selama ini ditunggunya. Akan tetapi semakin hari, semakin dekat dengan Alin. Perasaan kepada istrinya tetap saja memudar.


Sebagai seorang pria, seharusnya dia bisa menjadi penengah. Menjadi kepala rumah tangga yang baik bagi istrinya. Dia juga selama ini selalu berusaha untuk mengembalikan perasaan itu. Rey berusaha untuk menuruti saran dari saudara mamanya, yaitu melakukan kebiasaan tentang bagaimana dulu dia bisa mencintai istrinya.


Tepat malam hari, dia baru saja pulang dari kantor. Beberapa waktu lalu perusahaannya mengalami penurunan seperti yang dikatakan oleh papanya. Kini usia kandungan Marwa sudah memasuki usia delapan bulan lebih. Sekitar 2 bulan lamanya dia menjalin hubungan dengan Alin. Bahkan perempuan itu menyuruh Rey untuk pura-pura baik di hadapan sang istri.


Setiap malam, setiap kali dia bekerja di rumah. Istrinya selalu menemani bahkan sampai ketiduran di sofa hanya untuk menemaninya bekerja sepanjang malam.


Dia langsung masuk ke dalam rumah begitu saja setelah membuka pintu gerbang dengan kunci cadangannya. Begitu masuk ke dalam rumah, dia menemukan istrinya tidur di sofa menunggu dia pulang bekerja.


Perlahan, karena merasa sangat kasihan, dia mengangkat tubuh istrinya ke kamar. Dia tahu bahwa itu adalah rutinitas yang selama ini dilakukan oleh Marwa.


Tiba di kamar, perlahan dia mengelus perut istrinya yang hanya menunggu minggu agar anaknya keluar. Suatu hal yang teramat dinantikan oleh Rey.


Dia segera mandi dan langsung melanjutkan pekerjaan yang belum selesai tadi. Seusai membersihkan diri, dia langsung mengambil laptop dan menuju kamar sebelah. Di sana dia sulap untuk menjadi ruang kerjanya.


Perlahan, perempuan itu membuka matanya. Tiba-tiba dia merasa aneh, pasalnya tadi dia tidur di sofa dan kali ini tiba-tiba di kamar. Dia melihat ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Dia pun beranjak dari tempat tidurnya dan langsung menuju ke ruangan sebelah.


“Mas, kamu kapan pulang?” Marwa tahu bahwa beberapa bulan lalu suaminya tersebut bersama dengan perempuan lain. Akan tetapi semenjak dirinya pulang dari rumah sakit suaminya bersikap baik padanya. Marwa berusaha meyakinkan diri bahwa suaminya itu sudah berubah. Dia tidak ingin berdebat dan membahas perempuan itu. Karena dia tahu bahwa pertengkaran tidak pernah baik dalam hubungan mereka.


Rey menoleh ke arah belakang, “Kenapa bangun? Istirahat sana! Nanti aku nyusul,” ucap Rey dengan senyuman khasnya menyambut kedatangan istri tercinta.


“Kamu mau dibuatin minuman, Mas?”


Rey sejenak berpikir, “Kalau kamu nggak capek ya. Kalau capek nggak usah,” jawabnya dengan mantap. Dia memang menyayangi calon buah hatinya. Ada rasa iba tersendiri ketika ia melihat istrinya berjalan dengan begitu hati-hati.


Beberapa saat kemudian Marwa membawa kopi dan langsung diletakkan di atas meja kerja suaminya itu. Rey yang istrinya agar tidak pergi dan dia langsung mencium perut istrinya. “Sebentar lagi dia lahir,” ucap Rey sambil menciumi perut istrinya berkali-kali.


“Mas, ada hal yang aku minta dari kamu, boleh?” ucap Marwa. Dia hanya ingin ditemani ketika melahirkan nanti. Dia tidak ingin merasakan kesakitan tanpa didampingi seorang suami.


“Mau minta apa? Aku bakalan usahakan,”


“Ini udah delapan bulan lebih, Mas. Dan sebentar lagi Sembilan bulan, bisa nggak kamu temani aku waktu lahiran nanti?”


Rey melihat raut wajah yang begitu teduh dari istrinya. Walaupun dengan sedikit ragu, Rey mencoba meyakinkan. “Aku bakalan temani,”


“Janji?”


“Aku janji bakalan nemenin kamu. Sekarang kamu istirahat ya!” dia begitu takut jika bayinya kenapa-kenapa. Dengan sebisa mungkin Rey juga menghindari Alin beberapa hari ini. Dia berusaha untuk meluangkan waktu bersama dengan Marwa. Alin memang memintanya untuk pura-pura baik. Akan tetapi dia tidak bisa terus menerus melakukan itu. Ketika bersama dengan Alin. Perasaan itu hilang seketika. Namun, ketika sedang bersama istrinya. Dia hanya merasakan rasa iba, itu saja.


Praang


Baru saja Marwa keluar dari ruangan kerja Rey. Tiba-tiba saja dia merasakan sakit perut yang luar biasa hingga nampan yang dibawanya itu terjatuh. Dia memegangi wajahnya berusaha menenangkan diri dan menahan perutnya.


“Marwa, kamu kenapa?” suara Rey terdengar begitu jelas.


Akan tetapi Marwa berusaha melewati itu sendirian. Karena dia tahu bahwa suaminya sangat sibuk dengan pekerjaannya. Dia ingat bahwa suaminya sedang mengalami masalah di kantor. Dan dia tidak mau membebani suaminya. “Aku nggak apa-apa, Mas. Nampannya terjatuh,” ucapnya berbohong. Akan tetapi rasa sakit itu tidak bisa ditahan hingga membuatnya duduk bersimpuh dilantai.


Ia menggigit bibir bawahnya menahan sakit itu. Rasa sakit yang pertama kali dirasakan olehnya. Barangkali itu merupakan kontraksi yang selama ini dia rasakan akan tetapi inilah yang paling sakit.


Beberapa menit kemudian dia berusaha untuk bangun dari tempat duduknya. Marwa sendiri berusaha untuk tidak merepotkan suaminya.


Ia masih menyimpan chat itu di ponselnya. Dan dia tidak pernah memberikan siapapun meminjam ponselnya. Barangkali suatu waktu foto itu berguna untuknya.


Di dalam kamar, dia berdzikir sepanjang malam.


Keesokan paginya, seperti biasa dia menyiapkan sarapan dan semua keperluan suaminya sebelum bekerja. “Kamu hari ini masuk jam berapa, Mas?”


“Jam 10 sayang. Ohya, untuk beberapa minggu ke depan kita tinggal di rumah Mama ya. Aku takut kalau nanti kamu tiba-tiba sakit perut. Di rumah sepi, malah nggak ada yang bantuin, kamu nggak apa-apa kan?”


Dia justru senang jika tinggal di rumah mertuanya. Marwa mengangguk, “Aku udah siapin semua keperluan kita,” sambung Rey.


“Kapan kamu lakukan itu, Mas?”


“Tadi waktu kamu masak. Jadi aku siapin semuanya. Mulai dari pakaian kamu, dan juga nanti kamu belanja sama Mama, beli semua kebutuhan kamu ya,” perintah Rey.


Dia menggeleng. “Nggak usah, Mas,”


“Kenapa?”


“Uang yang kamu kasih waktu itu masih kok,” ucapnya dengan pelan. Rey mengernyitkan dahinya. Sudah dua bulan lebih Marwa tidak pernah menggunakan uang yang ada di rekeningnya. Dia selalu mengawasi pengeluaran istrinya. Akan tetapi sepeserpun tidak pernah digunakan lagi oleh Marwa. Ketika mengecek dompet, bahkan kartu debit khusus istrinya itu masih di sana. Dari mana perempuan itu mendapatkan uang setiap hari. Bahkan untuk keperluan kebutuhan mereka berdua?


“Kamu yakin uang itu cukup untuk belanja kamu?” padahal dia benar-benar tidak yakin akan hal itu.


“Kalau sekadar itu aku masih bisa beli,” ucapnya kemudian tersenyum.


“Ini cukup kok,”


Dia tidak ingin berdebat pagi itu. Dia mengalah dan langsung duduk di tempat makan. “Ya sudah ayo sarapan. Setelah itu kita ke rumah Mama. Semoga lahirannya nanti lancar ya sayang,” ucap Rey pelan kemudian istrinya hanya tersenyum begitu manis.


****


Tiba di rumah orang tua Rey. “Kamu ke kantornya jam 10, kan?”


“Iya sayang,”


“Sebentar lagi kamu berangkat dong? Mampir ke rumah Mama nggak?”


“Kayaknya nanti aku pulang cepat aja ya. Kamu masakin yang enak. Nanti aku mampir bentar aja, tapi nggak bisa lama karena harus ke kantor,” Rey tersenyum kemudian turun dari mobil sambil membawa barang bawaan istrinya.


Mereka berdua masuk ke dalam rumah. Karena sudah berjanji dengan mamanya lebih terlebih dahulu. “Akhirnya kalian datang juga,” ucap mamanya dan langsung memerintahkan asisten membawa barang mereka berdua ke kamar.


Nagita langsung mempersilakan keduanya duduk. “Aku langsung ke kantor, Ma. Banyak urusan, aku usahakan pulang cepat,”


Mereka pun mengangguk dan mengantar Rey ke teras depan.


Nagita mengajak Marwa duduk di ruang tamu, “Mama boleh lihat kaki kamu nggak?”


“Kenapa, Ma?”


“Karena Mama selalu kepikiran kamu, Mama selalu mikirin kamu. Mama yang suruh Rey tinggal di sini sampai kamu melahirkan,”


“Kaki aku baik-baik aja, Ma,”


“Coba Mama lihat,”


Dengan malu-malu Marwa membuka kaos kakinya, “Bukan telapak kaki. Mama pengin lihat betis kamu,”


Nagita langsung mengangkat rok menantunya dan memastikan bahwa betis menantunya tidak bengkak. “Kenapa nggak pernah nanya soal ini ke Mama?” ucap Nagita sambil mengangkat celana dalam dan melihat betis menantunya sangat bengkak.


“Nanya soal apa, Ma?”


“Betis kamu bengkak. Kenapa nggak pernah cerita,”


“Orang hamil kan memang gitu, Ma?”


Nagita menggeleng. “Ini karena kamu banyak gerak. Kamu kecapean, kalau memang kamu ngga banyak gerak dan kecapean, nggak mungkin gini,” ucap Nagita dan langsung mengurut betis itu dengan pelan.


“Ma nggak usah,”


“Mama justru bakalan marah. Karena ini demi kamu dan calon bayi kamu nanti. Kamu juga yang bakalan kesakitan, apa kamu nggak pernah capek atau kesakitan gitu?”


Perempuan itu menunduk malu kemudian menceritakan kejadian sebenarnya bahwa semalam dia terjatuh. “Semalam aku jatuh, Ma,”


“Di mana?”


“Di rumah. Karena tiba-tiba perut aku sakit dan aku duduk gitu aja, kaki aku kram banget,”


“Nah maka dari itu. Kamu harus sesuaikan diri bekerja. Ada asisten malah kerja, coba Papa kamu tahu pasti dia bakalan marah sama kamu. Mama aja dulu nggak boleh ngapa-ngapain selama hamil. Jangankan masak, Papa ngurung banget pokoknya dulu. Turun dari tangga padahal Mama tuh bisa, tapi emang Papa kamu saking khawatirnya sama Mama. Dia tahu Mama pernah keguguran dulu. Jadi ya posesif banget,”


“Papa baik banget ya sama Mama?”


“Karena dia selalu ingin anak-anaknya bahagia, jadi bagaimanapun caranya dia usahakan, termasuk juga jaga Mama waktu Mama hamil. Waktu lahirin si kembar Papa tuh pokoknya luar biasa banget jagain Mama.”


 


 


Marwa hanya terharu mendengarkan cerita mama mertuanya karena papa mertuanya yang begitu baik dalam menjaga istri ketika hamil. Akan tetapi Marwa tidak pernah tahu bagaimana dulu Azka ketika Nagita hamil Rey.