
Di kediaman Nagita, nampak begitu banyak para anak asuh mereka yang sudah berkumpul di sana. rencana mereka adalah untuk merayakan ulang tahun Azka yang ke 46 tahun. Selama menikah, Nagita tidak pernah merayakan ulang tahun suaminya karena selalu saja sibuk bekerja. Namun untuk kali ini ia berencana untuk merayakan ulang tahun suaminya pertama kali semenjak mereka menikah.
Nagita melihat ke arah ruang tamu yang di mana Nabila dan Salsabila tengah asyik bermain dengan anak-anak yang lain. Nagita sengaja meminta sopir untuk menjemput anak-anak itu karena ingin merayakan ulang tahun bersama dengan anak asuhnya.
Dibantu oleh beberapa pengurus yayasan, mereka membuat beberapa makanan. Di yayasan sendiri, Nagita dan Azka tidak menyebut itu sebagai panti asuhan. Akan tetapi menyebutnya dengan sebutan 'rumah kita' yang di mana anak-anak berhak untuk melanjutkan pendidikannya dengan baik dan mengasuh anak-anak yang dibuang oleh orang tuanya, semisal seperti Amanda. Dia merupakan anak yang di buang oleh orang tuanya karena sakit, dan hal itu yang membuat suaminya menjadi sangat iba terhadap gadis itu. Pernah suatu waktu Azka ingin membawa Amanda ke rumahnya. Akan tetapi Nagita melarang karena di sana mereka memiliki anak laki-laki yang usianya satu tahun lebih tua dari Amanda, kemudian suaminya membiarkan Amanda tumbuh di 'rumah kita'.
"Mama, mainan Nabila mana?" ucap salah satu anak asuh mereka. Memang semenjak menjadi ketua yayasan itu, mereka memanggil Nagita seperti memanggil orang tua sendiri, dan itu yang sangat menyenangkan bagi Nagita. Menganggap semua anak-anak di sana seperti anaknya sendiri. Bahkan di sana semuanya mengenyam pendidikan yang layak. Tidak ada lagi anak-anak yang harus ngamen di jalan untuk bertahan hidup. Tidak ada lagi anak-anak yang meminta-minta di lampu stop lagi.
Nagita menampilkan senyum manisnya, "Ada tuh, coba minta sama bibi," ucapnya sopan.
Anak itu berlari dan mendekati asisten yang biasa merapikan mainan Nabila dan Salsabila.
Di ruang tamu begitu ramai anak-anak yang masih belum bisa membantu apa-apa dan justru menemani Nabila dan Salsabila, memang anak-anak itu sangat suka dengan tingkah si kembar yang selalu saja lucu membuat siapa pun kadang gemas dibuatnya.
Amanda pun ikut membantu, tetapi Nagita memberikan tugas sewajarnya karena tidak ingin jika Amanda terlalu kelelahan dengan pekerjaan yang banyak itu.
"Amanda, kenapa enggak sekolah sayang?" Nagita mendekati Amanda yang tengah mengupas bawang merah dan mengirisnya tipis.
"Iya, Ma. Mungkin besok,"
"Amanda harus sekolah yang rajin, kalau Kak Rey tahu pasti dia marah,"
"Jangan lapor ya, Ma!"
Nagita mengangguk pelan dan membantu Amanda mengupas bawang. Sementara di sana begitu ramai gelak tawa dari anak-anak yang tengah bermain. Hal itu sangat disukai oleh Nagita karena suasana ramai itu sudah menjadi hal yang biasa baginya.
"Mama, pipis!" Ucap salah satu anak sambil memegang selangkangannya, Nagita beranjak dari tempat duduknya dan mengantarkan anak asuhnya ke toilet.
"Kenapa enggak sama yang lain ke toilet sayang?"
"Kerannya tinggi, Ma. Enggak nyampe, makanya minta di antarin Mama," Nagita tertegun dengan ucapan anak asuhnya. Anak itu berusia lima tahun dan sudah sekolah.
Mereka berdua keluar dan Nagita kembali lagi ke ruang depan untuk melihat beberapa orang yang sibuk dengan kegiatannya masing-masing.
"Anak-anak tidur ya! Nanti siang Mama bangunin kalau sudah waktunya makan, sekarang kalian bobok di kamar Kak Rey sama kamar Mama ya! Ingat jangan sentuh barang-barang di sana, nanti Papa marah!"
"Iya, Ma," ucap anak-anak itu serentak. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang.
"Mama, dadek ikut ya?" ucap Nabila yang membuat Nagita mengangguk dan membiarkan putri kembarnya ikut ke kamar.
"Titip yang dua ini ya anak-anak! Taruh di tengah, jangan biarin dipinggir!"
Anak-anak itu mengangguk dan beberapa yang menggandeng tangan putri kembar Nagita hingga ke kamar.
"Ma, ini nanti jadi buat tumpeng?" ucap seorang gadis yang usianya sama dengan Rey.
"Iya, sayang. Nanti biar Mama sama yang lain yang buat, sekarang kupas telur aja ya!"
Nagita pun membiarkan beberapa anak itu bekerja sesuai dengan apa yang diperintahkannya.
Seusai makan siang bersama, beberapa menit kemudian Rey pulang sekolah.
"Ma, ada apa kok rame?" ucap lelaki itu sambil menenteng helm dan juga bersalaman kepada mamanya.
"Papa ulang tahun, Rey. Masa Mama enggak pernah rayain, sekali-sekali, kan,"
"Oh, ya udah Ma aku ganti seragam dulu,"
"Udah sholat? Makan sudah?"
"Sudah semua, Ma. Tadi aku makan siang di jalan,"
"Kebiasaan banget makan di luar,"
"Fendi nraktir, Ma. Katanya gajiannya sebagai ucapan terima kasih. Enggak enak nolak, jadi aku terima ajakan dia,"
"Oh, ya sudah sana ganti seragam dulu! Terus istirahat ya!"
Reynand beranjak dari hadapan mamanya dan langsung masuk ke kamar. Betapa terkejutnya dia melihat begitu banyak anak-anak sedang bermain di atas ranjangnya.
Mereka semua berbalik menatap Reynand kemudian berlari menghampiri Reynand. "Kakak,"
Rey menyambut mereka dengan pelukan. "Kapan datang?"
"Tadi, Papa ulang tahun kata, Mama. Ohya kakak salaman dulu dong,"
Lelaki itu mengulurkan tangannya dan dicium bergiliran oleh adik-adiknya.
"Kalian sudah makan?"
"Sudah dong,"
"Sholat?"
"Sudah, tuh," mereka menunjuk tempat Rey biasa sholat dipenuhi dengan sarung yang berserakan.
"Kenapa enggak dirapikan lagi?"
"Iya tuh mereka enggak rapiin kak," keluh salah satu adiknya. Di sana ada sekitar kurang lebih dua puluh anak yang sedang bermain. Mulai dari Salsabila, Nabila dan yang lainnya.
"Kakak kenapa enggak pernah main lagi?"
"Kakak kan sibuk sekolah,"
Rey membuka sepatunya lalu mencuci kakinya ke kamar mandi dan telentang di atas ranjang.
"Kakak capek, kita pijitin ya,"
Rey memejamkan matanya keenakan karena dipijit oleh adik-adiknya. Namun ada satu hal yang membuat Rey kesal, yaitu adik kandungnya yang kebiasaan naik ke atas perutnya dan bermain di atas perut lelaki itu.
"Turun enggak!"
"Kakak, main yuk,"
"Enggak, kakak lagi capek. Turun bentar!"
Nabila menggeleng, Rey mengangkat Nabila dan menurunkannya dari perutnya dan berbaring lagi.
"Bilangin cama Mama,"
Rey menggeleng pelan kemudian membiarkan adiknya keluar dari dalam kamar. Sementara itu dia masih merasa sangat nyaman dengan perlakuan adik-adik asuhnya itu.
"Tadi kalian sekolah?"
"Sekolah dong, tadi di jemput ke sini di suruh temani adik main sama Mama,"
"Enggak ada yang berantem?"
"Enggak, Kak. Ohya tadi kita nemuin foto kakak sama perempuan,"
Rey tersentak dengan ucapan adiknya. "Di mana?"
"Tadi kan waktu mau ambil kursi, enggak sengaja ngenain buku kakak, terus ada yang jatuh, jatuhnya dari buku kecil gitu,"
"Ada yang baca?" ucapnya panik karena itu merupakan buku Diary yang diberikan oleh Bintang.
"Enggak kak, kita taruh lagi, kata Mama enggak boleh sentuh barang yang bukan jadi hak kita,"
"Oh gitu, ya udah kalian sekarang istirahat dulu. Nanti main sama kakak. Kakak mau ganti seragam. Terima kasih ya, nanti Kak Rey belikan es krim untuk semuanya."
Semua sorak gembira anak-anak itu membuat Rey menggeleng. Dia membiarkan anak-anak itu bermain di kamarnya.
***Ditunggu up berikutnya ya.
Tenang aja chapter Rey masih panjang. Bakalan banyak episode ngebaperinnya.
😁***