RICH MAN

RICH MAN
kHAWATIR



Bukan Rey namanya jika dia tidak usil untuk menjahili anaknya yang sedari tadi sedang makan. Sudah jam setengah satu lebih. Tapi Audri belum juga tidur karena dia usili tadi. Kali ini dia yang tidur dalam keadaan duduk. Marwa tak mengatakan apa pun padanya. Justru istrinya itu ikut menyalahkan dirinya atas apa yang dia lakukan tadi pad Audri. Memang anaknya ini sungguh luar biasa jika urusan begadang. Jika tadi dia menangisi kentang goreng, kali ini anaknya sedang makan sosis.


“Nak, ayo dong tidur!”


Audri membalikkan badannya acuh dengan ajakan Rey. Ketika istrinya sudah tidur dengan pulas karena dia disuruh untuk menidurkan Audri sebab perbuatannyalah yang membuat anaknya tidak bisa tidur sampai sekarang ini.


Terdengar suara anjing mengaum, Audri langsung melepaskan sosis itu dari tangannya dan merangkak menuju Rey. Pria itu menyeringai dan langsung menggendong anaknya. Ya, dibelakang memang ada anjing yang sedang hamil besar. Bukan peliharaan orang tua, Marwa. Tapi milik tetangga yang ada dibelakang rumah ini.


“Cuci tangan dulu terus tidur ya!” ucapnya karena dia benar-benar ngantuk harus menjaga bocah kecil yang tidak mau tidur dari tadi.


Begitu Rey kembali lagi dari kamar mandi. Terdengar suara anjing itu lagi dan Audri justru semakin erat memeluknya. Marwa yang terbangun juga karena suara hujan yang begitu deras baru saja turun tengah malam itu.


“Kok bangun sih?”


Perempuan itu mengerjapkan matanya beberapa kali lalu tidur lagi. “Mas, tidur yuk! Udah mau jam satu lho!!”


Mata Rey juga sudah tidak tahan lagi menjaga anaknya. Semakin besar bukannya semakin tidur cepat. Justru anaknya ini membuatnya begadang seperti sekarang. Rey mau kesal, tapi tidak bisa karena anaknya masih terlalu kecil jika dia tegur seperti itu.


Tangan anaknya pun meluruh ketika tadi dia dipeluk karena takut dengan suara anjing yang mengaum.


Dia yang begitu panik ketika melihat anaknya pucat ketika merangkak menuju ke arahnya. “Kasihan tadi dia ketakutan,” ucap Rey yang meletakkan anaknya ditengah-tengah.


“Mas, makanya nanti nggak usah kayak gitu lagi ya! Maaf aku tinggal tidur,” ucap Marwa karena tadi Marwa mengatakan bahwa dia sedang tidak enak badan. Rey juga menempelkan tangannya di dahi istrinya yang terasa masih panas. Padahal tadi mereka masih sempat bercanda, tapi saat ini istrinya mengulum senyum karena tidak bisa ikut begadang untuk menjaga Audri.


Rey menaikkan selimut kemudian mengecup kening istrinya. “Lekas sembuh ya sayang!! Ucap Rey kemudian dia menunggu istrinya tidur. Badan marwa memang terasa sangat panas. Jika dikompres nanti, pasti akan terbangun lagi.


Rasanya dia sangat merasa bersalah ketika istrinya jatuh sakit seperti ini. Apalagi tadi ketika istrinya bilang tiba-tiba badannya meriang. Jika dia keluar, tapi sudah terlalu larut.


Rey membuka tas yang selalu dibawa oleh Marwa ketika pergi ke manapun. Di sana ada plester penurun demam Audri yang selalu disediakan. Untuk kali ini, Rey biarkan saja tidak apa jika menggunakan itu untuk Marwa. Lagipula istrinya sedang sakit dan belum sempat dia belikan obat.


Dia pikir demam Marwa akan menurun ketika minum obat tadi. Tapi justru semakin panas ketika dia mengecek suhu badannya.


“Maafin aku yang nggak tahu kalau kamu sakit sayang,” bisik Rey setelah dia menempelkan pleseter penurun panas milik anaknya pada Marwa.


Keesokan harinya.


Rey bangun subuh sedikit telat dari biasanya. Anaknya masih tidur, sedangkan istrinya membangunkannya untuk sholat subuh.


Seusai dia sholat subuh, Rey tidur tepat di dekat istrinya sambil memeluk dan sesekali dia mencium istrinya. Pasti lelah menjaga anak seharian, ditambah lagi karena semaam istrinya memasak untuk Audri. Tidak tahu kalau istrinya sedang kurang sehat.


Marwa yang suhu badannya sedikit menurun. Rey memeluk istrinya dengan sabar kemudian dia mencium istrinya. “Sabar sayang ya!” peringatnya kepada sang istri agar Marwa tidak mengeluh ketika sakit. Jam istirahat Rey juga kali ini memang berkurang. Apalagi ketika Marwa yang sedang sakit seperti ini pasti dia tidak akan ke kantor demi menjaga istrinya.


“Mas, mual,” keluh Marwa.


Pikirannya mengenai hamil pun berkecamuk di dalam otaknya. Andai saja Marwa hamil. Dia tidak bisa membayangkan jika istrinya hamil nantinya. Ini memang benar sangat mengerikan. Apalagi Audri masih kecil. Ditambah lagi dia akan kerepotan pasti.


“Kamu nggak hamil, kan?” tanya Rey penuh hati-hati.


Marwa semakin memeluknya dengan erat. “Nggak, Mas. Aku kemarin datang bulan kok,” jeas istrinya. Sykurlah jika istrinya datang bulan lagi.


“Kapan?”


“Waktu kita berantem, aku cemberut waktu itu juga karena datang bulan. Bukan marah sama kamu, Mas,”


Dia tidak berkomentar apa pun beberapa waktu karena mungkin istrinya kurang istirahat beberapa hari selama berada di rumah orang tuanya karena dia tidak ak


“Tidur sekarang! Udah gitu nanti aku bangunin kita ke dokter. Nggak tega aku lihat kamu sakit begini. Apalagi nanti Audri nyariin kamu,”


“Jangan suntik, Mas!”


Rey terdiam. Tidak berkomentar karena dia tahu bahwa istrinya ini paling takut jarum suntik. Barangkali ketika melahirkan rasa takutnya kalah oleh rasa sakit yang dia alami.maka dari itu dia hanya diam tak ingin banyak bicara dan justru meminta istrinya agar tidur. Karena dia juga akan tidur beberapa menit sebelum membawa istrinya ke dokter.


Kalau istrinya sedang sakit begini, pasti akan ada rasa sedih ketika dia ingat kalau dia sering memarahi istrinya yang tidak mau istirahat dengan cepat. Justru ketika dia pulang telat, istrinya menunggunya sampai dia pulang bekerja. Padahal, Rey pernah bilang jika dia ingin melihat istrinya tidur selama ada waktu yang baik dan juga ketika Audri sedang tertidur. Tapi yang namanya perempuan ketika ditinggal bekerja. Pasti akan susah tidur selama belum melihat suaminya pulang bekerja dalam keadaan baik-baik saja. Itu juga yang dirasakan oleh Marwa pastinya.


Dia kemudian mengelus kepala istrinya dan melihat Marwa tidur dipelukannya. Setelah itu dia ikut tidur karena masih ada waktu lagi beberapa saat sebelum mereka pergi ke dokter untuk kesehatan Marwa.


Rey terbangun karena tangisan Audri, dia segera menggendong anaknya agar Marwa tidak terbangun dari tidurnya yang sejak selesai sholat subuh tadi langsung memilih untuk tidur. Dia memilih untuk mengajak anaknya keluar dibandingkan dia menggendongnya di kamar saja. Pasti jika dia berada di sana Marwa akan terbangun dan meminta untuk menggendong Audri. Tidak akan pernah dia tega membiarkan istrinya yang sakit itu menggendong anaknya. Kali ini, dia ingin berperan baik dalam menjaga anaknya ketika istrinya sedang sakit.


Dia berada di ruang makan dan di sana ada mertuanya yang sudah menyiapkan sarapan. “Marwa mana? Kok tumben tuh anak belum keluar?”


“Sakit, Ma. Katanya semalam ngeluh pusing, badannya juga panas. Terus tadi subuh dia bilang mual,”


“Kamu nggak mau coba bawa ke dokter?”


“Hari ini, Ma. Karena aku nggak ke kantor dan nggak mungkin tinggalin dia. Aku nggak apa-apa titip Audri di sini, Ma? Aku mau bawa mamanya ke dokter,”


Mama mertuanya pun ekspresinya langsung khawatir begitu Rey mengatakan bahwa Marwa sedang tidak enak badan. Mertuanya langsung mengambil Audri dari gendongannya. “Ya udah kamu bawa aja sana! Kasihan kalau terus di kamar,”


“Makasih ya, Ma. Aku ke kamar dulu,”


“Dia sakit kok nggak ngomong gitu?” tanya papa mertuanya.


“Nggak tahu, Pa. semalam waktu dia ke kamar. Baru ngerasain sih katanya,”


“Ya udah deh. Kamu bawa ke dokter. Papa temenin?”


Rey menggeleng, “Nggak usah, Pa. aku berdua aja sama dia ke dokternya,”


Rey segera kembali ke kamar kemudian dia melihat istrinya baru saja terbangun dan kali ini sedang dalam posisi duduk. Ia yang begitu khawatir mengenai istrinya yang baru saja bangun dari tidurnya. Rey menghampiri Marwa dan duduk disebelah istrinya.


“Anak kita mana, Mas?”


“Ada sama, Mama,”


Marwa terdiam. Tapi dia memegang kepalanya yang terasa sangat berat dan benar-benar pusing.


Rey memperhatikan istrinya yang terlihat begitu pucat pasi dan tidak mungkin membiarkan istrinya berjalan turun. “Kamu mau ke mana? Jangan ke mana-mana dulu! Aku nggak mau lihat kamu jatuh nanti,”


Marwa mengurungkan niatnya ketika dia hendak pergi ke kamar mandi, pria itu mengambilkan jaket yang ada di lemari istrinya. Marwa mengeluh kedinginan, sedangkan tubuhnya masih teras sangat panas.


Dia juga langsung mencopot plester yang dipasangkan Rey tadi subuh. Itu adalah plester ketiga yang dipasangkan oleh Rey untuk Marwa. Tapi istrinya tetap saja merasa belum membaik. Maka dari itu, dia akan pergi ke dokter untuk memeriksakan istrinya.


“Aku cuci muka dulu sayang,” ucap Rey ketika dia memasangkan istrinya jaket itu.


Marwa menunggu sambil duduk di sofa yang ada di kamar itu.


Setelah dia mencuci wajah dan juga menyikat gigi. Rey mengganti pakaiannya dan menggendong istrinya. “Aku bisa jalan, Mas,”


“Bawel,” ucap Rey dengan singkat, dia tidak mau menurunkan istrinya sesering apa pun Marwa mengeluh dan meminta untuk diturunkan. Rey tidak mau membiarkan istrinya berjalan. Apalagi ketika dia melihat istrinya yang berdiri tadi hampir saja jatuh.


Ketika dia keluar dari rumah, dia melihat papa mertuanya berdiri di dekat mobil SUV berwarna hitam milik papa mertuanya. Pintu mobil juga sudah dibuka untuk Marwa. “Kamu hati-hati ya! Ingat handphone sama dompet jangan sampai lupa!” Rey mengecek kembali apa yang diperintahkan oleh papa mertuanya. Dia sudah membawa ponselnya dan juga membawa dompet.


“Makasih ya, pa. Kami berdua berangkat dulu,”


Marwa sedari tadi tidak berucap apa pun. Istrinya memang terlihat sangat pucat. Ditambah lagi Marwa tidur ketika dia menggendong istrinya tadi dan mungkin kali ini istrinya sedikit kesadaran.


Rey sudah tidak sabar untuk tiba di rumah sakit. Baru saja dia memarkirkan mobilnya, darah keluar dari hidung Marwa begitu Marwa batuk tadi.


“Sayang, kamu kenapa sih?” Rey panik dan membersihkan mimisan Marwa. “Lihat aku!”


Marwa terdiam dan tetap terlihat begitu lemas.


Rey langsung keluar dari mobil begitu dia membersihkan darah yang keluar dari hidung istrinya dengan tisu yang ada di dalam mobil. Ia menggendong istrinya, begitu dia masuk. Para perawat langsung menyambar Marwa dengan brankar dan langsung membawa Marwa ke ruang UGD. Gejala yang tidak pernah diperlihatkan oleh Marwa selama ini. Istrinya juga tidak pernah sakit sampai separah ini.


Ketika istrinya diperiksa. Rey menunggu di luar sambil mengurus administrasi ketika diminta oleh dokter tadi. Sebab dia harus menunggu reaksi obat yang diberikan oleh dokter. Sampai sekarang ini dia belum sarapan karena dia begitu panik.


Sudah dua jam, dokter meminta agar Rey menunggu reaksi obat yang diberikan tadi.


Dari kejauhan dia melihat ke arah istrinya yang sedang berbaring di sana.


Dokter mengatakan bahwa itu adalah tifus yang gejalanya sudah dirasakan oleh Marwa sejak beberapa hari lalu. Tapi Rey tidak tahu kalau istrinya sedang sakit. Baru semalam Marwa jujur dengan apa yang dia rasakan sejak beberapa hari ini


“Berarti harus dirawat inap?”


“Benar, Pak. Tunggu sebentar Ibu bakalan dipindahin ke ruangan lain, pak,”


Rey meminta agar istrinya dipindahkan ke ruangan khusus agar bisa istirahat dengan baik di sana dan juga dia bisa membawa Audri nanti ketika menjenguk keadaan Marwa.


“Biasanya berapa lama, Dokter?”


“Untuk berapa lamanya kita belum tahu. Tapi biasanya untuk tifus minimal seminggu, itupun kalau keadaannya pulihnya dengan baik,”


Minimalnya seminggu dan itu akan menyiksa Rey karena dia yang tidak tahu apa-apa tentang istrinya. Ketika dokter pergi dan dia mengurus untuk ruang inap istrinya di pindahkan ke tempat VIP, Rey menghubungi keluarganya dan memberitahukan bahwa Marwa sakit tifus. Itu disembunyikan oleh Marwa agar orang lain tidak khawatir. Tapi inilah yang terjadi saat ini, justru dia yang terkejut ketika melihat istrinya terbaring di brankar.


Di ruang inap Marwa. Dia masuk setelah istrinya dipindahkan. Marwa tidur dengan infus yang ada ditangan kanannya. “Sayang, kenapa nggak bilang kalau kamu sakit dari kemarin-kemarin sih?” keluh Rey.


Marwa membuka matanya dengan perlahan dan keluar air mata yang mungkin itu adalah gejala dari sakitnya. Karena dia tahu jika Marwa sakit pasti akan disertai dengan air mata yang seperti sekarang ini.


“Mas makan dulu sana!”


“Gimana aku nafsu makan kalau kamu sakit begini?” jawabnya saat itu. dia sudah memberitahu kedua orang tua Marwa dan juga kedua orang tuanya bahwa Marwa sakit dan butuh perawatan yang cukp baik karena sakitnya sudah beberapa hari ini dia sembunyikan. “Kamu sakit kenapa nggak bilang sama, Mama?”


“Aku nggak mau lihat mereka itu khawatir, Mas,”


“Kamu bilang nggak mau bikin mereka khawatir. Tapi aku, Marwa. Aku kayak orang gila yang nggak tahu apa-apa karena sakit kamu yang kata Mama kamu kalau ini penyakit kamu dari dulu. Sejak menikah baru kali ini aku lihat kamu sakit kayak sekarang tahu,”


Marwa terdiam tak menjawab ucapannya. “Maaf, aku marahin kamu disaat seperti ini,”


“Nggak apa-apa, maaf kalau aku bikin kamu khawatir, Mas. Sekarang Audri, mana?”


“Dia di rumah sama, Mama,”


Benar seperti dugaan Rey bahwa Marwa tidak sadar jika sekarang ini sedang ada di rumah sakit karena panasnya yang begitu tinggi. Belum lagi karena Marwa mengeluh mual dan juga sakit perut,”


“Jangan bandel lagi, sayang. Nggak boleh ditahan terus kalau sakit,” Rey mencium tangan istrinya. Dia yang panik karena melihat darah tadi. Apalagi ketika dia tidak tahu jika istrinya punya riwayat tifus sedari dulu.


“Iya, Mas. Aku janji,”


 


 


“Bawel ngeselin,” keluh Reynand.