RICH MAN

RICH MAN
PERCUMA



Beberapa hari semenjak Damar meminta izin untuk cuti. Azka merasa sangat kesepian di kantor. Tidak ada lagi teman yang usil selalu menjahilinya. Padahal itu hanya baru tiga hari. Ia juga merindukan Rey.


Setelah sekrestarisnya mengantarkan makanan. Azka langsung menyantap makanan itu sendirian. Dengan statusnya yang menyandang sebagai duda beranak satu. Hidupnya menjadi jauh lebih berantakan dari sebelumnya. Jika sepulang bekerja ia selalu disambut dengan Nagita, meski perang dingin. Tetapi perempuan itu selalu berusaha menenangkan dirinya walaupun kadang di abaikan. Tetapi tidak pernah mencari masalah dengannya.


Gairah untuk bekerja pun mulai surut. Jika dulu ia terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Tidak dengan sekarang. Kini ia sangat merindukan di mana Rey selalu saja protes pada dirinya. Saat ini anak itu entah di mana. Bahkan kemarin ia pergi mengunjungi anaknya ke rumah Dimas. Tetapi tempat itu sangat sepi. Rumah yang di mana ia tempati dulu dengan Nagita saat mengandung Reynand.


Azka kemudian mengubah posisi duduknya yang kini bersandar di sandaran kursi kerjanya. Sesekali ia menarik napas panjang untuk menenangkan diri. Tetapi tetap saja kerinduannya terhadap Rey tidak bisa dihindari lagi.


“Bersihkan ruang kerja saya. Kalau ada yang mencari, bilang saja kalau saya sudah pulang!” Ia bergegas untuk pulang. Kali ini ia akan mencari Rey lagi ke tempat Dimas. Berharap bahwa ia bisa bertemu dengan Reynand, sekaligus Nagita. Kerinduannya terhadap perempuan itu seolah tidak bisa dikendalikan lagi. Ia yang sudah menjandakan istrinya, ia yang sudah menjatuhkan talak saat itu juga. Mengingat betapa bodohnya ia membuat Nagita menangis saat ia ceraikan, hal itu membuat Azka menyesal hingga sekarang.


Setibanya di rumah Dimas. Tetap saja ia tak bertemu dengan penghuni rumah itu. Ia duduk di teras depan rumah Dimas dan seorang ibu-ibu menghampirinya di sana.


“Cari siapa, Pak?”


“Nagita sama Rey ke mana?”


“Oh Papanya Rey ya?”


“Iya saya Papanya. Mereka ke mana? Dimas juga nggak ada di rumah kayaknya,”


“Dimas bulan madu sih katanya. Kalau Nagita sama Rey saya nggak tahu,”


“Dimas bulan madu?”


“Iya, baru beberapa hari yang lalu dia nikah,”


“Nggak ada kabar gitu tentang, Nagita?”


“Nggak ada pak,”


“Apa mungkin mereka ikut?”


“Kayaknya nggak, Pak. Tapi waktu itu sih Rey sering di ajak keluar sama Omnya. Mbak Nagita juga,”


“Om? Omnya Rey cuman Dimas,” jawabnya.


“Kalau itu sih saya nggak tahu, Pak. Tapi coba di telepon aja. Siapa tahu gitu mereka lagi di suatu tempat,”


“Dimas bulan madu ke mana?”


“Katanya sih ke, Bali,”


“Oh. Terima kasih kalau begitu. Saya permisi, Bu.”


Azka langsung beranjak dari tempat duduknya dan langsung pulang begitu saja. Ia pulang dengan langkah yang sangat lunglai karena tidak bisa bertemu dengan Rey lagi. Baru beberapa langkah memasuki rumahnya. Ia sudah disambut oleh Leo yang langsung memeluknya. Melihat anak itu, ia semakin merindukan Rey. Biasanya anaknya yang paling ribut di rumah itu. Namun kini hanya ada gelak suara tawa Leo dan juga Clara yang mengisi rumah.


“Kamu tumben pulang cepat?” tanya Novi.


“Capek aja, Ma,”


“Kamu mandi gih!”


Azka langsung beranjak ke kamarnya untuk membersihkan diri.


Setelah mandi, ia langsung tidur untuk mengistirahatkan dirinya karena lelah bekerja. hatinya kian hari semakin memburuk. Satu persatu orang yang dicintainya pergi. Ia sendiri yang membuat Nagita pergi dari hidupnya. Selama ini ia sudah membuat perempuan itu sangat terluka dengan tingkahnya. Semenjak kehadiran Deana yang waktu itu membuatnya mengingat kembali masa lalu. Kini Azka menyesali perbuatannya yang tidak bisa melupakan perempuan itu. Bahkan waktu itu Deana hampir saja membunuh buah hatinya dan juga Nagita. Tetapi bagaimanapun juga ia sudha dibutakan dengan kebodohannya yang terlalu mencintai perempuan itu. Meski ada Nagita dalam hidupnya. Ia tetap berkhianat dan menyakiti hati istrinya.


“Nagita. Deana, kenapa satu persatu justru pergi, terlebih kamu Nagita. Kenapa saat kamu di sini, justru aku merasakan kebimbangan dan nyakitin kamu. Sekarang saat kamu pergi, justru hati aku sakit, aku merasa sangat kehilangan kamu, Nagita.”


Semua penyesalannya sudah tidak berarti lagi. Tidak semua kesalahan diberikan kesempatan kedua untuk memperbaiki. Bahkan ada yang memberi kesempatan untuk membuat seseorang itu tersadar betapa berharganya orang yang hadir dalam hidup untuk dicintai. Bukan untuk di sia-siakan.


****


Malam itu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Azka bangun dengan kapalanya yang terasa sangat sakit. ia bergegas ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya dan turun untuk makan malam karena perutnya terasa sangat kosong.


“Azka, Mama bangunin dari tadi kamu malah nggak bangun-bangun,”


“Aku lapar, Ma.”


“Ya sudah makan dulu. Mama sudah siapkan makan malam buat kamu.”


Azka menyantap makanannya sendirian. Setelah itu ia kembali lagi ke kamarnya. Ia meraih ponsel yang ada di atas nakas untuk berselancar di dunia maya.


Ia mengintip akun media sosial instagram milik Nagita. Di sana ia tidak menemukan lagi fotonya bersama dengan Reynand. Akun media sosial Nagita yang selalu dipenuhi foto mereka bertiga kini hanya menyisakan foto Nagita dan juga Rey.


Juga langsung melihat beberapa postingan yang pernah ia bagikan. Yang ada hanyalah foto Nagita yang waktu memang sengaja ia posting karena melihat penampilan Nagita yang waktu itu sangat cantik. Satu-satunya foto Nagita yang ia miliki adalah waktu Nagita hamil dan berada di pusat perbelanjaan ketika makan waktu itu.


Azka langsung menekan menu pencarian. Ia langsung fokus pada salah satu postingan yang di sana nampak ada Rey yang dipeluk oleh Nagita sedang berada di pantai.


Ia langsung mengklik foto tersebut dan yang memposting adalah Nagita dengan menggunakan akun baru. Di sana juga nampak bahwa ada Damar yang ditandai dalam foto itu. Yang artinya adalah mereka bertiga liburan bersama. Saat membuka profil Damar ia juga menemukan foto Nagita dan juga Rey dengan caption ‘dunia ini terlalu kejam jika dijadikan sebagai tempat untuk menyakiti. Dan hatinya terlalu kejam membuatmu menangis, Tuhan mengirimmu untukku bukan?’


Azka langsung menggeram saat melihat foto Nagita diposting oleh Damar.


Nagita22_ Waah keren. Itu fotonya bagus banget (^o^)


Damar.dnr Tentunya dong. Suka nggak?


Nagita22_ suka banget. Kalau bisa kirim ya


Azka hendak menuliskan karena ingin berkomentar. Tetapi ia mengurungkan niatnya karena tidak ingin mengacaukan segalanya lagi.


Azka turun dari kamarnya untuk mengambil air minum. “Rey liburan sama Nagita kayaknya. Aku bersyukur banget Nagita bisa seceria itu.” Ucap Naura. Azka langsung berbalik dan mengurung dirinya di kamar. Bahkan keluarganya sendiri mendukung perceraiannya dengan Nagita dan lebih fokus pada Nagita dan Rey dibandingkan dengan dirinya.


Sekelambalinya ke kamar. Tanpa ragu ia menghubungi Nagita untuk menanyakan perihal keberadaan Rey. Beberapa kali berusaha menghubungi melalui video call akhirnya dijawab juga.


“Daddy?”


“Rey, kenapa belum tidur?”


“Kan Daddy yang telepon,”


“Mommy mana?”


“Nih,”


Azka melihat Rey mengarahkan kamera ke arah Nagita. Hanya ada satu kata yang mewakili perasaannya kali ini, yaitu ‘rindu’ kepada keluarga kecilnya. Saat Nagita dengan hebatnya memberinya kesempatan. Ia dengan brengseknya menghancurkan kepercayaan istrinya sendiri hingga saat ini Nagita enggak untuk menjawab teleponnya lagi. Tetapi setelah berusaha beberapa saat akhirnya panggilannya dijawab, meski itu hanya dengan Rey.


”Rey di mana?”


“Rey liburan, Daddy,”


“Mama dan Om Damar,”


“Damar?”


“Iya, Daddy. Daddy kan sibuk terus,”


“Rey, besok pulang Daddy jemput mau?”


“Rey nggak mau sama Daddy. Daddy sering buat Mommy nangis, lebih baik Daddy urus aja pekerjaan Daddy. Rey bahagia sama Mommy dan Om Dimas. Ditambah sekarang ada Om Damar yang selalu ada buat Rey, nggak sibuk kayak Daddy,”


Azka terdiam mendengar jawaban putranya yang sangat ketus. Bahkan ia merasa sedih saat tidak bisa menemani putranya tumbuh menjadi anak yang pada umumnya. Kesalahannya memang mungkin bisa dimaafkan. Tetapi untuk kembali lagi rasanya tidak akan pernah.


“Rey ngomong sama siapa? Tidur yuk, udah malam lho. Besok main lagi,”


“Ini Daddy yang telepon, Mommy,”


Suasana canggung begitu saja saat Nagita mengambil alih ponselnya dan terdengar saat itu juga Nagita menyuruh Rey untuk tidur dan langsung dituruti oleh putranya. Azka merasa sangat asing sekarang.


”Ada apa, Mas?”


Rindu, adalah bahasa hati yang sangat sulit diungkapkan. Bahkan percuma diungkapkan jika tidak dipertemukan secara langsung. Saat itu Azka berbaring dan mereka saling tatap melalui video call. Nagita sangat ia rindukan. Tetapi ia sadar bahwa kesalahannya sudah terlalu fatal dan meminta untuk kembali lagi rasanya tidak mungkin jika ia hanya bisa menyakiti hati perempuan itu.


“Apa kabar, Nagita?”


“Baik.”


Nagita yang menutup tubuhnya dengan selimut hanya memperlihatkan bagian wajahnya dan bibirnya di tutupi selimut.


“Rey tidur?”


“Iya kayaknya dia lagi tidur. Kenapa?”


“Bisa ketemu?”


“Kapan?”


“Barangkali besok,”


“Jangan janjikan Rey untuk bertemu kalau kamu selalu sibuk. Dia sudah capek diberikan harapan sama kamu,setiap kali kamu berjanji akan bertemu denganya,selalu saja batal. Dan itu yang membuat dia muak sekarang, semenjak pisah. Pernah kamu kunjungi anak kamu sendiri? Pernah kamu itu sekadar menyapa dia?”


Azka terpojokkan dengan ucapan Nagita. Bahkan saat itu ia melihat perempuan tadi berusaha tegar. Dan Azka kali ini benar-benar merasa hatinya sudah diselimuti oleh rasa bersalah pada kedua orang tersebut.


“Aku tutup ya. Aku tidur,”


“Nagita, sebentar!”


“Apa lagi?”


“Kamu ada hubungan apa sama Damar?”


“Bukan urusanmu”


“Itu urusanku Nagita. Karena kamu adalah, is—“


“Mantan, Azka. Bukan lagi perempuan yang kamu bodoh-bodohi. Sudah ya aku mau tidur. Selamat malam.”


Nagita benar, bahwa status hubungan mereka hanyalah sebatas mantan suami istri. Dan itu yang membuat Azka merasa sangat terpukul saat ini. Memang benar bahwa waktu itu ia pernah menjanjikan akan bertemu dengan Rey. Namun ia selalu memiliki halangan. Bahkan tadi ia mendengar anaknya sendiri protes perihal kesibukannya yang tidak pernah meluangkan waktu untuk Reynand.


Kini ia tersadar bahwa selama ini ia terlalu sibuk dalam mencari uang, uang dan uang. Lupa hartanya adalah keluarga. Lupa tentang mendidik Rey bersama dengan Nagita. Meski sudah berpisah, seharusnya ia tetap berhubungan baik dengan Nagita. Bukan justru membuat kekacauan lagi.


“Azka!”


Azka langsung beranjak dari tempat tidurnya dan langsung menuju sumber suara. Ia membuka pintu kamarnya dan menemukan Mamanya berdiri di depan pintu.


“Ada apa, Ma?”


“Ayo ke rumah Rey besok!”


“Mereka liburan, Ma,”


“Kamu tahu?”


“Iya. Aku baru saja menghubungi Nagita,”


“Bukannya Mama nggak setuju kamu balik sama Nagita. Tetapi alangkah lebih baiknya kamu jangan ganggu lagi hidupnya dia yang sudah berusaha dengan susah payah untuk mengobati lukanya gara-gara kamu. Bukan berarti Mama itu ngelarang kamu. Tapi Azka, sudah cukup lukanya yang kamu kasih ke dia,”


“Ma, aku cuman pengin tahu kabar Rey,”


“Secara nggak langsung, kamu juga mengusik hidup Nagita. Jika memang kamu mau berhubungan baik sama dia, datangi dia. Ngomong baik-baik. Suatu waktu kalian akan punya kehidupan masing-masing. Satu pesan Mama, jangan pernah kembali lagi, Azka. Mama nggak mau lihat air mata Nagita lagi. Sebagai seorang perempuan Mama juga ngerasain gimana sakitnya di duakan hatinya,”


“Aku cuman mau minta maaf,”


“Maaf mungkin bisa dia maklumi. Tapi nggak semua maaf bisa mengembalikan semuanya. Apa artinya selama ini dia sama kamu? Kalau hatimu ada sama orang lain? Tolong kali ini aja, Azka. Mama mohon sama kamu, berhentilah ganggu dia dengan cara apa pun. berikan kebebasan dia untuk bahagia. Dia sudah mantan dari orang yang pernah begitu berharga di hidup kamu. Sekarang lihat Rey, cobalah ajak dia berdamai untuk mendidik Rey bersama. Meskipun nanti kamu ataupun dia punya hidup yang baru, setidaknya jangan pernah buat Rey itu merasa asing antara hidup kalian berdua.”


Azka mengangguk dan langsung berpamitan kepada Mamanya. Ia tahu bahwa tadi itu adalah Mamanya sengaja memancingnya untuk membahas Rey. Karena itu bukan pertama kalinya mamanya lebih membela Nagita.  Selama ini juga Naura sangat menyayangkan dirinya yang melepaskan Nagita. Tetapi ia tidak bisa berbuat banyak setelah kejadian itu. Perempuan itu menjadi sangat asing. Sebentar lagi adalah ulang tahun Rey yang ke-6. Itu artinya ia harus benar-benar berusaha untuk berdamai dengan Nagita agar tidak ada kebencian di hati anaknya.


Ia meraih ponselnya kembali. Dan mendapati pesan.


‘Tolong jangan ganggu hidup aku sama Rey. Dia sudah bahagia sama aku. Jangan pernah berusaha untuk menemuinya lagi. Dan satu hal lagi, aku sudah maafin atas segala kelakuan kamu. Tapi aku minta tolong jangan hadir lagi’


Azka membaca itu langsung tersenyum. Itu artinya Nagita benar-benar akan melepaskan dirinya. Ia tidak akan mengganggu hidup perempuan itu lagi seperti apa yang di katakannya pada pesan. Azka berjanji akan pergi sejauh mungkin dari hidup perempuan itu. Akan tetapi tentang Rey, ia tidak akan pernah jauh dari anaknya. Walaupun dulu sempat ingin menggugurkan Rey, namun kini hatinya sudah terlanjur menyayagi anaknya.


Azka menatap langit-langit kamarnya. “Ternyata benar-benar berakhir, ya?” ucapnya dengan lirih. Apa yang pernah dipertahankannya harus benar-benar usai saat itu juga. Dan seharusnya memang tidak pernah mengganggu kehidupan Nagita lagi. Sudah cukup Azka menghancurkan hati Nagita  saat menjagi istrinya.


“Aku  akan berusaha untuk ikhlasin kamu, Nagita.” Lirihnya.


 


 


*Ditunggu updatenya besok ya*