RICH MAN

RICH MAN
BERUSAHA MENJADI LEBIH BAIK



Di ruang tamu dengan pencahayaan yang cukup gelap, duduk termenung sambil memikirkan kejadian yang di mana masa lalu tentang kehilangan itu pernah terjadi.


Barangkali setiap pertemuan memang selalu disertai dengan perpisahan. Namun, apa jadinya jika pertemuan awal menjadi sebuah perpisahan yang paling menyakitkan.


Pada dasarnya manusia hidup saling membutuhkan, saling menguatkan satu sama lain. Namun, terkadang ada penguat yang menggenggam erat, ada pula yang melemahkan kemudian membuat hidup orang lain menjadi sangat kacau.


Jika masa lalu bisa kembali, setiap orang pasti tak pernah ragu membuat kesalahan. Barangkali suatu jesalahan itu dianggap hal biasa, mengulangi, memperbaiki. Mengulangi, kemudian pergi untuk selamanya. Begitulah roda penyesalan jika itu bisa terjadi.


Azka mengembuskan napas kasar berkali-kali. Tidak pernah terbayangkan hal ini akan terjadi lagi pada kehidupan yang telah berusaha ia perbaiki. Anaknya sudah tumbuh remaja, yang di mana seorang putra dahulu pernah dia sia-siakan hidupnya demi perempuan lain.


Azka membuka lembaran hasil pemeriksaan penyakit anak asuhnya di yayasan yang selama ini dia bangun untuk anak-anak yang barangkali dibuang, dititipkan dan sebagainya. Namun, setelah belasan tahun mengelolanya, baru kali ini dia mendapati kasus yang di mana dia bisa mengulang mengingat masa lalu kehilangan Syakila, anak kandungnya bersama dengan perempuan lain.


Dalam surat tersebut, sudah dijelaskan bahwa Amanda mengidap kebocoran jantung. Namun, ada kemungkinan untuk sembuh dengan cara operasi. Tapi, jika mengingat dahulu Syakila memiliki penyakit yang lebih parah. Tetapi hal itu masih menjadi masalah besar bagi Azka jika itu menyangkut perihal penyakit jantung.


Sudah tiga kaleng minuman beralkohol habis dalam sejekap oleh Azka, dirinya kembali lagi menjadi pria brengsek seperti dulu jika itu menyangkut dengan masa lalu yang dapat mengingatkannya dengan perpisahan. Azka membuka kaleng minuman baru dan meneguknya, dia hendak meminum itu lagi, namun minuman tersebut di rebut oleh Rey yang tiba-tiba datang mengambil minumannya.


"Rey, balikin!"


"Papa mau ngulangin hal yang sama lagi, gitu?"


Rey membuang minuman itu dan memasukkan minuman yang lainnya ke dalam kantong plastik hitam yang ada di atas meja. Azka terdiam, dia melihat ke arah jam yang sudah menunjukkan pukul dua dini hari, kepalanya masih belum bisa mencerna dengan baik masalahnya.


Ada suatu hal yang belum bisa diterima oleh Azka, yaitu ketika Reynand mengangkat kaleng itu dan membuka kemudian hendak meminum, Azka langsung menarik tangan Reynand dan membuang minuman itu.


"Kenapa, Pa? Kenapa Papa larang aku untuk minum sedangkan Papa sendiri boleh, kenapa Pa?"


Azka mengacak rambutnya dengan kasar kemudian menarik napas panjang, tersadar dari apa yang dia lakukan malam itu. Azka tidak mungkin membiarkan anaknya minum minuman beralkohol seperti itu.


"Rey, Papa minta maaf,"


"Papa begini karena masalah, Amanda?"


Azka menoleh sejenak kemudian mengangguk, dia menyenderkan punggungnya disandaran sofa.


"Rey, Papa bisa jelasin,"


"Pa, aku tahu kalau Papa begini juga karena takut jika hal dahulu seperti kehilangan Syakila itu terulang lagi, kan? Pa, kalau memang itu alasannya, maka aku juga berhak minum minuman ini,"


"Rey, Papa enggak bermaksud gitu, Nak,"


"Pa, mungkin aku enggak tahu apa-apa tentang masa lalu Papa dengan Mama Syakila, tapi aku harap Papa jangan pernah mengingat kejadian itu lagi, sama aja dengan melukai hati Mama, Pa. Papa tahu sendiri kalau dahulu penyebab Papa kehilangan karena kesalahan yang sama, yaitu membela perempuan lain dan ninggalin, Mama,"


Azka menunduk setelah mendengar ucapan itu keluar dari mulut anaknya sendiri. "Aku enggak mau hal itu terulang lagi, Pa. Kalau Papa ingat itu terus, kemudian Mama tahu tentang ini, sama aja buka ingatan Mama tentang kesalahan Papa dulu. Jangan buat luka baru di hati Mama yang sudah berusaha terima Papa dengan sepenuh hati, apalagi sekarang ada adik aku, Pa. Aku enggak mau lihat Nabila dan Salsabila merasakan hal yang sama lagi, barangkali kalau Mama pergi kali ini, Papa enggak bakalan bisa nemuin lagi, karena aku juga bakalan pergi sama Mama dan kedua adik aku, Pa,"


Azka mengusap wajahnya dengan kasar. "Rey, enggak ada sama sekali niat Papa buat buka ingatan Mama tentang masa lalu itu, tapi Papa hanya takut kehilangan lagi,"


"Aku tahu, tapi kalau ingat Syakila lagi, itu sama aja ngelukai hati Mama dengan mengingat perselingkuhan Papa dan menghadirkan Syakila di luar pernikahan Papa sama Mamanya Syakila,"


"Rey,"


"Bukan aku yang butuh penjelasan, tapi Mama. Mama yang butuh penjelasan kenapa Papa seperti ini, kalau Mama nanti tahu Papa mabuk, apa yang bakalan Papa jelasin ke Mama? Apa Papa bakalan jelasin dia karena Papa takut kejadian dulu itu terulang lagi?"


Azka menunduk menarik napas panjang dan suasana hatinya begitu kacau malam itu. Dia beranjak dari tempat duduknya, "Papa, aku sayang sama kalian semua, aku mohon jangan sampai luka Mama balik lagi, kalau Mama udah mulai kecewa, aku enggak tahan lihat Mama harus pura-pura kuat lagi untuk bertahan demi aku, tapi sekarang, Mama bakalan tahan enggak kalau kejadian itu terulang lagi,"


"Rey, maafin Papa,"


Azka mengangguk dan pergi meninggalkan Reynand yang sedang membereskan minuman itu dan membuangnya keluar. Rey benar, bahwa dia hanya perlu teman untuk bercerita. Azka segera membersihkan diri untuk menghilangkan bau alkohol yang menempel.


selesai mandi dan mengeringkan rambutnya, Azka berbaring tepat di sebelah Nagita yang sedang terlelap dan tidur miring menghadapnya, perlahan dia mengelus pipi istrinya yang pernah berulang kali dia hancurkan hidupnya.


"Pa, kenapa belum tidur?"


"Kerjaan baru selesai, Ma," Azka memeluk istrinya dengan erat. Meyakinkan dirinya bahwa semua itu akan baik-baik saja. Barangkali memang suatu kejadian di mana kita dihadapkan dengan kenyataan yang mirip dengan masa lalu kita, seolah itu menjadi sebuah penguji kita apakah sanggup untuk menghadapainya atau tidak?


Ada suatu kejadian di mana orang tidak mengerti dengan masalah yang kita hadapi walaupun pernah diceritakan dengan baik. Mungkin, menyimpannya sendiri adalah hal yang bisa dilakukan. Tidak mesti harus bercerita kepada orang lain.


"Mas, peluk!"


Azka tersenyum. "Memangnya kapan aku tidur enggak pernah meluk kamu, hm?"


"Jadi kangen masa muda, Mas,"


"Oh, jadi itu alasannya pakai embel-embel Mas?"


"Aku juga mau kali Mas dipanggil nama aku,"


"Iya Nagita sayang, kenapa? Kenapa mau dipanggil begitu?"


"Karena kangen aja, enggak terasa ya kita sudah kenal belasan tahun, Mas,"


"Hah, sayang jangan diingatin. Aku jadi pengin ledekin kamu tahu enggak?"


"Ledekin gimana?"


"Jadi pura-pura lupa nih? Ingat enggak waktu kita makan bakso tengah malam waktu kamu hamil Rey? Kamu nambah loh, terus itu ciuman kita yang pertama kan?"


Nagita mendorong tubuhnya hingga menjauh. "Ah enggak usah diingat Mas, aku jadi malu,"


"Pacaran yuk!"


"Noh sama guling," tunjuk istrinya. Azka justru menarik Nagita yang hendak pergi dan memeluk istrinya kembali dengan erat. Rey benar, bahwa yang dia butuhkan hanyalah waktu bersama dengan orang yang dia cintai. Mungkin tidak sepenuhnya menghilangkan masalah, akan tetapi itu mampu membuatnya sedikit lebih lega dengan menggoda istrinya yang masih sangat cantik itu.


"Nagita, umur kamu berapa sih?"


"Aku, hmmm mungkin masih dua tujuh, Mas,"


"Rey aja udah belasan tahun, Nagita. Ya kali kamu masih tiga puluh ke bawah,"


"Kamu pikir aja sendiri, toh kita itu beda sepuluh tahun. Lupa sama ulang tahun aku? Nangis loh ini, Mas, aku mau nangis,"


"Ya udah, sini peluk suami dulu!"


"Peluk suami, jatah bulanan nambah loh!"


"Mama!"


Azka merengek, akan tetapi melihat kelakuan istrinya cukup membuatnya terhibur malam itu. Pasalnya, operasi Amanda akan dilakukan besok. Dia sendiri merasiakan itu dari keluarganya yang lain. Dia juga melarang Nagita ke rumah sakit karena Teddy yang menangani Amanda. Dia tidak ingin istrinya bertemu lagi dengan pria itu.