
Acara pernikahan pun
selesai satu minggu yang lalu. Teddy telah berhasil mempersunting Nagita. Di
sana dengan rasa haru dan juga bahagia saat Teddy mengucapkan janji sucinya,
Nagita ingin mempercayakan hatinya kepada Teddy sepenuhnya. Walau terkadang hatinya
sangat khawatir perihal kegagalan. Tapi ia berusaha meyakinkan diri kembali.
Puas berlibur bersama
dengan Rey, Nagita dan juga Teddy akan kembali lagi ke Jepang. Ingin sekali
Teddy mengajak Rey untuk ikut tinggal di Jepang. Tetapi Nagita menolak karena
Rey akan kesusahan dalam berkomunikasi di sana. Belum lagi harus kursus untuk
sekolah bahasa, hingga akhirnya pria itu memilih mengalah.
Tak ada liburan bulan
madu. Suaminya justru mengajak Rey liburan ke Raja Ampat. Nagita yang
sebenarnya sangat malas, tetapi setelah dipaksa oleh Teddy, ia hanya menurut.
Itu juga demi kebahagiaan anaknya. Mengingat bahwa itu juga adalah hari libur
Rey. Nagita sangat bersyukur kali ini kepada anaknya, saat mengambil raport
bersama dengan Teddy beberapa waktu yang lalu, justru anaknya mendapat juara
satu saat kenaikan kelas. Nagita
berharap semoga itu semua tetap Rey raih.
Tentang pendidikan Rey
di masa depan. Bahkan Teddy telah mulai untuk menyiapkannya. Selaku ayah
sambung untuk Rey, Nagita bersyukur karena Teddy menyayangi Rey seperti anaknya
sendiri. Bahkan justru ia yang sering diabaikan oleh Teddy dan lebih banyak
menghabiskan waktu bersama dengan Rey walau hanya sekadar bermain bola dan juga
PS.
Setelah mereka liburan,
Nagita memilih kembali ke rumah dan bahkan mereka sangat jarang berduaan. Teddy
lebih banyak menemani Rey sepanjang hari, dan berkumpul pada saat jam makan dan
tidur. Mereka tidur bertiga. Itu adalah permintaan dari suamunya.
“Papa, ayo bangun!”
Teddy yang Nagita lihat
sedang tidur justru dibangunkan oleh anaknya. Nagita hanya menggeleng dan
bersyukurlah Teddy tidak marah dan justru langsung beranjak dari tempat tidur
dan mencuci wajahnya. Siang itu entah Nagita tidak tahu apa yang akan dilakukan
oleh anaknya untuk mengajak Teddy bermain lagi.
“Ada apa, Rey?” ucap
suaminya parau. Nagita masih melihat Teddy yang masih mengantuk tetapi justru
dibangunkan begitu saja.
“Ada layangan di pohon
jambu depan rumah, ambilin dong!”
“Eh, Papa manjat gitu?”
“Iya, masa cowok nggak
bisa manjat?”
“Bisa, Papa bisa. Lihat
ya! Sebentar Papa ganti celana dulu untuk manjat,”
“Awas loh kalau nggak
bisa, nanti Rey nggak izinin Papa bawa Mama loh,”
Nagita pura-pura tak
mendengar ucapan anaknya pada Teddy. Suaminya keluar dari kamar dengan
menggunakan celana bola dan kaos cokelat. Melihat penampilan suaminya yang
seperti itu, Nagita hanya tersenyum. Bahkan ingin sekali ia tertawa, tetapi ia
takut suaminya itu akan marah.
“Papa, buruan!”
“Bentar, Rey. Papa kan
lagi usaha,”
“Yah Papa nggak bisa
nih!”
“Bisa, bisa banget Rey.
Jangan remehin Papa!”
Nagita menggunakan
celana pendek dan kaos seperti biasanya. Ia langsung mendekati dan memegang
bahu anaknya sambil melihat suaminya yang sedang manjat berusaha untuk
mengambilkan layangan untuk Rey.
“Hati-hati loh. Nanti
ada ulat di sana,”
“Biasanya ada?”
“Ada, bahkan
besar-besar. Sebesar jempol tangan kamu,”
Teddy langsung menarik
layangan dan langsung loncar dari atas sana. Nagita menutup mulutnya sambil
menahan tawa bersama dengan Reynand. Sesekali tak ada salahnya mengerjai
suaminya karena suaminya lebih sayang pada Rey dibandingkan dengan dirinya.
“Nagita coba lihatin,
ada yang nempel nggak?” ucap Teddy yang langsung memunggunginya. Nagita pun
meminta Rey untuk bersekongol dengan dirinya yang akan mengerjai Teddy.
“Aku takut sama ulat,
kak. Itu ada satu, besar banget dipunggung kamu,”
Teddy langsung berlari
dan membuka pintu sembarangan. Nagita dan Rey tetap pura-pura seolah tak
terjadi apa-apa dan langsung mengikuti suaminya.
“Nagita, kenapa sih?
Kak Teddy di apain?”
Viona keluar dari kamar
sambil menggendong Erlangga.
“Nggak di apa-apain,”
“Terus kenapa langsung
buka baju dan dilempar sembarangan?”
Nagita melihat suaminya
berlari ke kamar mandi. Rey hanya menahan tawa sambil tetap berada di rangkulan
Nagita.
“Nggak apa-apa tante.
Tadi Mama iseng aja ngerjain Papa, dia bilang kalau ada ulat di punggung,
Papa,”
“Duh, sayang. Nggak
boleh gituin Papa. Kasihan tahu nggak,”
Tak berapa lama
kemudian, Teddy keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk yang
dililitkan pada pinggangnya. Nagita melihat itu langsung menutup matanya,
sementara itu Rey berada di luar bersama dengan Viona dan juga Erlangga.
“Kamu isengin aku kan?”
“Kakak sih, sama ulat
doang takut,”
“Geli Nagita, ulat itu
gatal, apalagi pas kamu bilang kalau gedenya kayak jempol. Lain kali kamu kalau
bercanda jangan kelewatan, aku lompat dari atas pohon itu tingginya dua meter
lebih loh, gimana kalau aku patah tulang? Mau kamu tanggung jawab? Terus yang
nafkahi kamu sama Rey nanti siapa? Jangan bercanda kayak anak-anak, Nagita! Aku
nggak suka. Kita baru nikah beberapa hari loh, masa kamu udah kayak gini? Kamu
cemburu kan aku selalu sama Rey?”
Nagita menatap ke arah
mata suaminya dan langsung mengangguk. “Kamu cuekin aku terus,”
“Bukan cuekin Nagita.
Ayo sembuhkan Rey! Damar pernah bilang kalau dia itu trauma lihat kamu ditampar
sama Azka. Aku cuman pengin luangin waktu sama dia dengan baik, karena kalau
kita kembali nanti, dia bakalan sendirian lagi. Kita tidur bertiga setiap
malam, aku lakukan itu biar dia rindu kebersamaan kita. Jangan karena kita
pengantin baru, terus maunya berdua mulu, nggak Nagita. Nggak bisa gitu, ingat
kamu punya Rey. Dia anak kamu satu-satunya yang butuh kasih sayang. Terus, aku
selalu turutin dia, itu karena aku nggak mau nanti kalau dia minta apa-apa, aku
justru pelit. Nagita, aku hanya berusaha untuk bersikap seperti Papa yang
benar-benar bisa sayang sama Rey,”
Nagita menunduk karena
apa yang diucapkan oleh Teddy itu semuanya adalah benar. Nagita hanya tersenyum
saat Teddy membelai rambutnya. Perlahan Teddy mencium bibirnya, “Jangan cemburu
sama anak sendiri, Nagita. Ayo bahagiakan Rey, kembalikan kebahagiaan yang dulu
pernah kalian rasakan. Di sini aku berperan sebagai Papanya, ingat ciuman
pertama kita kan? Waktu ada festival kembang api, dan sekarang adalah yang
kedua, Nagita. Semoga saja apa yang pernah kita lalui adalah hal yang akan
membawa kita pada kebahagiaan, bahkan sebelum festival aku sudah mencintai
kamu. Aku tahu saat kita berciuman kamu justru terasa begitu kaku dan itu
menggangguku waktu itu, itu seolah kamu berciuman denganku, tapi pikiranmu ada
sama orang lain,”
Nagita mendengar itu
langsung menarik Teddy dan mencium suaminya. Mereka berdua berciuman sangat
lama. Nagita tak ingin jika masa lalunya diungkit dan di ingat oleh Teddy. Benar
bahwa waktu pertama berciuman dengan Teddy, Nagita justru memikirkan Azka.
Ingin sekali ia menolak dan mendorong pria itu, tapi karena perasaannya juga
yang mencintai Teddy, waktu itu ia memaksakan dirinya sendiri.
“Jangan pernah berpikir
bahwa ada orang lain lagi, Kak,”
“Sana, temui Rey. Aku
ganti baju dulu. Mungkin karena belum terbiasa, aku masih malu, Nagita!”
dikatakan oleh suaminya. Ia menyentuh bibirnya dan mengingat kejadian tadi saat
ia dengan beraninya mencium suaminya terlebih dahulu. Nagita merasa hatinya
ingin keluar saat mengingat kejadian tadi. Hal serupa bahkan pernah terjadi
dulu, saat bersama dengan Azka. Tetapi Nagita akan berusaha untuk melupakan hal
itu perlahan. Teddy pernah mengatakan bahwa dirinya tidak harus melupakan masa
lalu. Tetapi ia tidak akan pernah mengungkit masa lalu pada suaminya, menjaga
hati suaminya sangatlah penting. Karena pria itu mampu meyakinkan dirinya
tentang pernikahan lagi. Waktu yang mereka habiskan hanya tinggal dua hari lagi
bersama dengan Rey. Sebelum akhirnya akan benar-benar kembali.
******
Nagita mengerjapkan
matanya, berusaha mencari kesadaran. Semalam Nagita telah memberikan hak untuk
Teddy. Ia merasa diperutnya tangan Teddy masih melingkar memeluknya. Ia
langsung berbalik dan mendapati pria yang pernah begitu ia kagumu sekarang
menjadi suaminya.
Nagita mengelus dada
suaminya perlahan. Seolah itu semua terasa seperti mimpi.
“Nagita, apa yang kamu
lakukan? Itu sangat geli, tahu,”
Nagita menarik
tangannya dan ia langsung ditatap oleh suaminya. Nagita merasa malu-malu dan
langsung menutup kepalanya dengan selimut.
“Kenapa malu?”
“Nggak ada,”
“Bahagia yang semalam?”
Nagita mengangguk
pelan. Teddy menarik selimutnya dan langsung memeluknya kembali. Nagite
benar-benar malu sekarang, pasalnya baru beberapa bulan berpacaran, dan
sekarang pria tersebut resmi menjadi suaminya.
“Ayo mandi, Nagita!”
“Aku duluan, kamu
tunggu sini aja!”
“Bareng kenapa sih?”
“Nggak,”
“Udah dilihat kan,”
“Nggak mau pokoknya,”
“Ya udah. Bangun sana!”
“Selimutnya?”
“Tuh ambil handuk di
sana! Jangan bawa selimutnya, kalau kamu ambil, aku yang nggak pakai, apa-apa,”
“Kak, kenapa gitu?”
“Kan nggak mau bareng,”
“Jahat banget sih,
kamu?”
“Cepat Nagita. Sebentar
lagi suamimu ini mau kerja, nggak ada waktu buat main-main lagi,”
Nagita segera
menyiapkan diri untuk berlari menghampiri. “Hadap sana, kak!”
“Nggak. Mau lihat kamu
lari,”
“Nggak mau,”
“Ya udah aku juga nggak
mandi,”
“Makanya mandi bareng,”
“Nggak,”
“Kamu itu mau kuliah
loh, masa nggak mandi. Jorok banget jadi perempuan,”
“Biarin,”
“Ya udah aku yang mandi
duluan.” Baru saja Teddy bangun dari tempat tidur. Nagita langsung bangun dan
berlari ke kamar mandi tanpa mengenakan apa pun. sebenarnya ia masih sangat
malu pada suaminya. Mengingat semalam adalah hal yang pertama bagi Teddy,
Nagita tersenyum mengingat kejadian itu.
Setelah mandi, ia hanya
melilitkan handuk pada tubuhnya. Sedangkan suaminya tengah berdiri sambil
melipat kedua tangan hanya mengenakan celana boxer di sana.
“Mandinya lama banget,
ngapain aja?”
Nagita tersenyum,
“Bersihin sisa-sisa ciuman kamu,” ucapnya menggoda Teddy. Kini waktunya Nagita
yang membalas perbuatan Teddy yang tadi mengerjainya.
“Oh jadi mau dihapus
gitu?”
“Sini, aku kasih lagi,”
Teddy mendekat, Nagita
menutup matanya saat jarak wajah mereka hanya tinggal beberapa senti. Teddy
benar-benar menciumnya. Namun saat itu Teddy langsung melepaskan ciumannya,
Nagita merasa ada yang berbeda dari tubuhnya, ia yang tadinya merasa menghangat
tiba-tiba kedinginan.
Suaminya langsung berlari
ke kamar mandi setelah berhasil merebut handuk dari tubuhnya. Nagita yang polos
seketika berteriak akibat perbuatan Teddy.
Setelah berpakaian
rapi, ia langsung menyiapkan sarapan untuk dirinya dan suaminya. Karena hatinya
masih terasa sangat kesal. Nagita tak menyapa suaminya sama sekali karena Teddy
berhasil membuatnya kesal. Sesekali ia menyingkirkan tangan Teddy yang
melingkar di perutnya. Ia melihat suaminya memasang raut wajah tidak baik.
Namun sebenarnya Nagita sedang membalas perbuatan Teddy tadi. Entah kenapa
suasana pernikahannya dengan Teddy diwarnai dengan suasana yang membahagiakan.
Ia telah kembali
menjadi Nagita yang dulu. Selalu ceria dan juga mudah tersenyum. Perempuan itu
sudah cukup menderita dengan pernikahan pertamanya. Kini waktunya untuk
mendapat kebahagiaan baru, dengan Teddy. Kehadiran Rey bahkan pernah Nagita
sesali dulu. Tetapi itu bukan inginnya, tetapi karena perbuatan Azka yang
sangat keterlaluan dulu. Memberikan kebahagiaan yang layak bagi Rey adalah
keinginan yang luar biasa bagi Nagita. Ia masih tetap fokus pada kuliahnya,
sesekali Teddy membantunya mengerjakan tugas walaupun berada di jurusan berbeda
dulu. Akan tetapi pria itu berusaha dengan sangat keras untuk membantu Nagita
mewujudkan mimpinya.
“Sayang, jangan marah gitu
dong!”
Mendengar pernyataan
Teddy, Nagita hanya diam dan menyembunyikan senyumnya. Lelakinya itu sangat
terlihat manis kala cemberut.
“Sayang, ayo dong!”
Nagita meletakkan
makanan di atas meja dan lansung menghindangkannya untuk Teddy. Namun dengan raut
wajah yang seperti itu, Nagita langsung mendekati Teddy dan mencium pipi
suaminya. “Lain kali bercandanya jangan seperti itu, aku nggak suka. Sama kayak
kamu yang nggak suka kalau aku bercanda berlebihan. Kamu nggak tahu gimana
malunya aku sama kamu tadi, memang kita suami istri, tapi aku juga punya rasa
malu jika tak mengenakan apa pun di depan kamu,”
Teddy langsung menoleh,
“Kamu nggak marah?”
“Marah, tapi karena
kamu sudah berusaha seperti itu. Aku akan memaafkan kamu. Dengan catatan bahwa
Papanya Rey nggak boleh melakukan hal yang seperti itu lagi, oke?”
“Janji. Tadi cuman
niatnya benar-benar pinjam handuk kok. Tapi suka aja godain kamu,”
Nagita kembali lagi ke
tempat duduknya yang berseberangan dengan suaminya. Melihat ekspresi Teddy yang
langsung berubah, ia hanya tersenyum.
Nagita mengangkat gelas dan langsung meneguk minumannya saat tenggorokannya
terasa sangat kering. Satu potong telur gulung berhasil masuk sebagai pembuka
sarapannya.
Teddy benar bahwa tidak
ada gunanya jika terus menjalin hubungan yang begitu lama tanpa ada ikatan ke
jenjang yang lebih serius. Dengan melihat cara pembuktia pria itu. Nagita hanya
tersenyum, kemudian ia merasa sangat bahagia karena menikah dengan Teddy. Bulu
mata panjang pria itu, serta mata yang kadang membuat Nagita tersipu dengan
tatapan Teddy. Tidak salah jatuh cinta semenjak SMA. Tetapi justru ia
dipisahkan dengan pria yang pernah menjadi idamannya dulu. Akan tetapi jika
Tuhan memang menjodohkan, sejauh apa pun kakinya melangkah untuk pergi. Jika
memang dia yang ditakdirkan untuk menjadi pasangan, maka akan bertemu juga.
Tidak pernah disangkat jika ia akan bertemu dengan Teddy di Jepang. Namun Tuhan
selalu memiliki rencana yang sangat indah untuk pertemuan kedua insan yang
memang telah menjadi garis takdirnya untuk berjodoh. Sama halnya dengan kedua
pasangan tersebut, yang bahkan tidak pernah menyangka akan dipertemukan secara
tidak sengaja di sebuah supermarket.