
Semenjak kedua mertua Rey datang ke rumah. Nagita dan Azka sepakat untuk tidak ikut campur terlalu dalam untuk perihal rumah tangga keduanya. Mereka berdua membiarkan Rey menceritakan keseharian Marwa selama berada di rumah. Sejujurnya, keduanya khawatir karena takut jika Rey keceplosan tentang pria yang dahulu pernah membuat Marwa menjadi seperti itu.
Keduanya saling menatap satu sama lain. Ketika Rey menceritakan masa ngidam Marwa yang sedikit lebih berat. Karena setiap pagi Marwa selalu muntah-muntah. Nagita pun mulai khawatir dan meminta anaknya untuk membawa Marwa ke dokter, meminta obat untuk pereda muntah-muntah tersebut. Akan tetapi tetap saja, setiap pagi Marwa selalu saja mengalami kejadian yang sama.
Nagita hanya diam, dia mengangguk sesekali tersenyum bersama dengan sang suami. Mereka sadar bahwa tidak ada yang perlu dibicarakan terlalu jauh. Mereka selaku orang tua hanya membahas mengenai kehamilan Marwa dan rencana tempat tinggal ketika Marwa sudah melahirkan nanti.
“Malam ini Marwa nginap di rumah boleh enggak, Rey? Papa kangen,” ucap mertua Rey dengan penuh harap.
Bukan Rey tidak mengizinkan, akan tetapi dia tidak ingin istrinya mengalami hal yang lebih parah lagi. Yaitu dia tidak pernah betah ke mana pun selama perjalanan bahkan baru saja masuk ke dalam mobil, Marwa keluar lagi. Untuk memeriksa kandungan pun Rey tidak pernah mengajak istrinya ke dokter. Hanya pemeriksaan sederhana yang dilakukan oleh dokter ke rumahnya. “Pa, bukannya aku enggak ngasih dia nginap di rumah Papa atau ngelarang dia ke sana, tapi Marwa emang enggak bisa pergi jauh, Pa. Dia sering muntah,”
Terlihat dari raut wajah mertuanya yang sedikit kecewa. Bahkan Marwa membenarkan apa yang dikatakan oleh Rey barusan. “Tapi, kalau sudah baikkan. Janji ya kalian bakalan nginap di rumah? Papa kangen sama Marwa. Kamu juga Rey, sesekali nginap di rumah, masa selama nikah kamu antarin istri kamu aja, enggak pernah gitu nginap dan ngobrol sama Papa tentang bisnis kamu. Siapa tahu kan Papa bisa bantu-bantu gitu, iya kan Azka,” Azka membalas dengan anggukan yang menandakan bahwa dia setuju dengan ucapan besannya itu.
Sementara itu, Nabila dan Salsabila ikut bergabung di sana.
“Papanya Kak Marwa, Kak Rey itu baik banget. Kak Marwa dipeluk kalau Kak Rey pulang kerja. Terus apa pun yang Kak Marwa mau, dia selalu beliin. Kata Kak Rey, yang pengin itu adik yang ada di perut Kak Marwa. Kita enggak sabar buat nungguin mereka, terus ya Papanya Kak Marwa, Kak Marwa itu baik banget. Ngajarin kita ngaji, bantuin kita ngerjain PR. Terus, dulu sebelum ada adik di perut kakak, dia sering buatin kita kue, sekarang enggak lagi,” keluh Salsabila yang duduk di dekat Marwa. Sedangkan Nabila berada di sebelah Reynand.
“Tapi, Kak Rey itu sering nyebelin loh Papanya Kak Marwa, dia enggak ngizinin kita bobok sama Kak Marwa,”
“Loh, memangnya kenapa?”
“Enggak tahu. Kak Marwa juga dulu sering ngizinin kita bobok kok, soalnya Kak Rey sama Kak Marwa kan enggak bobok bareng dulu,” ketus Nabila.
Azka yang terkejut dengan penuturan anaknya memejamkan mata dan menarik napas panjang. Ini adalah suatu bencana bagi keluarganya. Terlihat raut wajah Rey dan Marwa yang tegang waktu itu akibat apa yang diucapkan oleh Nabila merupakan hubungan suami istri yang belum membaik itu, dahulu.
“Kalian pernah pisah ranjang?” Tanya mertuanya.
Rey yang hamper tidak bisa berpikir jernih. Ia pun segera berusaha untuk menyangkal semua itu. “Bukan, Pa. Itu waktu Marwa datang bulan, dia kalau datang bulan sering nyuruh tidur di tempat terpisah. Makanya waktu itu Nabila sama Salsabila di suruh tidur di kamar dia, mungkin kesepian,” ucapnya.
Sama halnya dengan Marwa yang waktu tidak kalah gugupnya dnegna apa yang dikatakan oleh adik iparnya itu.
“Enggak, Mbak. Mereka enggak pernah berantem, kadang cuman kesalahan telat bangun atau gimana, baru deh mereka itu saling salahin. Enggak pernah berantem lebih dari itu kok, mereka tinggal di sini untuk sementara waktu. Nanti kalau Marwa udah enggak muntah lagi, Rey mau ngajak Marwa tinggal berdua,” jelas Nagita yang tak ingin kalah dengan apa yang disangkal oleh Reynand.
“Memangnya kamu sudah punya tabungan untuk beli rumah, Rey?”
“Ma, kalau soal itu, aku sudah siapin. Bahkan untuk calon cucu kalian berdua, aku sudah nabung. Semua aku udah siapin,” balas Rey kepada mama mertuanya.
“Lakukan, Rey. Itu hak kamu, kalaupun misalnya kamu mau tinggal di rumah kami juga itu bagus. Karena Mama sama Papa enggak bakalan kesepian lagi, Mama juga bersyukur pastinya karena nanti bakalan rame karena cucu kita,” ucap mertuanya antusias.
Rey tersenyum menatap Marwa yang di sana tersenyum kepada orang tuanya.
“Ma, nanti kalau udah baikan kita pasti ke sana. Nanti kami tinggal dua minggu lebih di sana,” kata Marwa. Rey yang mendengar hal itu langsung melotot tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh istrinya barusan.
Rey bukannya tidak ingin menuruti permintaan istrinya, akan tetapi semakin dia berlama-lama bersama dengan mertuanya, ingin sekali dia bercerita kepada kedua mertuanya mengenai hal yang pernah membuat kedua mertuanya begitu membenci pria yang pernah membuat Marwa hilang ingatan itu.
Entah apa pun hasilnya nanti, Rey akan berusaha menerima itu semua. Tapi, untuk saat ini dia masih belum bisa menceritakan itu, mengingat bahwa keadaan istrinya yang kurang baik, Rey menjadi semakin ragu untuk bercerita.
Dia butuh waktu untuk menceritakan itu semua, dia butuh waktu untuk berkata jujur kepada mertuanya. Terlebih, karena dia ingin agar mertuanya memahami bahwa jika kelak mereka berdua kecewa, kedua mertuanya bisa memahami dengan baik bahwa sesungguhnya Rey tak pernah merencanakan itu. Akan tetapi Marwa yang merencanakan pertemuan itu dahulu. Tetapi, bagaimana pun juga, dia tidak ingin menyalahkan istrinya dengan alasan apa pun. Biarlah dia relah bersalah, demi membuat ingatan istrinya baik-baik saja.
Rela terluka demi kebahagiaan istrinya sendiri.