
Seusai makan malam, mereka sekeluarga duduk di ruang keluarga. Di sana seorang pria berusia empat puluh tahun sedang duduk bersama kedua putri dan juga istri serta anak tertuanya.
Perempuan berusia tiga puluh tahun dengan penampilan yang selalu saja sederhana tetapi tetap cantik. Mereka semua berbincang mengenai permasalahan yang tadi.
Reynand melihat mamanya pergi dari tempat itu kemudian mengejar dengan maksud untuk meminta maaf atas kejadian tadi sore dia membentak mamanya.
Nagita, melihat anaknya yang tengah berusaha mengejarnya kemudian menghindar untuk memberikan efek jera kepada putra satu-satunya yang dia miliki.
Di sana juga tampak Azka tengah tersenyum melihat kelakuan anak pertamanya yang sedang berusaha merayu sang mama.
Reynand, dia memeluk perempuan berusia tiga puluh tahun lebih yang berstatus sebagai mamanya itu sedang berusaha untuk meminta maaf. "Rey, lepasin dong!"
"Mama, aku minta maaf," rengek remaja berusia belasan tahun itu yang sedang memeluk mamanya dan mencium pipi mamanya dari belakang.
Azka, melihat tingkah anaknya tersenyum dari tempat duduknya sambil menyaksikan kedua orang yang tengah berdiri sambil melihat ekspresi istrinya yang terlihat kesal karena tindakan putra pertama mereka sedang berusaha untuk meminta maaf tapi tidak jauh beda dari cara Azka meminta maaf yaitu dengan cara merayu dan mengungkapkan kata-kata yang begitu manis.
"Papa, didikan Papa nih pasti, makanya anak Papa jadi begini," keluh perempuan itu seraya menyingkirkan tangan Reynand. Akan tetapi tubuh Reynand lebih tinggi dibandingkan dengan perempuan yang sedang dipeluk saat ini.
"Rey, lepasin!"
"Enggak mau sebelum Mama maafin aku, aku enggak bakalan lepasin, Mama, iya kan, Pa?" ucap remaja itu. Azka hanya mengangguk menyetujui hal itu.
"Papa, bantuin Mama!"
"Maafin anak dulu, sayang!"
"Enggak mau,"
"Ah, Mama. Ayo dong, Ma. Aku janji enggak bakalan ulangi lagi deh bentak, Mama,"
"Harus ada syarat untuk meyakinkan Mama dulu, Rey,"
"Iya Ma. Aku janji seminggu full deh setelah semester aku jagain adik aku, Mama sama Papa bebas deh mau ngapain!"
Azka yang sedang meminum minumannya tadi langsung memuncratkan minuman itu dan langsung memberikan kode kepada istrinya untuk menyetujui apa yang telah diucapkan oleh lelaki muda tersebut.
"Yakin, enggak bakalan ngeluh kalau adik-adik kamu main sama kamu?"
"Yakin, Ma,"
"Semenster kapan?"
"Senin, Ma. Terus kan nanti pasti libur dua minggu, nah seminggu full aku yang jagain mereka. Ayolah, Mama. Aku sayang Mama, sayang banget sama Mama," Reynand tak berhenti mencium pipi mamanya bekali-kali. Kedekatan itu memang sangat dinantikan oleh kedua orang tuanya. Apalagi setelah tadi Papanya mengingatkan bahwa dia harus lebih banyak meluangkan waktu bersama keluarga.
Satu-satunya cara memberikan efek jera untuk Reynand adalah menjauhi anak itu. Karena anak itu pasti sangat sedih ketika tidak ditegur walaupun satu hari oleh Mamanya.
Azka masih menyuapi kedua anaknya makanan ringan yang selalu diminta setiap kali mereka berkumpul seperti ini. "Mama, maafin Rey! Nanti kita liburan berdua, loh,"
"Ah, yang benar, sayang?"
"Iya, Mama. Nanti Mama mau ke mana?"
"Luar negeri, boleh?"
Reynand langsung berubah ekspresi begitu saja ketika mendengar bahwa orang tuanya akan liburan ke luar negeri. "Aku enggak ikut?"
"Gini, nih Papa terniat banget mau hukum anaknya," keluh Reynand. Akan tetapi tetap saja orang tuanya justru tersenyum dengan tingkahnya itu.
"Ya sudah, Mama maafin. tapi enggak boleh bentak Mama. Apalagi tadi kakak ngelakuin hal itu di depan adik. Sampai-sampai mereka ngadu, Nak. Padahal Mama enggak mau Papa tahu soal masalah ini, tapi udah terlanjur di laporin sama adik kamu, janji enggak bakalan bentak Mama lagi?"
"Iya, Mama. Aku janji enggak bakalan bikin Mama sedih lagi apalagi bikin Mama nangis dan kasarin Mama. Papa boleh pukul aku, kok,"
Azka melihat keyakinan penuh pada putranya hanya menggeleng dan membiarkan kedua orang tersebut mesra di depan matanya. "Mama sudah maafin kakak," perempuan itu berbalik dan memegang kedua pipi Reynand dan mencium kening Reynand. Bergiliran dengan Reynand yang mencium kening dan pipi mamanya.
"Nah gitu dong. Papa kan jadi senang lihatnya. Enggak boleh lawan Mama, Rey itu enggak tahu dulu perjuangan Mama ngelahirin Rey kayak apa. Papa aja kalau ingat itu kadang enggak ada niat sedikitpun buat Mama sedih lagi, cukup Mama itu ngerasain sedih Rey. Papa itu sayang banget sama Mama. Apalagi waktu Mama lahirin yang dua ini, Papa ngerasa udah benar-benar ngerasain hal yang paling sakit yang bahkan belum pernah Papa rasakan ketika nemenin Mama lahiran,"
"Iya, Papa. Aku janji enggak bakalan bikin Papa sedih lagi,"
"Ya udah lepasin dong! Mama enggak bisa napas Rey," keluh ibu tiga anak itu. Rey langsung melepaskan pelukannya setelah mencium mamanya tadi dia memeluk mamanya lebih erat lagi.
"Dasar anak ini,"
"Didikan Papa, makanya kalau dia salah tuh enggak ada bedanya sama Papa,"
Azka membuang pandangannya dan menatap ke arah lain sambil bersiul pura-pura tidak mendengar apa yang dikatakan oleh istrinya. Sedangkan kedua anaknya masih tidur makan sambil menonton televisi.
"Kakak kenapa peluk, Mama? Itu Mama kita," protes Nabila.
"Iya kan ini Mama kita bertiga,"
"Bukan, tapi Mama aku cama dadek, ya kan dadek," ucap Nabila meyakinkan Salsabila yang tengah asyik mengunyah tapi anak itu justru mengangguk pelan.
"Ini Mama kita bertiga. Mama Nabila, Mama Salsabila dan Mama untuk kakak,"
"Tapi tadi kakak malahin, Mama,"
"Adik, enggak boleh bilang gitu. Mama itu kan Mama kalian bertiga, kalau itu Mama kalian berdua, berarti kak Rey itu bukan kakak kalian," ucap pria yang langsung mendekati anaknya dan menjelaskan itu semua.
"Kakak buat Mama nangis,"
"Ssst," pria itu meletakkan telunjuknya di depan bibir anaknya. "Sayang enggak boleh gitu, Papa udah marahin kakak kok, jadi jangan bilang gitu ya!"
"Kakak enggak malah cama Mama lagi?"
"Udah enggak, tuh tadi Mama cium kakak,"
"Oh," jawaban singkat itu membuat Azka langsung duduk kembali ke tempat duduknya semula. Dia sempat berpikir bahwa kedua anaknya sudah terlanjur mengetahui tentang Reynand yang memarahi mamanya hingga menangis dan berbicara dengan nada tinggi.
"Dengerin tuh, Kak! Adik sudah tahu kalau kakak itu marahin, Mama. Enggak boleh terulang lagi, Mama sama Papa berantem aja berusaha jauh dari keduanya. Sudah cukup kamu yang dulu menyaksikan kebodohan itu, Rey. Papa enggak mau buat kesalahan yang sama lagi,"
Lelaki itu duduk di samping papanya, "Iya, Papa. Enggak bakalan terulang lagi," ucapnya dengan nada rendah. "Terima kasih juga buat, Mama,"
"Terima kasih untuk?"
"Karena udah maafin aku,"
"Enggak ada orang tua yang enggak bisa maafin anaknya, Rey. Pasti ada walaupun secuil perasaan itu, mereka pasti memaafkan anaknya. Semua tergantung pada perasaan orang tua itu, tapi bagi Mama sama Papa, kakak itu masih pada masa pertumbuhan. Kenapa Mama selalu ketat sama kakak? Kenapa Papa selalu saja berusaha mengeri walaupun zaman kakak dan Papa beda, tapi Papa berusaha memahami, itu karena Papa sama Mama enggak mau kalau Papa sama Mama enggak kenal sama anaknya sendiri dalam arti anaknya itu asing banget,"
Reynand mengangguk, "Aku janji, Ma," lelaki itu mendekati mamanya dan memeluk perempuan itu untuk kesekian kalinya. Kehangatan keluarga yang sudah lama tidak dia rasakan. Padahal Papanya sudah berusaha untuk meluangkan waktu untuk selalu bersama. Salah lelaki itu yang justru lebih meluangkan waktu untuk orang lain dibandingkan keluarga sendiri. Kali ini dia sadar, bahwa sesakit apa pun perasaan itu. Keluarga tetap menjadi tujuan terakhir untuk menjadi tempat sandaran ternyamannya.