
Empat bulan sudah
semenjak Teddy meminta restu pada dirinya. Dimas tak berkomentar apa pun. walau
sebenarnya ia sangat ingin melihat adiknya untuk mengenyam pendidikan terlebih
dahulu. Akan tetapi suatu kekhawatiran tiba-tiba saja terlintas di benaknya. Yaitu, tidak mungkin membiarkan
Nagita dan Teddy berlama-lama di sana hanya dengan status pacaran. Dimas sudah
cukup trauma dengan kejadian dulu.
Restu yang diberikan
untuk keduanya pun sudah ia berikan. Tinggal menunggu waktu yang tepat untuk
Teddy benar-benar membawa hubungannya ke jenjang lebih serius lagi dengan
adiknya. Siapa pun pasti resah, karena tidak ingin adiknya mengalami kegagalan
untuk kedua kalinya. Dimas belum memberkan restu sepenuhnya, karena ia tidak
ingin melarang keduanya berhubungan karena jarak mereka yang tidak bisa
diawasinya secara langsung.
Dimas hanya percaya
pada Teddy, bahwa pria itu sangat baik. Kini, kandungan Viona pun sudah semakin
membesar. Masih banyak hal yang harus dipikirkannya. Tentang pendidikan Rey,
biaya hidup dengan Viona. Perihal pendidikan Nagita, semua itu telah ditanggung
oleh Teddy. Menerima kehadiran orang baru bukanlah hal yang sangat mudah.
Namun, jika itu semua demi kebahagiaan adiknya. Maka mau tidak mau, ia harus
membiarkan Nagita bersama dengan dokter muda itu.
“Kakak, kenapa
melamun?”
Dimas menoleh saat
istrinya tiba-tiba duduk di sampingnya. Sementara itu Rey ia sedang menemani
Rey belajar malam itu. Anak itu juga sudah menerima kehadiran Teddy dan
mengizinkan Nagita untuk membina rumah tangga lagi. Perihal Azka, rasanya ia
ingin Nagita benar-benar dicintai oleh pria yang juga mencintainya. Bukan
justru cinta yang bertepuk sebelah tangan.
“Rey, tidur yuk! Besok
kan Rey sekolah,”
“Bentar lagi Om,”
“Rey, dua bulan lagi
Rey kenaikan kelas, tapi Om kayaknya nggak bisa nemenin Rey ketemu, Mama,”
“Kenapa nggak bisa?”
“Karena pasti hari itu
adiknya Rey udah lahir. Nanti bakalan ada Om Teddy yang jemput Rey di sini, Rey
mau?”
“Pak dokter maksudnya,
Om?”
“Iya. dia yang bakalan
bawa Rey ke Jepang selama liburan, jadi Rey ikut sama dia ya!”
“Mama nggak pulang?”
“Mama kan sibuk
belajar, tapi nanti Om Teddy yang bakalan usahain pulang sayang. Ohya, nanti Om
juga pulang sama Mama, Rey kan udah izinin Mama menikah lagi,” ucapnya pelan.
“Rey nggak apa-apa kok,
Om. Semoga saja Om Teddy itu kayak Om Damar, yang selalu buat Mama senyum lagi.
Berarti nanti Rey ikut sama Om Teddy kalau Mama nikah sama dia?”
“Nggak, sayang. Rey di
sini dulu, nanti kalau Mama sudah lulus, Om Teddy bakalan ajakin Mama pulang,
terus tinggal sama Rey,”
“Iya Om, selama Mama
bahagia. Rey juga pasti ikutan bahagia, tapi Rey boleh kan tinggal di sini juga
nanti?”
“Boleh. Ini kan rumah
Rey juga. Kapan pun Rey mau pulang, silakan pulang,”
“Boleh Rey ketemu sama
Daddy Azka?”
“Nanti harus izin dulu
sama Om Teddy, nanti kan Om Teddy bakalan jadi Papanya Rey, jadi apa-apa harus
izin. Rey nggak boleh sembarangan pergi untuk ketemu sama Daddy lagi seperti
sebelum-sebelumnya,”
“Ribet juga, Om. Tapi
ya sudah, Rey nggak apa-apa. Kenaikan kelas nanti, Rey ulang tahun lagi kan?”
“Iya, sayang,”
“Berarti hari itu Rey
ada di jepang?”
“Tentu,”
“Yeeee. Berarti Rey
nggak rayain ulang tahun sama Mama aja dong?”
“Iya sayang. Nanti ada
Om Teddy.”
Anak itu menyeringai
dan menampakkan gigi susunya. Dimas tak banyak berkomentar perihal Teddy.
Walau belum sepenuhnya mengenal pria
itu. Tetapi mendengar cerita dari istrinya dan juga Damar. Ia berusaha untuk
percaya pada pria itu, setidaknya mereka masih bisa jaga diri dan lebih serius
dalam menjalani hubungan.
Tak butuh waktu lama
bagi Dimas untuk memberi restu. Walau ia ingin sekali menyaksikan keberanian
pria tu dalam melamar Nagita dengan cara langsung menuju ke rumah mereka.
Karena profesinya sebagai dokter. Pria itu sangat sulit untuk mendapatkan izin.
Pria itu akan melamar Nagita nanti. Bersamaan dengan libur Rey sekolah, dan itu
juga merupakan cuti yang diambil dari keduanya.
Setidaknya pria itu
mampu menerima Rey dengan baik sebagai anaknya. Itu sudah cukup baginya, dan
lagi adiknya yang berstatus sebagai janda itu. Dimas khawatir karena Teddy
adalah pria muda yang belum berpengalaman dalam membina rumah tangga. Kegagalan
Nagita merupakan hal yang sangat ditakutinya.
“Om, jangan kusut gitu
mukanya. Jelek banget tahu, nggak?”
“Kamu tuh ya, ada-ada saja,”
“Ya sudah, Rey tidur
duluan ya. Besok kan Rey sekolah, terus bentar lagi mau semester kenaikan
kelas, Om jaga tante baik-baik!” anak itu langsung mencium mereka berdua.
Sebagai orang tua pengganti. Dimas dan Viona sangat menyayangi Rey seperti
anaknya sendiri. Karena terlalu banyak kesedihan yang sudah dialami oleh anak
itu, Dimas sudah merasa cukup dengan penderitaan Rey.
Malam semakin larut, ia
masih belum memikirkan bagaimana harus bersikap nantinya.
“Kak, jangan dipikirkan
hal itu dulu. Nagita sama Kak Teddy kan belum nikah, nanti pas hari lamaran,
kakak baru boleh khawatirkan semuanya. Ingat loh kalau kakak itu bakalan tegas
dalam memberitahu Kak Teddy nantinya!”
“Hmmm, tentu saja. Ini
juga harus dibicarakan sama Damar. Bukan hanya memikirkan ini sendiri. Pihah
keluarga Teddy juga hanya Damar kan,”
“Iya. Jadi mau ke Kak
Damar lagi?”
“Tentu saja, Viona,”
“Ya sudah. Sekarang tidur!”
perintahnya kepada istrinya. Perempuan itu hanya mengangguk dan menuruti
kemauannya. Dimas memeluk istrinya berusaha menyingkirkan perasaannya yang
kurang baik terhadap dua orang yang berada di jauh sana.
******
Hari di mana Nagita
akan di lamar oleh Teddy. Dimas merasa hatinya benar-benar tidak karuan dengan
keadaan ini. Mengingat bahwa setelah lamaran, keduanya akan langsung menikah.
Kegagalan merupakan hal yang sangat ditakuti olehnya, tetapi kali ini Dimas
berusaha untuk tetap tenang. Anaknya pun sudah lahir beberapa minggu yang lalu.
Semakin banyak yang akan dipikirkan oleh Dimas kali ini. Rey juga sudah pernah
sekolah lagi karena menunggu hasil raport saja.
Kemarin Nagita pulang
bersama dengan Teddy berdua. Terlihat dari raut wajah adiknya yang terlihat
begitu sangat bahagia. Walau terkadang ada keresahan, ia berusaha mengenyahkan
itu semua demi kelangsungan hidup adiknya di masa depan.
“Kakak, kenapa kakak
seperti itu?”
Dimas menoleh ke
belakang. Menemukan adiknya yang tengah berdiri di belakangnya. hatinya gugup,
harus benar-benar merelakan adiknya untuk hidup bersama dengan orang yang baru
lagi.
“Nagita, yakin kamu
dengan pernikahan ini?”
“Sangat yakin, kak,”
“Bagaimana dengan Rey,”
“Seperti yang telah
diberitahukan melalui telepon,”
“Teddy bisa benar-benar
menerima, Rey?”
“Semoga saja benar
seperti yang dia katakan kak, tapi kalau memang kakak nggak ngizinin, aku nggak
apa-apa kok kak. Lebih baik memang dibatalkan saja,”
“Nggak Nagita. Jangan
digagalkan, kakak sudah ikhlas kamu bahagia sama Teddy. Cuman kakak pesan,
“Aku akan berusaha
kakak,”
“Jaga diri baik-baik.
Nagita, dokter memang cita-cita kamu. Dan sekarang kamu justru akan menikah
dengan seorang dokter. Tapi ingat tujuan kamu di sana untuk belajar, dek.
Jadilah perempuan yang hebat, Teddy juga pasti ingin kamu jadi perempuan yang
tangguh. Oke, setengah tahun pacaran, itu sudah cukup untuk masa pengenalan
kalian. Suka duka harus kalian lewati berdua nantinya, jika salah satunya
tumbang, jangan pernah meninggalkan, jika salah satunya bersedih, jangan pernah
ada yang meninggalkan!”
“Iya kakak. aku akan
tetap bersama dengan dia.”
Dimas menggenggam kedua
tangannya, ia berusaha untuk menghilangkan rasa gugupnya yang selama ini
ditahannya, hari itu pun telah tiba. Rencana selanjutnya adalah pernikahan
setelah ini, persiapanpun sudah hampir sempurna. Pernikahan sederhana untuk
mengikat status mereka. Tak ada resepsi, karena mereka berdua telah sepakat
akan mengadakan resepsi nanti setelah pulang dari Jepang.
Hatinya benar-benar
gugup. Saat sebuah mobil memasuki area rumah mereka. Dimas langsung keluar
bersama dengan Nagita untuk menemui tamunya. Di sana sudah ada pria gagah yang berdiri di samping Damar
sambil menggendong anak Damar.
“Ayo silakan masuk!”
******
Sebelum datang ke rumah
Nagita. Tadinya Teddy sangat gugup, bahkan itu terbilang terlambat. Tapi
bagaimanapun juga, itu adalah hari di mana ia ingin benar-benar bisa untuk
menikahi Nagita. Rasa cintanya pada perempuan itu semakin tumbuh seiring berjalannya
hubungan mereka semenjak jadian. Teddy tak ingin berlama-lama karena takut jika
suatu waktu mereka lepas kendali dalam menjalin hubungan.
Setibanya di rumah
Nagita. Ia langsung dipersilakan untuk duduk. Damar mengantarkannya untuk
meminta Nagita pada Dimas. Pria itu pula yang mengajarkan dirinya tentang
mencintai perempuan sebagaimana mestinya. Walau kakaknya termasuk mantan pria
brengsek, tetapi semenjak menikah dan memiliki anak, saudaranya itu sangatlah
setiap kepada istrinya. Itu dibuktikan dari seberapa sering ia menghabiskan
waktu bersama keluarga.
Mereka berdua duduk
bersama. Dan diseberangnya ada Dimas yang tengah duduk bersama dnegan Viona
yang baru saja melahirkan beberapa bulan yang lalu.
“Teddy, ayo kita mulai
untuk pembicaraan kita!”
Teddy merasa sangat
gugup. Tangannya langsung menggenggam erat tangan Nagita, itu demi mendapatkan
restu dari Dimas. Sebagai seorang pria yang akan mempersunting kekasihnya, ia
harus meminta Nagita pada Dimas dan juga Rey.
“Maksud dari kedatangan
saya kemari adalah untuk meminta Nagita, sebagai istri saya. Dan akan
menjadikannya istri sekaligus ibu bagi anak-anak saya kelak, terlebih saya akan
menyayangi Nagita, dan juga Reynand dengan begitu adil. Saya akan berusaha
untuk tetap bersikap adil kepadanya, jika saya memiliki anak kelak. Tidak akan
ada yang dibeda-bedakan,”
“Teddy, kamu tahu kan,
Nagita bukan pera-“
“Saya tahu,” ucapnya
memotong pembicaraan.
“Dia adalah seorang
janda satu anak, bisakah kamu meyakinkan bahwa kamu bisa mencintai Nagita dan
juga Rey sekaligus? Jangan hanya mencintai Nagita, kamu juga harus menyayangi
Rey sebagaimana mestinya. Terima kehadiran dia!”
“Tentu. Saya akan
mencintai Nagita dan menyayangi Rey seperti anak saya sendiri,”
“Dalam keadaan apa
pun?”
“Iya, dalam keadaan apa
pun.”
“Menjalani rumah tangga
bersama dengan seseorang yang sudah memiliki anak sangatlah tidak mudah. Kamu
harus bersikap adil, dek. Jangan hanya karena obsesimu yang terlalu mencintai
Nagita, lalu kamu melupakan tanggun jawabmu sebagai ayah baru bagi Reynand!”
Damar ikut menimpali.
Teddy mengangguk paham
dengan apa yang dikatakan oleh kakaknya. Ia juga akan berusaha untuk tetap
bersikap adil nantinya. Tidak ingin berlama-lama menjalani hubungan yang tidak
baik dengan Nagita. Takut jika selalu berduaan ia akan tergoda. Ia menikahi
Nagita juga sebagai bukti cintanya. Meski status perempuan itu bukan gadis
lagi, tetapi itu adalah hal yang tidak masalah bagi Teddy.
“Nggak ada alasan untuk
menolak kamu, Teddy. Dengan segenap hati, tolong jaga Nagita dan juga Rey jika
mereka berada di sisimu!”
Teddy yang tadinya
menunduk. Tiba-tiba dia langsung mendongakan kepalanya dan menatap ke arah
Dimas yang hanya menyinggungkan senyum untuknya. Ia langsung menatap ke arah
Nagita yang tak kalah bahagianya dengan dirinya. Teddy sangat bahagia karena
persiapan untuk pernikahan mereka tidak sia-sia. Mulai dari gaun pengantin dan
tempat yang akan menjadi tempat diselenggarakannya pernikahan. Karena begitu
bahagia, Teddy langsung menarik tubuh Nagita dan memeluk perempuan itu.
“Om, jangan peluk,
Mama! Belum boleh, kan belum nikah,”
Teddy langsung
menyadari bahwa ia tidak sedang sendirian. Ia langsung menatap ke arah Rey yang
duduk di sebelah Damar saat itu. Teddy langsung meminta Rey untuk mendekat ke
arahnya.
“Rey terima Om Teddy?”
“Kenapa nggak? Om Teddy
bisa buat Mama senyum lagi, Rey bahagia kok,”
Teddy langsung memeluk
Rey. Anak itu benar, selama ini Nagita terlalu banyak berdiam diri. Bahkan
semenjak perkenalan, Teddy juga harus pandai-pandai mengambil hati Nagita agar
perempuan itu tak terlalu memikirkan masa lalunya.
“Rey terima Om jadi
Papanya Rey?”
“Iya, tapi janji harus
ajarin Rey juga jadi dokter kayak, Om!”
“Memangnya Rey mau jadi
dokter?”
“Iya dong. Biar bisa
bantu orang-orang, itu kata gurunya Rey. Kalau Rey banyak uang dan jadi orang sukses, nggak boleh pelit
dan nggak boleh sombong. Kita jadi manusia saling membutuhkan kan? Buktinya
sekarang Rey juga butuh Om dokter buat jadi Papanya Rey,”
“Belajar dari mana?”
“Dari Mama. Mama selalu
ajarin Rey cara nerima orang baik. Dulu Rey penginnya Om Damar jadi Papa
barunya Rey, tapi Mama bilang kalau Om Damar itu cuman temannya Mama dan
temannya Daddy Azka,” anak itu menggantungkan ucapannya, “Maaf Om, Rey
keceplosan,”
“Nggak apa-apa. Memangnya
dulu Om Damar itu baik banget ya?”
“Iya, cara ngomongnya
juga sama kayak Om Teddy. Lembut banget, udah gitu dia selalu lawan Daddy, jadi
nanti kalau Om Teddy macam-macam, Om bakalan dipukulin sama Om Damar,”
“Om bakalan suntik Om
Damar kalau berani macam-macam. Ohya kenapa Rey nggak takut sama Om?”
“Karena Rey ngerasa Om
itu baik. Nggak cuman sama Mama. Tapi sama Rey juga, makanya mau nerima Om jadi
Papanya Rey. Terus Om Dimas sering cerita tentang Om, itu juga Om Damar sering
ceritain Rey tentang Om ganteng,”
Damar menolehkan
wajahnya sambil bersiul. “Om Damar cerita apa?”
“Dia bilang, kalau Om
Teddy itu baiknya ngalahin Daddy, terus bakalan sering-sering ngajakin Rey
main, beneran ya! Soalnya Rey nggak ada teman main,”
“Pastinya, Om bakalan
luangkan waktu untuk main sama anak Om,”
“Kok Om, Papa dong, kan
bentar lagi jadi Papa.”
Teddy mengangkat tubuh
Rey ke atas pangkuannya. Memang sama sekali ia tidak berpengalaman perihal
membina rumah tangga. Tetapi ia tidak ingin perempuan yang ada disampingnya
gagal lagi dalam membina bahtera rumah tangga. Teddy ingin,itu adalah pertama
dan terakhir menikah nantinya. Kesalahan dulu bukanlah salah Nagita. Melainkan
kesalahan Azka. Dan Teddy, akan berusaha untuk mencintia dan menyayangi Rey
seperti anaknya sendiri. Tidak akan membeda-bedakan kasih sayang nantinya.