
Seusai makan malam Nagita membereskan sisa makanannya dan dikembalikan ke dapur. Mereka tidak pernah makan malam bertiga, mereka selalu bersama dengan asisten juga. Kecuali saat mereka sarapan karena asistennya biasa sarapan agak siangan. Asistennya sudah seperti keluarga baginya. Tidak membedakan status antara asisten dan majikan.
"Mama, kita pergi malam ini, kan?"
"Jadi kok. Coba tanya Papa dulu, siapa tahu Papa capek!" Jawabnya sambil tetap membantu asistennya membereskan piring.
"Ma, bikinkan Papa kopi, dong! Setelah itu kita pergi ke dokter ya!" Nagita mengangguk pelan. Ia tersenyum karena Rey belum sempt bertanya. Akan tetapi suaminya justru mengingatkan hal itu kepda mereka berdua.
Nagita membutkan kopi untuk suaminya yang tengah duduk di ruang kelurga bersama dengan Reynand di sana. Anaknya yang tak berhenti mengunyah cemilan di sana membut Nagita menggeleng melihat tingkah anaknya. "Mama buatin susu buat, Rey."
Anaknya menoleh ke arah gelas yang sudah terpampang jelas di depan keduanya. "Mama sudah minum susu juga?" Tanya suaminya. Nagita mengangguk ketika suaminya berkata demikian.
"Sebentar lagi kita bakalan ke sana, Ma. Pengin lihat adiknya, Rey."
"Mama usia kandungan Mama berapa bulan sih?" Nagita duduk di sebelah kanan putranya.
"Baru empat bulan, Nak. Tapi udah gede banget ya?"
"Kembar ya, Ma?"
"Enggak tahu. Mama sama Papa belum pernah periksa ke dokter kalau itu. Cuman belum kelihatan sih kembar atau enggaknya. Karena waktu itu kan cuman lihat Mama hamil atau enggaknya,"
"Kalau kembar itu berarti Papa hebat, Rey. Tapi ini terakhir Mama hamil, Rey. Enggak bakalan Papa izinkan lagi, karena waktu itu kan dokter bilang maksimal 3 kali caesar. Bisa aja sih lebih dari itu, cuman risikonya nanti. Ya Papa enggak mau dong nyari kesenangan malah celakai, Mama. Apalagi buat Mama dalam bahaya. Intinya ya, Mama harus sehat sama adik kamu. Mau satu atau dua, Papa terima. Yang penting sehat, Papa sayang Mama. Jadi ya doakan aja gitu kebaikan untuk, Mama!" Jelas Azka. Reynand mengangguk.
"Kalau lebih dari tiga kali enggak bisa, Pa? Dan lagian ya, udah dong jangan produksi anak melulu. Yang ada aku terlantar nanti,"
"Yakali Papa bakalan telantarin anak yang udah berjuang dari awal sama, Papa dan Mama. Ngomong-ngomong nanti kalau kamu punya adik, sering-sering luangkan waktu buat dia ya! Jangan sampai nanti malah sibuk cari teman,"
"Untuk saat ini aku enggak terlalu mikirin teman, Pa. Nanti kalau udah SMA baru deh, aku bakalan bergaul sesuai ajaran Papa. Pacaran, jadi playboy gitu pokoknya."
"Hmmm kumat lagi anak Mama nyebut pacaran di saat seperti ini. Kalau mau pacaran ya Mama persilakan. Asal modal pacarannya cari sendiri, jangan minta sama kami, Nak."
"Aku mana punya uang, Ma,"
"Makanya kalau mau pacaran nanti aja. Jangan gaya-gayaan pacaran minta duit sama orang tua,"
"Dengerin Mam, Rey. Tahu enggak sih tuh Mama kamu enggak pernah pacaran dulu, cinta pertama sama Papa. Jadi kayak gitu, dia nerima Papa karena pria satu-satunya yang pertama kali dia cintai itu, Papa,"
"Terus Papa bangga?"
"Iyalah, Mama kan cantik. Meluluhkan hati perempuan sebaik Mama itu susah, Rey,"
"Tapi Papa dulu sering banget bikin Mama nangis,"
"Jangankan bikin nangis doang, Papa malah enggak pernah kepikiran buat nikah. Eh kamu malah hadir,"
"Papa nyesal?"
"Enggak dong. Kan Papa bahagia punya kamu. Buktinya sekarang kita kumpul juga berkat kamu dulu, Rey Papa kangen kamu yang manja dulu, tahu enggak,"
Nagita melihat anaknya menghindar saat Azka memeluk anaknya. Di ruang keluarga yang dipenuhi suara tawa Azka yang berhasil menjahili Reynand. Nagita juga sadar bahwa suaminya juga banyak berubah, tidak lagi menjadi pria yang senang bermain perempuan sana sini. Bukan menjadi pria yang suka keluyuran dengan keadaan mabuk ketika pulang bekerja seperti dulu lagi. Nagita tersenyum melihat tingkah suaminya yang begitu riang jika bersama dengan Reynand. Rasanya seolah sedang bermimpi kala itu, kebahagiaan yang pernah didambakan pernah sirna. Duka yang pernah dirasakan sudah berlalu. Kini waktunya untuk menata apa yang telah rusak. Menjadikan masa lalu sebagai pelajaran berharga.
"Papa, udah! Lebay tahu enggak,"
"Ya udah deh, Papa enggak main lagi."
Melihat suaminya yang langsung duduk di tempat semula, sedangkan putranya berada di seberang sana sambil bermain game di ponselnya. Nagita dan Azka masih sering mengawasi Reynand walaupun anak itu masih berada di sisi mereka berdua.
"Papa marah?" ucap Reynand yang tiba-tiba saja meletakkan ponselnya di atas meja.
Ayah dari satu anak itu hanya sibuk dengan menyeruput kopinya sambil sibuk menggoda Nagita, tak mempedulikan apa yang dikatakan oleh Reynand. "Papa ditanya kok, diam? Papa marah?"
"Siapa juga yang marah?"
"Ya, Papa. Memangnya siapa lagi?"
"Papa enggak marah, habiskan dulu minumnya. Kita mau ke rumah sakit, terus menginap di rumah, Oma. Ikut enggak?"
Reynand segera meraih gelas dan menghabiskan susu yang disedikan oleh Nagita tadi. "Ayo, Pa!"
"Ini anak, kalau udah dikasih tahu mau pergi nurut banget. Kalau Papa pengin main, malah ditinggal melulu. Terus menghindar,"
"Lagian, Papa. Udah umur segini masih anggap aku anak kecil yang enggak tahu apa-apa, terus diajak main yang aneh-aneh. Pa, kapan beli PS yuk, kita main kalau Papa enggak sibuk,"
"Boleh, ngomong-ngomong kenapa enggak pernah bawa teman-temannya main ke rumah?"
"Malas, Pa. Nanti kalau SMA, kalau sekarang masih pada sekadar teman doang. Kalau SMA kan kadang kita bisa berteman sampai tua, contohnya Mama sama tante Viona. Itu mereka temanan dari SMA kayaknya,"
"Siapa yang kasih tahu, Rey?"
"Om Dimas, Ma. Katanya dulu Mama itu sahabatan sama tante Viona, terus Om Dimas naksir, sekarang jadi istri. Berarti perantara Om Dimas itu, Mama. Terus perantara Mama sama Papa itu, aku. Hohoho memang luar biasa anaknya si Papa Azka yang satu ini, iya kan, Pa?"
"Enggak tahu," jawab suaminya santai.
"Ya udah, Ma. Ayo Ma, tinggalin Papa sendirian, biar kita pergi ke rumah Oma duluan,"
Baru saja Nagita berdiri, Azka sudah menariknya. "Enak aja mau bawa, Mama. Milik Papa tahu, enggak,"
"Lagian, Papa. Udah mau punya anak dua, masih aja sifatnya kayak Erlangga. Bocah banget," protes Reynand. Nagita justru menggandeng tangan putranya dan melepaskan cekalan suaminya.
"Tungguin, Papa!" Azka bergegas mengejar mereka berdua.
Selama perjalanan menuju rumah sakit dan Azka sudah memiliki janji bersama dengan dokter Desi, sahabatnya. Mereka sengaja mengambil pemeriksaan malam karena sekaligus pergi ke rumah kedua orang tua suaminya.
Nagita memang sengaja bekerja sama untuk membuat anaknya selalu nempel karena Azka sangat menginginkan waktu Reynand yang bermanja seperti dulu. Pulang bekerja tadi, Azka mengeluh karena Rey benar-benar tidak mau lagi bersikap seperti dulu. Walaupun anaknya sudah berusia belasan tahun, bagi suaminya, Rey adalah anak yang tetap berusia lima tahun. Karena itu juga yang sangat dirindukan oleh Azka ketika Reynand selalu meminta untuk digendong, sekarang anaknya justru sering membahas perihal Dimas dibandingkan dengan keluarganya sendiri. Pertama kali ketika berhasil mengajak anaknya pulang, Nagita sangat bahagia ketika dia dan suaminya memeluk Reynand yang menangis bahagia dengan keluarga yang utuh kembali seperti dulu.
"Rey, ada telepon nih!" Nagita berhenti ketika suaminya memanggil saat ponsel Reynand berbunyi, Reynand tidak pernah menyembunyikan apa pun dari mereka berdua. Saat Azka meminta ponselnya secara tiba-tiba, maka anak itu akan langsung memberikannya. Mulai dari chat, dan hal lainnya Nagita dan Azka masih percaya terhadap anaknya yang berusaha untuk bersikap jujur kepada mereka.
Beberapa menit yang lalu Reynand mengambil ponsel itu, dan dikembalikan langsung kepada Azka. "Siapa yang telepon, Pa?" tanya Nagita saat anaknya berpamitan ke kamar mandi.
"Perempuan, Ma. Duh anak Papa udah gede, laku keras,"
"Mulai lagi, Pa. Mau disuruh tidur di sofa?"
"Rey beneran chattingan sama perempuan?"
"Itu temannya, jangan salah paham gitu. Nanti Rey dengar, dia bukan anak-anak lagi. Aku bersikap aneh seperti sekarang itu karena aku enggak mau Reynand dewasa sebelum waktunya, anak itu sudah cukup mikirin masalah kita dahulu. Jadi kalau aku bersikap manja ke dia, karena aku ingin mengembalikan masa anak-anaknya sebentar saja, karena nanti kalau dia sudah memasuki usia SMA, dia mungkin bakalan lebih sibuk ngurusin masa depannya. Enggak lagi sama kita, sayang,"
Nagita hanya ber-oh ria tanpa berkata apa pun selanjutnya. Kini ia mengerti alasan dibalik tingkah konyol yang kadang diciptakan oleh suaminya jika berada bersama dengan putranya. Bukan karena senang menjahili, tetapi ada maksud tersendiri yang dilakukan oleh suaminya itu.
"Ibu Nagita! Ibu dipersilakan masuk oleh Bu Desi,"
"Sebentar ya, saya nungguin anak saya dulu," jawabnya saat diminta untuk masuk menemui dokter yang tidak lain adalah istri dari sahabat suaminya. Jika dahulu Reynand memiliki dokter pribadi; yaitu dokter Eva. Berbeda halnya dengan yang sekarang, semua itu karena permintaan Azka yang ingin melupakan masa lalu, bahkan rumah yang dahulu ditempatinya dijual karena tidak ingin ada masa lalu yang melekat meninggalkan penyesalan yang teramat mendalam bagi keduanya.
Kembalinya Reynand dari kamar mandi, mereka bertiga pun dipersilakan untuk masuk. Sebelumnya Nagita diminta untuk mengisi daftar administrasi oleh dokter Desi.
"Ayo Bu, kita langsung pemeriksaan. Suami Ibu sudah menjelaskan semuanya di telepon tadi siang, jadi sekarang biar enggak jadi masalah dan kekhawatiran lagi, kita langsung saja,"
Nagita melihat anaknya yang terus melihat ke arah monitor saat dokter Desi memulai untuk melakukan USG. "Dok, ini kembar kan? Ada dua tuh," Reynand menunjuk ke arah monitor dan Nagita tersenyum melihat putranya yang mendahului dokter Desi.
"Benaran kembar, dok?" tanya Azka.
"Iya, Pak. Bayinya kembar, sebenarnya ini sudah bisa kita lihat ketika usia kandungan memasuki minggu ke dua belas, karena Pak Azka takut sama kehamilan istrinya yang enggak wajar katanya, dan itu benar membuktikan bahwa kehamilannya memang enggak wajar, karena ukuran perut tidak sesuai dengan usia kandungannya. Sekarang kekhawatiran Bapak terbayar dengan kehadiran si kembar. Sebenarnya hal itu bisa di deteksi ketika usia kandungan tujuh minggu ke atas, itu sudah terdeteksi karena bisa dilihat dari kantung kehamilan,"
"Saya sama suami memang jarang periksa dok, saya merasa kok cepat banget gede. Itu yang buat saya khawatis sama suami, saya takutnya tuh kayak orang-orang yang hamil, sekarang hamil nanti kempes. Hamil pertama dan kedua juga saya jarang periksa, paling pertama-pertama waktu mau lihat jenis kelamin sama perkembangannya, baru periksa,"
"Anaknya yang kedua yang ini?" tanya dokter Desi saat melihat Reynand yang berdiri di dekat Azka.
"Ini yang pertama, Dok. Paling bandel, minta ikut terus dari beberapa minggu yang lalu, yang kedua meninggal Dok,"
"Duh yang ini kok ngegemesin banget, sih?"
"Sayang banget, Dok. SMP baru dibuatin adik, konyol enggak?" celetuk Reynand.
"Kan Mama isinya sekarang, Rey,"
"Coba aja Papa enggak bertingkah. Adik aku udah banyak, Pa,"
Nagita bangun dan mengikuti dokter Desi keluar. Dirinya merasa sangat bersalah kepada Reynand, tak bisa menuruti keinginan putranya dulu untuk memiliki anak lagi. Justru sekarang, dirinya dan Azka baru bisa memberikan adik untuk anaknya. Reynand sendiri juga tidak mempermasalahkan kehamilan Nagita di usia yang sekarang, akan tetapi justru sangat bahagia ketika mampu memberikan adik untuk putra pertamanya.
Setelah diberikan resep vitamin untuk Nagita, mereka pun akhirnya pulang dan menuju rumah orang tua Azka untuk mengiap di sana.
Setibanya di sana, mereka berdua tak mendengar celoteh Reynand lagi dan ketika melihat ke belakang, justru anak itu sudah tertidur pulas di kursi belakang. "Duh anak, Papa," ucap Azka pelan.
"Bangunin, ya?" tanya Nagita. Namun baru saja Nagita ingin membangunkan, dirinya dilarang oleh Azka.
"Biar Papa yang gendong,"
Azka tak memprotes ucapan suaminya dan justru membantu membawakan Reynand pakaian sekolahnya yang rencananya akan berangkat sekolah dari sana.
Azka berhasil menggendong Reynand dipunggungnya. "Ya ampun ini anak, berat banget. Bentar lagi pinggang Papa rontok nih gendong dia," Nagita menoleh ke arah anaknya yang menjulurkan lidahnya. Ia paham bahwa anaknya sedang mengerjai Papanya.
"Papa sendiri yang mau biar anaknya manja lagi, tadi juga enggak mau dibangunin kan?"
"Ya udah, Ma. Biarin aja,"
Baru saja mereka akan masuk ke dalam kamar Reynand, orang tuanya keluar dari kamar. "Loh kenapa enggak bilang kalau mau datang?"
"Rey yang mau, Ma. Dia dari siang ngajakin kemari, Papanya baru bisa sekarang karena kami juga tadi ke dokter sebentar," jelas Nagita.
"Lalu gimana?"
"Kembar, Ma."
Azka berpamitan dan menidurkan Reynand terlebih dahulu, baru saja tiba di kamar suara tawa anaknya dan teriakan suaminya membuatnya menggeleng. "Papa yang mau gendong kok, bukan aku yang salah kan, Ma?" Reynand berlari bersembunyi dibadan Nagita.
"Rey, jangan isengin Papa. Kasihan tahu," ucapnya sambil menarik Reynand pelan.
"Kan dia pengin aku manja, Ma. Ya udah, sekali-sekali Papa gendong kan, enak banget loh,"
"Anak sama Papa sama aja, ya sudah kalian istirahat sana! Oma mau ke kamar dulu," Nagita melihat mama mertuanya masuk terlebih dahulu, disusul oleh papa mertuanya yang tadi tak berbicara namun melihat kelakuan cucunya, Nagita yakin bahwa papanya akan merasa sangat senang kedatangan Reynand.
"Tidur bertiga ya, Pa?"
"Enggak, nanti perut Mama kamu tendang,"
"Papa ditengah deh,"
"Rey udah besar juga,"
"Kan pengin,"
"Anak sekarang, ada aja protes melulu sama orang tua,"
"Bercanda, Pa. Aku tidur dulu, maaf yang tadi ya, Pa?"
"Enggak masalah, yang penting pijitin dulu!" Azka menepuk punggungnya dan benar bahwa mereka menuju ke sofa dan Reynand menuruti perintah Azka.
"Papa, nanti tetap kayak gini kan sama aku? Enggak berubah kayak Om Teddy dulu?"
Nagita melihat ke arah putranya yang menunduk, pun begitu dengan Azka yang terkejut dengan tingkah anaknya, dia pun langsung berbalik, "Reynand, kasih sayang orang tua kandung itu enggak akan sama seperti orang lain. Papa mana mungkin sayang cuman sama adik kamu,"
"Benar ya?"
"Udah ah, jangan melow! Papa sayang sama kalian berdua, eh salah, berempat maksudnya," ralat Azka. Nagita menghampiri suaminya dan mencium pipi Azka. "Tetap belajar untuk menjadi utuh ya, Papa!"
"Iya sayang. Reynand juga jangan pernah berubah! Maaf atas kelakuan Papa dulu!"
'Terima kasih karena telah menghadirkan bahagia atas luka-luka yang pernah menyapa dahulu, Tuhan aku harap bahwa ini tidak akan pernah berakhir. Aku ingin ini menjadi selamanya' ucapnya dalam hati, dan merasakan kenyamanan ketika suaminya mengelus perutnya yang membuncit yang ada dua nyawa di dalam sana.
Jangan lupa kasih bintang dan like ya 😁
Sabar, dua part lagi kelar 😆