
Foto-foto itu kembali lagi dikirim oleh Alin ke nomor Marwa setelah nomor Rey tidak bisa dihubungi lagi. Dan beberapa hari dia menunggu untuk bisa menghubungi pria itu. Akan tetapi tetap saja tidak bisa tersambung.
Alin, sepanjang harinya jika tidak bersama dengan Rey. Maka, Dhyo yang akan setia menemaninya. Dia tahu bahwa pria itu sangat mencintainya dan hingga kini masih berusaha untuk mengejar dirinya. Tidak ada salahnya untuk memanfaatkan Dhyo diwaktu yang seperti ini.
“Dhyo, aku boleh minta tolong nggak sama kamu?”
Saat itu Dhyo menatap Alin dengan tatapan yang sama sekali tidak menampakkan raut wajah yang begitu memelas untuk meminta bantuan. Ingin sekali dia dibutuhkan pada saat perempuan itu benar-benar tidak tahu lagi haru mencari bantuan pada siapa. Dan kini, dia hanya sebagai teman ketika Alin sedang dalam kesepian.
“Kamu mau minta bantuan apa?”
“Bentar, aku ke toilet dulu. Aku titip barang-barang aku,” ucap ALin kemudian pergi begitu saja meninggalkan Dhyo sendirian di sana. Pria itu yang nampak curiga dengan gerak-gerik Alin. Kemudian mengambil ponsel itu dan melihat chat yang melihat di sana ada nama Marwa terpampang di chat atas.
Dengan segera Dhyo membuka pesan itu dan terkejut dengan apa yang dilihatnya. Semua foto-foto Rey dan juga video itu sudah dibaca oleh Marwa. Bagaimana Alin bisa senekat itu melakukan sebuah tindakan bodoh untuk menghancurkan hubungan rumah tangga orang lain.
Dari kejauhan dia melihat Alin kembali lagi dan meletakkan ponsel itu di tempat semula sambil menikmati suasana kafe. Perempuan itu pun langsung duduk di tempat yang bersebrangan dengan Dhyo.
“Nanti malam temani aku untuk buat Rey cemburu,”
“Maksud kamu?”
“Aku mau buat dia cemburu biar aku tahu sampai mana sih kesetiaan dia sama aku selama ini. Apa Rey cuman mau main-main sama aku,”
Dhyo menarik napasnya sejenak dan meraih minuman yang ada di atas meja kemudian langsung meminumnya. Pria itu berusaha untuk membuka mata Alin agar dia berhenti melakukan tindakan itu dan mulai melihat ke arah dirinya yang tulus mencintai Alin. Akan tetapi justru Alin lebih tertarik dengan suami orang lain. Dia melihat perempuan itu tersenyum sinis ketika membuka pesan yang baru saja masuk. Dia yakin, bahwa itu adalah pesan dari Marwa yang baru saja dia lihat bahwa perempuan itu sudah membaca pesan itu karena sudah centang biru.
“Mampus,” ucap Alin kemudian tertawa begitu bahagia. Tidak salah lagi apa yang ada di dalam pikiran Dhyo bahwa itu adalah Marwa yang baru saja membalas pesan dari Alin.
Tentu saja dia tidak ingin melihat orang yang dicintainya itu berubah menjadi perempuan jahat dengan cara menghancurkan rumah tangga orang lain. Dhyo tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi. Sampai kapan pun, dia akan berusaha meraih hati Alin dengan caranya sendiri.
Sambil mengehal napas dan terlihat menyerah, akan tetapi dalam hatinya tentu saja dia tidak pernah menyerah. “Alin, kapan kamu akan melakukan rencana itu?”
Perempuan itu memainkan jarinya di atas meja hingga terdengar seperti nada ketukan yang beruntun. “Nanti malam, kita ke kantor, Rey. Karena aku tahu kalau dia bakalan tetap di kantor sampai larut malam,”
“Rencana kamu?”
“Seperti yang kubilang tadi. Aku mau buat dia cemburu,”
Dhyo mengangguk pelan. Dia tidak ingin ambil pusing untuk hal ini. Menuruti apa pun yang akan dilakukan oleh Alin. Bahkan Dhyo sendiri tidak mau menghalangi itu terlebih dahulu dia harus mencari cara bagaimana membuat Alin berhenti melakukan hal itu dan membuat perempuan itu bertekuk lutut kepadanya.
Alin tidak pernah melakukan hal seburuk itu sepanjang hidupnya. Akan tetapi demi cintanya kepada Rey, mau tidak mau dia harus melakukan hal itu. Karena dia tidak akan pernah ikhlas jika Rey dimiliki oleh perempuan lain, selain dengan dirinya. Dia harus bisa membuat Rey bertekuk lutut kepadanya dan melepaskan istrinya demi hidup bersama dengan Alin. Itulah yang dipikirannya saat ini. Memikirkan cara bagaimana membuat Rey kembali lagi seperti biasanya.
***
Dhyo telah tiba di depan restoran milik Alin. Tempat di mana dia telah berjanji untuk menjemput perempuan itu. Selang beberapa menit, perempuan itu keluar dengan penampilan yang sedikit terbuka dan begitu seksi. Sebagai seorang pria, tentu hal itu sangatlah tidak baik. Bagaimanapun juga dia adalah pria yang sama sekali memiliki nafsu jika melihat Alin berpenampilan seperti itu.
Mereka berdua berangkat menuju kantor Rey dan tujuan Alin adalah untuk membuat Rey cemburu dan mau lagi kembali pada sisi Alin. Akan tetapi Dhyo yakin, bahwa selama ini Rey tidak bisa dihubungi itu semua karena dia telah sadar atas apa yang dilakukannya selama ini. Menyakiti hati istrinya adalah hal yang begitu jahat. Barangkali pria itu telah sadar, bahwa Marwa adalahperempuan terbaik yang harus dijaga hatinya. Alin saja yang tidak mau melepaskan Rey dan terus berusaha mengejar pria itu hingga ia harus mendapatkan pria itu.
Tiba di kantor Rey. Suasana gelap pun begitu nampak. “Yakin kamu kalau Rey masih di sini?” tanya Dhyo memastikan.
Alin yang kali ini tidak bisa menahan emosinya, dia pun membanting ponselnya ketika nomor Rey benar-benar tidak bisa dihubungi sama sekali. Dia pun turun dari mobil dan menyapa satpam yang sedang berjaga di sana.
“Ada yang bisa dibantu?” tanya satpam tersebut.
“Rey ada?”
Tampak begitu jelas satpam tersebut sedang berpikir kemudian, “Setahu saya Pak Rey tidak ada di sini. Dia sudah pulang tadi sore sekitar pukul lima gitu pokoknya. Dan sebelum gentian jaga, orang-orang di kantor udah sepi katanya,”
“Sejak kapan dia pulangnya cepat?”
“Nggak tahu Non. Tapi kan setahu saya istrinya lagi hamil besar. Jadi mungkin Pak Rey pulang cepat mau jaga istrinya,”
Alin menghentakkan kakinya ke tanah dan terlihat kesal. Dia pun kembali lagi ke dalam mobil Dhyo dan pria itu masih setia menunggu. “Gimana?”
“Udah pulang,”
“Berarti sekarang kita pulang aja,” ajak Dhyo.
“Tunggu, kita senang-senang dulu. Kita ke kelab,” ucap Alin dan membuat Dhyo melirik sejenak karena dia tidak pernah tahu bahwa selama ini Alin senang pergi ke tempat yang seperti itu. Tempat yang seharusnya tidak dikunjungi oleh perempuan. Justru Alin mengajaknya ke sana.
“Yang benar aja kamu mau ke sana, Lin?”
“Minum?”
“Pastinya,”
Dhyo tidak pernah menyangga bahwa ternyata Alin akan mengajaknya untuk minum-minum. Malam yang sunyi, mereka berdua tiba di kelab dan Alin langsung meletakkan tasnya di dalam mobil. “Traktir aku,” ucap Alin kemudian Dhyo hanya tersenyum.
“Tanpa kamu suruh juga aku bakalan traktir kok,” jawab Dhyo dengan mantap. Tanpa memikirkan bagaimana cara membuat Alin untuk tunduk pun, perempuan itu membuat perangkapnya sendiri dan masuk ke dalam perangkap sendiri juga. Dan itu yang membuat Dhyo kali ini tersenyum.
Alin mulai untuk memesan minuman dan di sana Dhyo menemani. “Oke kamu diam di sini. Aku mau ke sana,” tunjuk Alin ketika melihat banyak orang yang sedang berjoget di sana dan bersenang-senang.
Sementara Alin sibuk dengan kegiatannya di sana. Dia bicara dengan salah satu bartender di sana, “Ada obat perangsang? Gue bayar lo kalau lo mau cariin gue,” ucap Dhyo.
“Tanpa disuruh nyari. Gue udah sedia kalau soal itu. Banyak yang nyari soalnya,”
“Oke,” Dhyo mengeluarkan dompetnya dan memberikan sejumlah uang kepada bartender tersebut. “Campurin ke minuman seperti yang dia pesan barusan,”
Pria yang menjadi bartender itupun menyetujui dan Dhyo langsung menangkap Alin yang baru saja berjalan dikerumuman orang dan tersandung hingga perempuan itu terjatuh akan tetapi berhasil dia tangkap.
“Dhyo nggak minum?” tanya Alin kemudian menyambar minuman yang baru saja sudah dicampurkan dengan obat perangsang oleh bartender suruhan Dhyo.
“Nggak, nggak minum, masih sayang sama tubuh,” jawab Dhyo kemudian hanya menyaksikan Alin yang minum tanpa jeda. Gila pikirnya, perempuan yang selama ini terlihat begitu polos dan baik justru membuat Dhyo tercengang dengan tingkahnya yang berani minum seperti sekarang ini.
Alin terus menggerutu dan barangkali perempuan itus sudah benar-benar mabuk dan obat yang diberikan oleh Dhyo mulai bereaksi, dia langsung membayar minuman tersebut dan mengajak Alin keluar saat perempuan itu hendak melepaskan pakaiannya, dia menurunkan resleting dressnya akan tetapi ditahan oleh Dhyo dan langsung mengajak perempuan itu pulang.
Di mobil, tubuh Alin seperti sedang kepanasan, “Ini Ac hidup nggak sih?”
“Kamu lihat aja sendiri,” perintah Dhyo ketika mendengar Alin protes mengenai hal itu.
Perempuan itu mabuk berat dan membuat Dhyo membawa perempuan itu ke apartemennya. Tidak akan pernah lagi dia lepaskan Alin dan akan melakukan hal terlarang itu karena sudah tidak bisa lagi menghentikan cara Alin untuk merusak kebahagiaan orang lain.
Tiba di apartemen, Alin membuka pakaiannya dan membuat Dhyo menelan salivanya. “Alin, apa kamu sudah gila?”
Perempuan itu tidak menanggapi dan langsung melemparkan diri ke atas ranjang dan membuka pahanya begitu lebar sambil berusaha tidur untuk menghilangkan gerah itu. Dhyo yang sudah tidak tahan lagi dengan perlakuan Alin dan langsung menyerah perempuan itu.
****
Alin bangun dari tidurnya dengan merasa sedikit pusing dan merasakan ada sesuatu yang aneh pada bagian perutnya dibagian bawah. Dia pun berusaha bangkit dari tempat tidurnya baru saja dia terbangun, dia merasa dia menggunakan apa pun sama sekali. Dan seketika itu dia melihat ke arah belakang di sana ada Dhyo yang sedang terlelap di sampingnya.
Alin memejamkan matanya dan mengingat kejadian semalam. Dalam keadaan mabuk, dia hanya mengingat sedikit yaitu ketika pulang dan tidur di sana. Selanjutnya dia tidak ingat sama sekali tentang apa yang terjadi selanjutnya.
Dia terbangun dari tempat itu dan langsung berlari meraih handuk yang ada di sana. Sejenak dia langsung menjambak rambut Dhyo begitu saja.
“Kamu jahat, Yo,” ucapnya dan memukul pria itu tanpa henti.
“Wait, jahat? Siapa yang kamu bilang jahat?”
“Kamu,”
Dhyo menahan tangan Alin. “Ingat nggak semalam yang pertama itu adalah kamu. Kamu mabuk, jadi mana tahu dan mana kamu ingat semua apa yang kamu lakukan semalam,”
Alin menampar Dhyo begitu saja. “Kamu tahu kan kalau aku bakalan nikah sama Rey?”
“Iya, aku tahu. Aku tahu kamu jadi orang ketiga untuk hubungan rumah tangga orang,” jawabnya dengan nada tinggi dan langsung meraih boxernya yang ada disebelahnya dan memasangnya begitu saja.
“Kamu jahat, Dhyo,” ucapnya berkali-kali.
“Iya aku jahat. Tapi kamu yang jauh lebih jahat merebut suami dan ayah dari perempuan yang tengah hamil. Di mana akal sehat kamu, hah?” Dhyo tahu Marwa hamil setelah semua chat Alin di abaca dan itu membuatnya tidak bisa membiarkan Alin melakukan hal yang lebih dari itu.