
Sore tiba, sesuai
kesepakatan mereka berdua. Azka berhasil membujuk Nagita untuk pulang,
dan Dimas telah mengizinkan. Mereka berdua berpamitan, ia merasa begitu
senang karena akan menjalani kehidupan rumah tangganya berdua, tentang
apartemen. Azka telah melupakan itu, begitu banyak kenangan pahit di
sana. Mulai dari kasus yang membuat istrinya trauma hebat, menyakiti
istrinya. Bahkan di sana juga tempat ia membawa perempuan hingga
berakhir di ranjang.
Niatnya untuk membeli rumah baru adalah agar kehidupan yang dijalani baru, bersama dengan keluarga barunya kelak.
Azka sangat menginginkan
Nagita segera pulih dari traumanya. Ia tidak ingin istrinya terlalu
berlarut dengan kesedihan itu. Ia sendiri sangat merasa sedih setiap
kali berada di dekat istrinya, yang terkadang Nagita mengabaikannya.
Bahkan seringkali Nagita menghindarinya.
Sepanjang perjalanan
mereka terus berbincang. Nagita yang awalnya lebih banyak diam akhirnya
buka suara dan ikut membicarakan soal rumah tangga mereka. Azka sangat
menginginkan keluarga kecilnya kelak bahagia, berawal dari rasa nyaman
yang tumbuh di hatinya, ia sangat bersyukur mendapatkan istri seperti
Nagita.
Bahkan selama perjalanan
tangannya digenggam oleh istrinya secara langsung. Ia sesekali
melepaskan hanya untuk mengendalikan kemudi. Usaha Nagita untuk sembuh
pun tak main-main, mulai dari memberanikan diri menatap Azka, mencium
Azka bahkan meminta dipeluk saat tertidur. Walau dalam hatinya sangat
hancur dan ketakutan, akan tetapi kesungguhan Azka untuk membuat istri
tercintanya sembuh pun sangat besar keinginan itu.
Memasuki area perumahannya, Azka menepikan mobilnya dan berhenti.
"Kok berhenti? Emang kita sudah sampai?"
"Kamu tutup mata dulu!"
"Emang harus?"
"Harus, karena kalau
mata kamu nggak ditutup, nanti bukan jadi kejutan," Azka mengeluarkan
selembar kain berwarna merah untuk menutupi mata Nagita. Kemudian
istrinya hanya menurut apa keinginannya.
"Jangan dibuka! Nanti kalau sudah sampai, baru dibuka!"
Nagita mengangguk. Azka
kembali lagi melajukan mobilnya memasuki halaman rumah yang dibelinya
beberapa waktu yang lalu. Barang-barang semuanya pun baru, semua yang
berkaitan dengan masa lalunya sudah dibuang. Ia tak ingin lagi mengingat
kejadian dulu yang membuat dirinya menjadi kacau dan brengsek.
Tiba di sana, ia membuka pintu untuk Nagita dan menuntunya berjalan hingga tiba di depan rumah.
Mereka berdua berdiri di
depan rumah. Sambil tersenyum memandangi wajah istrinya yang terus
meraba. "Nagita, diam dong. Jangan banyak gerak! Saya buka penutupnya!"
Nagita mengangguk.
Dibukanya penutup mata itu, dan Nagita mengerutkan dahinya sambil
menunduk karena tadi pandangannya semuanya terlihat gelap. Ia
mengerjapkan matanya beberapa kali dan mengangkat kepalanya.
'Happy birthday Nagita'
sebuah tulisan besar terbuka gulungannya dari atas dan menampakkan itu
semua. Sontak Nagita menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Happy birthday sayang,"
"Mas?" Nagita menangis
terharu mendapatkan kejutan dari suaminya sendiri. Hal yang tak pernah
dibayangkan sebelumnya. "Ini rumah siapa?"
"Rumah yang akan kita tempat berdua," Azka merangkul bahu Nagita.
"Sejak kapan kamu siapkan ini, Mas?"
"Sudah beberapa hari yang lalu,"
"Sendirian?"
"Sama Dimas,"
"Kok aku nggak dikasih tahu,"
"Kalau dikasih tahu bukan kejutan namanya," Azka menjitak kepala Nagita.
"Sakit tahu,"
"Kamu suka?"
"Suka, Mas," jawabnya sambil tersenyum.
"Suka rumahnya atau sama, Mas?"
"Hmmm, dua-duanya,"
"Dasar. Ayo kita masuk,
ohya ada hadiah lagi buat kamu." Azka menggandeng tangan Nagita ke
garasi samping rumahnya sambil menutup mata istrinya dengan tangan
kanannya. "Jangan buka mata, awas! Tunggu sebentar!" Azka memutar tubuh
Nagita membelakangi garasi dan berlari untuk membuka penutup mobilnya
satu persatu. Setelah selesai, ia kembali lagi pada istrinya.
"Siap, sayang?"
Nagita mengangguk. Azka memutar tubuh Nagita pelan. "Buka mata sayang!"
Nagita menatap ke arah
mata Azka, "Hadiah kamu sayang, kecuali yang diujung sana mobil spot
berwarna kuning itu mobil pribadi yang akan saya gunakan untuk bekerja.
Yang tiga itu milik kamu, satu untuk kamu pakai belanja, satu untuk kamu
dan calon baby kita, satu lagi untuk pribadi yaitu untuk jalan-jalan.
Sebelum melahirkan kamu nggak boleh nyetir sendiri, saya juga tidak akan
mau mengajari kamu menyetir kalau belum melahirkan,"
"Aku bisa nyetir, Mas."
"Belajar sama, Dimas?"
"Nggak, kan dulu sebelum
kerja di sana, aku narik angkot sama Kak Dimas." Jawaban itu sontak
membuat Azka tak percaya dengan perjalanan hidup istrinya yang dulu.
"Tapi sekarang nggak
boleh nyetir lagi, selama belum melahirkan kita akan hidup berdua.
Mengerjakan semua pekerjaan rumah berdua, nggak ada asisten, saya mau
ngerasain gimana rasanya jadi seorang suami yang bertanggung jawab, kamu
hanya perlu memasak, nggak lebih dari itu,"
"Rumah sebesar ini mana bisa dikerjakan berdua, Mas?"
"Kamu hanya masak sayang, saya akan bersih-bersih,"
"Oke, deal. Mas, kamu beli semua ini apa nggak sayang sama duitnya?"
"Saya hanya ingin membahagiakan istri saya, jangan protes apa pun Nagita,"
"Ngomong-ngomong berapa yang Mas habiskan untuk siapkan hadiah buat aku?"
"25, sayang,"
"Juta?"
"Milyar," jawabnya singkat.
"Ya ampun, Mas. Kamu hambur-hamburkan duit untuk sesuatu yang nggak penting ini?"
"Itu penting buat aku,
ke mana pun kamu akan pergi nanti kamu harus pakai sopir. Kamu hanya
boleh nyetir sendiri kalau pergi ke kantor saya,"
"25 itu termasuk rumah juga kan?"
"Nggak, mobil doang. Rumah beda lagi,"
Nagita menarik panjang sambil mengelus dadanya. "Bisa terkena serangan jantung aku lama-lama sama kamu, Mas."
Azka menyeringai, ia
tahu bahwa akan dimarahi oleh Nagita. Sebab nanti untuk soal keungan
adalah tanggung jawab Nagita sebagai ibu rumah tangga dan istri yang
akan melayaninya dengan baik. "Kita masuk ya!"
Nagita tak menanggapi. Azka mencubit pipi istrinya yang berisi, "Jangan ngambek, kali ini aja. Untuk hadiah ulang tahu kamu,"
"Mas jangan boros lagi, tahu kan dulu aku susah banget nyari duit. Kamu malah enak-enakan buat beli ini itu,"
"Iya saya janji akan lebih irit lagi. Kamu yang akan kelola keungan nanti, jangan khawatir ya!"
Azka mengajak Nagita
untuk masuk ke dalam rumah. Rumah yang sangat besar bahkan bisa dihuni
oleh seluruh keluarga mereka berdua. Namun bukan Azka namanya jika masih
mau melihat istrinya menderita. Ia melakukan semua ini karena mengingat
betapa dahulu Nagita tak pernah mengeluh tentang pekerjaannya selama
masih menjadi karyawannya. Ia tak pernah menyangka akan menjadi suami
perempuan yang dahulu seringkali dimarahinya itu.
****
Pukul sepuluh malam,
Azka masih sibuk bergelut dengan pekerjaannya di ruang kerja khususnya.
Nagita hanya membuatkan teh hangat untuk sang suami, tak ada pesta dan
juga tak ada kue. Sebab ulang tahun yang sudah lewat beberapa bulan yang
lalu, tetapi Azka memberikan itu semua sebagai tanda sayangnya terhadap
istrinya yang tengah bersabar saat mengabdi menjadi istrinya.
Terlalu lama baginya
jika memberikan semua itu di saat usia Nagita menginjak dua puluh tahun,
usia mereka berdua tertaut sangat jauh. Namun ia tak pernah
mempermasalahkan hal itu, tujuannya adalah menyembuhkan mental istrinya
dan membangun rumah tangga yang sebaik-baiknya bersama keluarga kecilnya
kelak.
"Masih lama?"
Azka menoleh ke belakang
saat mendengar pertanyaan itu dari Nagita. Perempuan itu berdiri tepat
dibelakangnya sambil melilit daster panjangnya.
"Kenapa sayang?" Azka langsung berdiri dan menghampiri istrinya.
"Kangen, Mas." Ia tak menyangka bahwa Nagita akan memeluknya saat itu juga.
"Saya kan sudah di sini, masa kangen?"
"Nggak tahu. Kangen aja," pelukan itu terasa semakin erat. Azka membalasnya dan mengusap punggung istrinya.
"Gita!"
"Kenapa, Mas? Nggak suka
dipeluk?" tangan itu mengendur dan melepaskan pelukan. Tetapi Azka
menahannya dan terus memeluk Nagita. setidaknya ada perubahan, semenjak
perjalanan menuju rumah baru tadi Nagita sudah berani menggenggam
tangannya.
"Ada yang mau saya tunjukkan,"
"Apa?"
Azka melepas pelukannya,
dan menggenggam tangan Nagita kemudian menuntunnya ke suatu ruangan
yang menghubungkan ruang kerja Azka dan tempat lainnya. Azka mendorong
lemari buku yang dijadikan sebagai pintu penghubung antara ruang
kerjanya dan ruang rahasia tersebut.
Kamar tersebut begitu
luas, semua berwarna putih. Tak ada warna lain yang mencolok lagi selain
warna sofa yang memang berbeda dari barang lainnya.
"Mas, kamar kamu?"
"Kamar kita nantinya,"
Azka mengeluarkan sebuah remote kecil dari saku celananya. "Sayang lihat atas!"
Nagita menuruti, Azka
mematikan lampu kamar dan menekan tombol remote yang dibawanya. Seketika
atap kamar terbuka perlahan menampakkan langit gelap dengan
bintang-bintang yang terlihat sangat indah. Setelah penutup atap itu
terbuka sempurna, cahaya bulan purnama memasuki ruangan kamar tersebut.
"Bagus banget Mas,"
Sementara Nagita menatap
ke arah langit, Azka mengeluarkan cincin dari saku celananya dan
memegang kedua tangan istrinya. "Nagita!"
"Iya, Mas. Kenapa?"
"Saya ingin memulai segalanya dari awal,"
"Maksudnya?"
"Saya tahu kamu belum
mencintai saya, kamu masih takut sama saya. Bahkan kadang kamu
seringkali memaksakan diri supaya saya tidak kecewa, ini mungkin terlalu
cepat. Tapi jujur saya sudah mulai mencintai kamu, semenjak kejadian
itu saya tidak ingin lagi membuat kamu kecewa, perasaan saya tumbuh
setiap harinya selama kita bersama."
"Mas kamu—" Nagita memberanikan diri menatap mata Azka ditengah-tengah cahaya seadanya.
"Saya ingin melamar kamu
kembali. Sekarang dengan cinta, bukan terpaksa lagi. Saya ingin kamu
menjadi istri saya, ibu dari anak-anak saya kelak. Saya tahu usia saya
terlalu konyol kan saya melamar kamu di tempat seperti ini? Tapi saya
tahu kamu seringkali menatap bintang dari atap gedung kantor. Orang
bilang bahwa orang yang sudah tiada akan menjadi bintang bukan? Maka
dari itu, biar orang tua kamu juga menyaksikan. Maukah kamu menjadi
istri saya dalam suasana apa pun dan dalam keadaan apa pun?"
"Bukan soal usia, Mas. Tanpa kamu minta pun saya sudah bersedia dari awal,"
"Jadi?"
"Nagita sayang sama Mas Azka dari dulu."
Azka memasangkan cincin ke jari manis Nagita. Seketika perempuan itu mengalungkan kedua tangannya di leher Azka.
"Terima kasih sudah mau bertahan sejauh ini. Sayang lihat, Daddy berhasil lamar Mommy," ucapnya sambil mengelus perut Nagita.
Ia tersenyum penuh
kebahagiaan seketika itu pula Nagita menciumi bibirnya. Yang awalnya ia
tak ingin membalas karena takut terjadi apa-apa kepada Nagita. Namun
karena ciuman itu sudah mulai bergerilya di bibirnya, ia membuka
mulutnya dan mengambil alih. Azka memegang pinggul Nagita dan terus
menciumi semakin dalam. Tak ada perlawanan. Suara decak lidah mereka
bertautan, meski tak memiliki pengalaman, Azka tak keberatan dengan hal
itu. Justru ia bangga bahwa ia adalah orang pertama yang mendapatkan
semua itu dari istrinya.
Azka menutup kembali
atap tersebut dan otomatis lampu menyala kembali. Namun tak bibir mereka
masih bertautan satu sama lain. Hingga suara desahan napas Nagita
berubah. Beberapa kali ia melepaskan ciumannya membiarkan Nagita mencari
udara dan terus melanjutkannya.
"Kamu nggak takut?"
"Nggak lagi, Mas."
"Sekarang kita tidur ya,"
"Nggak, Mas. Aku nggak mau kamu tersiksa lagi,"
"Tersiksa gimana?"
"Aku tahu kamu sering
melakukannya sendirian di kamar mandi saat aku hanya pakai handuk dan
lewat di depan kamu. Bahkan saat kamu nggak sengaja lihat aku telanjang
di kamar ganti baju kamu langsung masuk ke kamar mandi. Aku sering kali
denger suara kamu, nyebut nama aku, Mas. Aku sakit nggak bisa lakuin
itu sama kamu, kamu harus memuaskan diri kamu sendiri, sedangkan kamu
punya istri tapi nggak bisa menuhin keinginan suami,"
"Saya nggak apa-apa, Nagita. Kamu jangan sedih!"
"Mulai malam ini, aku akan jadi milik kamu, Mas."
"Maksudnya?"
"Selama ini aku sering hindari kamu kan kalau di rumah. Itu karena aku nggak mau terus nyiksa kamu, Mas. Aku tahu itu sakit,"
"Iya itu memang sakit, tapi saya nggak bisa nuntut kamu kan? Jadi saya baik-baik saja,"
"Jadikan aku milik kamu, Mas. Kamu boleh lakuinnya sekarang,"
Bagai disambar petir.
Tubuh Azka membatu dan terkejut mendengar ucapan itu. Selama ini yang ia
ketahui adalah Nagita menghindarinya karena membenci dirinya. Namun
setelah ungkapan jujur itu ia menyadari bahwa selama ini istrinya
menjaga dirinya agar tak melakukan hal itu lagi. Tetapi ia tak melakukan
dengan yang lain lagi, memuaskan diri di kamar mandi dengan tangannya
meski tanpa perempuan lain seperti biasanya. Biarlah dirinya yang
tersiksa menahan diri dibandingkan memaksa kehendaknya.
"Kamu yakin kita akan lakukan itu?"
"Yakin, Mas. Kamu nggak boleh lagi nyiksa diri kamu, aku akan bilang apa saja yang aku nggak suka nantinya,"
"Bilang berhenti kalau kamu nggak nyaman, ya!"
"Iya, Mas."
Azka menuntun Nagita ke
ranjang. Ia mendudukkan istrinya dan menciumnya lembut. Jemari mereka
bertautan. Deru napas Nagita terus memburu saat Azka menyentuh dada
Nagita. ia pun melepas ciumannya.
"Nagita, saya takut kamu kenapa-kenapa,"
"Percaya sama aku, Mas. Semuanya akan baik-baik saja,"
Dengan penuh keyakinan,
Azka membaringkan tubuh Nagita dan menindihnya menciumnya berkali-kali
dan terus menurun ke leher dan meremas dada istrinya. Sentuhan demi
sentuhan lembut Azka lakukan demi kenyamanan istrinya.
"Saya buka baju kamu boleh?"
Nagita mengangguk pelan,
Azka tersenyum dan menarik daster Nagita pelan dan membukanya. Nampak
hanya celana dalam dan bra yang menempel di tubuh Nagita. perut yang
sudah membuncit membuat Azka tersenyum dan menciumnya. "Baik-baik di
sana, baby."
Tanpa ragu Azka membuka
bra milik Nagita dan menciumi gundukan dada Nagita yang cukup berisi. Ia
tak mendapati protes istrinya justru saat ia mulai memainkan **
Nagita perempuan itu memejamkan matanya.
Azka membuka bajunya dan menurunkan celananya. Yang tersisa hanyalah boxer hitam yang menempel di tubuhnya.
"Buka mata kamu Nagita!"
Azka menciumi bibir istrinya sambil meremas dada istrinya bergiliran.
"Aah, Mas."
Suara itu lolos dari
mulut Nagita. Ia menghentikan aksinya dan menurunkan celana dalam
Nagita. walau sempat di tahan oleh Nagita, tetapi Azka berusaha
meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Miliknya sudah sangat menengang, setelah melakukan pemanasan yang cukup lama. Azka menindih dan mencium bibir Nagita.
"Jangan minta berhenti karena kamu yang minta," bisiknya pada Nagita. perempuan itu mengangguk.
"Saya masukkan sekarang, tahan! Peluk saya jangan pedulikan yang terjadi, lihat saya dan peluk sekuat mungkin!"
Azka mencium bibir
istrinya dan memasukkan miliknya dengan bantuan tangan kanannya. Setelah
benar-benar menyatu ia membiarkannya di dalam. Suara lenguhan Nagita
terlepas begitu saja. Nagita berpegangan pada kedua lengan Azka yang
tegap disamping istrinya. Perlahan ia mulai bergerak, Nagita menutup
matanya dan terus bersuara. Azka harus berhati-hati kali ini mengingat
kandungan istrinya yang sudah membesar dan memang sedikit kesulitan
untuk bergerak karena khawatir dengan kandungan Nagita.
Ia mengangkat Nagita dan ingin berganti posisi, ia meminta Nagita membelakanginya. "Nggak mau, Mas."
"Kenapa?"
"Kamu lakuin itu dulu,"
Ia tak ingin mengambil
risiko akhrinya menuruti apa yang dikatakan oleh Nagita dan tetap berada
pada posisi awal. Hal yang selama ini diinginkannya terjadi malam itu
juga. Ada rasa bahagia pun bercampur dengan sedih. Ia tak kecewa saat
istrinya tak menuruti keinginannya, tetapi ia salut dengan Nagita yang
melawan rasa takutnya hanya untuk melakukan kewajibannya sebagai seorang
istri.
Hingga pencapaian tiba,
ia terus bergerak dan membenamkan miliknya di dalam. Membiarkan cairan
itu tumpah di dalam rahim Nagita. perempuan itu lemas di bawahnya, ia
bernapas tersengga-senggal. Nagita segera menarik selimut untuk menutupi
tubuhnya, Azka yang masih dalam keadaan polos ikut menutupi dirinya.
Saat mata mereka bertemu, Nagita langsung menutupi kepalanya dengan selimut.
"Kenapa di tutup, Gita?"
"Malu,"
"Kenapa malu? Saya sudah
lihat semuanya," Azka membuka penutup kepala Nagita dan mengelus pipi
istrinya dengan lembut. "Nggak nyesel kan?"
"Nggak,"
"Lihat saya dong!"
"Malu," Nagita kembali menutup kepalanya.
"Ya sudah, sini peluk."
Azka menarik tubuh istrinya yang ditutupi selimut dan mameluknya sangat
erat. Ia merasa bahagia sebab mendapatkan keinginannya yang selama ini
ditunggunya. Meski harus bersabar dan beberapa kali berakhir di kamar
mandi, ia tak bisa berbuat apa-apa.
"Pernah nyesel nikah sama saya?" pertanyaan Azka membuat Nagita membuka penutup kepalanya.
"Pernah,"
"Kenapa gitu?"
"Karena kamu keterlaluan waktu itu, Mas."
"Kapan?"
"Waktu kejadian itu yang kedua kalinya,"
"Yang lain nggak ada?"
"Ada, waktu kamu sering bawa perempuan ke apartemen dulu,"
"Terus?"
"Kamu malah bermain sama perempuan itu di kamar tempat kita tidur bareng, di kamar tempat kamu hasilin buah hati kita,"
"Saya selalu pakai pengaman, jadi kamu jangan khawatir saya menularkan penyakit,"
"Tapi kenapa kamu nggak pakai waktu sama saya?"
"Waktu itu kan mabuk, jadi kalaupun pakai saya nggak bisa dong ketemu istri kayak kamu,"
"Ya juga ya. Kamu nggak pernah nyesel nikah sama saya, Mas?"
"Justru bersyukur,
karena kamu perempuan tabah. Kamu buat saya sadar bahwa mencintai itu
adalah tentang memberi, yaitu saya memberi perhatian lebih sama kamu.
kamu memberikan kesabaran untuk saya,"
"Saya kekanakan kan?"
"Kadang. Kalau kamu
kumat, tapi semuanya terasa kebalik. Tuhan itu adil ya, ngasih perasan
untuk umatnya, semisal dulu saya yang nyakitin kamu, dan nggak peduli
sama kamu, justru kebalik saya nggak bisa hidup tanpa kamu sekarang."
"Gombal,"
"Kenyataan,"
"Umur kamu berapa, Mas?"
"Yang jelas lebih tua dari, Dimas,"
"Kamu harusnya sudah jadi ayah dari dulu, Mas."
"Tapi ketemu sel telurnya baru beberapa bulan yang lalu,"
Azka tak berhenti menggoda istrinya. Selama selesai bercinta, ia tak merasakan kekacauan lagi dalam diri Nagita.
"Gara-gara saya kamu harus menikah muda, Nagita. Sebelumnya kamu punya cita-cita apa?"
"Pengin jadi dokter, pengin banget buka praktek di rumah terus gratisin orang-orang yang nggak mampu,"
"Habis melahirkan, Gita mau Mas kuliahin?"
"Nggak, Mas,"
"Kenapa?"
"Aku ngabdi jadi istri
kamu, Mas. Urus anak kita, urus kamu berangkat dan pulang bekerja. Bukan
hanya itu, aku juga mau selalu ada buat kamu, buat anak kita. Kalau aku
kuliah lagi, nanti kamu terabaikan, kamu cari perempuan lain, aku nggak
mau itu terjadi. Nggak apa-apa aku urungkan cita-cita demi jadi istri
yang baik untuk suami," Nagita mengeratkan selimutnya.
"Yakin?"
"Yakin banget, Mas. Kalau memang Mas mau saya bekerja, saya akan kerja. Meski itu bukan dokter,"
"Kamu nggak usah kerja, biar saya yang kerjain kamu setiap hari kayak gini di kamar, mau?"
"Nggaaaaak." Nagita mendorong kepala Azka dengan telunjuknya.
"Saya suami kamu, lho,"
"Kamu kira nggak sakit, Mas?"
"Tapi kamu keluar banyak lho tadi,"
"Mas, sekali lagi ngomongin itu aku teriak nih,"
"Teriak aja, rumah ini
kan cuman kita berdua penghuninya, nggak bakalan ada yang denger kamu,
saya mau gigit juga nggak bakalan ada yang tahu,"
"Kamu jahat sama aku, Mas. Sampai mau gigit segala,"
"Bercanda sayang. Gigit bibir kamu sih kalau bisa,"
"Aku keluar lho, Mas. Kesal aku lama-lama sama kamu,"
"Tidur, Nagita. Jangan marah melulu, nanti cepat tua. Nanti saya bangunin kalau saya pengin gitu lagi,"
"Nggak, aku mau tidur."
Azka menarik tubuh
Nagita membenamkan kepala gadis itu di dada bidangnya. Ia sangat bahagia
dengan keadaan sekarang ini. Nagita yang tak takut lagi dengan dirinya
dan bahkan berani melakukan hal yang paling ditakutinya.
Ia mengecup kening
Nagita. "Terima kasih, Tuhan. Telah menghadirkan sosok pendamping hidup
yang begitu penuh sabar dalam menghadapi hamba-Mu yang hina ini."