RICH MAN

RICH MAN
KEJUTAN



 


 


 


 


Sore tiba, sesuai


kesepakatan mereka berdua. Azka berhasil membujuk Nagita untuk pulang,


dan Dimas telah mengizinkan. Mereka berdua berpamitan, ia merasa begitu


senang karena akan menjalani kehidupan rumah tangganya berdua, tentang


apartemen. Azka telah melupakan itu, begitu banyak kenangan pahit di


sana. Mulai dari kasus yang membuat istrinya trauma hebat, menyakiti


istrinya. Bahkan di sana juga tempat ia membawa perempuan hingga


berakhir di ranjang.


Niatnya untuk membeli rumah baru adalah agar kehidupan yang dijalani baru, bersama dengan keluarga barunya kelak.


Azka sangat menginginkan


Nagita segera pulih dari traumanya. Ia tidak ingin istrinya terlalu


berlarut dengan kesedihan itu. Ia sendiri sangat merasa sedih setiap


kali berada di dekat istrinya, yang terkadang Nagita mengabaikannya.


Bahkan seringkali Nagita menghindarinya.


Sepanjang perjalanan


mereka terus berbincang. Nagita yang awalnya lebih banyak diam akhirnya


buka suara dan ikut membicarakan soal rumah tangga mereka. Azka sangat


menginginkan keluarga kecilnya kelak bahagia, berawal dari rasa nyaman


yang tumbuh di hatinya, ia sangat bersyukur mendapatkan istri seperti


Nagita.


Bahkan selama perjalanan


tangannya digenggam oleh istrinya secara langsung. Ia sesekali


melepaskan hanya untuk mengendalikan kemudi. Usaha Nagita untuk sembuh


pun tak main-main, mulai dari memberanikan diri menatap Azka, mencium


Azka bahkan meminta dipeluk saat tertidur. Walau dalam hatinya sangat


hancur dan ketakutan, akan tetapi kesungguhan Azka untuk membuat istri


tercintanya sembuh pun sangat besar keinginan itu.


Memasuki area perumahannya, Azka menepikan mobilnya dan berhenti.


"Kok berhenti? Emang kita sudah sampai?"


"Kamu tutup mata dulu!"


"Emang harus?"


"Harus, karena kalau


mata kamu nggak ditutup, nanti bukan jadi kejutan," Azka mengeluarkan


selembar kain berwarna merah untuk menutupi mata Nagita. Kemudian


istrinya hanya menurut apa keinginannya.


"Jangan dibuka! Nanti kalau sudah sampai, baru dibuka!"


Nagita mengangguk. Azka


kembali lagi melajukan mobilnya memasuki halaman rumah yang dibelinya


beberapa waktu yang lalu. Barang-barang semuanya pun baru, semua yang


berkaitan dengan masa lalunya sudah dibuang. Ia tak ingin lagi mengingat


kejadian dulu yang membuat dirinya menjadi kacau dan brengsek.


Tiba di sana, ia membuka pintu untuk Nagita dan menuntunya berjalan hingga tiba di depan rumah.


Mereka berdua berdiri di


depan rumah. Sambil tersenyum memandangi wajah istrinya yang terus


meraba. "Nagita, diam dong. Jangan banyak gerak! Saya buka penutupnya!"


Nagita mengangguk.


Dibukanya penutup mata itu, dan Nagita mengerutkan dahinya sambil


menunduk karena tadi pandangannya semuanya terlihat gelap. Ia


mengerjapkan matanya beberapa kali dan mengangkat kepalanya.


'Happy birthday Nagita'


sebuah tulisan besar terbuka gulungannya dari atas dan menampakkan itu


semua. Sontak Nagita menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


"Happy birthday sayang,"


"Mas?" Nagita menangis


terharu mendapatkan kejutan dari suaminya sendiri. Hal yang tak pernah


dibayangkan sebelumnya. "Ini rumah siapa?"


"Rumah yang akan kita tempat berdua," Azka merangkul bahu Nagita.


"Sejak kapan kamu siapkan ini, Mas?"


"Sudah beberapa hari yang lalu,"


"Sendirian?"


"Sama Dimas,"


"Kok aku nggak dikasih tahu,"


"Kalau dikasih tahu bukan kejutan namanya," Azka menjitak kepala Nagita.


"Sakit tahu,"


"Kamu suka?"


"Suka, Mas," jawabnya sambil tersenyum.


"Suka rumahnya atau sama, Mas?"


"Hmmm, dua-duanya,"


"Dasar. Ayo kita masuk,


ohya ada hadiah lagi buat kamu." Azka menggandeng tangan Nagita ke


garasi samping rumahnya sambil menutup mata istrinya dengan tangan


kanannya. "Jangan buka mata, awas! Tunggu sebentar!" Azka memutar tubuh


Nagita membelakangi garasi dan berlari untuk membuka penutup mobilnya


satu persatu. Setelah selesai, ia kembali lagi pada istrinya.


"Siap, sayang?"


Nagita mengangguk. Azka memutar tubuh Nagita pelan. "Buka mata sayang!"


Nagita menatap ke arah


mata Azka, "Hadiah kamu sayang, kecuali yang diujung sana mobil spot


berwarna kuning itu mobil pribadi yang akan saya gunakan untuk bekerja.


Yang tiga itu milik kamu, satu untuk kamu pakai belanja, satu untuk kamu


dan calon baby kita, satu lagi untuk pribadi yaitu untuk jalan-jalan.


Sebelum melahirkan kamu nggak boleh nyetir sendiri, saya juga tidak akan


mau mengajari kamu menyetir kalau belum melahirkan,"


"Aku bisa nyetir, Mas."


"Belajar sama, Dimas?"


"Nggak, kan dulu sebelum


kerja di sana, aku narik angkot sama Kak Dimas." Jawaban itu sontak


membuat Azka tak percaya dengan perjalanan hidup istrinya yang dulu.


"Tapi sekarang nggak


boleh nyetir lagi, selama belum melahirkan kita akan hidup berdua.


Mengerjakan semua pekerjaan rumah berdua, nggak ada asisten, saya mau


ngerasain gimana rasanya jadi seorang suami yang bertanggung jawab, kamu


hanya perlu memasak, nggak lebih dari itu,"


"Rumah sebesar ini mana bisa dikerjakan berdua, Mas?"


"Kamu hanya masak sayang, saya akan bersih-bersih,"


"Oke, deal. Mas, kamu beli semua ini apa nggak sayang sama duitnya?"


"Saya hanya ingin membahagiakan istri saya, jangan protes apa pun Nagita,"


"Ngomong-ngomong berapa yang Mas habiskan untuk siapkan hadiah buat aku?"


"25, sayang,"


"Juta?"


"Milyar," jawabnya singkat.


"Ya ampun, Mas. Kamu hambur-hamburkan duit untuk sesuatu yang nggak penting ini?"


"Itu penting buat aku,


ke mana pun kamu akan pergi nanti kamu harus pakai sopir. Kamu hanya


boleh nyetir sendiri kalau pergi ke kantor saya,"


"25 itu termasuk rumah juga kan?"


"Nggak, mobil doang. Rumah beda lagi,"


Nagita menarik panjang sambil mengelus dadanya. "Bisa terkena serangan jantung aku lama-lama sama kamu, Mas."


Azka menyeringai, ia


tahu bahwa akan dimarahi oleh Nagita. Sebab nanti untuk soal keungan


adalah tanggung jawab Nagita sebagai ibu rumah tangga dan istri yang


akan melayaninya dengan baik. "Kita masuk ya!"


Nagita tak menanggapi. Azka mencubit pipi istrinya yang berisi, "Jangan ngambek, kali ini aja. Untuk hadiah ulang tahu kamu,"


"Mas jangan boros lagi, tahu kan dulu aku susah banget nyari duit. Kamu malah enak-enakan buat beli ini itu,"


"Iya saya janji akan lebih irit lagi. Kamu yang akan kelola keungan nanti, jangan khawatir ya!"


Azka mengajak Nagita


untuk masuk ke dalam rumah. Rumah yang sangat besar bahkan bisa dihuni


oleh seluruh keluarga mereka berdua. Namun bukan Azka namanya jika masih


mau melihat istrinya menderita. Ia melakukan semua ini karena mengingat


betapa dahulu Nagita tak pernah mengeluh tentang pekerjaannya selama


masih menjadi karyawannya. Ia tak pernah menyangka akan menjadi suami


perempuan yang dahulu seringkali dimarahinya itu.


****


Pukul sepuluh malam,


Azka masih sibuk bergelut dengan pekerjaannya di ruang kerja khususnya.


Nagita hanya membuatkan teh hangat untuk sang suami, tak ada pesta dan


juga tak ada kue. Sebab ulang tahun yang sudah lewat beberapa bulan yang


lalu, tetapi Azka memberikan itu semua sebagai tanda sayangnya terhadap


istrinya yang tengah bersabar saat mengabdi menjadi istrinya.


Terlalu lama baginya


jika memberikan semua itu di saat usia Nagita menginjak dua puluh tahun,


usia mereka berdua tertaut sangat jauh. Namun ia tak pernah


mempermasalahkan hal itu, tujuannya adalah menyembuhkan mental istrinya


dan membangun rumah tangga yang sebaik-baiknya bersama keluarga kecilnya


kelak.


"Masih lama?"


Azka menoleh ke belakang


saat mendengar pertanyaan itu dari Nagita. Perempuan itu berdiri tepat


dibelakangnya sambil melilit daster panjangnya.


"Kenapa sayang?" Azka langsung berdiri dan menghampiri istrinya.


"Kangen, Mas." Ia tak menyangka bahwa Nagita akan memeluknya saat itu juga.


"Saya kan sudah di sini, masa kangen?"


"Nggak tahu. Kangen aja," pelukan itu terasa semakin erat. Azka membalasnya dan mengusap punggung istrinya.


"Gita!"


"Kenapa, Mas? Nggak suka


dipeluk?" tangan itu mengendur dan melepaskan pelukan. Tetapi Azka


menahannya dan terus memeluk Nagita. setidaknya ada perubahan, semenjak


perjalanan menuju rumah baru tadi Nagita sudah berani menggenggam


tangannya.


"Ada yang mau saya tunjukkan,"


"Apa?"


Azka melepas pelukannya,


dan menggenggam tangan Nagita kemudian menuntunnya ke suatu ruangan


yang menghubungkan ruang kerja Azka dan tempat lainnya. Azka mendorong


lemari buku yang dijadikan sebagai pintu penghubung antara ruang


kerjanya dan ruang rahasia tersebut.


Kamar tersebut begitu


luas, semua berwarna putih. Tak ada warna lain yang mencolok lagi selain


warna sofa yang memang berbeda dari barang lainnya.


"Mas, kamar kamu?"


"Kamar kita nantinya,"


Azka mengeluarkan sebuah remote kecil dari saku celananya. "Sayang lihat atas!"


Nagita menuruti, Azka


mematikan lampu kamar dan menekan tombol remote yang dibawanya. Seketika


atap kamar terbuka perlahan menampakkan langit gelap dengan


bintang-bintang yang terlihat sangat indah. Setelah penutup atap itu


terbuka sempurna, cahaya bulan purnama memasuki ruangan kamar tersebut.


"Bagus banget Mas,"


Sementara Nagita menatap


ke arah langit, Azka mengeluarkan cincin dari saku celananya dan


memegang kedua tangan istrinya. "Nagita!"


"Iya, Mas. Kenapa?"


"Saya ingin memulai segalanya dari awal,"


"Maksudnya?"


"Saya tahu kamu belum


mencintai saya, kamu masih takut sama saya. Bahkan kadang kamu


seringkali memaksakan diri supaya saya tidak kecewa, ini mungkin terlalu


cepat. Tapi jujur saya sudah mulai mencintai kamu, semenjak kejadian


itu saya tidak ingin lagi membuat kamu kecewa, perasaan saya tumbuh


setiap harinya selama kita bersama."


"Mas kamu—" Nagita memberanikan diri menatap mata Azka ditengah-tengah cahaya seadanya.


"Saya ingin melamar kamu


kembali. Sekarang dengan cinta, bukan terpaksa lagi. Saya ingin kamu


menjadi istri saya, ibu dari anak-anak saya kelak. Saya tahu usia saya


terlalu konyol kan saya melamar kamu di tempat seperti ini? Tapi saya


tahu kamu seringkali menatap bintang dari atap gedung kantor. Orang


bilang bahwa orang yang sudah tiada akan menjadi bintang bukan? Maka


dari itu, biar orang tua kamu juga menyaksikan. Maukah kamu menjadi


istri saya dalam suasana apa pun dan dalam keadaan apa pun?"


"Bukan soal usia, Mas. Tanpa kamu minta pun saya sudah bersedia dari awal,"


"Jadi?"


"Nagita sayang sama Mas  Azka dari dulu."


Azka memasangkan cincin ke jari manis Nagita. Seketika perempuan itu mengalungkan kedua tangannya di leher Azka.


"Terima kasih sudah mau bertahan sejauh ini. Sayang lihat, Daddy berhasil lamar Mommy," ucapnya sambil mengelus perut Nagita.


Ia tersenyum penuh


kebahagiaan seketika itu pula Nagita menciumi bibirnya. Yang awalnya ia


tak ingin membalas karena takut terjadi apa-apa kepada Nagita. Namun


karena ciuman itu sudah mulai bergerilya di bibirnya, ia membuka


mulutnya dan mengambil alih. Azka memegang pinggul Nagita dan terus


menciumi semakin dalam. Tak ada perlawanan. Suara decak lidah mereka


bertautan, meski tak memiliki pengalaman, Azka tak keberatan dengan hal


itu. Justru ia bangga bahwa ia adalah orang pertama yang mendapatkan


semua itu dari istrinya.


Azka menutup kembali


atap tersebut dan otomatis lampu menyala kembali. Namun tak bibir mereka


masih bertautan satu sama lain. Hingga suara desahan napas Nagita


berubah. Beberapa kali ia melepaskan ciumannya membiarkan Nagita mencari


udara dan terus melanjutkannya.


"Kamu nggak takut?"


"Nggak lagi, Mas."


"Sekarang kita tidur ya,"


"Nggak, Mas. Aku nggak mau kamu tersiksa lagi,"


"Tersiksa gimana?"


"Aku tahu kamu sering


melakukannya sendirian di kamar mandi saat aku hanya pakai handuk dan


lewat di depan kamu. Bahkan saat kamu nggak sengaja lihat aku telanjang


di kamar ganti baju kamu langsung masuk ke kamar mandi. Aku sering kali


denger suara kamu, nyebut nama aku, Mas. Aku sakit nggak bisa lakuin


itu sama kamu, kamu harus memuaskan diri kamu sendiri, sedangkan kamu


punya istri tapi nggak bisa menuhin keinginan suami,"


"Saya nggak apa-apa, Nagita. Kamu jangan sedih!"


"Mulai malam ini, aku akan jadi milik kamu, Mas."


"Maksudnya?"


"Selama ini aku sering hindari kamu kan kalau di rumah. Itu karena aku nggak mau terus nyiksa kamu, Mas. Aku tahu itu sakit,"


"Iya itu memang sakit, tapi saya nggak bisa nuntut kamu kan? Jadi saya baik-baik saja,"


"Jadikan aku milik kamu, Mas. Kamu boleh lakuinnya sekarang,"


Bagai disambar petir.


Tubuh Azka membatu dan terkejut mendengar ucapan itu. Selama ini yang ia


ketahui adalah Nagita menghindarinya karena membenci dirinya. Namun


setelah ungkapan jujur itu ia menyadari bahwa selama ini istrinya


menjaga dirinya agar tak melakukan hal itu lagi. Tetapi ia tak melakukan


dengan yang lain lagi, memuaskan diri di kamar mandi dengan tangannya


meski tanpa perempuan lain seperti biasanya. Biarlah dirinya yang


tersiksa menahan diri dibandingkan memaksa kehendaknya.


"Kamu yakin kita akan lakukan itu?"


"Yakin, Mas. Kamu nggak boleh lagi nyiksa diri kamu, aku akan bilang apa saja yang aku nggak suka nantinya,"


"Bilang berhenti kalau kamu nggak nyaman, ya!"


"Iya, Mas."


Azka menuntun Nagita ke


ranjang. Ia mendudukkan istrinya dan menciumnya lembut. Jemari mereka


bertautan. Deru napas Nagita terus memburu saat Azka menyentuh dada


Nagita. ia pun melepas ciumannya.


"Nagita, saya takut kamu kenapa-kenapa,"


"Percaya sama aku, Mas. Semuanya akan baik-baik saja,"


Dengan penuh keyakinan,


Azka membaringkan tubuh Nagita dan menindihnya menciumnya berkali-kali


dan terus menurun ke leher dan meremas dada istrinya. Sentuhan demi


sentuhan lembut Azka lakukan demi kenyamanan istrinya.


"Saya buka baju kamu boleh?"


Nagita mengangguk pelan,


Azka tersenyum dan menarik daster Nagita pelan dan membukanya. Nampak


hanya celana dalam dan bra yang menempel di tubuh Nagita. perut yang


sudah membuncit membuat Azka tersenyum dan menciumnya. "Baik-baik di


sana, baby."


Tanpa ragu Azka membuka


bra milik Nagita dan menciumi gundukan dada Nagita yang cukup berisi. Ia


tak mendapati protes istrinya justru saat ia mulai memainkan **


Nagita perempuan itu memejamkan matanya.


Azka membuka bajunya dan menurunkan celananya. Yang tersisa hanyalah boxer hitam yang menempel di tubuhnya.


"Buka mata kamu Nagita!"


Azka menciumi bibir istrinya sambil meremas dada istrinya bergiliran.


"Aah, Mas."


Suara itu lolos dari


mulut Nagita. Ia menghentikan aksinya dan menurunkan celana dalam


Nagita. walau sempat di tahan oleh Nagita, tetapi Azka berusaha


meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.


Miliknya sudah sangat menengang, setelah melakukan pemanasan yang cukup lama. Azka menindih dan mencium bibir Nagita.


"Jangan minta berhenti karena kamu yang minta," bisiknya pada Nagita. perempuan itu mengangguk.


"Saya masukkan sekarang, tahan! Peluk saya jangan pedulikan yang terjadi, lihat saya dan peluk sekuat mungkin!"


Azka mencium bibir


istrinya dan memasukkan miliknya dengan bantuan tangan kanannya. Setelah


benar-benar menyatu ia membiarkannya di dalam. Suara lenguhan Nagita


terlepas begitu saja. Nagita berpegangan pada kedua lengan Azka yang


tegap disamping istrinya. Perlahan ia mulai bergerak, Nagita menutup


matanya dan terus bersuara. Azka harus berhati-hati kali ini mengingat


kandungan istrinya yang sudah membesar dan memang sedikit kesulitan


untuk bergerak karena khawatir dengan kandungan Nagita.


Ia mengangkat Nagita dan ingin berganti posisi, ia meminta Nagita membelakanginya. "Nggak mau, Mas."


"Kenapa?"


"Kamu lakuin itu dulu,"


Ia tak ingin mengambil


risiko akhrinya menuruti apa yang dikatakan oleh Nagita dan tetap berada


pada posisi awal. Hal yang selama ini diinginkannya terjadi malam itu


juga. Ada rasa bahagia pun bercampur dengan sedih. Ia tak kecewa saat


istrinya tak menuruti keinginannya, tetapi ia salut dengan Nagita yang


melawan rasa takutnya hanya untuk melakukan kewajibannya sebagai seorang


istri.


Hingga pencapaian tiba,


ia terus bergerak dan membenamkan miliknya di dalam. Membiarkan cairan


itu tumpah di dalam rahim Nagita. perempuan itu lemas di bawahnya, ia


bernapas tersengga-senggal. Nagita segera menarik selimut untuk menutupi


tubuhnya, Azka yang masih dalam keadaan polos ikut menutupi dirinya.


Saat mata mereka bertemu, Nagita langsung menutupi kepalanya dengan selimut.


"Kenapa di tutup, Gita?"


"Malu,"


"Kenapa malu? Saya sudah


lihat semuanya," Azka membuka penutup kepala Nagita dan mengelus pipi


istrinya dengan lembut. "Nggak nyesel kan?"


"Nggak,"


"Lihat saya dong!"


"Malu," Nagita kembali menutup kepalanya.


"Ya sudah, sini peluk."


Azka menarik tubuh istrinya yang ditutupi selimut dan mameluknya sangat


erat. Ia merasa bahagia sebab mendapatkan keinginannya yang selama ini


ditunggunya. Meski harus bersabar dan beberapa kali berakhir di kamar


mandi, ia tak bisa berbuat apa-apa.


"Pernah nyesel nikah sama saya?" pertanyaan Azka membuat Nagita membuka penutup kepalanya.


"Pernah,"


"Kenapa gitu?"


"Karena kamu keterlaluan waktu itu, Mas."


"Kapan?"


"Waktu kejadian itu yang kedua kalinya,"


"Yang lain nggak ada?"


"Ada, waktu kamu sering bawa perempuan ke apartemen dulu,"


"Terus?"


"Kamu malah bermain sama perempuan itu di kamar tempat kita tidur bareng, di kamar tempat kamu hasilin buah hati kita,"


"Saya selalu pakai pengaman, jadi kamu jangan khawatir saya menularkan penyakit,"


"Tapi kenapa kamu nggak pakai waktu sama saya?"


"Waktu itu kan mabuk, jadi kalaupun pakai saya nggak bisa dong ketemu istri kayak kamu,"


"Ya juga ya. Kamu nggak pernah nyesel nikah sama saya, Mas?"


"Justru bersyukur,


karena kamu perempuan tabah. Kamu buat saya sadar bahwa mencintai itu


adalah tentang memberi, yaitu saya memberi perhatian lebih sama kamu.


kamu memberikan kesabaran untuk saya,"


"Saya kekanakan kan?"


"Kadang. Kalau kamu


kumat, tapi semuanya terasa kebalik. Tuhan itu adil ya, ngasih perasan


untuk umatnya, semisal dulu saya yang nyakitin kamu, dan nggak peduli


sama kamu, justru kebalik saya nggak bisa hidup tanpa kamu sekarang."


"Gombal,"


"Kenyataan,"


"Umur kamu berapa, Mas?"


"Yang jelas lebih tua dari, Dimas,"


"Kamu harusnya sudah jadi ayah dari dulu, Mas."


"Tapi ketemu sel telurnya baru beberapa bulan yang lalu,"


Azka tak berhenti menggoda istrinya. Selama selesai bercinta, ia tak merasakan kekacauan lagi dalam diri Nagita.


"Gara-gara saya kamu harus menikah muda, Nagita. Sebelumnya kamu punya cita-cita apa?"


"Pengin jadi dokter, pengin banget buka praktek di rumah terus gratisin orang-orang yang nggak mampu,"


"Habis melahirkan, Gita mau Mas kuliahin?"


"Nggak, Mas,"


"Kenapa?"


"Aku ngabdi jadi istri


kamu, Mas. Urus anak kita, urus kamu berangkat dan pulang bekerja. Bukan


hanya itu, aku juga mau selalu ada buat kamu, buat anak kita. Kalau aku


kuliah lagi, nanti kamu terabaikan, kamu cari perempuan lain, aku nggak


mau itu terjadi. Nggak apa-apa aku urungkan cita-cita demi jadi istri


yang baik untuk suami," Nagita mengeratkan selimutnya.


"Yakin?"


"Yakin banget, Mas. Kalau memang Mas mau saya bekerja, saya akan kerja. Meski itu bukan dokter,"


"Kamu nggak usah kerja, biar saya yang kerjain kamu setiap hari kayak gini di kamar, mau?"


"Nggaaaaak." Nagita mendorong kepala Azka dengan telunjuknya.


"Saya suami kamu, lho,"


"Kamu kira nggak sakit, Mas?"


"Tapi kamu keluar banyak lho tadi,"


"Mas, sekali lagi ngomongin itu aku teriak nih,"


"Teriak aja, rumah ini


kan cuman kita berdua penghuninya, nggak bakalan ada yang denger kamu,


saya mau gigit juga nggak bakalan ada yang tahu,"


"Kamu jahat sama aku, Mas. Sampai mau gigit segala,"


"Bercanda sayang. Gigit bibir kamu sih kalau bisa,"


"Aku keluar lho, Mas. Kesal aku lama-lama sama kamu,"


"Tidur, Nagita. Jangan marah melulu, nanti cepat tua. Nanti saya bangunin kalau saya pengin gitu lagi,"


"Nggak, aku mau tidur."


Azka menarik tubuh


Nagita membenamkan kepala gadis itu di dada bidangnya. Ia sangat bahagia


dengan keadaan sekarang ini. Nagita yang tak takut lagi dengan dirinya


dan bahkan berani melakukan hal yang paling ditakutinya.


Ia mengecup kening


Nagita. "Terima kasih, Tuhan. Telah menghadirkan sosok pendamping hidup


yang begitu penuh sabar dalam menghadapi hamba-Mu yang hina ini."