RICH MAN

RICH MAN
NIAT BAIK



Sore itu di sebuah perumahan elit yang sudah beberapa kali dikunjungi oleh Dimas. Yang di mana rumah owner perusahaannya yang beberapa kali pindah rumah karena tidak pernah betah di satu rumah.


Ia mengedarkan pandangannya di seluruh rumah yang baru satu minggu ditempati itu. Bagi orang seperti Dimas, mengunjungi rumah owner perusahaannya sendiri merupakan hal yang sudah biasa dilakukan, mengingat jabatannya juga sangat baik di sana.


Ia telah bekerja di sana belasan tahun, semenjak dia keluar dari perusahaan Azka dan memilih untuk mencari pekerjaan lain, dan di sana merupakan pelarian terakhirnya dan barangkali Dimas enggan untuk mencari pekerjaan lain karena sudah terlalu nyaman berada di sana.


Baru saja Dimas hendak meminum teh yang sudah di sediakan. Seorang perempuan mengenakan cadar masuk ke dalam rumah.


"Assalamu'alaikum,"


"Wa'alaikumussalam," jawab Dimas dan ownernya bersamaan.


Selama berkunjung ke sana. Sama sekali dia belum pernah melihat anak ownernya, dan itu untuk pertama kalinya dia melihat perempuan itu, akan tetapi menggunakan cadar, terlihat dari matanya yang sekilas. Bahkan Dimas sendiri tidak terlalu penasaran karena dia tahu bagaimana harus menjaga sikap.


Perempuan itu berpamitan dan langsung ke kamarnya. "Maaf Dimas, bukannya saya enggak mau nyuruh anak saya nemenin, tapi ya gitu. Kalau ada tamu laki-laki, dia berusaha untuk menghindar," jelas ownernya.


"Iya enggak masalah, mungkin itu juga yang baik. Saya enggak minta di temani juga, saya perlunya sama Bapak, kan. Ngomong-ngomong tumben anak Bapak di rumah?"


"Dia ada urusan, sibuk melulu. Ngomong-ngomong ya Dimas, saya khawatir dia enggak dapat jodoh loh,'


Dimas yang tadinya sempat kagum dengan anak perempuan yang mengenakan cadar itu tiba-tiba terkejut dengan pernyataan yang dilontarkan oleh pria yang ada di depannya itu. Tidak seharusnya dia berkata begitu.


"Kenapa bilang begitu?"


"Karena cadarnya itu, kalau soal jilbab biasa sih saya enggak masalah, karena saya takut dia ikut apalah itu, yang seram-seram begitu. Mama dia juga pernah nyaranin pakai jilbab aja, enggak usah pakai cadar segala, tapi dia tetap enggak mau, pernah waktu itu ada pria yang datang hendak melamar, ketika disuruh buka, dia enggak mau juga. Ya kan biar calon suaminya itu bisa lihat juga sih, hmmm tapi waktu itu beruntung dia enggak mau, karena saya juga pasti akan menolak, mana ada orang tua yang akan melepaskan anaknya begitu saja kepada pria yang enggak dikenal, apalagi pria itu terkenal pemabuk, katanya mau cari istri sholehah biar bisa bimbing dia,"


"Terus? Kalau emang anak Bapak enggak mau, ya bisa dikatakan dengan baik-baik kan?"


"Cara nolaknya baik kok, enggak ngomong macam-macam. Hanya saja waktu itu anak saya tes si pria ini ngaji, dia enggak bisa. Terus waktu itu dia ngomong kasar, saya selaku orang tua juga kesal karena tiba-tiba gitu ada yang datang,"


"Nama anak Bapak siapa? Umurnya?"


"Marwatul Aira. Usianya 25 tahun, Dimas. Usia yang cocok untuk menikah bukan? Tapi sampai saat ini enggak ada lagi pria yang datang untuk melamar, saya khawatir kalau dia benar-benar enggak dapat jodoh,"


"Memangnya kriteria dia seperti apa?"


"Yang agamanya baik, biar bisa membimbing. Ya walaupun kita tahu kan kita cuman bisa berencana, Allah yang lebih tahu. Kalau saya sederhana saja Dimas, yang penting dia bisa menjaga dan juga bisa bersabar menghadapi anak saya yang seperti itu, karena saya tahu bahwa Marwa enggak pernah pacaran sekalipun, dia pernah jujur bahwa dia enggak mau pacaran-pacaran segala,"


Pria yang ada dihadapannya memandangnya dengan pandangan yang penasaran. "Kenapa Dimas?"


"Jika seandainya saya yang datang meminta Marwa bagaimana?"


Pria itu terkejut, "Ya ampun Dimas. Saya tahu kalau kamu itu pria yang baik, saya bahkan tahu kalau kamu adalah orang yang paham agama seperti kriteria anak saya, tapi kamu mau madu anak saya?"


Dimas menggaruk kepalanya. "Bukan Pak, bukan untuk saya. Tapi untuk keponakan saya, ya mungkin saja bisa jodoh gitu kan ya. Tapi saya bakalan ngomong dulu sama Papanya nanti, sama orangnya juga,"


"Dia orangnya bagaimana?"


"Umurnya sama kayak Marwa, hanya saja keponakan saya ini agak dingin Pak. Semenjak ditinggal dulu sama seorang perempuan, tapi dia enggak nakal kok. Dia pintar juga orangnya, hanya saja yang menjadi kekhawatiran bagi orang tuanya, dia itu jarang pulang kalau sudah bekerja ya bakalan sampai pagi. Dia orangnya tekun, dan Insya Allah dia bisa membimbing Marwa, Pak,"


"Semacam mencintai masa lalu gitu?"


"Iya, dan sampai saat ini belum menemukan pasangan hidupnya, maka dari itu kalau saya berniat untuk meminta bagaimana?"


Pria itu tersenyum kemudian mengangguk, "Ya kalau dia memang bisa membimbing anak saya, seperti kamu yang membimbing istri kamu, ya silakan saja,"


Dimas mengangguk pelan karena mendapatkan persetujuan. Tinggal dia akan berunding dengan keluarga besar Azka mengenai hal ini, tidak mungkin Azka yang mengambil keputusan dengan gamblang saat lamaran itu nanti bisa jadi Rey tolak atau Rey enggan untuk berbicara soal pasangan.


Dimas juga sudah mengetahui penyebab Rey menjadi pria dingin yang bahkan tidak bisa ramah kepada siapa pun seperti sekarang ini, itu karena hatinya sudah terlalu membeku oleh seorang perempuan.


Bagi siapa saja, patah hati merupakan hal yang paling menyeramkan di dunia ini. Banyak orang yang bahkan mengakhiri hidupnya hanya karena patah hati itu. Dan kini, Rey menjadi pria yang lebih dingin dari biasanya. Awalnya Dimas juga tahu bahwa keponakan kesayangannya itu berani membentak Nagita kala itu.


Patah hati mengajarkan seseorang arti melepaskan. Tetapi bagi Reynand, patah hati adalah cara untuk membuat dirinya menjadi orang yang bodoh terjebak dalam suatu ketidak adilan tentang memaksa untuk menerima kehilangan seseorang.


Jika mengingat tentang dirinya yang dahulu terpisah begitu jauh dari Viona, berusaha untuk menjadi lebih pantas hingga Tuhan mempersatukan, Dimas percaya jika Rey terus belajar dan terus memperbaiki diri, maka dia akan mendapatkan perempuan yang sesuai seperti dirinya. Seperti Marwa yang saat ini, berharap bahwa kelak perempuan itu memang berjodoh dengan Reynand dan berhasil menyingkirkan perempuan yang telah menyakiti hati Rey begitu dalam.


"Dimas, apa pun itu, saya minta tolong sama kamu. Kalau memang keponakan kamu memiliki niat yang baik untuk menikah, saya akan terima dengan baik. Apalagi saya melihat bahwa kamu orang yang begitu baik,"


"Jangan hanya menilai dari luarnya pak,"


"Saya percaya kamu Dimas. Maka dari itu saya berkata seperti ini sama kamu, jangan pernah kamu kecewakan saya nanti, saya harap jika keponakan kamu setuju, ya saya persilakan, bimbing Marwa. Mungkin saat bersuami, dia bisa menjadi lebih baik lagi dan bisa menghargai pria. Dia anak saya satu-satunya, Dimas. Jangan sampai dia bersedih, silakan bawa keponakan kamu, kalau itu memang niat baik kalian!"