RICH MAN

RICH MAN
STATUS SOSIAL



Mereka bertiga masih berada di sana dan akan pergi ke salah satu restoran untuk mampir makan siang. Bersahabat dari zaman sekolah hingga saat ini masih bersahabat layaknya saudara, itu menjadi sebuah ikatan yang sangat baik. Hanya saja satu orang yang Rey rindukan, kehadiran temannya di saat susah dahulu. Yaitu suami dari Jenny. Pria itu sibuk dengan urusan bisnisnya yang hingga saat ini belum bisa meluangkan waktu walaupun hanya berkumpul seperti sekarang ini.


Sejujurnya ia ingin reuni dengan teman-teman SMA. Akan tetapi ia yakin bahwa semua orang pasti memiliki kesibukan masing-masing dan tidak akan memiliki waktu seperti dulu lagi. Apalagi ketika mereka liburan bersama ketika masih sekolah.


Ketiganya pun langsung menuju restoran di mana mereka akan makan siang.


Rey yang memilih untuk menyetir karena Leo dan juga Jenny tidak membawa mobil. Keduanya menggunakan taksi ketika ke tempat itu.


Beberapa menit mengendarai, ketiganya tiba di salah satu restoran dan hingga pada akhirnya mereka bertiga turun.


Ketiganya memesan makanan masing-masing. “Di traktir lo ya Rey?”


“Tenang aja, anak lo mau makan satu restoran ini juga gue sanggup bayarin. Kalau orang hamil itu harus diturutin,”


“Bini lo berarti sangat bersyukur punya laki kayak lo. Apa pun yang dia inginkan pasti akan dituruti sama lo, ya, kan?” tanya Jenny memastikan.


Dengan sangat bangga Rey menarik kerah kemejanya dan memuji dirinya sendiri. Jika bersama dengan Jenny, Rey bukan lagi pria polos yang pendiam. “Tentu saja istri gue sangat bersyukur punya istri kayak gue, apalagi ya dia tuh kayak tuan putri gue perlakukan,”


“Yang benar?”


“Tentu, sarapan gue bawain ke kamar karena masih muntah. Malam, gue bawain juga. Kalau gue lama pulang, dia bakalan nungguin. Istri gue luar biasa banget pokoknya,”


“Hoh itu ya istri lo. Orang yang pernah lo kejar-kejar sampai ngos-ngosan dulu?”


Rey menyeringai mengingat perjuangannya ketika ditolak oleh Marwa dulu. “Ah lo, kalau bahas masa lalu aja paling juara banget deh,” ketika hingga pada akhirnya makanan mereka sudah datang dan mereka masih berbincang. Waktu yang sangat sulit dipertemukan seperti sekarang ini saat dia yang begitu sibuk. Apalagi Leo yang hari itu juga meluangkan waktunya untuk sekadar membantunya mencari rumah.


Leo sadar bahwa dahulu kakak sepupunya itu menjadi panutannya hingga ke manapun Rey pindah sekolah dia selalu saja ikut. Andai saja dia tidak mengikuti Rey, barangkali ia akan salah dalam pergaulan.


Namun, setelah itu dia sadar bahwa selama ini kakaknya yang selalu menjadi panutan itu memang benar-benar memberikannya pelajaran terbaik untuk kehidupan berikutnya. Kelak, jika anaknya tumbuh bersama dengan anak dari kakak sepupunya itu, tentu saja Leo juga akan menyayangi anak sepupunya itu layaknya anak sendiri.


Perihal Amanda, Leo selalu berusaha menjaga hati istrinya. Leo berusaha untuk mencari keberadaan orang tua Amanda yang Leo tahu bahwa Amanda pernah dibuang hanya karena penyakitan dahulu. Namun, ia tidak bisa memaksakan itu semua. Pasti Amanda akan menolak untuk mencari keberadaan orang tua. Apalagi yang dianggap orang tuanya adalah Om Azka dan tante Nagita yang sudah merawatnya dahulu di yayasan hingga ia dan Amanda bisa bertemu seperti sekarang ini.


Setelah memutuskan untuk menikahi Amanda waktu itu. Leo telah berjanji pada dirinya sendiri untuk menjaga dan mencintai Amanda sepenuh hati. Walaupun tidak ada orang yang jauh lebih peduli dari dirinya. Leo berusaha menjadi Ayah, saudara, bahkan bersedia menjadi ibu jika Amanda membutuhkan hal itu. Satu orang yang berperan menjadi beberapa orang penting di dalam hidup istrinya.


Sadar semenjak Amanda melahirkan. Leo berusaha memenuhi kebutuhan apa pun. Apalagi statusnya sebagai ayah dari satu anak. Buah cintanya yang tumbuh sehat setelah menikahi Amanda. Mengingat semua itu, Leo yakin bahwa Tuhan memang menakdirkan dirinya untuk melindungi perempuan itu sampai kapan pun.


Tidak ada sedikit pun dibenak Leo untuk melirik perempuan lain saat Amanda melalui masa nifasnya. Terkadang dia meminta Amanda untuk tidur dan dia yang menjaga buah hatinya sepanjang malam. Meski lelah bekerja, akan tetapi yang lebih melelahkan adalah merawat anak. Itulah yang dikatakan oleh papanya dahulu ketika istrinya masih hamil. Semua Leo pelajari dari papanya yang mendidiknya sangat baik mengenai tanggung jawab.


Sudah setahun lebih menjadi suami Amanda. Bahkan dahulu Leo bekerja begitu keras dan banting tulang sendirian. Tidak ingin jika pernikhannya dibiayai oleh orang tuanya. Tiba-tiba saja dia meminta untuk menikah dengan Amanda. Walaupun sebenarnya orang tuanya juga diam-diam menyiapkan pernikahan untuk dirinya dan Amanda.


Sebagai pengusaha muda terkenal yang sukses. Kesibukan bukan berarti dia lupa meluangkan waktu untuk keluarganya.


“Leo, kenapa dari tadi lo diam aja saat kita berdua ngobrol?” tanya Jenny yang melihat wajah tenang dari Leo yang selalu menampilkan ekspresi santainya.


Leo menghela napas dan minum jus yang ada di depannya. “Enggak apa-apa. Gue lagi ngebayangin aja gitu anak gue tumbuh kayak tuh anak yang ada dibelakang lo,” jawab Leo menujuk putri kecil yang begitu ceria makan bersama denga orang tuanya. Kira-kira usia anak itu barangkali 3 atau 4 tahun. Leo merasa senang ketika orang tua meluangkan waktu untuk anaknya seperti itu.


Rey juga merasa sangat bahagia ketika mendengar gelak tawa dari anak perempuan itu dan asyik makan bersama dengan orang tuanya. “Enak banget ya,” ucap Jenny kemudian tersenyum melihat anak itu. Membayangkan bagaimana nanti suaminya apakah bisa meluangkan waktu seperti itu dengan keluarganya atau justru tidak sama sekali.


“Jangan mikir suami lo nggak bisa luangin waktu kayak gitu,” celetuk Rey kepada Jenny. Seolah pria itu mampu membaca pikiran Jenny dan hingga pada akhirnya berkata demikian. Rey sendiri tersenyum saat melihat anak itu.


 


 


Kekayaan hanyalah stabilitas dan keamanan yang bisa membuat siapa saja menjadi lebih terhormat. Jika seseorang jauh lebih mengutamakan kekayaan dibandingkan kebahagiaan keluarga, percayalah bahwa ia tidak ingin dianggap remeh oleh orang lain. Dan ingin bahwa keluarganya tidak dipandang sebelah mata oleh orang lain. Kadang, orang akan menghargai kita seiring banyaknya harta yang dimiliki. Terkadang sedikit orang mau berteman dengan orang susah, karena status sosial kadang jauh lebih berharga dibandingkan kehidupan sosial saling membutuhkan satu sama lain. Atau kadang tidak membutuhkan sama sekali.