RICH MAN

RICH MAN
SEOLAH PERGI



Jam menunjukkan pukul tiga sore, yang di mana tadi sebelum lelaki itu setuju diajak bertemu oleh Bintang, dia sedang bersantai bersama dengan keluarganya. Gadis itu mengajaknya bertemu di waktu yang tepat, karena keluarga Rey yang akan liburan bersama dengan keluarga besarnya.


Ia telah bersiap dan walaupun mereka akan bertemu satu jam lagi.


Di sana, ada Fendi yang bermain ke rumahnya untuk pertama kalinya setelah beberapa bulan ini menghilang karena sibuk bekerja. Lelaki itu sangat senang setelah mendengar sahabatnya berkunjung karena sudah lama sekali dia tidak main ke rumah Rey.


Fendi tengah asyik menelepon dengan Jenny. Bagaimana tidak, sepasang kekasih itu berpacaran akan tetapi sangat jarang jalan bersama karena kesibukan Fendi dan juga ketidakmauan Fendi mengajak Jenny berkencan saat ini, lelaki itu bertekad untuk menjadi pria sukses dulu sebelum akhirnya berani meminta Jenny terhadap orang tuanya walaupun hanya sekadar jalan bersama.


Jika bukan karena Rey, tentu Fendi mungkin sudah putus sekolah. Dia beruntung mendapatkan teman dan sudah dianggap seperti anak kandung oleh Azka. Dia juga selalu berusaha untuk patuh terhadap pria yang sudah memberikannya pekerjaan itu.


"Rey, mau berangkat sekarang?"


Fendi bangun dari tempat tidur dan menarik handuk yang ada di sebelah kanan pintu kamar mandi. "Belum sih, kenapa?"


"Mau mandi bentar sih. Kalau lo mau ketemu sama Bintang, lo udah siapin belum apa yang bakalan lo bilang?"


Rey terkekeh mendengar pertanyaan Fendi. Karena yang akan bertemu dengannya itu adalah Bintang, dan gadis itu pula yang akan menyatakan perasaan terhadap Reynand, bukan dia yang akan menyatakan perasaan terhadap gadis itu. Karena dia pernah menyatakan cinta, akan tetapi ditolak oleh gadis itu.


Sedari dulu, jika menyangkut soal Bintang, orang yang selalu menjadi teman curhatnya adalah Fendi. Karena lelaki itu selalu mendengarkan cerita-cerita sederhana yang diceritakan oleh Reynand.


Teman pertama yang dia dapatkan di sekolah adalah Fendi. Mulai dari masuk kelas yang sama, selalu makan bareng, dan memilih pergaulan yang baik bersama dengan Fendi. Memang terdengar begitu klise, akan tetapi Rey sudah memilih untuk berteman baik dengan lelaki itu karena selalu ada dalam susah maupun senang.


Sebagai seseorang yang berusaha untuk tetap baik pada siapa pun, tidak jarang pula kebaikannya dimanfaatkan oleh orang lain. Akan tetapi dia selalu percaya apa yang dia berikan kepada orang lain, akan kembali pada dirinya sendiri, mungkin orang yang pernah dia bantu itu melupakan kebaikannya. Biarlah Tuhan menjadi saksi dari apa yang telah dia perbuat.


Rey belum cerita kepada sahabatnya mengenai dirinya yang akan dipindahkan sekolah oleh kedua orang tuanya. Walaupun sebenarnya diatur oleh orang tua itu sangatlah menyebalkan, akan tetapi tugas kita sebagai anak hanya menurut jika itu yang terbaik. Menyenangkan hati keduanya tidak pernah salah, barangkali pilihan mereka juga yang terbaik. Ia juga tidak keberatan karena akan masuk ke pesantren seperti yang dikatakan oleh Dimas waktu itu.


Sebagai seorang kakak yang akan memberi contoh bagi kedua adiknya, Rey sudah membulatkan tekadnya untuk menuruti keinginan orang tuanya. Bahkan orang tuanya sudah mulai melakukan hal itu. Yang di mana segala kebutuhannya sudah mulai dibeli, Dimas juga ikut berperan selama ini untuk mendidik Reynand.


Fendi berlalu ke kamar mandi. Beberapa detik berikutnya, suara notifikasi masuk ke dalam ponsel Reynand.


'Jika kita bertemu nanti, aku harap kamu bisa mengerti dan memahami apa yang akan aku ucapkan. Tetapi meskipun kita tidak pernah saling memiliki kelak, aku harap kita selalu bertemu di tempat yang sama setiap tahunnya, mungkin aku ini egois selalu nuntut waktu padamu. Tetapi aku juga berusaha untuk menjaga hatimu agar tidak terluka. Bukan maksudku ingin menghilang, aku ingin dicari, dicari kemudian kamu yang menemukan'


Rey selesai membaca pesan itu dan langsung memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya sambil menunggu Fendi kembali dari kamar mandi.


Fendi keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya. "Rey, tunggu asar dulu gimana? Biar enak gitu kita jalan nanti setelah sholat,"


Rey mengangguk dan mengeluarkan ponselnya sambil bermain game dan berbaring di atas ranjangnya.


Plak


Rey mengaduh dan menggosok jidatnya karena di pukul oleh Fendi. "Sakit sialan,"


"Nyamuk tahu,"


"Kampret, alasan lo aja kali," protes Rey.


Lelaki itu menyeringai dan berbaring di samping Rey sambil membuka game online yang ada di ponselnya.


"Ikut War lo?" tanya Fendi.


"Ikut, ntar malam deh kayaknya mulai, sekarang masih nunggu waktu gitu kan,"


"Rey serang yang baik, lo di urutan satu loh. Jangan sampai lo kalah, lo kalah, gue botakin lo,"


"Ya ampun, base gue abis diserang, kampret emang. Gue enggak buka dua hari aja udah gini,"


"Lo sih, enggak pernah main. Sibuk melulu lo,"


"Gue kan kerja, lagian ya sambil nunggu upgrade yang lama, gue itu nunggu semua yang gue upgrade itu selesai," jelas sahabatnya itu sambil mulai memainkan game tersebut.


Rey pun bangun dari tempat tidurnya. "Kampret, cuman dapat bintang 1 gue, bro,"


"Lah, lo sih goblok,"


"Anjiiir,"


Rey meletakkan ponselnya di atas kasur. "Gue wudhu dulu, mau adzan nih," ucapnya pada Fendi.


Lelaki itu mengangguk dan membiarkan Rey pergi begitu saja. Setelah Rey menghilang, Fendi dengan beraninya membuka ponsel Rey. Melihat isi chat dari Bintang. Ternyata Rey hanya membalas seadanya.


Dia meletakkan ponsel itu kembali ke posisinya. "Gue enggak mau kalau lo kecewa, bro. Lo udah kayak saudara gue,"


Rey kembali dari kamar mandi dan menggelar sajadah di sana. "Emang udah adzan?"


"Siap-siap dulu," jawab Rey.


Dia pun langsung duduk di samping Fendi.


"Bro, ada yang mau gue ceritakan sama lo,"


"Mengenai?"


"Maaf, gue harus cerita ini sama lo karena ini semua sudah menjadi pilihan kedua orang tua gue, karena gue mau bahagiain mereka. Gue juga setuju sama pilihan mereka,"


"Lo mau ngapain?"


"Gue mau pindah sekolah,"


"Hah?"


"Iya, orang tua gue mau gue masuk pesantren temannya Om Dimas,"


"Ya ampun, Rey. Lo udah naik ke kelas tiga loh, lo enggak mau gitu nikmati masa-masa indah lo?"


"Bagi gue, menikmati masa muda dengan cara seperti itu adalah hal yang sia-sia. Terlebih ketika gue harus menjadi orang yang berantakan hanya karena cinta, bro,"


"Ini karena Bintang?"


"Bukan hanya itu, orang tua gue mau gue seperti dulu lagi. Dia kangen gue yang dulu, dan sebagai seorang kakak yang akan menjadi contoh bagi kedua adiknya, gue mau pindah sekolah dan belajar agama lebih baik lagi. Dan untuk perihal pertemuan gue sama Bintang, mungkin ini yang terakhir,"


"Lo serius?"


"Apa yang lebih sakit dibandingkan digantung tanpa adanya apa-apa? Kebaikan dia yang selama ini hilang begitu saja, bukankah suatu kebaikan yang biasa kita dapatkan dari dia tiba-tiba hilang begitu saja, itu adalah hal yang paling menyakitkan?"


Fendi mengangguk mengerti dengan apa yang dikatakan oleh sahabatnya itu. Dia juga setuju jika memang itu yang terbaik bagi Rey, dia setuju dengan semua itu.