
Di sebuah taman yang tidak jauh dari rumahnya, seorang lelaki yang masih berusia belasan tahun tengah menunggu disebuah bangku putih bersama dengan bunga yang dibelinya tadi sebelum berangkat. Sore itu banyak orang berlalu lalang melewatinya walaupun hanya sekadar untuk berolahraga ataupun jalan-jalan biasa bersama dengan keluarga.
Dari kejauhan Rey menyorotkan pandangannya pada anak kecil yang mungkin berusia sama seperti adiknya tengah menikmati makanannya duduk dipangkuan sang papa dan menyantap makanannya dengan lahap. Banyaknya penjual yang ada di sana untuk mengais rezeki, taman yang selalu saja ramai dikunjungi sore hari. Niat mereka bertemu di tempat ramai adalah karena tidak ingin sering berduaan, baik Rey maupun Bintang.
Beberapa kali pesan masuk ke ponselnya isinya tetap sama. Yaitu Bintang meminta untuk ditunggu seperti biasa gadis itu memang seringkali telat ketika mereka sedang memiliki janji untuk bertemu. Bahkan ketika mereka berdua masih sangat dekat dahulu, gadis itu selalu saja terlambat dan membiarkan lelaki itu menunggu terus menerus.
Rey tetap mengedarkan pandangannya pada seluruh manusia yang berlalu lalang melewatinya, tidak ada satupun yang menarik perhatiannya secara lebih ketika melihat Bintang datang, itulah harapan yang saat ini sedang dia rapalkan sendiri. Akan tetapi menunggu terlalu lama, dia tetap tak menemukan gadis itu. Ingin sekali menghubungi, akan tetapi takut jika gadis itu berada di jalan dan membawa kendaraan sendiri.
Satu jam kemudian, begitu banyak lagu yang telah selesai diputar di kafe seberang jalan sana yang suaranya terdengar hingga taman walaupun suaranya masih samar-samar karena kalah oleh suara kendaraan yang lewat di sana.
Masih dalam keadaan bersabar, dia menunggu kehadiran gadis itu.
Rey mengeluarkan earphone-nya dan mulai memutar lagu yang ia sukai.
Entah sudah berapa lagu yang telah usai, belum juga dia temukan gadis itu untuk menemuinya, apakah kali ini gadis itu sedang membohonginya.
Menit berikutnya, seorang anak kecil menangis dan melihat bunga di atas kursi panjang tempat Rey duduk. Anak kecil perempuan itu menangisi bunga yang ada disebelah Reynand. Dia tidak mungkin tega ketika melihat seorang anak kecil menangis seperti itu, meskipun orang tuanya sudah berusaha menenangkan, akan tetapi bunga yang dibawa Rey itu jauh lebih dia inginkan.
Rey menarik napas panjang dan akhirnya memberikan bunga itu sambil tersenyum berusaha untuk ikhlas agar anak yang sedang dibujuk oleh orang tuanya itu tidak menangis lagi.
"Maaf ya, jadi diambil sama anak saya bunganya. Ini tadi untuk pacarnya, ya?" ucap pria itu memastikan. Akan tetapi Rey menggeleng.
"Bukan, om. Itu untuk teman saya yang sedang berulang tahun,"
"Maaf sekali lagi ya,"
Rey mengangguk dan melambaikan tangan kepada gadis kecil yang berterima kasih karena telah diberikan bunga oleh Reynand.
Ingin sekali dia memaki dirinya sendiri, menunggu tanpa kepastian. Menanti tanpa ada kata terakhir kali yang dikatakan oleh Bintang.
Hingga pukul 6 sore dan beberapa menit yang akan datang adzan magrib berkumandang. Rey memilih untuk pulang karena telah menunggu sangat lama untuk bertemu dengan Bintang.
Chat waktu itu mengatakan bahwa mereka akan bertemu setiap tahun di sana. Akan tetapi di awal saja gadis itu sudah tidak menepati janjinya, bagaimana dengan nanti dan seterusnya. Menunggu kepastian, tetapi berujung pada kekecewaan.
Hati siapa yang tak sakit jika terus saja digantung seperti itu.
Rey pun pulang ke rumah sang Oma untuk bertemu dengan Leo.
Setelah magrib, dia pun masuk ke dalam kamar Leo dan bercengkrama di sana bersama dengan lelaki yang sudah seperti saudara kandungnya itu.
"Udah ke mana, kak? Tumben mampir?"
"Ketemu, tapi dia malah enggak jadi,"
"Karena dia itu memang niatnya ngasih harapan, gantungin orang. Dan akhirnya buat aku nyerah kayak gini,"
"Bintang, bukan?" ucap Leo memastikan. Sepengetahuannya sepupunya itu dekat dengan Bintang bahkan satu sekolah pun tahu bahwa mereka berdua begitu dekat dan banyak yang menyebarkan gosip bahwa keduanya pacaran. tetapi Rey dan Bintang menyangkal itu hingga meyakinkan beberapa orang yang mengatakan mereka pacaran itu percaya dengan apa yang dikatakan oleh keduanya.
"Sudahlah, terserah dia mau gimanapun juga itu hak dia. Ngomong-ngomong aku bakalan pindah juga sekolah dari sana karena kemauan Mama sama Papa,"
Leo yang tadinya minum langsung menyemburkan minumannya. "Loh kok pindah? Kalau kakak pindah, nanti ada PR aku enggak bisa tanya ke kakak dong?" keluh Leo.
"Iya usaha sendiri, enggak selamanya kamu itu bergantung sama aku," balas Rey. Akan tetapi raut wajah Leo berubah seketika.
"Kalau Kak Rey pindah, aku juga izin pindah ke Mama sama Papa,"
"Kamu tahu enggak tujuan aku? Orang kayak kamu enggak bakalan betah, apalagi enggak bisa jauh dari Mama,"
"Luar negeri?"
"Bukan, yakali aku sekolah ke sana. Nanti kalau kuliah baru ke sana, tujuan aku ke pesantren,"
Leo meletakkan gelas dan mengguncang bahu Reynand. "Seriusan? Om Azka mikir apa coba sekolahin kakak ke sana?"
"Sebenarnya pesantren enggak separah yang kamu bayangkan, Leo. Hanya saja agak ketat gitu, kan. Apalagi main hp, kita di sana fokus belajar,"
Leo duduk disebelah Reynand. "Ya udah, ke mana pun kakak pergi. Aku ikutan deh nanti izin sama Mama,"
Rey mendengar ucapan sepupunya, sontak dia terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Leo. Pasalnya dia tahu sendiri bahwa Leo adalah orang yang tidak betah jika terus belajar. Apalagi nanti di pesantren dia akan banyak kegiatan.
"Kamu beneran, Leo?"
"Serusan, kak. Aku mau belajar, siapa tahu nanti bisa ajarin ke Clara atau calon adik aku, sebagai kakak tertua, kakak Rey itu jadi panutanku. Pokoknya ke mana saja kak Rey pergi. Aku bakalan ikut, walaupun kakak akan pergi ke pesantren, aku bakalan tetap ikut,"
Rey pun kagum dengan apa yang dikatakan oleh Leo. Dia pun senang mendengar sepupunya bahwa mereka akan satu sekolah nantinya yaitu berada di pesantren yang sama.
Pikiran Rey kembali membelenggu terhadap Bintang yang tiba-tiba saja tak memiliki kabar setelah dia tidak bertemu tadi. Apakah gadis itu baik-baik saja atau tidak.
"Kenapa masih mikirin dia sih? Kalau emang udah enggak bisa dipercaya kayak gitu, enggak seharusnya kak Rey mikirin dia lagi. Udah cukup lah kakak dibuat kecewa sama dia,"
"Cuman penasaran gimana kabar dia aja, kok. Enggak lebih dari itu, seenggaknya kan aku berusaha untuk peduli gitu sama dia,"
"Terlalu peduli itu akan membuat banyak masalah. Tanpa kakak pikirkan sendiri bagaimana perasaan kakak, apakah dia peduli atau tidak, pada kenyataannya kakak hanyalah orang yang peduli terhadap perasaan orang lain. Tanpa kakak pedulikan perasaan diri kakak sendiri."