
Rey berjalan setengah berlari melwati kubikel yang sudah dikosongkan oleh penghuninya. Dia terlambat ke kantor karena mengantarkan anak dan juga istrinya ke rumah orang tuanya. Rapat akan digelar beberapa menit lagi, dia yang selalu menerapkan tepat waktu. Sekalipun dia adalah pemilik perusahaan, tapi dia tidak pernah terlambat untuk menghadiri rapat karena dia tahu bahwa menunggu adalah hal yang paling menyebalkan.
Rey meletakkan tas dan langsung pergi ke ruang rapat untuk melihat presentasi dan karyawannya yang akan menunjukkan hasil kerjanya.
Dia yang begitu terengah-engah saat msauk ke dalam ruangan dan jam menunjukkan pukul delapan pagi yang di mana dia tepat waktu ketika masuk ke dalam ruangan.
“Tumben banget telat? Anak nggak mau ditinggal lagi?” tanya Alvin yang duduk disampingnya. Rey memang mempersilakan orang untuk memulai rapat ketika dia belum datang dengan catatan poin yang disampaikan pada rapat bisa diberikan oleh orang yang memimpin rapat. Seperti sekarang ini ada rapat mengenai presentasi hasil kerja yang mungkin beberapa desain akan digunakan untuk ditawarkan kepada orang yang sedang mencari jasa konsultan untuk pembangunan rumah ataupun restoran yang paling banyak diminta selama ini.
Rey tetap membawa wibawa yang baik. “Enggak, bini diantar ke rumah orang tuanya. Pengin nginap katanya, jadi ya udah diantarin aja,”
“Memang ya suami idaman banget,” ledek Alvin.
Rey memutar bola matanya dan memperhatikan yang sedang presentasi sekalipun diledek oleh Alvin. Dia tidak peduli dengan ledekan itu, lagipula mengantar istri ke rumah orang tuanya karena lama tidak bertemu itu adalah hal yang wajar. Egois adalah ketika dia tidak memperbolehkan istrinya pulang walaupun hanya sekadar untuk menyapa saja. Istri memang lebih bakti kepadanya, namun tetap saja peran orang tua tidak bisa dilupakan begitu saja. Karena bagaimanapun juga orang tua yang merawatnya dulu.
Ketika rapat selesai, Rey hanya memberi masukan-masukan dan juga strategi yang harus diatur. Mereka semua menyanggupi dan ketika sudah selesai, rapat selesai dan Rey kembali lagi ke ruangannya.
Alvin duduk dipinggiran sofanya sambil main handphone. “Gimana rasanya jadi ayah? Enak banget kan?”
Rey mengangkat kepalanya menatap pria yang sedang duduk dipinggiran sofa sambil menggulir layar ponselnya. Ia dia akui bahwa pria ini juga tahu mengenai perselingkuhannya dulu yang sangat konyol itu. andai dia bisa mengembalikan waktu, Rey hanya ingin jika waktunya kembali dan diperbaiki yaitu tanpa adanya perselingkuhan yang menyakiti bahkan istrinya sampai mau menuntut cerai dirinya. Rey merasa sangat bodoh karena masalah itu dulu. “Anak dan istri ya memang manja akhir-akhir ini,”
“Minimal luangin waktu buat mereka berdua. Jangan sampai sok sibuk apalagi nggak ada waktu. Anak tidur, kamu baru pulang. Anak masih tidur, kamu udah berangkat seolah kamu nggak bisa lihat tumbuh kembangnya dia. Apakah dia bisa tertawa dengan terbahak, apakah dia bisa duduk, apakah dia bisa memanggil Papanya. Momen begitu nggak bakalan terulang lagi. Karena bagaimanapun juga sesibuk apa pun kamu kali ini, usahakan kamu itu kasih waktu buat mereka berdua, kamu nggak tahu juga bagaimana capeknya jagain anak,”
Rey memang sadari jika dia sering bertemu dengan putri kesayangannya saat anaknya sudah tertidur. Kadang dia juga menemui istrinya yang sudah terlelap. Hanya saja dia tidak bisa melakukan hal yang lebih. Itupun dilakukan juga demi anak dan juga istrinya. Membahagiakan Audri dan Marwa adalah tanggung jawabnya.
Rey tidak mau lagi jika masalah rumah tangg dicampuri lagi oleh kedua orang tua seperti dulu. Sekalipun dia adalah anak pertama yang ada di keluarganya. Atau bahkan sekalipun dia tidak bekerja, kekayaan papanya tidak akan pernah habis. Papanya yang pekerja keras menurun kepada dirinya.
Mimpi buruk kadang menghampirinya. Yaitu ketika dia sedang berusaha untuk menemani sang istri berjuang. Ada saja masalah yang menghadang mereka berdua. Jujur saja dia benci jika mengingat dirinya pernah berselingkuh dan hampir saja melakukan kebodohan. Lupa jika di rumah ada bidadari yang telah dikirimkan Tuhan untuknya.
“Ya udah kamu semangat kerja ya,” kata Alvin yang hendak pergi dari ruangan itu.
Reynand menghela napas panjang ketika temannya hendak pergi. Alvin memang lebih berpengalaman mengenai rumah tangga karena sudah dua kali menikah. Istri pertamanya meninggal karena melahirkan. Istri keduanya kali ini menjaga anaknya dengan baik. dia belajar tentang menerima dari Alvin yaitu ketika Alvin yang begitu menyesal juga pernah berselingkuh dulu. Orang bilang jika pubertas yang kedua adalah hal yang paling menyebalkan. Dia tidak bisa menghindari itu semua. Justru dia menjadi lebih bodoh lagi. “Kenapa cepat banget perginya?”
“Kan kamu sibuk kayaknya,”
Alvin mungkin menikah lebih awal dengannya. Kemudian baru menikah lagi beberapa bulan yang lalu semenjak salah satu teman baiknya keluar dari perusahaan ini dengan alasan ikut dengan istrinya tinggal di luar kota karena sang istri juga bertugas di luar. “Enggak sibuk kok,”
“Rey, aku boleh pinjam uang?”
Rey mengangkat kepalanya, “Buat?”
“Biaya rumah sakit, Ashira,”
Rey tahu anaknya Alvin yang masih berusia enam tahun. Alvin memang lebih tua darinya. Pria itu juga dulu pernah mengingatkannya mengenai perselingkuhan yang bakalan buat Reynand menyesal. Dan terjadi lagi seolah perkataan itu semuanya tak ada yang salah.
“Gagal jantung,” Alvin menundukkan kepalanya. “Sumpah nggak apa-apa kalau misalnya nanti kamu potong gaji atau apa pun juga, Ashira itu adalah harapan aku. Penyakit mamanya nurun ke dia dan itu yang bikin aku syok,”
“Sejak kapan?”
“Dua minggu yang lalu ketika Mama aku bawa dia ke rumah sakit. Ashira jatuh pingsan ketika main sama istri aku dan dia ngeluh sakit dada. Istri aku sayang banget sama dia, secara yang aku nikahin itu adalah adik Mamanya Ashira. Karena dia yang udah rawat Ashira dari kecil, entah kenapa aku juga punya perasaan sama dia. Ashira juga pasti nggak bisa bedain antara Mama dan juga tantenya dia. Karena aku juga nggak mau kasih tahu dia untuk saat ini,”
Rey teringat dengan adiknya yang waktu itu juga meninggal karena gagal jantung. “Berapa yang dia butuhin?”
Alvin menyebutkan jumlah biaya yang harus dibayarkan untuk Ashira. “Aku nggak tahu lagi mau bagaimana, mobil udah aku jual juga,”
“Kamu kerja pakai apa?”
“Naik motor, itupun udah syukur-syukur. Istri aku juga lagi berusaha buat cari biaya buat dia. Kamu tahu kan gagal jantung itu gimana? Sama kayak mamanya Ashira yang sampai meninggal saat maksain diri buat lahirin Ashira dengan normal. Di situ juga aku ngerasa manusia paling hina di dunia ini ketika aku udah bisa lihat anak aku yang aku tunggu, kenyataan pahit adalah istri aku harus pergi selamanya ninggalin aku. Tuhan itu kadang kejam banget ngasih pelajaran hidup. Tapi, akhirnya aku sadar kalau selama ini aku selalu sia-siain dia,”
Penyesalan itu menyedihkan. Terkadang seseorang ingin bisa mengembalikan semua waktu berharganya untuk mengulang semua yang pernah menjadi kesalahan. Sama halnya dengan Reynand, ingin melupakan apa yang pernah dia lakukan kepada istrinya dulu.
Kematian kadang menjadi suatu hal yang sangat menyedihkan. Papanya juga pernah merasakan hal yang begitu sakit ketika kehilangan Syakila dulu. Rey juga merasakan betapa perihnya kehilangan adik perempuannya yang lahir dari rahim yang berbeda. Tapi Tuhan mengambil Syakila ketika masih kecil. Dia ingat dengan baik satu-satunya anak yang pernah memanggilnya dengan panggilan kakak adalah Syakila. Rey juga ingat bagaimana Syakila meninggal ketika dipeluk oleh papanya.
Tiba-tiba air mata Rey terjatuh mengingat kejadian itu pernah membuatnya merasakan kehilangan juga. “Gagal jantung ya?” Rey menarik napasnya dalam-dalam. “Aku pernah kehilangan adik juga karena penyakit itu, waktu masih kecil. Yang aku ingat dari dia adalah, dia meninggal tepat waktu dia bilang pengin tidur dipelukan, Papa aku. Dan benar, ketika Papa meluk dia, dia meninggal,” cerita Rey sambil mengusap air matanya ketika teringat dengan adiknya yang meninggalkannya kala itu. rey juga sangat merindukan sosok adiknya yang itu. sekalipun lahir dari rahim yang berbeda. Tapi dari sana dia belajar bahwa kehidupan ini memang tidaklah abadi. Tidak memandang umur kapan Tuhan akan memanggil. Tidak peduli dengan luka yang akhirnay membuat orang menyesal. Seperti itulah perasaan yang pernah begitu pedih dirasakan oleh papanya.
Rey menganggukkan kepalanya lalu berdiri dari tempat duduknya dan langsung mendekati Alvin yang terlihat begitu berantakan karena anaknya yang sakit. “Tenang aja. Aku bantu kalau soal Ashira. Kerja yang tenang!” Rey mencoba memberi semangat kepada temannya karena dia tahu bahwa kehilangan merupakan hal yang paling pedih di dunia ini. Tidak mungkin juga Alvin kehilangan dua perempuan sekaligus. Dulunya kehilangan istri, kedua kehilangan anaknya.
Rey yang membayangkan betapa perihnya perpisahan itu. rey juga tidak ingin jika temannya kehilangan anak yang justru membuat hidupnya jauh lebih berantakan nanti sama halnya seperti papanya dulu.
“Ashira pasti sembuh. Jangan pikiran yang aneh-aneh!” terlihat juga dari mata pria itu yang sedikit sembab karena sepretinya menangisi Ashira semalam atau tadi pagi. “Balik kerja! Apa yang kamu lakukan di sana kerjakan dengan baik. Soal Ashira aku pasti bantuin, dia ada di rumah sakit mana?”
Alvin memberitahukan alamat dan juga nama rumah sakit itu. di sana adalah rumah sakit tempat Syakila dirawat dulu. “Iya, aku datang ke sana nanti,”
“Sebelumnya terima kasih banyak,”
“Sama-sama. Ya udah balik kerja dulu oke!” perintah Rey yang kemudian dituruti oleh temannya itu.
Rey tahu jika di sana adalah tempat adiknya di rawat dulu. Sakit adalah ketika dia tahu jika Ashira dirawat di tempat yang sama dengan Syakila dulu. Apa tidak ada rumah sakit lain lagi selain di sana? apalagi di sana juga ada mantan papa tirinya yang bekerja di sana.