RICH MAN

RICH MAN
CURHATAN



Mereka telah tiba di


Tokyo. Sebenarnya Teddy ingin berangkat beberapa hari setelah lukanya sembuh.


Tetapi nanti anaknya akan mendapat sedikit waktu bersama dengan Nagita. Dan


demi anaknya, ia harus pergi saat itu juga agar anaknya memiliki banyak waktu bersama


dengan Nagita. Lukanya pun sudah samar-samar meski belum sembuh sepenuhnya.


Benar saja dengan apa


yang dikhawatirkannya, Nagita langsung menyerangnya dengan pertanyaan yang


begitu banyak.  Namun selama perjalanan,


Teddy telah memberitahukan kepada Rey agar anak itu jangan memberitahu Nagita


kalau itu adalah bekas pukulan dari Azka. Anak itu pun menurut.


Mereka tiba malam hari


di sana. Teddy melihat Nagita cemberut langsung memeluk perempuan itu dari


belakang.


“Cie Mama, Papa main


peluk-peluk aja,”


“Mama lagi ngambek,


Rey,”


Anak itu langsung


mendekati Nagita. “Mama nggak boleh ngambek, kasihan Papa. Udah jemput Rey,


sekarang Mama malah ngambek,” Rey justu memeluk Nagita dari depan. “Mama, Rey


sudah buktikan kalau Rey itu bisa buat Mama bangga, sekarang waktunya Mama yang


harus Rey bangga sama Mama, dan buktikan kalau Papa itu juga bangga sama Mama.”


Teddy tertegun dengan


ucapan anaknya. Sesekali ia tersenyum saat mendengarkan Rey bercerita. Teddy


sepakat dengan apa yang diucapkan oleh anaknya. Ia yang masih memeluk Nagita


dan mendengar cerita-cerita kecil Rey. Bersamaan dengan itu, ia merasa


keluarganya sangat lengkap. Rey tumbuh menjadi anak yang sangat penurut dan


berusaha membuktikan bahwa anak itu benar-benar bisa menjadi kebanggaan mereka.


Ia kemudian melepaskan


pelukannya pada Nagita. Disusul oleh Rey, perlahan ia menggandeng tangan Nagita


agar duduk dan mendengarkan semua ceritanya mengenai prestasi Rey selama di


sekolah. Bercerita panjang lebar tentang Rey yang mendekati kata sempurna,


walau pikiran anak itu sedikit merasa cacat karena Azka. Teddy berusaha untuk


menyembunyikan itu semua agar Nagita tidak teringat lagi dengan pria yang


pernah menyakiti hati keduanya. Terlebih Rey, anak itu sangat takut terhadap


orang tuanya sendiri.


Jujur, sebenarnya Teddy


sangat miris dengan adanya tingkah laku yang seperti itu. Tindakan itu bukan


mencerminkan hal yang bagus jika dilihat oleh Rey. Anak itu bisa saja terluka


psikologisnya dan berlaku sama seperti yang dilakukan oleh Azka. Yaitu


seringkali melayangkan pukulan dan menyelesaikan suatu masalah dengan pukulan.


Tetapi perlahan Teddy berusaha mendidik dan mengajarkan Rey hal-hal baik. Meski


berstatus sebagai Papa tiri. Ia tidak ingin jika Rey hanya dijadikan sebagai


anak tiri, tetapi tidak di urus. Bagaimanapun juga, ia bertanggung jawab pada


anak itu.


Senyum semringah dari


raut wajah Nagita saat Rey juga ikut menceritakan tentang dirinya yang


mendapati juara satu dan keinginannya pergi menyaksikan festival kembang api.


Mengingat kejadian romantis yang pernah dialami oleh dirinya. Pernyataan cinta


di pinggir sungai Sumida waktu itu, sungguh seandainya waktu bisa terulang


lagi. Teddy ingin menyatakan cintanya terhadap Nagita. Namun ia sadar, bahwa


anaknya juga harus sekolah dan sangat sulit untuk mendapati waktu bersama lagi.


“Papa kenapa


senyum-senyum sendiri?”


Teddy sadar dengan


tingkahnya saat Rey menyapa. Ia kemudian semakin intens menatap Nagita yang ada


di depannya.


“Rey, ayo makan! Nanti


kita godain Mama lagi, oke!” ucapnya dengan perlahan. Anak itu mengangguk dan


langsung tersenyum.


*****


Nagita meninggalkan


keduanya berada di luar. Sedangkan dirinya harus belajar demi semester


berikutnya. Nagita sudah sejauh ini dan nilainya selalu saja meningkat. Ia


tidak ingin mengkhianati janjinya kepada Rey yang selalu menepatinya janjinya


dengan nilai-nilainya yang sangat bagus.


Terlebih semenjak Teddy


mengatakan akan mengambil cuti setiap kali Rey libur. Sebenarnya ia ingin


pulang, tetapi tidak mungkin baginya untuk pulang. Karena Teddy menginginkan


Rey tiap tahunnya liburan bersama mereka. Karena suaminya telah meluangkan


waktu yang begitu baik untuk mereka bertiga. Mereka seringkali bertengkar


perihal hal-hal kecil, semisal tentang telat bangun, pulang terlambat. Dan


Nagita yang seringkali memaksakan diri untuk belajar. Teddy sering berpesan


kepadanya agar tidak terlalu memaksakan diri. Sepanjang malam bahkan suaminya


menemaninya untuk belajar.


Tinggal sebentar lagi,


Nagita akan menyelesaikan semuanya. Setiap kali Rey berada di Jepang. Teddy


selalu mengajari anak itu untuk berbahasa Jepang, agar mudah berkomunikasi


nantinya. Nagita pun kadang mengajarkan anaknya jikalau Teddy tidak berada di


rumah.


Rasa syukurnya tidak


pernah berhenti semenjak dinikahi oleh Teddy. Pria itu sangat membantunya


banyak hal. Bahkan selalu mendukung segala cita-citanya. Nagita juga merasa


kalau suaminya itu sangat penyabar. Terkadang menyebalkan, meski begitu Nagita


sudah mampu dibuat bahagia oleh Teddy. Tidak seperti dulu yang harus memendam


perasaan setiap harinya hanya untuk meyakinkan Azka hanya untuk jatuh cinta.


Kita tidak pernah tahu


kepada siapa kita jatuh cinta. Tetapi Tuhan selalu memberikan cara untuk


bertemu dengan orang-orang yang mencintai seseorang dengan apa adanya. Kadang


jatuh cinta selalu menjadi alasan orang untuk bertahan, dan bosan adalah


pilihan terakhir kala cinta itu terkikis. Tapi tidak bagi Nagita, semakin hari,


Teddy selalu mengajarkan hal-hal positif kepadanya perihal bertahan. Teddy yang


mengajarkan dirinya percaya dengan pernikahan lagi. Dan pria itu pula yang


mengajarkan dirinya untuk tidak terlalu bergantung lagi kepada Dimas. Kini


waktunya membuktikan kepada Rey, bahwa semuanya akan baik-baik saja.


Teddy bahkan pernah


mengatakan bahwa mereka akan berkumpul suatu saat nanti.


Mereka pun telah pindah


ke rumah yang mereka sewa. Awalnya mereka hanya tinggal di sebuah apartemen


yang terbilang terlalu kecil. Namun kini Nagita diajak pindah ke tempat yang


lebih luas lagi. Bahkan ada tempat khusus untuk dirinya menyibukkan diri untuk


berkarya.


Nagita telah selesai


belajar, ia merebahkan dirinya di atas ranjang. Baru saja ia ingin memejamkan


mata, Teddy masuk ke dalam kamarnya.


“Rey mana?”


“Dia sudah tidur, aku


ajak tidur di kamar bareng. Dia nggak mau, aku tidurin dia di atas,”


“Hmm, sini sayang!”


Nagita merentangkan tangannya karena ingin dipeluk.


“Nagita, main kasar


yuk!”


“Main kasar gimana?”


“Setubuhi kamu, tapi


secara kasar,”


Nagita memicingnkan


matanya saat merasa ada yang berbeda dari suaminya kini.


“Ada syaratnya,”


“Apa?” Teddy mulai


menciumnya.


“Kunci pintu dong.


Nanti Rey masuk, kamu tuh ya,”


Nagita hanya mengiyakan


apa yang diminta oleh Teddy. Tidak seperti biasanya suaminya bertingkah seperti


itu. Nagita yakin bahwa ada yang disembunyikan oleh Teddy darinya. Baru saja ia


menyetujui hal itu, Teddy sudah menelanjanginya dan langsung menghujamnya dari


belakang.


Mata Nagita memekik


saat merasa tidak ada kenikmatan di sana. Yang ada hanyalah rasa sakit. bahkan


baru pertama kali Teddy bersikap kasar pada dirinya selama bercinta. Nagita


menahan air matanya agar tidak terjatuh walau sebenarnya ia merasakan sangat


sakit di organ intimnya.


“Nagita, ayo kamu di


atas!”


Nagita menurut,


perlahan rasa sakit itu berkurang saat dirinya yang memegang kendali. Teddy


meninggalkan begitu banyak jejak selama dirinya berada di atas. Nagita sesekali


melihat ke tubuhnya yang begitu banyak bercak merah.


“Nagita!” Teddy


lagi-lagi menghujamnya tanpa ampun. Nagita merasa berbeda kali ini, rasa sakit


yang ia alami pun kembali lagi. Saat Teddy mendapat pelepasan, Nagita langsung


memeluk suaminya yang memeluknya begitu saja. Keringat Nagita keluar begitu


banyak.


“Nagita, mau hamil


kan?”


“Eh, kenapa tiba-tiba


bilang begitu?”


“Nggak apa-apa. Cuman


pengin tahu aja, kamu mau hamil anak aku?”


Nagita mengangguk dan


memeluk Teddy. Ia tahu bahwa kali ini benar-benar ada sesuatu yang


disembunyikan oleh suaminya. barangkali besok ia bisa bertanya pada  Rey perihal itu, ia akan meminta Rey untuk


jujur sebenarnya apa yang terjadi kepada suaminya hingga membuat suaminya


begitu marah dan langsung menghujamnya begitu saja.


“Nagita, apa yang tadi


sakit?”


“Hmm, iya,”


“Maaf ya,”


“Nggak apa-apa. Ayo


tidur, besok aku kuliah. Kamu jagain, Rey!”


“Tapi kamu nggak


apa-apa sayang?”


“Nggak apa-apa, kok,”


“Nagita, boleh aku


lihat punya kamu,”


“Apanya?”


Perlahan Teddy bangun


dari tempat tidurnya. Nagita yang tadinya menyelimuti dirinya dengan selimut


tiba-tiba suaminya memintanya untuk membuka pahanya. Sebenarnya Nagita malu


karena di sana pasti lecet karena perbuatan Teddy barusan. Tetapi tak ingin menimbulkan


kekhawatiran, perlahan ia membuka pahanya dan suaminya meringis melihat hal


itu.


“Ayo ke kamar mandi,


bersihin dulu! Terus diobati ya,”


“Nggak ada obat,”


“Ada, obatnya sama kok


kayak obat luka aku,”


“Hmm, iya aku bersihin


dulu,”


Tanpa berpikir panjang.


Nagita langsung bangun dari tempat tidurnya. Tetapi suaminya langsung meraih


tubuhnya dan menggendongnya ke kamar mandi.


Nagita yang merasa


sangat malu membiarkan Teddy mengobati area organ intimnya yang lecet akibat


perbuatan suaminya.


“Kuliah besok jam


sepuluh, aku bisa istirahat kok, Kak,”


“Nagita, maaf ya,”


“Sudah berapa kali aku


dengar kamu minta maaf?”


“Aku menyesal,”


“Nggak apa-apa, ayo


tidur lagi, sayang. Tapi peluk ya!”


Nagita menunggu Teddy


yang izin ke kamar mandi tadi. Walau sebenarnya Nagita merasa sangat perih


dengan kejadian itu. Tetapi ia tidak mungkin membenci suaminya sendiri. Ia


tidka tahu permasalahan yang dialami oleh suaminya hingga berlaku kasar seperti


itu.


Nyaman, satu kata yang


akan selalu diucapkan oleh Nagita selama dipeluk oleh pria yang kini berstatus


sebagai suaminya. Perihal Teddy memintanya untuk hamil lagi, Nagita semakin


curiga dengan apa yang dikatakan oleh suaminya tadi.


*****


Pagi-pagi tadi setelah


mandi, suaminya izin untuk pergi mencari beberapa pakaian yang akan digunakan


untuk Rey. Suaminya sengaja tak mengajak Rey karena pria itu menginginkan Rey


tetap istirahat. Mungkin satu minggu berada di sana, dan justru Nagita belum


juga libur.


Anaknya belum bangun,


barangkali anak itu kelelahan.


Waktu untuk pergi ke


kampus tinggal dua jam lagi. Nagita menunggu Teddy pulang dan ia belajar lagi.


Benar bahwa obat yang digunakan semalam cukup membuatnya merasa lebih baik.


“Mama!”


Nagita menoleh saat


anaknya turun dari kamarnya. Anak itu sudah berpakaian rapi. Terakhir tadi ia


ke kamar dan masih menemukan Rey masih terlelap. Namun kali ini anak itu sudah


sangat rapi dan sudah mandi.


“Rey, sayang!”


“Mama, Papa mana? Rumah


kok sepi?”


“Papa lagi cariin baju


baru buat, Rey,”


“Kan Rey bawa baju


“Tahu kan Papa itu


sayang banget sama, Rey. Jadi jangan protes sayang,”


“Hmm, iya Ma. Nanti


Mama kuliah lagi?”


“Iya sayang. Nanti Rey


bakalan jalan-jalan sama Papa selama Mama kuliah. Ohya, ada yang mau Mama


tanyain,”


“Apa Ma?” Rey


memiringkan kepalanya dan terlihat sangat lucu.


“Papa kenapa? Apa ada


masalah sewaktu kalian berada di rumah Om Dimas?”


Rey nampak menunduk.


Nagita tahu bahwa ada sesuatu dan bahkan Rey takut menceritakan hal itu.


“Sayang, Mama nggak bakalan bilang ke Papa. Sebenarnya ada apa?”


“Rey benci Daddy. Dia


pukulin Papa,”


Benar dugaan Nagita.


Bahwa suaminya bersikap aneh karena kedatangan Azka lagi. Nagita menarik napas


panjang, hatinya terasa begitu nyeri jika mengingat hal itu.


“Terus?”


“Perut Papa juga sakit


waktu itu, Papa bilang jangan cerita ke Mama. Tapi Rey nggak tega lihat Papa


dipukulin. Waktu itu Om Dimas mau ambilin raport Rey, tapi karena Rey udah


pulang, Om Dimas ikut pulang. Dan di sana ketemu Daddy dan Papa lagi berantem,”


“Daddy juga dipukul


sama Papa?”


“Iya, tapi luka Papa


lebih banyak,”


“Om Dimas bilang apa?”


“Rey ngintip dari


jendela. Rey cuman dengar kalau Om Dimas larang Daddy ketemu sama Rey lagi. Rey


takut sama Daddy yang sering mukulin, pertama Mama. Sekarang Papa juga ikut


dipukulin,”


Nagita merengkuh tubuh


anaknya ke dalam pelukannya. Ia tahu bahwa dulu Rey pernah melihat dirinya yang


ditampar di ruang makan oleh Azka. Hingga kini anak itu masih mengingat


perlakuan Azka dan sangat membekas dalam ingatannya. Nagita sendiri merasa itu


sangatlah sakit mengingat anaknya hingga kini belum melupakan hal itu


“Papa nggak pernah


pukulin Mama kan?”


“Nggak pernah sayang,”


“Kapan Rey bisa tinggal


sama Mama dan Papa?”


“Sebentar lagi sayang.


Pasti kita bakalan berkumpul,”


“Mama nggak bakalan


sibuk kan?”


“Nggak sayang. Mama


bakalan jagain Rey,”


“Kalau Mama dan Papa


punya anak, jangan berhenti sayang sama Rey ya!” ia terkejut dengan pernyataan


anaknya. Namun ia berusaha untuk menjelaskan itu semua kepada Rey agar anaknya


tidak membencinya dan juga Teddy jika suatu waktu mereka memiliki anak lagi.


“Rey tahu nggak? Papa


itu sayang banget sama, Rey. Bahkan Papa udah tabungin biaya untuk pendidikan


Rey, Mama ingat waktu itu kalau Papa pernah bilang pengin jadiin Rey anak yang


bisa membantu orang banyak,”


“Rey pengin jadi kayak


Papa,”


“Kenapa?”


“Karena Papa itu baik.”


Nagita tersenyum. Ia


kembali memeluk anaknya.


*****


Semenjak Nagita


berpamitan tadi untuk kuliah. Teddy mengajak Rey untuk jalan-jalan sepanjang


hari. Ia akan mengajak anak itu jalan-jalan hingga malam hari. Mengingat bahwa


Nagita akan pulang sedikit larut.


“Rey mau jalan-jalan ke


mana setelah ini?” Teddy telah mengajak Rey berkeliling, dan mereka belum makan


hingga malam hari. Anak itu selalu menolak jika diajakuntuk makan.


“Rey pengin makan itu


Papa, makanan kesukaan Naruto, ramen Pa,”


Teddy menggeleng


melihat anaknya yang begitu lucu saat menginginkan ramen.


“Kenapa pengin makan


itu?”


“Karena enak banget


kayaknya, Pa,”


“Oke, ayo kita cari,


Rey!” anak itu antusias dan langsung dituruti oleh Teddy. Beberapa menit


perjalanan, ada sebuah kedai yang ia percaya di sana adalah menjual makanan


yang halal baginya. Di sana tidak sembarangan mencari makanan daging dan


sebagainya, karena dari bahan, tentu saja berbeda dari negara asalnya.


“Pa, ini boleh kan?”


“Boleh, tuh ada


tulisannya,” ucap Teddy. Ia pun langsung memesankan Rey makanan itu.


“Rey belum pernah makan


ini?”


“Udah, tapi Rey yakin


rasanya beda, Pa. Kan dibuatnya dari negara asli Jepang,”


“Hmm, tentu saja beda,”


“Ohya, Rey minta porsi


yang lebih besar ya, Pa. Rey lapar banget,”


Teddy langsung


mengangguk. Anaknya itu tidak tahu kalau porsi ramen yang sebenarnya sangatlah


besar di sana. Namun demi mengikuti kata hati anaknya, ia pun langsung menuruti


Rey dengan memesankan porsi jumbo.


Beberapa saat menunggu,


Teddy ingin tertawa melihat anaknya yang langsung menampilkan ekspresi cemberut


saat melihat porsi yang dipesannya tadi.


“Habisin! Tadi anak


Papa mintanya yang besar kan? Sekarang harus dihabiskan,”


“Papa, kenapa Papa


nggak bilang kalau yang kecil aja isinya banyak kayak punya, Papa. Tukeran yuk,


Pa!”


“Nggak bisa dong, tadi


kan siapa yang minta jumbo coba?”


“Oke, Rey habisin, Pa,”


anak itu langsung membaca doa dan makan dengan begitu antusias.


“Rey, pelan-pelan.


Nggak boleh buru-buru. Yang penting habis,”


Teddy melihat anaknya


yang sibuk makan, ia pun langsung mengambil gambar diam-diam dan mengirimkannya


kepada Dimas. “Makanan sama tubuh nggak sesuai.” Send.


Beberapa lama kemudian,


ada balasan dari Dimas.


“Jangan makan terlalu


banyak, nanti sakit perut.”


“Biarin aja, dia pengin


banget makan yang besar,”


“Itu anak benar-benar


ya. Lahap banget dia makannya,”


“Iya, dia itu minta


yang jumbo tadi. Katanya sering lihat di televisi,”


“Sekarang masih makan?”


“Masih. Dia nggak mau


berhenti,”


“Ya sudah lanjutin


makannya. Kamu juga, jagain mereka berdua ya!”


Teddy tak membalas


pesan singkat dari Dimas. Ia seringkali mengirimkan pesan tentang kegiatannya


bersama Rey selama berada di sana. Meski sering datang, anak itu selalu menolak


untuk makan ramen. Namun saat pertama minta, Teddy langsung mengajak anaknya.


“Rey, udah yuk. Jangan


habisin, nanti sakit perut,”


“Dikit lagi, Papa. Nih


udah mau habis,”


“Teddy langsung melihat


mangkuk dan benar saja anaknya menghabiskan ramen sebanyak itu, Teddy


menggeleng seolah tak percaya dengan apa yang dia lihat,”


“Ayo pulang! Mama pasti


udah pulang,”


“Pa, Rey kekenyangan,”


Teddy beranjak dari


tempat duduknya dan langsung membayar makanannya. Ia pun segera mengangkat


tubuh Rey yang tak kuat untuk berjalan lagi karena kekenyangan. Ia menggendong


anak itu dipunggungnya.


“Rey, lain kali nggak


boleh makan terlalu banyak ya! Kasihan perutnya, Rey,”


“Papa, terima kasih


ya!”


“Kenapa memangnya?”


“Rey suka jalan-jalan


sama Papa. Papa baik,”


“Rey harus jadi anak


Papa yang paling baik juga,”


“Papa, teman-teman Rey


selalu bilang kalau punya Papa tiri itu bakalan di pukul. Terus nggak di sayang


lagi,”


“Jangan dengerin


omongan mereka sayang. Papa sayang sama Rey kok, kalau nggak sayang, nggak


mungkin dong Papa jemput terus diajak liburan,”


“Iya, Rey nggak percaya


sama mereka. Rey lebih percaya sama Papa dan Mama, dan lagi nanti kalau Rey


punya adik, pengin banget Rey itu bisa di sayang sama Papa seperti


sekarang,"


”Rey, kalau memang Rey


punya adik nanti, Papa nggak bakalan cuek sama Rey, ingat kan Papa sayang sama


Mama juga harus sayang sama Rey, tujuan Papa nikah sama Mama juga karena Papa


sayang kalian berdua, bukan cuman Mama,”


“Pa, kapan pindah?”


“Sabar sayang. Papa


bakalan wujudkan semuanya. Harusnya kita itu pergi ke rumah baru, terus kita


berangkat ke sini, nanti pulang dari sini kita ke sana ya!”


“Memangnya Papa beli


rumah?”


“Jangan kasih tahu,


Mama! Ini kejutan untuk Mama. Papa cuman kasih tahu sama Rey aja, di sana ada


tempat untuk main basket juga,”


“Memangnya Papa bisa


main?”


“Mamanya Rey suka


karena dulu Papa jago main basket tahu,”


“Papa ganteng dong


dulu,”


“Hahaha, sampai


sekarang juga ganteng, Rey,”


“Papa sayang sama Mama?”


“Nanti kalau Rey


dewasa, pasti Rey ngerti semuanya sayang. Jadi sekarang kalau Rey tanya sayang,


terus Papa bakalan jawab sayang, Rey nggak bakalan ngerti jabarinnya kayak


gimana,”


“Oh, kalau gitu Papa


jangan buat Mama nangis kayak Daddy ya!”


Teddy terdiam. Ia semakin


mempererat Rey yang ada dipunggungnya. Anak itu benar kalau selama ini Nagita


tidak boleh merasakan luka seperti dulu lagi. Dengan sekuat hati, Teddy akan


berusaha untuk membahagiakan kedua orang tersebut.


Tiba di rumah, Rey


sudah tertidur dipunggungnya. Nagita pun sudah pulang dari kampusnya.


“Kalian jalan-jalan itu


nggak tanggung-tanggung ya. Selalu saja pulangnya malam,”


“Biarin, lagi cari


makan, huh,” ucapnya sambil menjulurkan lidahnya terhadap Nagita yang menyambutnya


dengan cemberut.


“Kamu sudah makan?”


“Sudah dong,”


“Ya sudah bangunin Rey.


Jangan biarin tidur karena kekenyangan, nggak baik. Bangunin terus suruh tunggu


beberapa menit, nggak baik tahu nggak,”


“Lah, kamu yang ajakin


makan. Aku yang diprotes, memangnya kalian makan apa sih?”


“Dia makan ramen, terus


porsinya yang gede,”


“Terus?”


“Habis, Nagita. Aku udah


larang dia, dia bilang nanggung, karena nggak mau rusak suasana, aku biarin. Ya


udah aku mandi dulu, bangunin dia ya!”


Teddy berusaha


menyembunyikan apa yang dikatakan oleh Rey tadi. Ia ingin membuktikannya secara


langsung ucapannya tadi pada Rey. Ia tak ingin lagi melihat ada air mata pada


perempuan yang ia sayangi itu.