
Cerita ini mengandung irisan bawang. Jadi harap jangan protes.
Dari
cerita ini, banyak tentang Azka yang menceritakan tentang rasa sakitnya
yang ia pendam sendiri. kata hati Azka yang tak pernah ia nampakkan
kepada Nagita.
Alexi Reynand, putra
dari Azka dan Nagita. Lima tahun sudah berlalu begitu cepat, hubungan
mereka masih berstatus suami istri karena Azka tidak pernah menyetujui
permintaan Nagita untuk bercerai. Ia juga tidak pernah membuat masalah
hingga tidak ada perkara yang bisa membuat Nagita menuntutnya.
Lima
tahun adalah waktu yang sangat lama ia jalani selama hidupnya tersiksa
oleh perasaannya sendiri. mengunjungi putra dan istrinya seminggu
sekali, bahkan ia kadang tidak mengunjungi karena tidak pernah sanggup
berpapasan langsung dengan Nagita. Ada rindu yang menyiksanya dalam hati
tapi tidak pernah ia ungkapkan.
Sikap Azka berubah menjadi dingin kembali karena tidak tahu harus bersikap bagaimana lagi jika berhadapan dengan Nagita.
Di
ruang kerjanya, pukul satu dini hari, Azka bergelut dengan
pekerjaannya. tinggal terpisah dari Nagita dan juga Reynand membuatnya
selalu merindukan putranya. Nagita tinggal di rumah pemberiannya,
sedangkan ia tinggal di rumah orang tuanya dan menjadi gila bekerja
untuk mengalihkan rasa sakit hatinya karena hingga saat ini perang
dingin itu tidak jua selesai.
Pada suatu hari aku telah lelah menjadi diriku sendiri, lupa dengan tanggung jawabku yang seharusnya mampu melindungi kebahagiaanku.
Justru aku yang menghancurkan mereka hingga saat ini. pada akhir-akhir
ini, aku menyiksa diriku sendiri dengan kesibukan yang tidak penting
hanya untuk mengalihkan rasa rinduku, apa cara ini adalah idemu untuk
menghancurkanku secara perlahan? Kamu ingin lepas, tetapi aku tidak
sanggup untuk menurutinya. Katamu, kamu ingin bebas, lantas aku tidak
bisa terus berada dalam situasi menyiksa diri seperti ini. telah
kuupayakan untuk bertahan, kamu tetap ingin meninggalkan.
Azka berdiri di balkon kamarnya sambil menyesapi rokoknya yang sudah habis entah berapa batang.
Aku
ingin berhenti dari pekerjaanku dan melanjutkan hidup denganmu.
Mempertahankanmu dengan caraku agar bisa kembali. Usahaku tidak pernah
kamu hargai lagi, saat seseorang memilih untuk menetap, kamu justru
memiliki berbagai cara agar perasaan itu lenyap. Aku manusia bodoh pada
umumnya, memiliki rasa sakit dan juga rasa cinta yang tidak pernah semua
orang tahu bahwa inginku untuk tetap denganmu.
Kriiing
Kriiing
“Ck, siapa yang menghubungiku tengah malam begini?”
Azka
mematikan rokoknya dan meraih ponselnya yang ada di atas meja kerjanya.
Sosok nama Nagita muncul begitu saja di layar ponselnya. dengan berat
hati ia menjawabnya karena tidak mungkin Nagita akan menghubunginya jika
tidak penting.
“Halo?” ucapnya dingin.
“Bisa datang kemari? Rey sakit, dia memanggil namamu dari tadi,”
Azka
menutup teleponnya begitu saja. benar, bahwa Nagita menghubunginya
untuk sesuatu hal yang sangat penting. Satu-satunya yang membuat mereka
menetap hingga hari ini adalah Rey, putra mereka berdua.
Ia meraih hoodie di dalam lemari dan langsung mengenakannya.
Azka keluar dari kamar, “Kamu mau ke mana tengah malam begini?”
“Rey sakit, Ma. Nagita telepon barusan, Mama ngapain di sini?”
“Mama cuman pengin lihat kamu udah tidur atau belum. Karena kamu sering banget nggak jaga kesehatan,”
“Aku pergi, Ma,”
“Azka, kamu hati-hati jangan ngebut!”
Bagaimana
cara mengembalikan hati seseorang yang sudah terlanjur kecewa? Bertemu
denganmu hanya akan membuatku dihujam oleh rindu, ingin sekali
memelukmu. Membawamu pada suatu kenyamanan, mendekapmu, dan membiarkanmu
merasakan apa yang hati ini rasakan.
Tuhan
menghukumku dengan cara seperti ini, bersama tetapi tak mampu untuk
saling memeluk, saling melukai itulah yang kita lakukan. Pura-pura untuk
baik-baik saja demi membahagiakan satu hati, yaitu buah hati.
Jangan
terus menghindar dari rasa sakit, semakin menghindar, semua akan terasa
lebih sulit. Menghadapi, dengan hati yang terasa sangat getir,
menatapmu aku sakit. Senyummu yang dulu padam begitu saja saat aku hadir
kembali.
Saat dengan orang lain, kamu
mampu tertawa begitu lepas. Namun denganku, senyum dan tawa itu hilang
seketika. Andai, andai kamu menyempatkan waktu sebentar saja denganku,
akan kuceritakan rasa sakitku yang terus saja menginginkanmu.
Bila
sudah bertahan tetapi tetap suara hati tak di dengar. Barangkali
berpisah adalah pilihan terbaik, karena meski bersama. tak pernah saling
menyapa, bersama, tak pernah saling melihat. Kita saling melewati satu
sama lain.
Jika alasanmu bertahan adalah
karena dia, maka alasanku bertahan adalah karenamu. kemudian, dia.
Adakah kesempatan untuk mengulang kembali? Aku rindu saat dulu hanya aku
yang menyaksikan senyum indah di bibirmu. Aku rindu saat hanya aku yang
mampu menatap bola matamu yang bergerak dan terpejam di depan mataku.
Aku rindu, terhadap tangan kecil yang selalu memelukku saat lelah.
Azka
masuk ke dalam rumahnya dan merasa miris saat melihat putra
kesayangannya terbaring lemah dengan handuk kecil yang menempel pada
dahi anaknya. Di sana, telah ada perempuan yang berusaha ia lupakan.
Tetapi semakin ingin melupakan, hatinya semakin sakit. Bertemu, tetapi
ia dilewati begitu saja. seolah tak ada.
Baru
saja ia tiba di sana, Nagita beranjak dari ranjang Reynand dan ingin
meninggalkannya. Namun tangan Azka menahan Nagita. “Sebentar saja, aku
mohon, demi Rey!”
Mau sampai kapan kamu terus
saja menghindar. Kita adalah manusia yang saling menyakiti tanpa ada
keinginan untuk memperbaiki. Kita adalah hati yang ingin selalu
terlihat kuat, tetapi tidak ada yang tahu bahwa kita hampir mati menahan
rasa sakit yang teramat sulit untuk dijelaskan.
“Aku pergi,”
“Nagita!”
Perempuan itu berhenti, “Sebentar saja, demi Rey!”
Nagita
berhenti dan kembali duduk di tepian ranjang, dengan mengenakan pakaian
tidurnya. Azka tetap melihat istrinya begitu menawan. Usia Nagita 24
tahun, semakin terlihat dewasa, usia mereka tertaut sepuluh tahun.
keinginan untuk menikah. Maka sekarang, keinginannya untuk bersama
adalah harapan yang sangat ingin ia gapai.
“Daddy!”
“Daddy di sini, Rey, maaf baru datang. Apanya yang sakit, hm?” Azka mengelus kepala Reynand yang masih terpejam.
”Rey pengin Daddy sama Mommy tidur di samping Re. selama ini Daddy selalu sibuk bekerja, jangan tinggalin Rey lagi Daddy, hiks,”
Ucapan
itu menyayat hati Azka, selama ini ia pura-pura sibuk bekerja hanya
untuk menghindari Nagita. Ia tidak sanggup menahan rasa rindunya kepada
istrinya. mengenai Rey, sungguh ia sangat menyayangi putranya kini. Lima
tahun berlalu dengan cara harus terlihat baik-baik saja di depan
Reynand, agar putranya tidak tahu perang dingin yang mereka jalani
sekarang.
“Nagita, demi Rey,”
Nagita terus menggeleng. “Rey, sudah ada Daddy, Mommy keluar ya, sayang?”
“Rey mau kalian berdua, nggak mau berdua sama Daddy,”
Azka
melihat Nagita pasrah dan langsung berbaring di ranjang Reynand, ia pun
mengikuti keinginan putranya untuk tetap berada di sana. Hati Azka
benar-benar harus dihujam dengan rasa sakit kerapkali bertemu dengan
Nagita dan juga Rey.
“Peluk Rey, Mom, Dad,”
Keduanya
bertatapan langsung saat Rey mengatakan hal itu. Azka menarik selimut
untuk menutupi tubuhnya. Ia pun langsung memeluk Rey tepat di atas
tangan Nagita. Perempuan itu hendak mengulurkan tangannya, tetapi Azka
menahannya. “Please, kali ini saja. demi Rey.”
Rasa
sakit apa yang kamu rasakan hingga hatimu membatu dan tidak pernah mau
menatap ke arahku? Apa tidak ada kesempatan untuk membahagiakanmu? Apa
hanya aku yang boleh merasakan rasa sakit ini sementara kamu menjadi
sutradara atas semua rasa sakit yang tercipta?
Apa
yang kamu rasakan saat aku berada di depanmu seperti ini? adakah
sedikit saja rasa perhatianmu, yang dulu telah hilang. Hilang bersama
ribuan rasa sakit. Bertahun sudah kita melewati semua ini dengan
kebohongan. Selama itu pula aku harus menjadi orang yang menerima anak
panah terus menghujani dadaku. Sesak, saat kamu menganggapku tak ada.
Azka
memeluk putranya, untuk pertama kalinya setelah Rey lahir mereka tidur
bertiga. Hingga usia Rey genap lima tahun, tidak pernah ada kata satu
pun yang terucap untuk kembali.
Azka tak ingin
terlalu banyak berbincang dengan Nagita, sebab perempuan itu selalu
teguh pada pendiriannya yaitu meminta untuk bercerai.
******
Keesokan
harinya, mereka bertiga masih tidur dalam keadaan memeluk Rey yang
masih terlelap. Semalam demam Rey sudah mulai turun. tetapi Azka memilih
menetap untuk menjaga putranya.
Pagi itu, Azka membuka matanya dengan pelan, mengerjapkan matanya berkali-kali ini terasa seperti mimpi baginya.
Menatap
wajah manis dan ketenangan dalam diri Nagita membuatnya merasakan rindu
itu lagi. selama lima tahun, Azka terus saja merasa rasa sakit yang ada
dalam dirinya yang tidak bisa meraih Nagita.
Menyadari Nagita yang mulai bergerak. Azka melepaskan pelukannya.
Azka bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah selesai, Azka turun dari kamar Rey dan bertemu dengan Nagita di ruang tamu.
“Jadi
kapan kamu akan penuhi permintaan aku? Bukankah semua persyaratan itu
sudah aku turuti, mulai dari tinggal di rumah ini, hingga membiarkanmu
bertemu dengan anak kita. Kapan kamu akan menuruti permintaanku Azka?”
Azka terdiam dan mengeratkan kepalan tangannya. Ia menatap lekat ke arah Nagita.
“Sekali
lagi kamu meminta untuk berpisah, aku akan turuti, Nagita!” ucapnya
dingin dan menatap perempuan itu dengan sangat ingin menyerang. Emosinya
sudah dibangunakn sepagi itu oleh Nagita.
Ia lantas bergegas pergi dari rumah itu.
*******
Tak
habis pikir sudah berapa lama Nagita menahan diri untuk tetap tinggal
bersama dengan Reynand, di rumah pemberian Azka. Syarat agar Azka mau
berpisah adalah mereka berdua harus tinggal di rumah itu. namun hingga
usia Rey lima tahun. Azka tak kunjung juga menjatuhkan talak kepada
Nagita.
Rey demam, terus saja memanggil nama
Azka. Mau tidak mau Nagita terpaksa menghubungi Azka karena itu adalah
hal yang harus ia lakukan agar anaknya bisa tidur.
Menatap
Azka yang baru saja datang dengan keadaan sendu. Akhir-akhir ini Nagita
menyadari bahwa sikap Azka kembali lagi seperti dulu, yaitu dingin.
Tanpa berperasaan.
Rey meminta mereka berdua
untuk tidur dan memeluk Rey. Walau sebenarnya ingin menolak. Tetapi
Nagita tidak bisa untuk menolak keinginan anaknya, mengingat bahwa Rey
sedang sakit.
Hingga suatu pagi, saat Azka turun dari kamar Rey.
“Jadi
kapan kamu akan penuhi permintaan aku? Bukankah semua persyaratan itu
sudah aku turuti, mulai dari tinggal di rumah ini, hingga membiarkanmu
bertemu dengan anak kita. Kapan kamu akan menuruti permintaanku Azka?”
Nagita
menatap mata Azka sangat lekat. Terlihat kemarahan di mata suaminya itu
dan tangan Azka terkepal begitu saja. Nagita juga menatap Azka
mengeratkan rahangnya.
“Sekali lagi kamu meminta untuk berpisah, aku akan turuti, Nagita!”
Nagita
membekap mulutnya ketika Azka berkata seperti itu. mungkin pertanyaan
itu sudah ia lontarkan ratusan kali, tetapi Azka tidak pernah
menginginkan untuk berpisah.
Ia paham bahwa
selama ini rasa sakitnya sebanding dan ingin berpisah dengan Azka.
Tetapi hingga kini Nagita tidak pernah menemukan ekspresi Azka yang
seperti tadi.
Nagita masih membeku di ruang tamu dan menatap punggung Azka yang sudah tenggelam keluar dari rumah mereka.
Apa
yang harus aku lakukan saat kita tidak bisa bersama? hatiku sudah
memilih untuk mengakhiri, tetapi menatapmu yang seperti ini membuatku
merasa layaknya perempuan bodoh yang tidak tahu bagaimana cara
mencintai. Tidak tahu apakah ini adalah cinta dan benci. Aku benci harus
mengakui bahwa aku mencintai sekaligus membencimu.