RICH MAN

RICH MAN
Episode 28



Cerita ini mengandung irisan bawang. Jadi harap jangan protes.


Dari


cerita ini, banyak tentang Azka yang menceritakan tentang rasa sakitnya


yang ia pendam sendiri. kata hati Azka yang tak pernah ia nampakkan


kepada Nagita.


Alexi Reynand, putra


dari Azka dan Nagita. Lima tahun sudah berlalu begitu cepat, hubungan


mereka masih berstatus suami istri karena Azka tidak pernah menyetujui


permintaan Nagita untuk bercerai. Ia juga tidak pernah membuat masalah


hingga tidak ada perkara yang bisa membuat Nagita menuntutnya.


Lima


tahun adalah waktu yang sangat lama ia jalani selama hidupnya tersiksa


oleh perasaannya sendiri. mengunjungi putra dan istrinya seminggu


sekali, bahkan ia kadang tidak mengunjungi karena tidak pernah sanggup


berpapasan langsung dengan Nagita. Ada rindu yang menyiksanya dalam hati


tapi tidak pernah ia ungkapkan.


Sikap Azka berubah menjadi dingin kembali karena tidak tahu harus bersikap bagaimana lagi jika berhadapan dengan Nagita.


Di


ruang kerjanya, pukul satu dini hari, Azka bergelut dengan


pekerjaannya. tinggal terpisah dari Nagita dan juga Reynand membuatnya


selalu merindukan putranya. Nagita tinggal di rumah pemberiannya,


sedangkan ia tinggal di rumah orang tuanya dan menjadi gila bekerja


untuk mengalihkan rasa sakit hatinya karena hingga saat ini perang


dingin itu tidak jua selesai.


Pada suatu hari aku telah lelah menjadi diriku sendiri, lupa dengan tanggung jawabku yang seharusnya mampu melindungi kebahagiaanku.


Justru aku yang menghancurkan mereka hingga saat ini. pada akhir-akhir


ini, aku menyiksa diriku sendiri dengan kesibukan yang tidak penting


hanya untuk mengalihkan rasa rinduku, apa cara ini adalah idemu untuk


menghancurkanku secara perlahan? Kamu ingin lepas, tetapi aku tidak


sanggup untuk menurutinya. Katamu, kamu ingin bebas, lantas aku tidak


bisa terus berada dalam situasi menyiksa diri seperti ini. telah


kuupayakan untuk bertahan, kamu tetap ingin meninggalkan.


Azka berdiri di balkon kamarnya sambil menyesapi rokoknya yang sudah habis entah berapa batang.


Aku


ingin berhenti dari pekerjaanku dan melanjutkan hidup denganmu.


Mempertahankanmu dengan caraku agar bisa kembali. Usahaku tidak pernah


kamu hargai lagi, saat seseorang memilih untuk menetap, kamu justru


memiliki berbagai cara agar perasaan itu lenyap. Aku manusia bodoh pada


umumnya, memiliki rasa sakit dan juga rasa cinta yang tidak pernah semua


orang tahu bahwa inginku untuk tetap denganmu.


Kriiing


Kriiing


“Ck, siapa yang menghubungiku tengah malam begini?”


Azka


mematikan rokoknya dan meraih ponselnya yang ada di atas meja kerjanya.


Sosok nama Nagita muncul begitu saja di layar ponselnya. dengan berat


hati ia menjawabnya karena tidak mungkin Nagita akan menghubunginya jika


tidak penting.


“Halo?” ucapnya dingin.


“Bisa datang kemari? Rey sakit, dia memanggil namamu dari tadi,”


Azka


menutup teleponnya begitu saja. benar, bahwa Nagita menghubunginya


untuk sesuatu hal yang sangat penting. Satu-satunya yang membuat mereka


menetap hingga hari ini adalah Rey, putra mereka berdua.


Ia meraih hoodie di dalam lemari dan langsung mengenakannya.


Azka keluar dari kamar, “Kamu mau ke mana tengah malam begini?”


“Rey sakit, Ma. Nagita telepon barusan, Mama ngapain di sini?”


“Mama cuman pengin lihat kamu udah tidur atau belum. Karena kamu sering banget nggak jaga kesehatan,”


“Aku pergi, Ma,”


“Azka, kamu hati-hati jangan ngebut!”


Bagaimana


cara mengembalikan hati seseorang yang sudah terlanjur kecewa? Bertemu


denganmu hanya akan membuatku dihujam oleh rindu, ingin sekali


memelukmu. Membawamu pada suatu kenyamanan, mendekapmu, dan membiarkanmu


merasakan apa yang hati ini rasakan.


Tuhan


menghukumku dengan cara seperti ini, bersama tetapi tak mampu untuk


saling memeluk, saling melukai itulah yang kita lakukan. Pura-pura untuk


baik-baik saja demi membahagiakan satu hati, yaitu buah hati.


Jangan


terus menghindar dari rasa sakit, semakin menghindar, semua akan terasa


lebih sulit. Menghadapi, dengan hati yang terasa sangat getir,


menatapmu aku sakit. Senyummu yang dulu padam begitu saja saat aku hadir


kembali.


Saat dengan orang lain, kamu


mampu tertawa begitu lepas. Namun denganku, senyum dan tawa itu hilang


seketika. Andai, andai kamu menyempatkan waktu sebentar saja denganku,


akan kuceritakan rasa sakitku yang terus saja menginginkanmu.


Bila


sudah bertahan tetapi tetap suara hati tak di dengar. Barangkali


berpisah adalah pilihan terbaik, karena meski bersama. tak pernah saling


menyapa, bersama, tak pernah saling melihat. Kita saling melewati satu


sama lain.


Jika alasanmu bertahan adalah


karena dia, maka alasanku bertahan adalah karenamu. kemudian, dia.


Adakah kesempatan untuk mengulang kembali? Aku rindu saat dulu hanya aku


yang menyaksikan senyum indah di bibirmu. Aku rindu saat hanya aku yang


mampu menatap bola matamu yang bergerak dan terpejam di depan mataku.


Aku rindu, terhadap tangan kecil yang selalu memelukku saat lelah.


Azka


masuk ke dalam rumahnya dan merasa miris saat melihat putra


kesayangannya terbaring lemah dengan handuk kecil yang menempel pada


dahi anaknya. Di sana, telah ada perempuan yang berusaha ia lupakan.


Tetapi semakin ingin melupakan, hatinya semakin sakit. Bertemu, tetapi


ia dilewati begitu saja. seolah tak ada.


Baru


saja ia tiba di sana, Nagita beranjak dari ranjang Reynand dan ingin


meninggalkannya. Namun tangan Azka menahan Nagita. “Sebentar saja, aku


mohon, demi Rey!”


Mau sampai kapan kamu terus


saja menghindar. Kita adalah manusia yang saling menyakiti tanpa ada


keinginan untuk memperbaiki. Kita adalah hati yang ingin selalu


terlihat kuat, tetapi tidak ada yang tahu bahwa kita hampir mati menahan


rasa sakit yang teramat sulit untuk dijelaskan.


“Aku pergi,”


“Nagita!”


Perempuan itu berhenti, “Sebentar saja, demi Rey!”


Nagita


berhenti dan kembali duduk di tepian ranjang, dengan mengenakan pakaian


tidurnya. Azka tetap melihat istrinya begitu menawan. Usia Nagita 24


tahun, semakin terlihat dewasa, usia mereka tertaut sepuluh tahun.


keinginan untuk menikah. Maka sekarang, keinginannya untuk bersama


adalah harapan yang sangat ingin ia gapai.


“Daddy!”


“Daddy di sini, Rey, maaf baru datang. Apanya yang sakit, hm?” Azka mengelus kepala Reynand yang masih terpejam.


”Rey pengin Daddy sama Mommy tidur di samping Re. selama ini Daddy selalu sibuk bekerja, jangan tinggalin Rey lagi Daddy, hiks,”


Ucapan


itu menyayat hati Azka, selama ini ia pura-pura sibuk bekerja hanya


untuk menghindari Nagita. Ia tidak sanggup menahan rasa rindunya kepada


istrinya. mengenai Rey, sungguh ia sangat menyayangi putranya kini. Lima


tahun berlalu dengan cara harus terlihat baik-baik saja di depan


Reynand, agar putranya tidak tahu perang dingin yang mereka jalani


sekarang.


“Nagita, demi Rey,”


Nagita terus menggeleng. “Rey, sudah ada Daddy, Mommy keluar ya, sayang?”


“Rey mau kalian berdua, nggak mau berdua sama Daddy,”


Azka


melihat Nagita pasrah dan langsung berbaring di ranjang Reynand, ia pun


mengikuti keinginan putranya untuk tetap berada di sana. Hati Azka


benar-benar harus dihujam dengan rasa sakit kerapkali bertemu dengan


Nagita dan juga Rey.


“Peluk Rey, Mom, Dad,”


Keduanya


bertatapan langsung saat Rey mengatakan hal itu. Azka menarik selimut


untuk menutupi tubuhnya. Ia pun langsung memeluk Rey tepat di atas


tangan Nagita. Perempuan itu hendak mengulurkan tangannya, tetapi Azka


menahannya. “Please, kali ini saja. demi Rey.”


Rasa


sakit apa yang kamu rasakan hingga hatimu membatu dan tidak pernah mau


menatap ke arahku? Apa tidak ada kesempatan untuk membahagiakanmu? Apa


hanya aku yang boleh merasakan rasa sakit ini sementara kamu menjadi


sutradara atas semua rasa sakit yang tercipta?


Apa


yang kamu rasakan saat aku berada di depanmu seperti ini? adakah


sedikit saja rasa perhatianmu, yang dulu telah hilang. Hilang bersama


ribuan rasa sakit. Bertahun sudah kita melewati semua ini dengan


kebohongan. Selama itu pula aku harus menjadi orang yang menerima anak


panah terus menghujani dadaku. Sesak, saat kamu menganggapku tak ada.


Azka


memeluk putranya, untuk pertama kalinya setelah Rey lahir mereka tidur


bertiga. Hingga usia Rey genap lima tahun, tidak pernah ada kata satu


pun yang terucap untuk kembali.


Azka tak ingin


terlalu banyak berbincang dengan Nagita, sebab perempuan itu selalu


teguh pada pendiriannya yaitu meminta untuk bercerai.


******


Keesokan


harinya, mereka bertiga masih tidur dalam keadaan memeluk Rey yang


masih terlelap. Semalam demam Rey sudah mulai turun. tetapi Azka memilih


menetap untuk menjaga putranya.


Pagi itu, Azka membuka matanya dengan pelan, mengerjapkan matanya berkali-kali ini terasa seperti mimpi baginya.


Menatap


wajah manis dan ketenangan dalam diri Nagita membuatnya merasakan rindu


itu lagi. selama lima tahun, Azka terus saja merasa rasa sakit yang ada


dalam dirinya yang tidak bisa meraih Nagita.


Menyadari Nagita yang mulai bergerak. Azka melepaskan pelukannya.


Azka bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Setelah selesai, Azka turun dari kamar Rey dan bertemu dengan Nagita di ruang tamu.


“Jadi


kapan kamu akan penuhi permintaan aku? Bukankah semua persyaratan itu


sudah aku turuti, mulai dari tinggal di rumah ini, hingga membiarkanmu


bertemu dengan anak kita. Kapan kamu akan menuruti permintaanku Azka?”


Azka terdiam dan mengeratkan kepalan tangannya. Ia menatap lekat ke arah Nagita.


“Sekali


lagi kamu meminta untuk berpisah, aku akan turuti, Nagita!” ucapnya


dingin dan menatap perempuan itu dengan sangat ingin menyerang. Emosinya


sudah dibangunakn sepagi itu oleh Nagita.


Ia lantas bergegas pergi dari rumah itu.


*******


Tak


habis pikir sudah berapa lama Nagita menahan diri untuk tetap tinggal


bersama dengan Reynand, di rumah pemberian Azka. Syarat agar Azka mau


berpisah adalah mereka berdua harus tinggal di rumah itu. namun hingga


usia Rey lima tahun. Azka tak kunjung juga menjatuhkan talak kepada


Nagita.


Rey demam, terus saja memanggil nama


Azka. Mau tidak mau Nagita terpaksa menghubungi Azka karena itu adalah


hal yang harus ia lakukan agar anaknya bisa tidur.


Menatap


Azka yang baru saja datang dengan keadaan sendu. Akhir-akhir ini Nagita


menyadari bahwa sikap Azka kembali lagi seperti dulu, yaitu dingin.


Tanpa berperasaan.


Rey meminta mereka berdua


untuk tidur dan memeluk Rey. Walau sebenarnya ingin menolak. Tetapi


Nagita tidak bisa untuk menolak keinginan anaknya, mengingat bahwa Rey


sedang sakit.


Hingga suatu pagi, saat Azka turun dari kamar Rey.


“Jadi


kapan kamu akan penuhi permintaan aku? Bukankah semua persyaratan itu


sudah aku turuti, mulai dari tinggal di rumah ini, hingga membiarkanmu


bertemu dengan anak kita. Kapan kamu akan menuruti permintaanku Azka?”


Nagita


menatap mata Azka sangat lekat. Terlihat kemarahan di mata suaminya itu


dan tangan Azka terkepal begitu saja. Nagita juga menatap Azka


mengeratkan rahangnya.


“Sekali lagi kamu meminta untuk berpisah, aku akan turuti, Nagita!”


Nagita


membekap mulutnya ketika Azka berkata seperti itu. mungkin pertanyaan


itu sudah ia lontarkan ratusan kali, tetapi Azka tidak pernah


menginginkan untuk berpisah.


Ia paham bahwa


selama ini rasa sakitnya sebanding dan ingin berpisah dengan Azka.


Tetapi hingga kini Nagita tidak pernah menemukan ekspresi Azka yang


seperti tadi.


Nagita masih membeku di ruang tamu dan menatap punggung Azka yang sudah tenggelam keluar dari rumah mereka.


Apa


yang harus aku lakukan saat kita tidak bisa bersama? hatiku sudah


memilih untuk mengakhiri, tetapi menatapmu yang seperti ini membuatku


merasa layaknya perempuan bodoh yang tidak tahu bagaimana cara


mencintai. Tidak tahu apakah ini adalah cinta dan benci. Aku benci harus


mengakui bahwa aku mencintai sekaligus membencimu.