
Ketika makan malam tiba, Azka dan juga Nagita melihat raut wajah Rey yang berantakan dan sepertinya sudah menangis. Bahkan tadi siang keduanya tidak turun untuk makan siang. Beberapa kali Nagita memanggil mereka berdua mengatakan bahwa mereka tidak lapar.
Suasana canggung itu membuat Azka bertanya melalui tatapannya kepada Nagita. Akan tetapi justru dia hanya menggeleng pelan dan tetap menyantap makannya. Mereka berdua tidak mau ikut campur untuk urusan itu. Biarlah rumah tangga Rey dan Marwa menjadi urusan keduanya bukan urusan orang tua.
“Rey sama Marwa mau nambah?” Nagita berusaha mencairkan suasana. Keduanya menggeleng bersamaan tanpa berucap kata apa pun.
Seusai makan malam keduanya langsung masuk ke dalam kamar tidak ikut berkumpul bersama dengan Nagita dan Azka diruang tamu. “Ma, kakak kenapa?” tanya Salsabila yang sepertinya juga tadi menyaksikan reaksi keduanya yang tidak seperti biasanya.
“Adik lihat?”
Salsabila mengangguk, “Kak Rey sama Kak Marwa pasti berantem kan, Ma? Makanya mereka berdua itu diam dari tadi. Kak Rey juga sepertinya nangis,” ucap Salsabila dan tidak bisa disalahkan oleh Nagita karena anak itu melihat dengan jelas Rey dan juga istrinya yang sepertinya memang terjadi masalah di antara keduanya. Baik Azka maupun Nagita hanya bisa bersabar dengan semua ini.
“Papa lihat Rey tadi?”
“Makanya kan Papa tanya sama Mama, mereka itu kenapa. Mama yang di rumah. Ya pastinya Mama tahu,” ucap Azka yang kemudian dijawab dengan gelengan pelan oleh Nagita.
“Mama nggak tahu, Pa. tadi siang mereka nggak keluar dari kamar karena katanya mereka nggak lapar. Jadi mama nggak mau maksa keduanya untuk makan siang,”
“Mama nggak dengar ada ribut-ribut tadi?”
“Papa kayak nggak tahu mereka aja. Mereka berantem mana pernah saling teriakin saling salahin kayak kita,”
Azka merasa dirinya tersindir karena jika bertengkar semua orang mendengarkan keduanya bertengkar hebat. Terlebih ketika dulu dia tinggal bersama dengan orang tuanya. Hampir setiap hari mamanya selalu mengingatkan agar dia mengalah sedikit saja kepada Nagita. Dan kini, benar apa yang dikatakan oleh mamanya bahwa tidak ada salahnya mengalah saat Nagita sibuk mengurus anak-anaknya dan tentu saja lebih lelah dibandingkan dengan dirinya yang hanya mencari uang. Karena dia sadar bahwa mengurus anak jauh lebih sulit dan melelahkan dibandingkan dengan bekerja sepanjang hari di kantornya.
“Mama nyindir Papa?”
Nagita meliriknya sejenak. “Nggak ada yang nyindir, Papa,”
“Iya Papa tuh kalau marah rumah kayak mau meledak rasanya. Suara Papa tuh besar banget kalau marah,” celetuk Nabila yang membuatnya melotot ke anaknya yang tengah menonton acara televisi.
“Anak kecil tuh diam! Jangan nimpal melulu ke pembicaraan orang tua,”
“Papa tuh yang diam!” bentak Nabila.
“Sayang kok ngomong gitu? Nggak boleh bentak Papa sayang!” ucap Nagita yang menengahi pembicaraan keduanya. Padahal niat Azka agar Nabila tidak ikut campur ke urusan orang dewasa justru ditimpali dengan seperti itu oleh Nabila.
“Iya tuh kakak sering banget ngebentak sekarang,” protes Salsabila yang duduk ditengah-tengah Azka dan Nagita.
“Siapa yang ngajarin?”
“Karena sering dengar Papa ngomong keras,” celetuk Salsabila saat Nagita menanyakan mengapa anaknya berani berbicara seperti itu.
“Tuh, Pa. jadi nggak boleh kalau anaknya sampai dengar kita berantem. Buktinya anaknya yang satu itu nggak bisa dibilangin jadinya kan. Malah ikut bentak orang tua,” ucap Nagita.
Anak itu bangun dan langsung mengulurkan tangannya. “Minta uang?”
Anaknya justru cemberut, “Ih Papa, Nabila kan mau minta maaf, bukan minta uang. Tapi kalau dikasih sih nggak apa-apa,” ucap Nabila sambil menyeringai dan Azka langsung mengulurkan tangannya dan dicium oleh Nabila. Saat itu dia menarik Nabila dan menggelitiki anaknya hingga Nabila tertawa.
“Matrenya Mama nular ke anaknya,” Nagita yang mendengar itu langsung mencubit pinggang suaminya.
“Ampun, Ma,” pekik Azka saat Nagita mencubitnya dan langsung ditarik oleh Azka kemudian memeluk ketiga perempuan itu. “Kalau ada apa-apa yang buat kalian sedih dan sebagainya, harus bilang sama Papa. Nggak boleh ditahan sendirian,” ucap Azka memberitahu anak dan istrinya agar kedua putrinya terlatih untuk terbuka. Tidak seperti kakaknya yang memilih diam ketika ada masalah. Hanya saja ketika tidak bisa menyelesaikan itu semua, Rey akan datang kepadanya dalam suatu waktu.
“Kita kan selalu ngomong kalau ada apa-apa,” ucap Nabila dan dia langsung mengecup puncak kepala putrinya itu. “Pa, besok bisa libur nggak? Soalnya kita bagi raport, dan harus orang tua yang ngambil,”
Azka jadi teringat dulu ketika Rey masih kecil dan meminta agar dia yang datang mengambil raport ke sekolah. Tetapi dirinya yang selalu sibuk bekerja harus mengingkari janjinya dan tidak bisa sekadar mengambil raport anaknya. Padahal dulu Rey sangat berharap akan hal itu. Kemudian kali ini dia tidak akan lagi menyia-nyiakan anaknya dan menuruti apa yang dikatakan oleh anak-anaknya.
“Besok Papa nggak kerja demi kalian,” ucapnya dan memeluk si kembar.
Nagita langsung menatapnya dan tersenyum, “Beneran mau ke sekolah mereka?”
Azka menganggukkan kepalanya dan tersenyum, “Tentu saja. Kalau Mama nggak percaya besok matikan saja ponsel Papa atau Mama yang pegang, biar Papa nggak ke kantor,” jawabnya dengan polos. Tentu saja Azka ingin menghabiskan waktu seharian bersama dengan anak-anaknya besok. Dia berusaha agar masa lalu itu tidak terulang lagi.
“Besok pulang sekolah kita makan-makan, Pa,” ajak Nabila.
“Oke, besok kita makan sepuasnya,”
Nabila berbalik dan menciumnya. “Makasih, Papa,”
Azka mengerjapkan matanya pelan. “Sama-sama, Papa pasti bakalan usahakan untuk kalian berdua,”
Dia tahu bagaimana rasanya jika kedua anaknya dijanjikan. Pasti kekecewaan seperti yang Rey rasakan dulu akan terulang lagi. Dia tidak mau jika kejadian itu terulang pada Nabila dan adiknya. Tentu Azka ingin sekali meluangkan waktu bersama kedua putrinya itu.
“Besok jam berapa pembagian rapotnya?”
“Jam Sembilan, Pa,”
“Berarti besok kalian harus berangkat sama Mama dan Papa. Besok Mama juga ikut,” ucap Nagita sambil mengelus kepala keduanya. Nagita tahu bahwa kali ini Azka serius dengan kedua anaknya dan benar-benar akan pergi ke sekolah anaknya mengingat bahwa dulu Rey ketika kecil sangat ingin jika papanya yang datang ke sekolah. Apalagi dulu Rey belajar dengan giat hingga mendapatkan juara terus menerus. Bahkan Dimas sampai bosan mendengar janji Azka dan tidak mau lagi mendengar suami Nagita itu mengungkapkan janji kepada Rey lagi.