
Di dalam kamar dengan pencahayaan seadanya, Bintang duduk meringkuk dibalkon kamarnya sambil memeluk lututnya. Sudah peduli lagi dengan kesehatannya dan angin malam yang menerka tubuhnya. Bulan tak menampakkan sinarnya, menatap langit yang gelap bahkan tak menemukan satu bintang pun berkelap-kelip di atas sana. Sama halnya dengan suasana hati gadis kecil yang tengah duduk berusaha menguatkan diri sendiri.
Berusaha memejamkan mata dan berharap bahwa yang dirasakan itu adalah mimpi, namun semua sia-sia saja, dari segala perih yang terasa, air mata yang menetes. Bahkan dengan kenangan yang terus mengulang seperti kaset yang diputar ulang dalam otaknya, perlahan itu menciptakan air mata yang tak bisa dihentikan lagi.
Air mata yang terus saja berlinang setiap kali mengingat kejadian di mana dia tidak menyangka dengan kebahagiaannya dihancurkan oleh orang lain dan kini tinggal kenangan, kemudian luka itu mengalir keseluruh tubuhnya menciptakan luka baru, terutama pada hati.
"Mama, Bintang kangen,"
Tetetesan air mata pun seolah sudah tidak ada artinya. Teriakan berulang kali untuk menahan seseorang untuk tidak pergi itu sudah tidak berarti lagi, yang tersisa adalah rasa sakit ketika bertahan dan mencoba menerima kenyataan dengan perasaan yang kacau.
"Dia belum makan dari pagi, Bi?" terdengar suara pria di luar sana menanyakan kabarnya. Bintang tidak pernah mau makan selama dua hari, dirinya tidak bernafsu sama sekali. Ia hanya rindu dengan keutuhan keluarganya yang di mana saat papanya pulang bekerja, mereka akan makan bersama di ruang makan dengan hidangan yang sudah disiapkan oleh mamanya.
"Bintang, ayo keluar! Makan dulu sayan! Bintang enggak suka makanan rumah, ayo kita beli di luar!" Suara itu sangat dibenci oleh Bintang, mengapa kebahagiaannya direnggut dengan cara yang begitu menyakitkan? Ia menumpukkan kepalanya di lututnya sambil menangis, tidak ada lagi orang yang bisa ia bagi rasa sakit itu sekarang. Mamanya entah pergi ke mana, ponselnya telah dihancurkan oleh papanya kala dia sedang melawan malam itu.
Mengurung diri di kamar adalah salah satu cara agar dia tidak bertemu dengan pria yang sangat dibencinya, gadis berusia belum genap 17 tahun harus dipaksa untuk menerima kenyataan di mana dia tidak harus menerima luka akibat perceraian orang tua. Usia di mana yang harusnya diresahkan oleh orang tuanya karena sedikit saja dihasut, maka dia akan mudah sekali teracuni oleh pergaulan yang salah.
Bintang bersandar di balkon sambil terus menangis, sengaja lampu kamarnya tak ia nyalakan agar orang-orang rumahnya tak perlu bersusah payah untuk mengkhawatirkannya lagi. Jika diberikan pilihan antara hidup dan mati, Bintang sudah sangat ingin mengakhiri hidupnya, tetapi ia tak ingin mebuat mamanya bersedih dengan kebodohannya.
"Dobrak pintuya!"
Bintang mendengar ucapan papanya, beberapa detik berikutnya dia menoleh ke arah pintu dan menemukan beberapa orang yang sudah berhasil mendobrak pintu kamarnya. Papanya datang dengan membawa makanan, Bintang yang sudah dalam keadaan kacau, baju tidur yang dipakainya sudah menempel semenjak dirinya memilih untuk mengurung diri.
Semua orang meninggalkan dan membiarkan mereka berdua di kamar itu. "Bintang, makan dulu ya!"
Bintang tetap menggeleng, mengingat bagaimana kasar perlakuan papanya yang memukulnya waktu itu, dan memaksanya pisah dengan mamanya, kejadian itu masih belum bisa dimaafkan oleh dirinya. Ingatan demi ingatan itu kembali lagi, matanya sudah sangat sembab dan suaranya hampir tak bisa keluar lagi.
"Makan, terus kita cari, Mama,"
Mendengar kata itu, Bintang menoleh dan melihat ke arah papanya yang sedang menyalakan lampu kamar itu, "Papa janji, setelah ini kita cari Mama, tapi tolong makan walaupun cuman sekali, dari kemarin kamu selalu saja nolak, tadi pagi juga sampai sekarang kamu enggak makan, apa kamu enggak mikirin gimana khawatiranya Papa karena perbuatan kamu?"
Papanya pun menggendong Bintang ke atas ranjang dan mendudukkan gadis itu di sana.
"Makan dulu, Papa janji kali ini enggak bakalan bohong sama anak, Papa. Bintang itu anak satu-satunya yang Papa miliki, Papa enggak mau kalau Bintang sakit, maaf atas kelakuan Papa yang waktu itu sampai mukul kamu,"
"Iya, asal kamu mau makan dulu, jangan pernah berpikir kalau Papa enggak sayang, Papa itu sayang sama Bintang. Makanya Papa itu mau ngajakin Bintang ketemu, jangan mikir yang macam-macam lagi, sayang!"
Makanan itu pun tandas, perlahan papanya pun menyisiri rambut Bintang dengan pelan, di depan meja riasnya, Bintang dapat melihat dengan jelas wajah kacau dan juga rambutnya yang berantakan. "Dulu Mama selalu lakuin ini waktu kamu kecil, dia selalu sisir rambut kamu, sekarang giliran Papa. Dulu Papa selalu saja sibuk dan enggak ada waktu cuman untuk sisirin kamu, kan? Maka biarin kali ini Papa yang lakuin ini sama anak Papa,"
Bintang mengangguk, di usia yang di mana ia bisa menghabiskan waktunya hanya untuk memikirkan masa depan kini hancur seketika, "Besok pagi harus mandi, sayang! Besok Papa juga yang bakalan antarin kamu sekolah,"
"Aku butuh waktu sendiri, Pa,"
"Bintang!" ucap papanya perlahan, tapi ketika melihat ke arah cermin, papanya mengalah dan tidak memperpanjang permasalahan itu, "Yang penting besok harus mandi, sudah berapa hari enggak mandi?"
"Enggak tahu,"
"Ya sudah ayo istirahat!"
"Kan, Papa bilang kita ketemu, Mama,"
"Lihat sudah jam berapa?" Papanya menunjuk ke arah jam dinding di kamar Bintang, jam yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam.
"Bintang pengin ketemu, Mama,"
"Besok, Mama mana mungkin keliaran jam seginian,"
"Papa bohong lagi, kan?"
"Enggak, tapi besok kita bakalan ke sana juga kok, sekarang Bintang istirahat, jangan sampai sakit. Papa enggak mau kalau anak papa sakit, besok pokoknya kita bakalan ke sana,?
Bintang beranjak dari depan meja rias dan menuju atas ranjangnya, perlahan gadis itu berbaring, papanya langsung menaikkan selimut itu hingga menutupi dadanya. Perlahan dia berusaha untuk tidur dan mencoba menenangkan pikirannya untuk bisa bertemu dengan mamanya besok seperti yang telah dijajikan oleh papanya.
Jika harapan bisa menjadi kenyataan, gadis itu hanya menginginkan kebahagiaan seperti dulu lagi yang bisa membuat keluarnya berkumpul lagi. Ia memejamkan matanya, ciuman mendarat dikeningnya seperti yang biasa dilakukan oleh papanya sejak dulu. Terasa sakit jika terus mengingat kejadian itu. Kenyataan itu sangatlah kejam, mengoyak hatinya dan menghancurkan harapannya kala itu. Hal itu tidak mungkin dilupakan dengan sangat mudah, apalagi tentang dirinya yang dipukul oleh Papanya, mungkin hal itu tidak akan pernah dilupakan oleh Bintang seumur hidupnya. Sekali lagi, ia harus bertahan.