RICH MAN

RICH MAN
Jarang Pulang



Marwa melihat status temannya yang dibuatnya tadi di salah satu aplikasi yang menunjukkan sebuah cincin yang begitu cantik di jari manis Hana dan langsung diposting bersama dengan tangan dari pria itu. Ya, sekalipun itu adalah hal yang salah. Marwa pernah mendengar kabar bahwa pacar Hana itu merupakan seorang pria yang sudah beristri dan punya dua anak. Sekalipun Marwa pernah menyarankan untuk mencari yang lain. Tapi Hana mengatakan bahwa pria itu akan menceraikan istrinya dan memilih menikah dengna Hana.


Sebagai seorang sahabat yang ingin mendukung teman baiknya. Marwa tak ikut campur terlalu jauh mengenai temannya itu. Maka dari itu Marwa memilih mengalah dibandingkan harus berdebat karena dia tahu porsi dia ikut campur dalam urusan sahabatnya itu pasti ada batasnya. Begitupun juga yang diajarkan oleh Rey bahwa dia tidak boleh terlalu jauh ikut campur dalam hubungan orang lain. Maka, dia harus pandai-pandai mencari cara untuk menyadarkan Hana bahwa yang dilakukannya itu salah.


Kali ini mereka sudah berada di rumah. Padahal mertuanya menghubungi agar mereka melanjutkan saja sampai beberapa hari di sana karena Audri yang tidak menangis sama sekali. Namun naluri seorang ibu pasti akan sangat khawatir tentang anaknya. Marwa yang memilih untuk pulang dan bertemu anaknya karena dia sudah kepikiran sejak semalam.


Marwa yang sudah sarapan, namun tidak dengan Rey yang sejak semalam bertingkah aneh seperti ada beban pikiran yang sedang disembunyikan oleh suaminya itu. Apakah Rey menyimpan sesuatu? Tanya Marwa pada didirinya sendiri.


Begitu dia sampai di rumah, dia menemui papa mertuanya sedang menggendong Audri dan memberi makan ikan yang ada di samping rumahnya. Anak itu pun antusias dan sedikit memejamkan matanya ketika kakinya diturunkan dikolam dan justru tertawa karena geli melihat ikan-ikan kecil itu mengerayani kakinya. “Pa, nggak ada ikan berbahaya kan?”


“Nggak kok, lagian ngapain juga Papa peliharan ikan yang berbahaya gitu? Adik kamu tuh yang nangis minta dibeliin ikan,” kata papa mertuanya.


Ikan ini masih sangat kecil-kecil dan ukurannya pun masih lebih besar jari kelingking dibandingakn ikan yang sedang dipeliharan oleh papa mertuanya.


Audri tertawa nyaring ketika kakinya yang pasti akan terasa geli ketika papa mertuanya menurunkan kaki Audri di sana. “Hati-hati, Pa!”


“Tenang aja, Papa pegang dengan baik kok! Kamu sarapan dulu sana!”


“Sudah, Pa. tuh Mas Rey yang belum,”


“Hmmm, kamu nggak nambah sarapan? Mama lagi buat nasi goreng tuh. Tahu sendiri kan adik kamu kalau sarapan penginnya nasi. Sudah terbiasa, jadi Mama kamu harus ribut pagi-pagi dengan alat masaknya di dapur untuk buatin mereka sarapan,” kata papa mertuanya yang kemudian dibalas dengan senyuman oleh Marwa.


“Pa, untuk yang semalam makasih banget ya,”


“Berapa kali lagi Papa harus bilang, hmm? Papa senang kok ngasih kamu, ngomong-ngomong mobil barunya kapan dicoba?”


“Hehehe, nanti kalau Mas Rey ngasih nyetir sendirian. Papa nggak kerja?”


“Kerja gimana? Ini kan tanggal merah, Marwa. Kamu ya mentang-mentang bulan madu singkat, malah lupa sama kalender,” ledek papa mertuanya.


Dia tersenyum begitu papa mertuanya berkata demikian. Dia memang lupa mengenai hari karena dia tidak pernah melihat kalender yang ada di rumahnya. Mungkin saja kalender itu juga belum dibalik ke bulan berikutnya.


“Ya udah, Pa. Aku boleh gendong Audri? Kayaknya dia belum sarapan,”


“Udah kok. Mama kamu yang suapin tadi. Semalam dia nggak nangis sama sekali, lho. Kenapa juga kalian pulangnya cepat banget,”


Marwa menyeringai, “Nggak apa-apa, Pa. kangen aja sama anak,”


“Ya udah, ayo masuk! Kita ngobrol di dalam,”


Marwa masuk bersama dengan papa mertuanya. Begitu dia masuk dari pintu belakang, dia melihat suaminya sedang disuapi oleh sang mama sambil bermain game diponselnya. Marwa mengangkat sebelah alisnya. Sebocah itukah Rey di rumah ketika dia tidak ada di rumah mertuanya dan bermanja di depan mamanya seperti itu.


“Di rumah kalian, mungkin dia adalah suami dan seorang Papa yang bijak. Tapi di sini, dia adalah tetap anak kecil yang selalu minta dimanaj sama Mamanya. Jangan heran kalau kamu lihat suami kamu disuapin gitu. Waktu kamu nginap di rumah orang tua kamu aja dia seperti itu kok,” tukas mertuanya.


Ah, Rey. Kenapa dia begitu menggemaskan sekali. Seorang suami dan juga papa yang selalu berkata bijak dan mengajarkan hal-hal baik. Tapi bisa-bisanya dia bersikap konyol seperti itu dan sarapan pun disuapi oleh mamanya.


“Jangan diprotes ya! Dia nggak pernah ngerasain masa kecilnya dengan bahagia. Dia selalu punya masalah, jadi nggak salah kalau dia manja gitu sama mamanya. Apalagi sampai disuapi. Percaya atau nggak, Rey itu pernah tidur sama kami bertiga waktu dia sudah SMP. Katanya dia pengin tidur sama orang tua lengkapnya waktu kamu berdua balik. Ya udah, Mamanya ngizinin dan tidur bertiga,”


“Rey memangnya dulu beneran tinggal sama Om Dimas?”


“Ya, terus setelah itu ikut mamanya yang nikah waktu itu. Terus dia ikut sama Papa, intinya hidupnya nggak pernah bahagia, Marwa. Waktu SMA kayaknya baru dia rasain gimana rasanya benar-benar tinggal sama orang tua yang lengkap,”


Marwa kali ini paham dengan penjelasan papa mertuanya. “Dia itu cucu kesayangan. Dari kecil udah tinggal sama orang tua terpisah. Jadi tahu gimana rasanya perceraian itu begitu sakit buat dia. Kalau kamu lihat dia disuapi kayak gitu mungkin wajar. Kamu belum lihat dia tidur di pangkuan mamanya sambil dinyanyiin kayaknya. Adiknya sering protes karena bilang kalau Rey sudah nikah dan nggak usah manja. Tapi yang namanya anak, ya bakalan tetap seperti itu. Rey manja sama mamanya, neneknya dan juga tante Viona,”


“Kalau dia rumah dia itu pintar banget ngedidiknya, Pa,”


“Seperti yang Papa bilang tadi. Kalau di rumah kalian dia itu suami. Tapi kalau di sini dia tetaplah anak. Sampai kapan pun dia akan menjadi anak kecil bagi Mamanya,”


Marwa tersenyum ketika melihat adiknya bertengkar dengannya dan Rey tidak mau kalah dari adiknya. Begitu Marwa dan papanya tiba di sofa, Rey memperbaiki posisi duduknya dan menyeringai ketika dia disuapi oleh mamanya.


“Lanjut aja, Mas!” ucap Marwa ketika dia melihat ekspresi Rey yang berbeda.


Sisi lembut Rey dan penyayangnya justru terlihat seperti anak kecil sekarang ini. Padahal sudah menikah dan juga punya anak. Justru untuk sarapan pun dia bisa dimintai bantuan oleh Rey ketika ingin disuapi. Tapi justru suaminya ini bersikap aneh dan meminta mama kandungnya menyuapi.


“Hehehe,” hanya itu yang Rey ucapkan ketika dia tertawa dengan lembut.


“Marwa, sarapan gih! Mama masak banyak kok tadi. Karena suami kamu juga minta,”


“Sudah, Ma,” ucap Marwa. “Aku yang suapin ya, Mas?”


Rey menggeleng, “Nggak usah sayang. Biar Mama saja,” balas mama mertuanya.


Oke, kali ini memang benar-benar Rey ini sangat keterlaluan ketika mamanya justru diminta untuk menyuapinya seperti sekarang ini. Dia yang selalu berucap kata bijak di rumah. Dia juga yang mengajarkan arti kasih sayang. Tapi bisa-bisanya seperti anak kecil bahkan berebut dengan kedua adiknya yang sedang disuapi oleh sang mama.


“Kak Rey nyebelin,” protes Nabila ketika melihat Rey yang merebut suapan dari mamanya yang ditujukan kepada sang adik.


Rey tidak peduli dengan penilaian itu. Dia memang sangat merindukan momen seperti ini. Kapan lagi dia bisa menerima suapan dari mamanya yang juga masakan itu dari masakan mamanya. Mungkin itu hanyalah nasi goreng, tapi bagi Rey itu sangat enak dan rasanya tentu saja berbeda. Dia begitu menyukai masakan dari mamanya yang berbeda dari masakan istrinya. Sekalipun masakan kedua perempuan itu terasa sangat enak. Tapi masakan mamanya yang tetap menjadi juara bagi Rey.


Papanya menaruk Audri dipangkuan Rey. “Nih, biar ingat anak. Nggak usah kayak anak-anak kamu, Rey. Ingat kalau kamu itu punya anak dan justru bukan kamu yang harus bersikap seperti itu,” ledek papanya yang kemudian tertawa melihat tingkah Rey.


“Ini sudah piring yang ketiga, Pa. mereka bertiga memang harus diginiin ya kalau mau makan banyak. Kayaknya satu kilo aja bisa habis sama mereka. Jadi, besok-besok Mama suapin gini sama adik kamu biar adik kamu mau makan, Rey,”


“Oke, nggak masalah dong,” jawabnya dengan gagah.


“Kapan ke rumah Oma?”


“Nanti, Pa. pengin juga sih ke sana,”


“Kamu jangan sampai lupa sama Oma sendiri. Kasihan tahu nggak kalau dia itu selalu bilang pengin banget ketemu sama kamu,”


“Iya, Pa. nanti sore deh,”


“Nginap di sana, ajakin Marwa sama anak kamu. Oma kamu tuh ya nggak bisa ngelihat dengan jelas sekarang. Papa juga tetap kok ke sana sama Mama kamu. Bahkan nanti Papa sama Mama rencana mau tinggal di sana,”


“Papa mau kumpul di sana?”


“Iya, makanya Papa suruh kamu pulang itu karena alasannya memang ini. Papa nggak mau kamu lupa sama Oma kamu sendiri,”


“Halah, Pa. panggilan Rey sekarang itu berubah ke Oma dia sendiri,”


“Nggak jadi, Ma. Tetap panggil Oma dong,” jawab Rey dengan semangat.


“Leo nambah anak,” jawab papanya dan langsung membuat Rey tersedak.


“Papa nggak bercanda?”


“Amanda hamil lagi, Rey. Tanya aja Clara kalau kamu nggak percaya. Atau kamu hubungi Leo. Permintaan Oma kamu, katanya biar rumah rame. Ya siapa lagi yang mau diandalkan, Rey? Kamu sama Leo lho yang harus ramaikan rumah Oma. Mama sama tante kamu kan cuman dua bersaudara. Leo sama Clara juga berdua. Kamu bertiga sama si kembar. Tapi kalau adik kamu ya masih lama banget. Ya mau nggak mau kamu sama Leo yang diandalkan sama Oma kamu buat nambah keturunan,”


“Kalau aku sih masih lama, Pa,”


“Kalau Marwa siap kenapa enggak?” kata mamanya.


“Audri masih kecil, Ma, Pa,”


“Anak Leo juga masih kecil. Belum genap dua tahun,”


“Tapi kan, Pa,”


“Tergantung kamu, Rey. Kalau kamu mau ya Marwa juga pasti mau. Asal jangan macam-macam, Papa sunat kamu, kalau kamu sampai macam-macam lagi,” ancam papanya.


Rey tidak menyangka akan disalip lagi oleh Leo dalam hal keturunan. Ya, memang dia akui jika Leo lebih dulu menikah dan punya anak. Bahkan ketika Amanda melahirkan, Rey belum menyentuh Marwa sama sekali waktu itu. Tidak salah jika Leo menambah lagi.


Dia menghela napas panjang. “Nanti sore siapin barang kalian ya! Papa pengin di sana, kasihan Oma kamu di sana,”


“Opa sehat?”


“Hmmm, iya. Dia sering marah-marah sama Leo karena katanya Leo telat nikah,”


“Telat nikah gimana?”


“Harusnya Leo nikah begitu lulus sekolah kata Opa kamu,”


“Aku nggak di protes, Pa?”


“Entah, mungkin nanti di protes juga,”


Rey mengangkat sebelah alisnya ketika mendengar penjelasan papanya. Itu salah papanya sendiri yang menikah terlambat. Papanya menikah usia tiga puluh lebih dan waktu itu mama Leo sudah keguguran juga. Terus beberapa bulan berikutnya barulah Leo hadir.


 


 


Mungkin nanti dia akan mendengar omelan dari omanya karena dia sudah lama memang tidak ke sana. Rey yang menghabiskan waktu di rumah bersama dengan keluarga kecilnya. Jangankan untuk Oma. Untuk orang tua saja Rey hampir tidak punya waktu untuk bertemu. Kemudian mama dan juga papanya juga mengomelinya karena jarang pulang.