RICH MAN

RICH MAN
BERSEMBUNYI



Sejak mereka mulai untuk makan malam. Azka sendiri sadari bahwa anak tertuanya lebih banyak bermain ponsel dibandingkan ngobrol bersama dia dan juga istrinya.


“Kak Rey kapan jemput Kak Marwa?” tanya Nabila yang ingin memastikan bahwa kakaknya itu benar-benar masih mencintai kakak ipar yang begitu disayangi oleh Nabila. Dia tahu bagaimana sabarnya Marwa selama ini. Nabila dan Salsabila juga tahu bagaimana mereka berdua sering bertengkar seperti orang tua keduanya.


Rey yang merasa tidak nyaman dengan pertanyaan itu berusaha menghindari. “Benar apa yang dikatakan oleh adik kamu, Rey,” ucap papanya dan membuat Rey harus menjawab itu. Walaupun sebenarnya terserah kapan istrinya akan pulang. Rey tidak akan menjemput istrinya karena dia tahu bahwa di sana istrinya sedang merawat mama mertua Rey.


“Aku sih terserah dia aja mau pulang kapan, Pa. karena dia rawat orang tuanya, jadi aku nggak maulah urus yang begituan. Kapan pun dia mau pulang aku terima,”


“Jangan berkata demikian. Kamu harus jemput dia. Minimal basa-basi gitu sama orang tua dia, sudah sehat belum. Bawain bingkisan, masa kamu ke sana waktu mertua kamu di rumah sakit itu aja?”


Rey menarik napas panjang, jika papanya sudah berkata demikian. Mau tidak mau Rey harus menuruti itu semua. Karena apa yang dikatakan oleh papanya itu benar, karena bagaimanapun juga papanya adalah orang pertama yang membuat Rey mengerti bagaimana rumah tangga itu harus dipertahankan.


“Iya Pa iya, nanti aku ke sana,”


Tiba-tiba ponsel Rey berbunyi dan dia kemudian beranjak dari tempat duduknya dan langsung menjawab telepon itu. Dia menghindar dari orang tuanya karena yang menghubungi adalah Alin .dia tahu sendir bahwa papanya tidak menyukai perempuan itu, akan tetapi semenjak kejadian dimana Rey menolak cinta Alin resmi menjadi sahabat tanpa sepengetahuan orang tua Rey. Bahkan tanpa sepengetahuan Marwa. Memang Marwa tahu mengenai Alin, akan tetapi tidak mengenai persahabatannya dengan Alin.


“Jangan menyembunyikan bangkai, sedalam apa pun, kadang baunya tercium sampai permukaan,” ucap papanya ketika Rey baru saja kembali menelepon.


“Papa ngomong apa?” tanya Rey.


“Papa ngomong sama Mama,” jawab Azka dengan dingin. Tidak pernah selama ini anaknya menghindar ketika menjawab telepon. Azka juga tahu bagaimana cara Rey menghadapi klien yang menghubungi malam hari. Akan tetapi berbeda dengan malam ini, anaknya beda dari biasanya.


“Ya udah, Ma, Pa. aku pamit ya, mungkin pulangnya jam sebelas nanti, aku nginap di sini. Aku ada urusan sama klien,”


“Klien mana yang punya urusan sama kamu sampai jam segitu, Rey?” sindir papanya. “Selama ini Papa dalam dunia bisnis nggak pernah selarut itu ketemu sama klien, apalagi bahas bisnis, otak jam segitu minta istirahat, yakin kamu bisa cerna semua ucapan klien nantinya?” tanya Azka.


Rey yang merasa bahwa pertanyaan papanya itu terlalu mendalam. “Ya udah Pa, aku pergi dulu. Ma aku pamit ya,”


Azka tidak menjawab apa-apa. Karena dia tidak pernah mendapati anaknya sibuk seperti sekarang. Apalagi Rey menghindar barusan, “Ma, Papa ikuti tuh anak,”


“Papa yakin mau ninggalin Mama sama anak-anak di sini?”


Azka teringat dengan anak dan juga istrinya yang tidak bisa dia tinggal begitu saja. “Ma, Mama mau ikut?”


“Hmm, ya udah Papa pergi aja. Tapi jangan sampai ketahuan, Papa minimal pakai topi,”


“Mama kayak nggak tahu aja trik penyamaran Papa kayak apa, ingat Ma gini-gini Papa itu ahli dalam ngikutin Mama dulu,”


“Iya, karena Papa tuh penguntit nomor satu,” jawab Nagita dengan kekehannya. Azka langsung berlari menuju kamarnya dan mengambil topi, jaket serta kacamata. Dia langsung keluar dan melihat mobil mana yang digunakan oleh Rey.


Azka mengingat semua plat mobilnya. Dia pun langsung bergegas mengejar Rey yang barangkali tidak jauh darinya sekarang ini. Gerak-gerik Rey yang membuat Azka curiga terhadap anaknya itu. Bahwa selama ini Rey tidak pernah keluar malam meskipun sudah menikah. Anaknya selalu di rumah dan jikapun pergi keluar malam itu pasti bersama istri atau bersama adik-adiknya. Berbeda dengan sekarang ini yang pergi sendirian.


Ada rasa syukur yang Azka rasakan ketika anaknya baru saja keluar dari kompleks, dia bisa mengikuti ke mana anaknya pergi.


Dia terus mengikuti ke mana mobil anaknya pergi, bukan ingin terlalu ikut campur. Akan tetapi sikap anaknya yang berubah drastis itu membuat Azka merasa ada yang janggal dari putranya. Apalagi ketika menjawab telepon tadi. Bahkan Rey berpenampilan seperti sedang di rumah, tidak menggunakan pakaian rapi pada umumnya jika memang bertemu dengan klien.


Baru saja dia berspekulasi tidak baik. Rey pun menyalakan lampu sein dan berbelok kea rah mal, cukup mencurigakan bagi Azka. Kemudian dia langsung turun dari mobil setelah melihat anaknya turun dari mobilnya. Dia mengikuti anaknya begitu saja.


Ketika masuk ke dalam mal. Rey tahu bahwa dia sedan diikuti oleh papanya. Turun dari mobil, bagaimanapun caranya dia harus kabur dari pria itu. Sepertiya papanya tidak akan membiarkan dia untuk bergaul bersama dengan Alin. Ketika sedang melewati begitu banyak kerumunan orang, Rey bersembunyi.


Melihat papanya yang putus asa karena kehilangan jejak, Rey merasa puas dan langsung menemui Alin di sana.


“Kamu lama banget,” tanya Alin yang terlihat sangat kesal karena Rey datang sedikit terlambat.


Rey langsung duduk di sana dan mengajak Alin pergi. “Ayo pergi dari sini, Papa aku barusan ngikutin, takutnya dia lihat kita di sini nanti,” ajak Rey kemudian menggandeng tangan Alin hingga keluar dari sana. Dia berhati-hati saat melewati kerumunan orang karena takut jika papanya masih di sana.


Benar saja di jarak beberapa meter dari tempatnya berdiri, papanya seperti orang kebingunan di sana. Rey berhasil kabur dan membawa Alin masuk ke mobilnya. “Papa kamu ngapain ikutin kamu sampai ke sini?”


“Aku juga nggak tahu kalau Papa ikutin aku di sini,”


“Kamu ada masalah sama Papa kamu?”


“Nggak sama sekali. Papa aku tuh sayang banget sama menantunya, mungkin dia mikir kalau aku bakalan selingkuh,”


Alin tersenyum saat Rey berusaha membawanya ke tempat lain hanya karena mereka berdua di ikuti oleh papa Rey. “Kamu sih, kenapa nggak juju raja sama pertemanan kita,”


“Kamu gila? Kamu mau lihat aku dikekang di rumah? Kamu mau kalau Papa aku bakalan marahin aku, Papa aku tuh jarang marah. Tapi sekalinya marah, mungkin aku di usir dari rumah,”


“Kamu udah bisa cari uang sendiri, kan? Ngapain kamu takut,”


“Lin, uang itu emang nggak seberapa. Tapi kalau Papa ngusir dari rumah, aku memang bisa cari uang sendiri. Akan tetapi keluarga ya tetap keluarga, nggak bisa ditinggalin gitu aja. Toh kalau kita jatuh, tempat kembali itu cuman keluarga, nggak ada yang lain. Jadi, aku nggak mungkin dong lawan orang tua aku hanya karena kita berdua, kamu juga seharusnya ngerti posisi aku. Toh kita berdua cuman teman, aku ke sini karena istri aku belum pulang dari rumah orang tuanya,”


 


 


‘Kamu pikir aku mau cuman temanan, Rey? Jangan salah, aku sampai kapanpun nggak bakalan ikhlas kamu sama istri kamu. Aku tentu jauh lebih baik dari dia, kamu bisa banggain aku sama semua orang, kamu bisa sayang aku. Kamu butuh, aku selalu ada. Nggak kayak istri kamu’ ucap Alin di dalam hati disertai dengan senyuman sinisnya malam itu.