
Siang itu, Dimas sudah bersiap untuk menjemput Reynand ke sekolah. Tanpa memberitahu Nagita terlebih dahulu. Kini mereka bertiga semringah datang ke sekolah Rey. Erlangga, anak pertama Dimas sangat begitu antusias setelah mengetahui mereka akan menjemput Rey. Viona, perempuan yang kini sedang mengandung anak kedua mereka. Usia kandungannya hanya baru beberapa minggu. Akan tetapi perempuan itulah yang meminta Dimas untuk menjemput Rey ke sekolah.
Berlama-lama di dalam mobil. Erlangga tertidur hingga terbangun lagi, tak ada tanda-tanda. Nagita pun ia hubungi tapi tak ada respons. Dimas nekat turun dari mobil dan menemui wali kelas Rey yaitu Ibu Khadijah.
"Omnya Rey kan?" Baru saja Dimas ingin menyapa. Akan tetapi wali kelas Rey terlebih dahulu menyapanya.
"Iya, Bu. Rey nggak masuk sekolah?"
"Bapak nggak tahu?"
Dimas mengernyitkan dahinya. Tahu apa? Ia bahkan ketinggalan berita mengenai keponakannya sendiri.
"Apanya?"
"Reynand sudah pindah sekolah ke sekolah internasional,"
"Rey pindah? Sejak kapan?"
"Sebulan yang lalu. Dia bersama Papa kandungnya datang ke sekolah dan seorang ibu-ibu tua, kalau saya tidak salah nama Papanya itu Pak Azka,"
"Azka?"
Ibu Khadijah mengangguk. Dimas paham dengan hal tu dan langsung berpamitan kepada wali kelas keponakannya. Dimas tak tahu perihal Rey yang pindah sekolah. Nagita juga tak berkata apa-apa kepadanya dan tidak memberitahukan soal Rey yang sudah tak bersekolah di tempat itu. Ia mengusap wajahnya gusar, apalagi sekarang? Nagita yang begitu kuat mempertahankan Rey, kini tiba-tiba tak memberitahunya perihal Rey yang dipindah, bahkan oleh Azka.
Sebelum terlambat, Dimas langsung menuju sekolah yang diberitahukan oleh ibu guru Rey tadi. Di dalam mobil mungkin Viona tahu bahwa dirinya sedang marah. Perempuan itu tak berkata apa pun hingga mereka tiba di sekolah. Benar, di sana baru saja ia mendapatkan suatu pemandangan yang memang tak biasa. Azka menjemput Reynand sekolah. Adalah hal yang sangat baru bagi Dimas.
"Tunggu!"
Kedua orang tersebut langsung menoleh ke belakang dan Dimas mendekati keponakannya. Penampilan dan sikap Azka kini lebih sopan dibandingkan dulu yang selalu semaunya. Mungkin itu karena hanya di depan Rey. Tetapi tak masalah bagi Dimas. Yang masalah baginya adalah kenapa Rey kini ada di pria tersebut.
Tak ingin terlalu banyak basa-basi. "Rey ayo pulang ke rumah Mama!"
"Nggak,"
"Rey dengerin Om!"
"Nggak. Aku bilang nggak mau ya nggak mau. Om selalu saja mau di dengerin, Om nggak pernah mikirin gimana perasaan aku,"
Dimas menatap wajah keponakannya. Kali ini ia seolah tak berbicara dengan Rey. Melainkan sisi buruk yang terlihat dan sama sekali Dimas tak suka dengan tingkah keponakannya. Rey bersembunyi di belakang Azka. Dimas semakin tak mengerti dengan kejadian sekarang.
"Dimas, kita perlu bicara sebentar!"
"Di mana?"
"Di restora dekat sini. Ada yang mau aku katakan, ini perihal Rey yang tinggal sama aku. Aku harap kamu tak keberatan dengan kenyataan ini. Mungkin ini memang masalahku dengan Nagita, urusanku yang harus mengurus dan mendidik Reynand putraku. Tapi karena kamu adalah paman satu-satunya dari anakku, maka dari itu aku ingin memberitahukan sesuatu kepadamu,"
Dimas tak mengerti. Setelah Azka memintanya untuk mengikuti ke mana mereka pergi. Mereka bertiga pun ikut dibelakang mobil Azka. Viona nampak khawatir dengan hal itu, akan tetapi tak bertanya dan memilih untuk tetap diam karena tak perlu ikut campur dengan masalah ini.
Tiba di sebuah restoran. Dimas yang satu meja dengan Azka, sementara anak, istri dan Rey bertiga di tempat yang cukup jauh dari tempat mereka berdua duduk. Mungkin ini adalah sesuatu hal yang sangat penting hingga Azka mengajaknya lebih jauh dari anak-anak.
"Azka, apa yang mau kamu bicarakan?"
"Jangan salah paham antara aku dan juga Rey. Dia tinggal sama aku semenjak sebulan lalu, saat Nagita mengantarnya kepadaku langsung. Tapi Dimas, tolong jangan berkata apa pun pada Nagita. Ini demi rumah tangganya bersama dengan Teddy,"
"Kenapa dengan Teddy? Dia nerima Rey dengan baik kok,"
"Rey stress bersama dengan Nagita dan Teddy. Beberapa hari Teddy mendiaminya tanpa sebab, dan kemudian Nagita memberitahuku bahwa Teddy malu dengan status Reynand anak yang hadir di luar nikah, di rumah sakit dia sebagai orang yang menerima cemooh orang lain, jujur jika ada yang berkata di depanku Rey adalah anak haram, aku akan membunuhnya. Tidak ada yang boleh berkata demikian kepadanya, dan aku mohon jangan beritahukan ini kepada Nagita! Aku hanya memberitahumu, Mamaku pun tak tahu tentang ini,"
"Azka, kamu belum menikah lagi?"
"Tidak, Dimas. Cukup mendidik Reynand dan menjaganya dengan baik sekarang. Aku tidak peduli dengan perasaanku sendiri,"
Dimas mengangguk tanda bahwa ia paham dengan apa yang mereka bicarakan. Azka memang mantan seorang pria brengsek. Tapi mendengar pernyataan Azka tentang ingin mendidik Rey, hatinya menjadi sedikit iba dengan mantan adik iparnya itu. Baru kali ini juga ia tak emosi jika bertemu dengan Azka.
"Azka, Nagita datang kepadamu?"
"Iya, dia hanya menyerahkan pakaian dan segala keperluan Reynand,"
"Jaga dia baik-baik!"
"Dimas?" Azka mengangkat kepalanya yang tadi hanya menunduk saat berbicara dengannya. Mengerti dengan kondisi yang sekarang. Dimas tak ingin protes dengan keadaan Azka harus membawa Rey.
"Aku bawa Rey pulang,"
Dimas menyetujui hal itu. Barangkali memang benar, tak seharusnya membenci Azka terus menerus. Melihat ketulusan pria itu sekarang, Dimas merasa sedikit lebih jahat pada Azka. Mendengar kabar rumah tangga Nagita dari mantan suami adiknya, Dimas merasa ini adalah hal yang sangat buruk. Itu berarti Rey akan tetap merasakan kesendirian seperti dulu. Namun kini akan merasakan derita yang sama dengan Azka. Jika dulu merestui hubungan Nagita dengan Teddy adalah pilihan agar adik dan keponakannya bisa bahagia. Dimas salah, itu membuat dirinya seperti kakak yang tak pernah bisa mendidik Nagita.
Pilihan tak selalu benar. Barangkali menyerahkan semuanya pada Tuhan adalah pilihan terbaik. Kadang kita selalu merasa bahwa pilihan kita benar. Akan tetapi lebih banyak salahnya. Menyerahkan semua kepada-Nya jauh lebih baik. Kadang kita hanya terbawa suasana dan terbawa oleh perasaan dan menganggap yang terluhat benar itu sangat baik. Menganggap yang buruk adalah sesuatu yang tercela. Tetapi tidak semuanya, barangkali kebaikannya tertutup oleh tingkahnya yang keterlaluan. Kini, Dimas belajar banyak tentang menghargai. Melihat keponakannya yang bahagia bersama dengan Azka. Ia tak ingin ikut campur lagi.
"Viona, ayo pulang!"
Istrinya beranjak dari tempat duduk dan Dimas menggendong Erlangga menuju tempat parkiran. Bagaikan disambar petir, hatinya kacau begitu mendengar cerita Azka mengenai keadaan rumah tangga Nagita. Tidak mungkin jika pria itu memaksa mengambil Rey dan pastinya adiknya bercerita. Akan tetapi mendengar bahwa Nagita sendiri yang mengantar anak itu, Dimas tak banyak berkomentar. Hanya menyayangkan sikap Teddy yang berkata dahulu pernah menerima Rey dengan baik, justru mencampakkan anak itu sekarang.
*****
Nagita telah menyiapkan sarapan untuk Teddy sebelum pria itu berangkat bekerja. Belum pernah ia jumpai sikap Teddy yang dingin seperti sekarang. Semenjak beberapa waktu lalu Rey dititipkan pada Azka. Sikap Teddy tetap saja seperti itu, ingin sekali bertanya perihal mengapa suaminya begitu? Akan tetapi melihat kondisi sekarang yang tak memungkinkan ia tak ingin ada apa-apa dengan rumah tangganya bersama dengan suami barunya.
"Nagita, aku berangkat. Jaga diri baik-baik dan jangan lupa makam yang baik biar bayinya sehat!" Ciuman mendarat didahi Nagita, serta tak lupa juga Teddy mengelus perutnya yang kini sudah semakin membesar.
"Mas, aku izin ketemu Rey boleh?"
"Nggak. Jangan pernah temui anak haram itu lagi, Nagita,"
Bagai disambar petir, perasaan Nagita yang tadinya berusaha membaik hancur seketika setelah mendengar ucapan Teddy. Setiap kali membahas perihal Rey, suaminya selalu bertingkah berlebihan dan ia tak suka dengan hal itu.
"Nagita, itu dulu. Waktu kita di Jepang. Sekarang beda lagi, di sini anak yang lahir di luar nikah itu bukankah merupakan aib bagi orang tuanya? Aku nggak mau terus-terusan dengar kata orang tentang dia, coba gimana rasanya jadi aku? Tolong kamu ngerti Nagita!"
"Apa yang harus aku ngerti? Rey anak aku, darah daging aku. Aku memang tahu itu bahwa Rey memang anak yang tidak pernah diinginkan. Asal kamu tahu, Mas. Aku sayang dia,"
"Terus sekarang kamu mau ketemu dia? Kamu masih berhubungan sama Azka?"
"Nggak, bukan begitu. Aku hubungi adiknya dia, aku pengin ketemu Rey,"
"Terserah. Asal kamu tidak bertemu dengan mantan suami kamu itu, aku tidak sudi,"
Teddy langsung keluar begitu saja dengan amarah yang memuncak. Nagita sudah lelah dengan suaminya yang terus saja mempermasalahkan status Reynand, putranya. Dulu, suaminya sampai rela menjemput Rey jika sudah libur sekolah. Kali ini sudah berbeda. Jangankan menjemput, setiap kali anak itu dibahas, mereka berdua akan bertengkar hebat seperti tadi.
Nagita tak peduli dengan larangan Teddy. Ia nekat untuk pergi ke sana karena merindukan putranya. Di dalam mobil ia menangis karena sikap suaminya yang berlebihan seperti itu.
Di sudut restoran tempat Nagita dan Naura berjanji untuk bertemu. Di sana ia melihat ke luar jendela, belum ada tanda-tanda yang menampakkan orang yang ditunggunya itu. Kendaraan berlalu lalang di sana. Dan terlihat pula ada seorang pemulung yang begitu semringah saat diberikan kardus bekas oleh pemilik restoran tempat Nagita berkunjung. Masih banyak cara untuk memberi kepada orang lain, tak mesti dengan cara memberi uang. Barangkali memberikan barang bermanfaat itu juga sudah cukup. Akan tetapi senyumnya mengembang saat pemilik restoran itu memberikan uang dan tak ada yang tahu nominalnya berapa, sebab ditutupi dan uang itu dilipat atau barangkali diremas agar tak terlihat. Memberi tak harus terlihat oleh orang lain. Memberi kadang harus sembunyi-sembunyi, seperti yang dilakukan oleh pemilik restoran tersebut.
"Mama!"
Nagita langsung mengalihkan pandangannya setelah anaknya memanggil. Tak butuh waktu lama anak itu berlari mendekatinya dan memeluknya sangat erat. Nagita bahagia bisa bertemu dengan Rey di sana. Walau harus menunggu beberapa jam karena anaknya itu sedang bersekolah. Nagita memang sengaja berangkat lebih awal agar tak membuat mereka menunggu nantinya.
"Mama apa kabar?"
"Mama baik, Rey gimana?"
"Aku juga baik, Ma,"
"Leo, Clara apa kabar?"
"Baik, tante,"
"Nagita, kamu tambah cantik,"
"Terima kasih Naura,"
Mereka berbincang lama mengenai pendidikan Reynand. Naura telah memberitahunya bahwa Rey dipindahkan ke sekolah internasional yang di mana di sana adalah tempat Leo sekolah juga. Nagita tak berkomentar apa-apa mengenai itu. Karena hak Azka memindahkan Rey. Mengingat bahwa anak itu tinggal bersama dengan mantan suaminya.
Berbincang sangat lama, hingga Rey memotong pembicaraan mereka. "Ma, itu Papa." Ucapnya sambil menunjuk orang yang berada beberapa meter dari tempat duduk mereka.
Nagita menyipitkan matanya ketika melihat Teddy merangkul seorang perempuan yang sekiranya masih berusia seperti seorang mahasiswi, atau barangkali perawat yang bekerja di rumah sakit sama dengan dirinya.
Nagita berdiri dari tempat duduknya. Naura yang hendak melarang justru kalah oleh Nagita yang lebih dulu menyingkirkan tangan Naura. Rumah tangganya yang selalu baik-baik saja dahulu kini sedang di uji.
"Istri kamu bukannya hamil?"
"Iya dia hamil, menyebalkan memang. Akhir-akhir ini dia berubah, aku selalu salah di matanya. Padahal aku cuman pengin anaknya itu tidak di rumahku lagi. Dia lebay membesar-besarkan masalah,"
"Harusnya kamu tahu risikonya menikahi janda, Teddy. Nggak bisa dong kamu egois gitu,"
"Iya kalau jandanya baik-baik. Tapi keadaannya berbeda, anaknya kayak gitu,"
"Tapi setiap kali kamu bawa ke rumah sakit, anak itu baik kok. Salahnya di mana?"
"Aku cuman nggak suka, bikin malu. Tahu kan aku nggak suka orang nyebut, itu anak tiri kamu Teddy. Anak dari pengusaha terkenal itu? Selalu saja begitu sayang,"
Sayang? Nagita menahan dirinya mendengar ucapan kedua orang tersebut.
"Kamu pilih aku atau Nagita?"
"Jangan berkata seperti itu. Kamu mencintaiku?"
"Tentu saja,"
"Mau jadi yang kedua? Aku akan mengutamakanmu, sayang,"
"Nagita bagaimana?"
"Dia bisa kuurus nanti,"
Nagita mencoba menahan air matanya agar tak keluar. Tak kuasa melihat suaminya bermesraan dengan perempuan lain.
"Teddy!"
Suaminya langsung menoleh. "Na-Nagita? Ngapain kamu di sini?"
"Kamu ngapain pegangan tangan dan rangkul dia? Sedangkan istri kamu ada di sini,"
"A-aku bisa jelasin, Nagita!"
"Apanya yang bisa dijelaskan? Kamu mau nikah lagi kan? Lakukan, Teddy. Aku nggak larang kamu,"
"Nagita ini nggak seperti yang kamu lihat,"
"Apa yang aku dengar memang sama seperti yang terjadi. Kecuali jika apa yang aku dengar dari orang lain dan kenyataannya berbeda, baru aku nggak percaya. Tapi ini semua nyata, Teddy. Kamu mengkhianati pernikahan kita,"
"Nagita, aku sayang sama kamu,"
Teddy yang tadinya ingin memeluk, langsung di dorong oleh Nagita. Sedangkan Naura di sana tak berkata apa-apa. Hanya diam tak ingin ikut campur yang justru memperkeruh keadaan. Nagita keluar dari restoran begitu saja. Naura langsung membayar makanannya dan mengajak anak-anaknya untuk mengejar Nagita. Pun begitu dengan Teddy yang khawatir dengan keadaan Nagita yang hamil menyetir sendiri.