
Setelah kejadian yang
keterlaluan itu, Azka tidak lagi pulang ke apartemennya. ia tahu bahwa
Nagita begitu membencinya karena hal bodoh yang dilakukannya untuk kedua
kalinya. Ingin sekali ia pulang, bertemu hanya untuk mengucapkan kata
maaf. Rasa sesal dihatinya belum juga hilang dari pikirannya tentang
istrinya.
Azka merutuki
kebodohannya yang sudah keterlaluan hingga berani berbuat sejauh itu.
Jika pada perempuan lain ia lembut, mengapa tidak bisa lembut pada istri
sahnya sendiri. Ia menghela napas panjang, di sela-sela kesibukannya ia
masih berpikir tentang cara meminta maaf. Beberapa kali menghubungi
Nagita, tapi tak ada respons.
Ia menyandarkan
kepalanya di kursi kerjanya. Beberapa kali Azka berusaha untuk fokus
pada pekerjaannya, tetap saja bayangan tentang kejadian itu membuatnya
terganggu.
"Kenapa lo? Tanda tangani itu berkas, lo melamun kayak orang mau kerasukan,"
"Lo selalu benar brengsek. Apa pun yang lo ceramahi ke gue, itu beneran terjadi,"
"Maksud lo?"
"Jangan main api,"
"Lo kebakar ternyata. Hahaha."
"Gue mau pergi."
Damar yang tadinya ingin
meminta tanda tangan justru ditinggalkan begitu saja oleh Azka.
Pikirannya benar-benar terganggu karena Nagita. Ia pun memutuskan untuk
pulang ke apartemennya. Entah diterima atau tidaknya, ia harus tetap
pulang. Membicarakan semuanya bahwa ia juga tidak bisa memaafkan dirinya
sendiri.
Ia menarik napas panjang
menenangkan dirinya. Ia masuk perlahan, memanggil-manggil nama Nagita
beberapa kali. Tapi tidak ada respons.
Ia mencari ke semua
sudut apartemen. Bahkan hingga kamar mandi. Tetapi ia tak menemukan
perempuan itu. Justru saat menghubungi nomor Nagita, ponselnya berada di
atas kasur.
"Kamu ke mana, sih?"
Azka mulai menggerutu dan mulai tidak tenang dengan hal itu. Di dekat
ponsel itu terdapat beberapa kartu yang diberikan kepada Nagita beberapa
waktu yang lalu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Tetapi justru Azka
melihat keadaan apartemennya yang benar-benar sepi.
Karena tidak menemukan
Nagita di apartemennya. Ia kembali lagi ke kantor untuk menyelesaikan
pekerjaannya. Selama ini dia tidak pernah peduli dengan perasaan orang
lain, tetapi kini justru merasa begitu sakit karena mengingat kejadian
itu.
Setelah kembalinya ke
kantor, Azka merebahkan dirinya di sofa. Yang beberapa waktu kemudian
Dimas datang. Azka tak menghiraukan hal itu justru menutup matanya
dengan lengannya.
"Ada apa?"
"Nggak apa-apa. Mungkin ini terbilang masalah pribadi, tapi apa yang terjadi sama bapak dan adik saya?"
"Tidak terjadi apa-apa,"
"Tapi kenapa dia datang
nangis-nangis tengah malam ke rumah. Sudah beberapa hari saya ingin
bertanya, tapi saya tahan diri, kalian ada masalah? Nagita nangis, dia
seperti orang ketakutan, bahkan sampai saat ini dia masih seperti itu.
Tidak pernah makan selama berhari-hari, dia hanya mengurung diri di
kamarnya. Bapak suaminya, tolong jangan buat dia seperti itu. Dia adik
saya satu-satunya."
Azka mendengar ucapan
itu langsung bangun dari tidurnya. Tidak mungkin baginya untuk kabur
dari masalah seperti ini. Azka tidak suka jika ia kabur tanpa
menyelesaikan masalah.
"Kalau begitu, nanti sore saya ke sana,"
"Setidaknya bicarakan baik-baik. Saya nggak mau dia banyak pikiran apalagi sebentar lagi kalian akan punya anak."
"Saya tahu, Dim. Nanti akan saya usahakan untuk datang ke sana,"
"Saya permisi dulu."
Perempuan yang ia cari
sedari tadi justru berada di rumahnya. Berarti setelah kejadian itu,
Nagita langsung pulang ke rumahnya tengah malam itu juga. Padahal ia
sudah berpesan agar dirinya saja yang pegi dari apartemen dan mengalah.
****
langsung menuju rumah Dimas untuk menjemput istrinya. Ia menyadari
kesalahannya. Di depan rumah, ia agak sedikit ragu untuk masuk bersama
dengan Dimas. Tetapi karena ingin memperbaiki dan memikirkan psikologis
Nagita, ia pun masuk ke dalam rumah tersebut.
Benar saja seperti yang
dibayangkannya. Nagita ketakutan melihat dirinya yang datang bersama
dengan Dimas. Bahkan Nagita berteriak histeris dan langsung ditenangkan
oleh Dimas. Azka menyadari bahwa sedalam itu terlukanya hati dan pikiran
Nagita karena perbuatannya.
Nagita pun jatuh pingsan. Dengan segera Dimas mengangkat tubuh Nagita dan langsung membawanya ke kamar.
"Sebenarnya ada apa? Kenapa dia takut sekali sama bapak?"
Azka mendongakkan kepalanya, sambil menahan sesak didadanya. "Kesalahan yang dulu hampir terulang lagi,"
"Kenapa bisa?"
"Saya yang salah, hingga membuat dia seperti itu. Saya harus bagaimana?"
"Tetap temani dia,
matikan lampunya. Tidur dan peluk dia, sebelum itu mandi dan gunakan
pakaian saya. Jangan pernah ngomong ketika dia tersadar, cukup teman dan
peluk dia supaya da menganggap bahwa itu adalah saya,"
"Baiklah." Azka menuruti perintah Dimas yang terdengar sangat meyakinkan.
Setelah mandi dan mengganti pakaiannya, ia bertemu dengan Dimas lagi.
"Peluk dia erat, elus
rambutnya. Jangan pernah tinggalkan dia. Kenapa baru ngomong sekarang
sih? Dia itu hamil, dia tidak boleh stres,"
"Saya tahu."
"Masuklah!"
Mereka berdua masuk ke
kamar Nagita, "Tidurlah. Ingat jangan pernah bicara saat dia mengatakan
apa pun. Saya akan mematikan lampunya, saya akan ke kamar dulu."
Setelah Dimas mematikan
lampu dan keluar dari kamar Nagita, ia mulai memeluk tubuh Nagita begitu
erat. Perlahan tubuh itu mulai begetar kembali, ia dengan segera
memeluknya.
"Kak, bajingan itu sudah pergi?"
Azka tak menjawab justru
merasa sesak saat tubuh Nagita bergetar hebat. Ia tak akan melakukan
hal bodoh itu jka tahu risiko yang ditimbulkan seperti ini.
"Kak, Gita nyesel kenal
orang kayak dia. Kenapa orang seperti dia ada? Kak kalau bukan karena
anak ini, Gita nggak bakal nikah sama dia, nggak bakalan kenal orang
kayak dia. Gita emang bisa rawat anak sendirian, tapi bagaimana pun juga
Gita takut dia menanyakan siapa ayahnya. Dia brengsek, dia sering
nyakitin hati aku, tapi aku selalu berusaha untuk menahan diri, sekarang
Gita nyesel, kak." Ia merasakan kedua tangan Nagita memeluknya sangat
erat. Mendengar ucapan itu, hatinya sedikit teriris. Sekejam itu ha yang
dilakukan oleh Azka. Tak terasa matanya memanas, mengingat
kejadian-kejadian yang diperbuatnya selama ini membuatnya sedikit
menyesali selama ini terlalu mengabaikan istrinya.
Ia mendekap Nagita
begitu erat dan menciumi kening Nagita. Tapi tubuh Nagita tak pernah
berhenti bergetar, Azka sangat menyesal dengan hal itu. Isakan semakin
keras dan pelukan itu semakin erat, ia hanya bisa diam. Takut jika
perempuan itu menyadari, bahwa dirinyalah yang memeluk perempuan itu
saat ini, bukan Dimas.
"Kak, Gita akan tetap tinggal di sini, nggak mau lagi balik ke sana."
Azka teus mendengar
ucapan Nagita. Hingga tak ada lagi suara isakan dan juga curhatan. Yang
ia rasakan adalah tubuh Nagita tetap bergetar. Meski dalam keadaan
tertidur. Hal yang sangat ia sesali hingga kini adalah memperkosa
istrinya sendiri.
Sepanjang malam ia
terjaga sebab Nagita sesekali meronta dan berteriak ketakutan. Seketika
itu pula ia harus memeluk istrinya. Hatinya semakin terasa begitu perih
dengan kejadian itu. Setiap malam Dimas harus menggantikan posisinya
untuk menjaga Nagita.
Ingin sekali ia mengatakan sesuatu tapi suaranya tertahan karena takut istinya tahu bahwa dia ada dalam kamar tersebut.
Suara Azka tercekat
ditenggorokan dan terus memeluk Nagita hingga tenang. Ia harus merelakan
jam tidurnya demi menjaga istrinya yang sudah ia buat begini.