RICH MAN

RICH MAN
MENYESAL



Setelah kejadian yang


keterlaluan itu, Azka tidak lagi pulang ke apartemennya. ia tahu bahwa


Nagita begitu membencinya karena hal bodoh yang dilakukannya untuk kedua


kalinya. Ingin sekali ia pulang, bertemu hanya untuk mengucapkan kata


maaf. Rasa sesal dihatinya belum juga hilang dari pikirannya tentang


istrinya.


Azka merutuki


kebodohannya yang sudah keterlaluan hingga berani berbuat sejauh itu.


Jika pada perempuan lain ia lembut, mengapa tidak bisa lembut pada istri


sahnya sendiri. Ia menghela napas panjang, di sela-sela kesibukannya ia


masih berpikir tentang cara meminta maaf. Beberapa kali menghubungi


Nagita, tapi tak ada respons.


Ia menyandarkan


kepalanya di kursi kerjanya. Beberapa kali Azka berusaha untuk fokus


pada pekerjaannya, tetap saja bayangan tentang kejadian itu membuatnya


terganggu.


"Kenapa lo? Tanda tangani itu berkas, lo melamun kayak orang mau kerasukan,"


"Lo selalu benar brengsek. Apa pun yang lo ceramahi ke gue, itu beneran terjadi,"


"Maksud lo?"


"Jangan main api,"


"Lo kebakar ternyata. Hahaha."


"Gue mau pergi."


Damar yang tadinya ingin


meminta tanda tangan justru ditinggalkan begitu saja oleh Azka.


Pikirannya benar-benar terganggu karena Nagita. Ia pun memutuskan untuk


pulang ke apartemennya. Entah diterima atau tidaknya, ia harus tetap


pulang. Membicarakan semuanya bahwa ia juga tidak bisa memaafkan dirinya


sendiri.


Ia menarik napas panjang


menenangkan dirinya. Ia masuk perlahan, memanggil-manggil nama Nagita


beberapa kali. Tapi tidak ada respons.


Ia mencari ke semua


sudut apartemen. Bahkan hingga kamar mandi. Tetapi ia tak menemukan


perempuan itu. Justru saat menghubungi nomor Nagita, ponselnya berada di


atas kasur.


"Kamu ke mana, sih?"


Azka mulai menggerutu dan mulai tidak tenang dengan hal itu. Di dekat


ponsel itu terdapat beberapa kartu yang diberikan kepada Nagita beberapa


waktu yang lalu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Tetapi justru Azka


melihat keadaan apartemennya yang benar-benar sepi.


Karena tidak menemukan


Nagita di apartemennya. Ia kembali lagi ke kantor untuk menyelesaikan


pekerjaannya. Selama ini dia tidak pernah peduli dengan perasaan orang


lain, tetapi kini justru merasa begitu sakit karena mengingat kejadian


itu.


Setelah kembalinya ke


kantor, Azka merebahkan dirinya di sofa. Yang beberapa waktu kemudian


Dimas datang. Azka tak menghiraukan hal itu justru menutup matanya


dengan lengannya.


"Ada apa?"


"Nggak apa-apa. Mungkin ini terbilang masalah pribadi, tapi apa yang terjadi sama bapak dan adik saya?"


"Tidak terjadi apa-apa,"


"Tapi kenapa dia datang


nangis-nangis tengah malam ke rumah. Sudah beberapa hari saya ingin


bertanya, tapi saya tahan diri, kalian ada masalah? Nagita nangis, dia


seperti orang ketakutan, bahkan sampai saat ini dia masih seperti itu.


Tidak pernah makan selama berhari-hari, dia hanya mengurung diri di


kamarnya. Bapak suaminya, tolong jangan buat dia seperti itu. Dia adik


saya satu-satunya."


Azka mendengar ucapan


itu langsung bangun dari tidurnya. Tidak mungkin baginya untuk kabur


dari masalah seperti ini. Azka tidak suka jika ia kabur tanpa


menyelesaikan masalah.


"Kalau begitu, nanti sore saya ke sana,"


"Setidaknya bicarakan baik-baik. Saya nggak mau dia banyak pikiran apalagi sebentar lagi kalian akan punya anak."


"Saya tahu, Dim. Nanti akan saya usahakan untuk datang ke sana,"


"Saya permisi dulu."


Perempuan yang ia cari


sedari tadi justru berada di rumahnya. Berarti setelah kejadian itu,


Nagita langsung pulang ke rumahnya tengah malam itu juga. Padahal ia


sudah berpesan agar dirinya saja yang pegi dari apartemen dan mengalah.


****


langsung menuju rumah Dimas untuk menjemput istrinya. Ia menyadari


kesalahannya. Di depan rumah, ia agak sedikit ragu untuk masuk bersama


dengan Dimas. Tetapi karena ingin memperbaiki dan memikirkan psikologis


Nagita, ia pun masuk ke dalam rumah tersebut.


Benar saja seperti yang


dibayangkannya. Nagita ketakutan melihat dirinya yang datang bersama


dengan Dimas. Bahkan Nagita berteriak histeris dan langsung ditenangkan


oleh Dimas. Azka menyadari bahwa sedalam itu terlukanya hati dan pikiran


Nagita karena perbuatannya.


Nagita pun jatuh pingsan. Dengan segera Dimas mengangkat tubuh Nagita dan langsung membawanya ke kamar.


"Sebenarnya ada apa? Kenapa dia takut sekali sama bapak?"


Azka mendongakkan kepalanya, sambil menahan sesak didadanya. "Kesalahan yang dulu hampir terulang lagi,"


"Kenapa bisa?"


"Saya yang salah, hingga membuat dia seperti itu. Saya harus bagaimana?"


"Tetap temani dia,


matikan lampunya. Tidur dan peluk dia, sebelum itu mandi dan gunakan


pakaian saya. Jangan pernah ngomong ketika dia tersadar, cukup teman dan


peluk dia supaya da menganggap bahwa itu adalah saya,"


"Baiklah." Azka menuruti perintah Dimas yang terdengar sangat meyakinkan.


Setelah mandi dan mengganti pakaiannya, ia bertemu dengan Dimas lagi.


"Peluk dia erat, elus


rambutnya. Jangan pernah tinggalkan dia. Kenapa baru ngomong sekarang


sih? Dia itu hamil, dia tidak boleh stres,"


"Saya tahu."


"Masuklah!"


Mereka berdua masuk ke


kamar Nagita, "Tidurlah. Ingat jangan pernah bicara saat dia mengatakan


apa pun. Saya akan mematikan lampunya, saya akan ke kamar dulu."


Setelah Dimas mematikan


lampu dan keluar dari kamar Nagita, ia mulai memeluk tubuh Nagita begitu


erat. Perlahan tubuh itu mulai begetar kembali, ia dengan segera


memeluknya.


"Kak, bajingan itu sudah pergi?"


Azka tak menjawab justru


merasa sesak saat tubuh Nagita bergetar hebat. Ia tak akan melakukan


hal bodoh itu jka tahu risiko yang ditimbulkan seperti ini.


"Kak, Gita nyesel kenal


orang kayak dia. Kenapa orang seperti dia ada? Kak kalau bukan karena


anak ini, Gita nggak bakal nikah sama dia, nggak bakalan kenal orang


kayak dia. Gita emang bisa rawat anak sendirian, tapi bagaimana pun juga


Gita takut dia menanyakan siapa ayahnya. Dia brengsek, dia sering


nyakitin hati aku, tapi aku selalu berusaha untuk menahan diri, sekarang


Gita nyesel, kak." Ia merasakan kedua tangan Nagita memeluknya sangat


erat. Mendengar ucapan itu, hatinya sedikit teriris. Sekejam itu ha yang


dilakukan oleh Azka. Tak terasa matanya memanas, mengingat


kejadian-kejadian yang diperbuatnya selama ini membuatnya sedikit


menyesali selama ini terlalu mengabaikan istrinya.


Ia mendekap Nagita


begitu erat dan menciumi kening Nagita. Tapi tubuh Nagita tak pernah


berhenti bergetar, Azka sangat menyesal dengan hal itu. Isakan semakin


keras dan pelukan itu semakin erat, ia hanya bisa diam. Takut jika


perempuan itu menyadari, bahwa dirinyalah yang memeluk perempuan itu


saat ini, bukan Dimas.


"Kak, Gita akan tetap tinggal di sini, nggak mau lagi balik ke sana."


Azka teus mendengar


ucapan Nagita. Hingga tak ada lagi suara isakan dan juga curhatan. Yang


ia rasakan adalah tubuh Nagita tetap bergetar. Meski dalam keadaan


tertidur. Hal yang sangat ia sesali hingga kini adalah memperkosa


istrinya sendiri.


Sepanjang malam ia


terjaga sebab Nagita sesekali meronta dan berteriak ketakutan. Seketika


itu pula ia harus memeluk istrinya. Hatinya semakin terasa begitu perih


dengan kejadian itu. Setiap malam Dimas harus menggantikan posisinya


untuk menjaga Nagita.


Ingin sekali ia mengatakan sesuatu tapi suaranya tertahan karena takut istinya tahu bahwa dia ada dalam kamar tersebut.


Suara Azka tercekat


ditenggorokan dan terus memeluk Nagita hingga tenang. Ia harus merelakan


jam tidurnya demi menjaga istrinya yang sudah ia buat begini.