
"Rey, Papa mana?"
Om Dimas menanyakan keberadaan papanya. Sedari tadi, Rey juga tidak menemukan Papanya di sana. Dia tidak tahu ke mana pria itu pergi sejak tadi sore sepulang mengambil ikan bersama dengan Om Reno.
Rey dan Leo yang menikmati ikan bakar itu pun langsung berpindah ke ayunan. Namun setelah ponsel Leo berbunyi, sepupunya langsung pergi meninggalkan Rey sendirian di sana. Beberapa saat kemudian, Papanya datang dengan ekspresi yang begitu lusuh.
Dengan rasa khawatir dan tanda tanya yang begitu besar, Rey menghampiri dan memberikan minuman kepada papanya di kursi taman belakang rumahnya. "Ada apa, Papa?"
"Rey, tahu Amanda anak yayasan kita?"
Rey mengangguk, ia ingat dengan gadis yang berbeda satu tahun darinya. Namun, gadis itu kurang beruntung karena dibuang oleh orang tuanya karena penyakitan, papanya menyerahkan amplop cokelat yang dibawa papanya tadi. Dia membaca riwayat penyakit Amanda yang sama seperti Syakila dulu. Yaitu terdapat kebocoran pada jantung.
"Papa, lalu sekarang bagaimana?"
"Lusa dia operasi, Rey. Tapi Papa baru tahu dia di rumah sakit, karena terlalu sibuk Papa enggak tahu dia dibawa ke rumah sakit dan biaya rumah sakit sudah ditanggung oleh orang lain,"
"Siapa?"
"Kalau Papa bilang, janji enggak bakalan cerita sama yang lain, termasuk Mama?"
Rey mengernyitkan dahinya, "Janji, Pa," ucapnya meyakinkan.
"Yang bawa Amanda ke rumah sakit itu, Leo. Dan semua biaya rumah sakit dia yang tanggung dengan uang jatah bulanan dia dari Om Reno, Papa menyayangkan dia tidak bilang sama, Papa. Papa tahu itu setelah data dia di rumah sakit, dia yang menanggung biaya perawatan itu,"
Jadi, terjawab sudah apa yang membuat tante Naura, marah. Dan benar apa yang dikatakan oleh Rey tadi sore, bahwa Leo membantu orang lain dengan uang itu. Tidak mungkin juga Leo menghamburkan uang sebanyak itu.
"Papa, kunci mobil mana?"
Papanya menyerahkan kunci mobil itu, "Rumah sakit ini, dan yang tangani Amanda itu adalah Teddy, Rey. Jangan ke sana kalau kamu enggak siap, Papa juga enggak nyangka kalau semua ini akan kebetulan, untuk biaya operasi Amanda, semua sudah di urus. Tapi yang membuat Papa menderita, yaitu Papa enggak mau kehilangan lagi untuk kedua kalinya, walaupun Amanda bukan anak kandung, Papa. Bagaimana pun juga, jika kasusnya sama. Semua itu membuat ingatan masa lalu itu terulang lagi, Rey,"
Rey mengangguk pelan, dia berpamitan kepada papanya untuk menyusul Leo setelah melihat sepupunya berlari meninggalkan tempat itu. "Jangan bilang sama Mama, aku izin,"
Dia berlari dengan terengah-engah dan langsung menyalakan mesin mobilnya, dia langsung menyetir dengan sembarangan, terlihat Leo sedang menunggu kendaraan di depan kompleks, "Naik, Leo,"
"Aku mau pergi ke suatu tempat,"
"Aku tahu, kamu mau pergi ke rumah sakit,"
Leo menatapnya, dan sekilas lelaki itu masuk ke dalam mobil. Rey langsung mengemudikan mobilnya dengan sangat hati-hati. Dengan perasaan cemas, tidak mungkin juga dia mencelakai dirinya dan juga mencelakai Leo yang sedang dalam perasaan kalut.
Beberapa menit setelah perjalanan mereka. Kedua pemuda itu tiba di salah satu rumah sakit, Rey yang turun dari mobilnya dan langsung berlari menyusul, Leo. Namun, langkahnya terhenti saat melihat Leo menangis memeluk Amanda, selama ini dia tidak tahu kalau Leo ternyata dekat dengan Amanda yang bahkan Rey sendiri tidak menyangka sepupunya akan memiliki rasa peduli yang sangat besar terhadap orang lain.
"Rey!"
Rey berbalik setelah mendengar ucapan pria yang sudah tidak asing lagi baginya, dia menoleh dan menemukan Teddy berdiri di sana. "Om,"
"Kamu mau kunjungi anak asuh Papa kamu?"
Rey mengangguk, dan Teddy terus berusaha mengajaknya mengobrol. Rey yang berusaha untuk tidak membenci pria itu sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Mamanya. Dia sakit, sangat sakit ketika mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan dari Teddy dahulu.
Tiba di taman rumah sakit, Rey duduk di bangku putih yang langsung berhadapan dengan UGD. "Maaf tentang waktuitu, Rey,"
"Om, aku enggak pernah benci sama, Om,"
"Bagaimana pun juga Om pernah buat kamu menderita, andai saja dulu Om enggak kasar sama kamu dengan sikap Om yang enggak peduli. Tentu kamu masih manggil Om dengan sebutan Papa,"
"Om, aku enggak pernah marah, enggak pernah benci. Mungkin waktu itu memang aku enggak paham dengan apa yang Om lakuin sama aku. Tapi, bagaimanapun juga Om sudah pernah ngasih kebahagiaan di tengah-tengah rasa kesepian dan kesedihan itu. Walaupun pada akhirnya aku juga kehilangan adik aku karena perbuatan Om yang membuat Mama celaka. Tapi, semua itu adalah kenangan masa lalu, semua orang pernah berbuat salah, Papa, Om, Mama, semua pernah salah. Disitu aku enggak salahin siapa-siapa, tapi mungkin emang takdir kalian yang sampai di situ dan barangkali Papa sama Mama emang dijodohkan, walaupun awalnya dipisahkan,"
"Rey, Mama apa kabar?"
"Mama baik, Om sendiri bagaimana? Aku dengan Om punya anak angkat?"
"Semoga Om bahagia sama istri baru dan juga anak-anak Om. Ngomong-ngomong aku dengar dari Papa, kalau Om yang bakalan operasi, Amanda?"
"Iya, Rey. Ini mengingatkan Om pada kejadian masa lalu. Yang di mana Om yang tangani Syakila, adik kamu. Ini benar-benar sama,"
"Maka dari itu, aku enggak mau kehilangan lagi. Om harus bantuin, Amanda,"
Pria yang ada di samping Rey mengusap punggung Rey dengan lembut. "Ternyata kamu sudah dewasa, Nak. Om bakalan bantuin, doain operasi lusa berhasil. Dan Om salut sama sepupu kamu yang bawa Amanda dengan tepat ke rumah sakit, Om tahu itu dari Papa kamu tadi. Om tahunya Leo datang membawa Amanda dan membayar semua biaya perawatan,"
"Cinta itu kuat ya, Om. Enggak peduli sama keadaan,"
"Terus kamu sendiri udah nemuin belum? Apa jangan-jangan Papa enggak ngebolehin kamu dekat sama perempuan?"
"Ada,"
"Oh sekarang Rey udah dewasa dan punya kekasih,"
"Apaan sih, Om. Udah, selamatin si Amanda, aku enggak mau Leo mengalami hal serupa seperti yang aku rasakan dulu,"
"Kalau operasinya berhasil, Rey maafin Om?"
"Om, harus janji dulu,"
"Om enggak bisa janji. Yang memutuskan hidup dan mati orang itu cuman Tuhan, Om itu cuman perantara, Rey,"
"Tapi aku bakalan bantu doa, Om yang usaha. Kalau berhasil, aku bakalan maafin Om. Kalau enggak, awas aja,"
"Terima kasih, ya. Om bakalan berusaha sebaik mungkin."
Rey tersenyum, Bagaimana pun juga nantinya, pria itu akan mengoperasi Amanda. Rey kembali lagi ke ruangan yang di mana tempat Amanda di rawat.
Rey berdiri di belakang keduanya, ia ingat beberapa waktu lalu Leo memang sempat menceritakan perempuan yang dia sukai, tapi tidak mengatakan bahwa itu adalah Amanda. Saat itu juga dia melihat Leo mengusap kepada Amanda dan memberikan semangat.
Mungkin keduanya tidak menyadari bahwa dirinya sedang berada di belakang. Terdengar isak tangis dari Amanda yang ingin menyerah pada hidupnya. "Ada aku, aku yang sayang sama kamu. Kamu harus berusaha untuk bertahan hidup untuk aku. Jika orang tua kamu sendiri membuang kamu karena ini, maka aku terima kamu dengan keadaan seperti ini,"
"Leo,"
"Jangan terlalu banyak bicara, aku cuman mau kamu sembuh,"
"Di mana kamu dapat uang sebanyak itu buat bawa aku kemari?"
"Kamu harus tahu, bahwa aku pengin kamu tetap hidup. Nemenin aku sampai aku jadi orang yang sukses, aku bakalan bahagiain kamu,"
"Tapi bagaimana dengan orang tua kamu?"
"Jangan pedulikan itu, aku cuman pengin kamu sembuh. Tidak peduli dengan mereka yang setuju apa tidak, itu urusan nanti. Aku hanya ingin kamu sembuh, kita tidak pernah tahu perasaan orang lain, kan?"
"Leo, bagaimana kalau Rey tahu?"
"Dia tahu ini, dia tahu apa yang aku lakuin ini semua buat kamu,"
"Apa dia enggak bakalan lapor sama orang tua kamu?"
"Aku juga mau kamu tetap hidup, Amanda. Kamu juga bagian dari keluarga aku, meski kita enggak tinggal satu rumah. Tapi Papa aku sudah berusaha untuk ngasih yang terbaik buat kamu, dan Papa aku juga biayain operasi kamu karena dia pengin kamu hidup. Kamu berharga untuk semua orang," ucap Rey dari belakang mereka. Keduanya langsung menoleh.
"Kak," ucap Leo pelan.
"Percayalah semua akan baik-baik saja asal kamu percaya bahwa kamu juga bisa sembuh, Amanda."
Rey tak ingin kehilangan untuk kedua kalinya dengan penyakit yang sama, dia memberikan senyuman di saat perasaannya begitu getir mengingat tangis Syakila dahulu berada dipelukan papanya. Barangkali saat ini papanya sedang dilanda perasaan yang juga teramat sakit karena penyakit itu.