RICH MAN

RICH MAN
MEMALUKAN



Pukul 15:48, seharusnya mereka sudah pulang dari tadi siang. Namun karena ada praktik yang harus dikerjakan oleh kelas sebelas, mereka harus berdiam di sekolah hingga sore.


"Kerja enggak hari ini?" tanya Reynand pada Fendi yang sudah terlihat sangat lesu karena kurang tidur.


"Iya, sampai malam,"


"Gue ke bengkel lo deh nanti malam,"


"Jangan lupa bawa makanan masakan Mama lo ya! Kangen gue sama masakan Mama lo,"


"Tenang aja, ya udah yuk pulang! Gue antar ke bengkel,"


Keduanya pun mengenakan tas dan langsung keluar kelas, sedangkan di sana sudah banyak sekali para siswa-siswi yang sudah siap untuk melanjutkan ekstrakurikuler mereka sore itu, Fendi sesekali melihat ke arah para barisan paskibra yang sudah memulai kegiatan mereka.


"Naksir?"


"Kagak, gue mana berani naksir, gue cuman orang biasa. Kalau lo yang naksir, bakalan pada langsung jatuh pingsan lihat kecakepan lo, belum lagi karena lo itu kaya," ucap Fendi. Namun, Rey hanya tersenyum tak membalas ucapan Fendi. Dia malah fokus berjalan ke parkiran.


Setelah mengambil motor di parkiran dan menemui Fendi, mereka berdua bergegas menuju bengkel di mana Fendi bekerja. Anak itu memang pekerja keras, mencari uang hanya untuk membantu meringankan kedua orang tuanya untuk membayar SPP sekolah, terkadang Reynand juga membantu, orang tuanya pun tidak pernah membatasinya bergaul dengan Fendi, walaupun anak itu terbilang blak-blakan, setidaknya dia tidak pernah memiliki masalah di sekolah.


Setibanya di bengkel, Reynand berpamitan kepada Fendi dan akan ke sana malam harinya.


Dengan menunggangi motor gagahnya yang berwarna merah, Reynand yang merupakan anak orang kaya masih bisa bergaul dengan sangat baik bersama anak yang dari kalangan bawah. Papanya yang selalu mengajari bagaimana caranya menghargai, sedangkan Mamanya selalu mendidik agar tidak membedakan dari status sosial. Reynand juga mengetahui bahwa dahulu Mamanya dari kalangan tidak mampu, kemudian menikah dengan Papanya hanya karena kesalahan satu malam. Namun karena perjuangan orang tuanya untuk mempertahankan rumah tangga, membuatnya hingga kini bertahan dengan keluarga yang utuh, walaupun dahulu pernah mengalami hal yang tidak mengenakkan.


Rey tiba di rumah, ia membuka helm dan masuk ke dalam rumahnya. Di sana ia sudah menemukan kedua adiknya sedang bermain di ruang tamu bersama dengan mamanya.


"Kakak,"


Kedua anak itu langsung berhamburan menyambut kedatangan Rey saat dirinya tadi mengucap salam.


"Sayang sudah makan?" tanya mamanya.


"Belum, Ma. Papa sudah pulang?"


"Ya sudah kamu mandi sana, Mama siapin makanan ya. Papa belum pulang, bentar lagi kayaknya,"


"Ya sudah, Ma. Aku ke kamar dulu, mau mandi,"


"Tumben pulangnya telat?"


"Ada praktik, Ma. Praktiknya juga dadakan, aku juga enggak tahu sih sebenarnya. Jadi maaf ya,"


"Enggak apa-apa. Mama cuman khawatir aja. Ya sudah, mandi sana, terus makan. Mama siapin sekarang,"


"Bentar kakak mandi dulu ya," ucapnya kepada kedua adiknya. "Ma, kunci mobil Papa mana?"


"Mau ngapain?"


"Mau jalan-jalan,"


"Istirahat Rey, jangan keluyuran. Besok sekolah,"


"Mau ngajak adik aku ke rumah Om Dimas, Ma,"


"Di antar sopir kan bisa,"


"Biar aku aja, Ma. Lagian enggak jauh, kan?"


"Ya sudah, terserah kamu saja."


Reynand menyeringai saat Mamanya memilih untuk mengalah. Saat itu juga Reynand bergegas ke kamarnya untuk membersihkan badannya. Badannya sudah lengket karena keringat, adiknya tak mengikuti karena Reynand tadi sudah berjanji bahwa akan membawa keduanya menuju rumah Dimas.


Selesai mandi dan berpakaian rapi, hanya dengan mengenakan kaos polos dan celana hingga lutut dan sepatu, Reynand turun dari kamarnya.


"Rey makan dulu, ya!"


Tanpa berkata apa-apa. Reynand langsung menuju tempat makan dan di sana adiknya juga sudah menunggu, "Kakak, ki-ta ke lumah Om Dimas?" ucap Nabila terbata, kedua anak itu memang kadang sangat sulit untuk melafalkan kata yang belum mereka kuasai. Usianya yang masih terbilang sangat kecil untuk lantang berbicara, tak jarang juga untuk melatih adiknya berbicara Reynand membelikan buku dongeng dan membacakan untuk keduanya saat anak itu memilih tidur bersama dengannya.


Rey menyantap makanannya dan kedua adiknya diambil alih sementara oleh mamanya, jika tidak. Maka ia tidak akan selesai makan karena pertanyaan keduanya tidak akan berakhir, semenjak kehadiran si kembar, Reynand menjadi sosok kakak yang belajar untuk bertanggung jawab.


Beberapa menit kemudian makanannya pun tandas, ia menyusul adik dan mamanya yang ada di ruang tamu.


"Ayo dek kita berangkat!" ajak Reynand yang sudah mendapatkan kunci mobil dari mamanya yang sudah disediakan tadi di atas meja makan sebelah kanan piringnya.


Kedua anak itu berlarian mengejar Rey, baru saja dirinya hendak di antar ke teras depan oleh mamanya, mobil papanya pun memasuki area rumah mereka. Ia pun menunggu papanya turun terlebih dahulu dan berpamitan.


"Kalian mau ke mana?"


"Lumah Om Dimas," ucap Salsabila riang.


Tatapan mata papanya pun langsung mengarah pada Reynand. "Benar mau ke rumah Om Dimas?"


"Iya, Pa. Kan sudah lama enggak ke sana, aku izin bawa adik-adik aku ya?"


"Ya sudah, pulangnya sebelum magrib ya!"


"Iya, Pa. Aku pergi dulu, Pa. Ayo dek, salaman sama Mama dan Papa!" perintahnya dan kedua anak itu langsung berpamitan. Terakhir, Rey yang berpamitan kepada kedua orang tuanya dan menyusul adiknya yang berlarian menuju garasi.


Mereka bertiga masuk ke dalam mobil dan Reynand menurunkan kaca pintu mobil. "Ma, Pa, aku berangkat," pamitnya. "Dada Mama, Papa," ucap kedua adiknya serentak. Reynand pun menutup kembali kaca pintu mobil. Sepanjang perjalanan, kedua adiknya berdiri dan bermain di berdua.


"Dek, duduk! Kakak enggak jadi ajakin loh,"


Kedua adiknya menurut dan masih bercanda, setidaknya adiknya mau duduk walaupun mereka bercanda di dalam mobil.


"Nanti kalau sudah sampai sana jangan berantem ya!"


"Enggak dong kakak. Ya kan dek?" ucap Nabila meyakinkan.


Rey sangat bersyukur memiliki adik yang sangat lucu, walaupun dirinya yang berbeda dari kedua adiknya, dari segi status. Akan tetapi kasih sayang orang tuanya tak berbeda sedikit pun.


Setibanya di sana, rumah Om Dimas nampak begitu sepi. Reynand langsung turun mengajak kedua adiknya, biasanya mobil Dimas akan terparkir di sana dan kali ini rumah juga tertutup.


Reynand memencet tombol bel beberapa kali hingga asisten rumah tangga di rumah Om Dimas keluar.


"Om Dimas ada, Bi?"


"Tuan sama keluarga yang lain ngantarin Nyonya pulang. Kemungkinan pulangnya besok sih katanya, karena ada acara keluarga,"


"Oh ya sudah. Kalau Om Dimas pulang bilang aku kemari ya, kalau gitu aku pamit,"


"Enggak main-main dulu?"


"Enggak usah, Bi. Lain kali aja kalau ada Om Dimas sama Tante Viona,"


"Ya sudah Den, nanti Bibi kasih tahu Tuan,"


"Aku pamit, Bi."


Bibi hanya menganggukkan kepala, Reynand menggendong kedua adiknya ke mobil. "Om enggak ada di rumah, kita pulang ya!"


"Ke luma Oma ya, Kak!" ucap Salsabila. Reynand nampak berpikir sejenak sebelum akhirnya menyetujui, "Ayo berangkat!" ucapnya. Adiknya bersorak karena senang jika di ajak ke sana. Reynand juga merasa rindu kepada Oma dan keluarga yang lain di sana, dahulu dirinya di rawat dengan baik dan diberikan kasih sayang yang luar biasa di sana.


Setelah dua puluh menit mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Mereka pun tiba dan justru adiknya tertidur selama di perjalanan tadi. Mau tidak mau Reynand menggendong keduanya masuk ke dalam rumah Omanya.


"Rey!" Panggil Oma Reynand.


"Oma apa kabar?" keduanya bangun bersamaan dan Reynand benar-benar kesal dengan tingkah adiknya.


"Oma gendong," ucap adiknya manja.


Salsabila yang terlebih dahulu merentangkan tangan kepada Omanya.


"Oma. Opa mana?"


"Biasalah, pergi mancing sama Om Reno,"


"Emangnya dia enggak kerja?"


"Opa enggak berubah dari dulu, terus tante mana?"


"Tante, ke supermarket sama Leo dan Clara. Kamu nyetir sendirian?"


"Iya Oma. Papa ngebolehin kok, lagian cuman ke rumah Oma. Tadinya mau ke rumah Om Dimas. Tapi karena katanya lagi ke rumah Tante Viona, adik aku juga ngajakin ke sini. Jadi aku turuti,"


"Terus kamu sudah makan?" ucap Oma dan Rey mengikuti untuk duduk di sofa.


"Udah, barusan pulang sekolah langsung makan, kalau enggak ya tahu kan Mama itu galak kalau aku enggak makan," ucapnya sambil tertawa.


"Mama mana galak sih, Rey. Mama kamu itu polosnya kebangetan dari dulu, cuman Papamu aja yang takut sama dia, Papa sering ngambek sama Mama dulu,"


"Siapa bilang dulu? Sampai sekarang aja masih sering ngambek, apalagi kalau makan terus enggak disuapi, yakali dia udah punya anak tiga masih aja manja gitu," protes Reynand yang selalu melihat papanya bermanja dengan orang mamanya.


"Memangnya sering?"


"Ya ampun, Oma. Sekarang ini aja aku enggak tahu ya, mereka lagi ngapain di rumah. Tahu sendiri Papa itu orangnya kayak gimana,"


"Papa sama Mama butuh waktu untuk berdua juga, Rey. Dulu kan mereka enggak pernah pacaran. Belum lagi waktu mereka nikah, baru aja beberapa bulan, si kembar hadir, Papa itu gimana ya, pokoknya Papa kamu itu kadang nyebelin, tapi dia nurut banget sama Oma,"


"Papa enggak bandel dulu, Oma?"


"Banget, bahkan Oma udah pindahin dia sekolah sudah beberapa kali,"


"Berarti dia berubahnya waktu aku sudah ada, kan?"


"Iya sepertinya begitu. Ya tapi kamu jangan ikuti, kasihan Mama. Mama udah baik banget loh selama ini, jangan dibuat nangis, apalagi buat Mama itu sedih karena masalah kamu, Rey,"


"Enggak bakalan, Oma,"


Mereka pun berbincang cukup lama dan Naura pun akhirnya pulang bersama dengan Leo dan juga Clara.


"Kakak Ala," ucap kedua adiknya dan turun dari sofa sedangkan Nabila bergegas turun dari pangkuan Rey untuk menyambut kedatangan Clara.


"Rey, tahu tante Naura hamil?"


"Eh? Leo bakalan punya adik lagi?"


"Iya, makanya Leo itu kesal setelah tahu Mamanya hamil lagi,"


Leo langsung menghempaskan diri di samping Rey. "Kapan datang?"


"Barusan, ngomong-ngomong kata Oma benar kamu bakalan punya adik?"


"Iya, Mama hamil lagi. Heran deh kenapa enggak dari dulu aja gituloh, kenapa baru sekarang?"


"Ngeluh, aku aja punya yang dua ini senang kok," ucapnya.


"Bukannya gitu, cuman ya gimana gitu. Aku udah SMA baru punya adik, Kak Rey kan waktu SMP,"


"Ya sudah, Mama bilang ke Papa nanti buat gugurin kalau kamu enggak mau,"


Rey menoleh ke arah Naura dan seketika Leo pun mendekati Mamanya. "Enggak Ma, wiiih aku senang loh Ma, jangan digugurin ya, dosa! Pokoknya biarin aja, Mama mau punya berapa pun aku terima, asal jangan digugurin ya!" ucap Leo merayu mamanya. Rey yang melihat itu tertawa bersama dengan Oma-nya.


"Benar ya?"


"Iya, Ma. Nanti aku kayak Kak Rey deh yang penyayang sama adik,"


"Penyayang apaan? Aku aja sering dibuat nangis," ucap Clara yang membuat mereka semua tertawa, kecuali Leo.


"Bocah diam kenapa?"


"Idiiih, padahal kenyataan. Kalau enggak dituruti ambil air minum aja ke bawah, malah ngamuk," protes Clara.


"Sebagai adik yang manis, enggak boleh ngelawan sama kakak ya!" ucap Leo.


Namun ucapan itu tak ditanggapi oleh Clara justru meninggalkan mereka semua dan mengajak si kembar ke kamarnya. Leo dan Reynand juga berpamitan seperti biasanya bermain PS di kamar Leo. Itu adalah hal yang sudah dilakukan sejak lama, mereka satu sekolah, akan tetapi beda ruang kelas. Mereka selalu akrab seperti sekarang karena tidak ada perlakuan spesial. Semua sama saja, terlebih walaupun Reynand cucu tertua, tetapi kasih sayang yang diberikan cukup adil.


Mereka berdua terus bermain PS dan terus berbincang, "Kak benaran kakak itu di jodohin sama Widya, teman bisnis Om Azka?"


"Enggaklah,"


"Aku enggak sengaja dengar, loh. Waktu itu Papa di kemari dan awalnya mau ngejodohin aku, tapi aku nolak. Papa aku kan enggak suka maksa, lagian ya zaman sekarang mau main jodoh-jodohan gitu, kan lucu,"


"Enggak. Aku mana mau sama ular kayak dia,"


"Coba aja dulu ngomong sama Om Azka. Kita ini masih sekolah malah orang tuanya si Widya itu ngotot banget, apa karena harta Papa kita ya?"


"Widya itu anak orang kaya, mana mungkin ngelirik harta?"


"Tapi harta dia enggak sebanding sama harta Om Azka. Lagi pula, kenapa Kak Rey bilang gitu? Ya bisa aja kan? Dia dijadikan alat buat peras kita? Itulah kenapa aku enggak mau terlihat mencolok di sekolah, walaupun kita dari keluarga yang kaya, tapi kalau cuman di manfaatin sih, aku enggak banget deh,"


"Lagian siapa juga yang mau dijodohin sih Leo?"


"Hehehe, aku ada incaran loh, Kak. Dia kelihatan baik banget, aku ajak ngomong dia menghindar, katanya enggak mau bergaul sama cowok, tahu kan kalau udah kayak gitu, aku jadi tambah penasaran,"


"Hebat memang adik yang satu ini main langkah-langkahi kakak,"


"Gerak cepat dong, aku juga cari tahu tentang dia sih, dia dari keluarga biasa. Aku iseng-iseng bilang ke Mama kalau seandainya nanti aku berjodoh sama orang biasa, gimana? Nah terus Mama jawab enggak masalah asal jelas keturunannya, nah kan kak, Mama itu memang luar biasa. Beda tipis sama tante Nagita,"


"Mama aku itu dia yang terbaik, Leo. Papa apalagi, dia bakalan keras kepala cuman untuk menuruti kemauan aku, apalagi itu enteng banget soal pasangan, eh udahlah jangan ngomongin pasangan, sekolah aja dulu,"


"Awas naksir sama incaran aku,"


"Bodo amat,"


"Kak Rey itu terkenal di sekolah karena pintar, lah aku?"


"Untuk apa terkenal di sekolah? Aku malah enggak pernah berpikiran begitu,"


"Tapi teman-teman di kelasku ngomongin Kak Rey, apalagi aku di dekati cuman untuk bantuin mereka dekati kakak,"


"Jangan mau dimanfaatin. Kalau cuman untuk dekat sama aku, enggak usah. Lagi malas pacaran, nanti juga bikin ribet sendiri, kalau cuman minta bantuan, ya dibantuin! Asal jangan comblangin aku,"


"Gini-gini aku juga terkenal, Kak,"


"Iya terkenal karena banyak pacar,"


"Hehehe, jangan bilang gitu ke Mama. Yang ada aku dipelintir sama Mama,"


"Tante, Leo pacaran di sekolah!" teriak Reynand. Mulutnya langsung dibekap oleh Leo.


"Sialan, sudah dibilangin jangan ngadu malah teriak,"


"Mana dengar sih mereka, kita la--"


"Apa? Leo pacaran di sekolah?" ucapan Rey terputus karena tiba-tiba tante Naura datang ke kamar Leo dan langsung bertanya seperti itu.


"Bercanda tante, enggak kok, hehe," ucap Reynand.


Tante Naura masih berdiri di pintu, "Awas Leo pacaran, uang jajajn sama motor Mama sita," ancam tante Naura dan pergi begitu saja.


"Kakak sumpah ya kok ngeselin banget?"


"Udah diselamatin juga, bawel banget. Lagian ya jangan mainin perasaan orang, kamu kan punya adik perempuan, gimana kalau adik kamu dipermainkan sama orang lain nantinya?"


"Siapa juga yang mainin perempuan? Aku kan sudah bilang kalau aku itu punya incaran,"


"Iya udah deh terserah."


****Season dua sudah dimulai dari EPISODE REYNAND ya. Bakalan update setiap hari pastinya. Ditunggu terus ya, hehehe romance ringan kok. Karena sudah kenyang disuguhkan keromantisan Nagita & Azka, kini giliran anaknya, hehehe.


Jangan lupa like dan jika berkenan ngasih tip, boleh. hehehe