
Rey merasa sangat dibohongi oleh semua orang yang sudah mengetahui kenyataan itu dan membiarkan dia tidak tahu dengan hal itu. Hanya dia yang dikecualikan dari orang-orang yang tahu mengenai Marwa.
Rey datang ke taman dan berlama-lama di sana dan mulai benci dengan kenyataan yang dia hadapi sekarang ini. Rey benci dengan dirinya yang merasa dibohongi oleh Marwa. Benci dengan semua orang yang membuatnya merasakan sakit itu terus menerus. Apalagi dengan menyakiti hati Marwa adalah hal yang sangat keterlaluan.
Dia sempat bertanya kepada Fendi dan juga Jenny. Bahkan keduanya mengatakan bahwa itu adalah benar, Rey menerima foto Jenny dan juga Marwa ketika membuka cadarnya. Jenny sendiri kesulitan untuk berfoto karena Marwa menuruti ucapan Rey untuk tidak membuka cadar pada siapa pun selain dirinya, akan tetapi karena rayuan dari Jenny hingga perempuan itu mau dan berjanji tidak akan menyebarkan foto itu ke orang lain.
Rey menatap foto itu sambil terus menggenggam ponselnya dengan begitu erat kemudian memasukkannya ke dalam saku celananya. Kali ini dia ingin memastikan kepada Leo bahwa yang pertama mengetahui hal itu adalah Leo.
Dia pergi ke rumah oma dan menemui pria yang sudah membohonginya itu.
Kali ini dia sudah tidak bisa menyelesaikan masalah dengan kepala dingin. Rey tidak bisa menahan emosinya lagi. Dia benar-benar merasa ditipu oleh semua orang yang ada di keluarga mama maupun papanya. Mereka adalah orang-orang yang sangat pandai berakting di depan Rey. Mulai dari sengaja menanyakan kapan Marwa akan hamil, dan tentang bulan madu mereka.
Otak Rey sudah tak mampu lagi bekerja dengan baik, hanya emosi yang menyelimutinya kini. Tidak ada yang bisa menenangkannya, karena pertama kalinya dia merasakan emosi yang separah ini.
Rey tiba di rumah omanya dan menekan tombol bel. Emosinya sudah memuncak dan berharap bisa bertemu dengan Leo malam itu juga. Dia sudah tidak bisa sabar menunggu pintu itu di buka. Sambil terus menunggu, Rey membuka ponselnya dan mengecek GPS untuk melacak keberadaan Marwa, akan tetapi justru tidak ada tanda-tanda keberadaan perempuan itu.
Pelan, pintu itu terbuka dan menampilkan tante Naura yang sepertinya baru bangun. Tentu saja semua orang dibuat heran karena Rey datang tengah malam.
"Leo mana?"
Rey langsung masuk, lupa dengan etikanya dalam bertamu. Dia langsung masuk dan berteriak mencari keberadaan Leo. Sungguh, hatinya benar-benar sakit karena merasakan hal itu. Tetapi Rey tetaplah pria yang memiliki sisi lemah di kala hatinya dihancurkan seperti sekarang ini, dia pun juga bisa menangis jika sudah tidak bisa menahan apa yang ada dihatinya.
Leo turun setelah Om Reno membangunkan pria itu. Rey yang sudah dikuasai oleh emosi berada di ruang keluarga dan seketika itu menyambar Leo dengan pukulan yang membuat seisi rumah terkejut dengan tindakan Rey yang sudah keterlaluan.
"Kamu biang dari semua ini," ucap Rey ketika Leo tergeletak dilantai. Reno berusaha menahan Rey yang benar-benar seperti orang gila karena dikuasai oleh emosi yang sangat tinggi.
Leo bangun sambil memegangi pipinya yang menjadi incaran Rey tadi. Bahkan pinggir bibirnya berdarah karena kakak sepupunya itu. Selama ini mereka tidak pernah bertengkar, namun kali ini sisi buruk Rey terlihat dengan sangat jelas.
"Kakak kenapa?" tanya Leo berusaha bangun dan sementara itu papanya masih memegangi Rey yang tidak bisa dikendalikan lagi.
"Puas kamu hah? Puas kamu lihat aku menderita seperti ini? Leo, kamu adalah dalang dari semua ini, kamu sudah tahu mengenai Bintang kenapa kamu hanya diam? Waktu paket itu datang, kenapa kamu hanya diam dan enggak bilang kalau selama ini Bintang itu adalah Marwa?" teriak Rey.
Tubuh Rey yang sudah sangat lemah hampir saja jatuh akan tetapi ditangkap oleh Reno. Ia tahu bahwa kali ini pria itu menjadi berubah hanya karena sudah tahu tentang Marwa.
"Rey," panggil oma-nya.
Reno membantu Rey duduk disofa dan langsung dipeluk dengan begitu erat oleh oma. Rey menangis di sana. Dia tidak tahu lagi harus melampiaskan perasaannya seperti apa.
"Kenapa kalian semua itu bohongi aku?" ucapnya lirih.
Naura yang tak kalah bersedihnya melihat pria itu pun ikut mendekati Rey yang benar-benar terlihat rapuh.
"Enggak ada yang bohong, Rey. Enggak ada yang bohongi kamu, bahkan enggak ada yang bohongi kamu tentang semua ini, semuanya hanyalah tentang waktu untuk jujur. Kami enggak mau jujur karena kami tahu kalau kamu bakalan emosi seperti sekarang ini, Papa kamu bahkan Mama kamu berusaha untuk tenang dengan semua ini,"
Rey menarik napasnya, dia mengusap air matanya. Bukan berarti dia lemah, tetapi hatinya sudah tidak mampu lagi membendung semua tentang kenyataan yang begitu perih itu. Raut wajah Rey berubah menjadi memerah karena menahan emosinya.
"Rey tahu dari mana kalau Marwa adalah Bintang?"
"Mama. Mama cerita kalau Marwa itu adalah Bintang dan semua orang seolah enggak tahu sumber dari rasa sakit ini. Aku bahkan hampir pisah sama Marwa hanya karena mikirin perempuan itu, tapi apa? Ternyata Bintang yang selama ini aku cari ada di sisi aku," ucapnya lirih dengan menahan air mata agar tidak terjatuh.
Naura melihat keponakannya yang kali ini bukan seolah seperti Rey yang benar-benar rapuh. Pria itu benar-benar sudah kehilangan kendalinya untuk bisa jauh lebih tenang lagi. Siapa pun yang dibohongi karena orang yang dicari ada di sisinya, pasti akan merasa sangat sakit.
"Yang salah itu adalah kakak sendiri. Kenapa kakak enggak pernah buka cadarnya, Marwa? Kalian suami istri, kenapa kakak enggak lakuin untuk sekadar lihat wajah dia? Kenapa kakak selalu larang dia buka cadar?"
Rey terpojokkan dengan ucapan Leo yang membuatnya sedikit mengerti, benar bahwa selama ini dia yang melarang Marwa untuk membuka cadarnya. Bahkan dia sendiri yang melarang perempuan itu untuk melakukan itu, Marwa pernah meminta bahwa dia akan membuka cadarnya di rumah hanya untuk Rey. Tetapi Rey menolak karena belum siap terbayang dengan masa lalunya ketika melihat Marwa dan justru ingatannya jatuh pada Bintang.
"Apa aku salah ngomong kak? Yang larang Marwa itu buka cadar adalah kakak sendiri. Kenapa aku yang salah? Kenapa aku yang berusaha untuk membuat kakak terhindar dari rasa benci justru kakak salahin? Kakak hanya fokus pada salah orang lain. Kakak lupa pada salah kakak sendiri yang tidak bisa menghargai dia selama berada disamping kakak. Andai kakak mau sedikit saja untuk melihat ke arah dia, tentu kakak akan tahu sendiri, tapi apa? Kakak melihat ke masa lalu saat bersama dengan orang baru, yang ternyata itu adalah orang yang kakak cari. Sekarang siapa yang salah? Aku apa kakak yang terlalu bodoh dengan perasaan kakak di masa lalu?"
Rey memejamkan matanya saat Leo berkata demikian. Rey salah, dan semua orang justru tidak mau membantunya untuk melupakan masa lalu itu. Dan sekarang justru dia merasa benci dengan dirinya sendiri yang di mana tidak bisa jujur terhadap pada perasaannya sendiri. Padahal rasa nyaman ketika bersama dengan Marwa pernah dia rasakan begitu nyata. Tetapi bodohnya dia memikirkan masa lalunya.