RICH MAN

RICH MAN
BELAJAR DARI KESALAHAN



Mereka telah tiba di salah satu resort di Bali. Nagita izin untuk mengurus bisnisnya pada Dimas. Sedangkan kedua pria yang bersamanya kini tak diketahui oleh Dimas. Bukan bermaksud untuk berbohong, tapi karena dirinya tahu bahwa hubungannya akan ditentang keras oleh kakaknya sendiri.


Pukul sebelas siang, mereka memilih untuk berenang dan mengistirahatkan sejenak tubuh mereka karena perjalanan dari Jakarta tadi. Nagita tak pernah menyangka bisa liburan dengan anak dan kekasihnya kini. Perempuan itu telah mampu memaafkan Azka yang dulu, selama berpacaran dengan mantan suaminya, ia merasakan kasih sayang yang berbeda dari sebelumnya. Azka juga yang nampak lebih lembut dan perhatian kepadanya. Walau terkadang kemesraan mereka sering diganggu oleh Rey, anak semata wayang mereka.


Resort yang langsung menghadap ke pantai memanjakan mata dengan pemandangannya. Ditambah lagi resort itu adalah milik Azka. Nagita baru tahu bahwa ternyata mantan suaminya memiliki resort di Bali.


Bahkan ketika mereka datang tadi, penyambutan yang sangat luar biasa untuk mereka bertiga.


Berbeda dengan anak mereka, anak itu justru memilih untuk tidur karena kelelahan begadang bersama Leo main PS dan Azka pernah melarang itu, akan tetapi larangannya tak diindahkan oleh Rey. Hanya mereka berdua yang ada di resort tersebut. Di khususkan tidak menerima tamu karena untuk menghabiskan waktu bersama keluarga.


Sejenak tadi mereka sedang menikmati jus jeruk dan bersiap untuk berenang. Azka masih berbaring manja di tempat tidur untuk berjemur. Nagita menghampiri Azka di sana. "Kapan renangnya?"


"Kamu udah ganti?"


"Udah,"


"Jubah mandinya di buka! Katanya mau renang?"


"Kamu turun dulu!"


Azka menurut dan langsung turun ke kolam terlebih dahulu. Perlahan Nagita membuka jubah mandinya. Azka mengalihkan pandangannya karena selama ini tak pernah melihat Nagita mengenakan pakaian seksi yang melebihi batas. Apalagi sekarang hanya mengenakan bikini.


Azka menjauhi Nagita dan berenang ke tepian. Nagita turun ke kolam dan mendekati Azka yang berusaha menjauh.


"Kamu menghindar?"


"A-aku. Aku-"


"Kenapa gugup?"


"Nagita?"


"Hmm,"


"Kamu tahu kan aku ini pria normal. Lihat kamu seperti aku nggak jamin bisa jaga diri,"


"Terus?"


"Aku nggak mau kamu begini sayang?"


Nagita justru mengalungkan tangannya di leher Azka. Berniat menggoda pria tersebut. Baru saja Azka mendekatkan wajahnya ingin mencium, Nagita dengan usilnya memainkan tangannya di dada bidang Azka hingga pria itu bernapas dengan terburu-buru.


"Jangan begini, sayang. Andai kita sudah menikah, aku sudah melemparmu ke ranjang,"


"Pikiran mesumnya di kurangin!"


"Kamu pakai pakaian begini mau godain aku kan?"


"Nggak, emang maunya pakai ini. Kan kita liburan,"


"Tapi sayang, hanya aku yang boleh lihat kamu begini nanti kalau udah suami istri,"


"Ini juga cuman kamu, Mas,"


Rey baru saja keluar dari kamar dan ingin bergabung dengan orang tuanya. Akan tetapi baru saja ia hendak ke sana, ia melihat orang tuanya berciuman dengan mesra. Ia hanya menggelengkan kepala melihat tingkah kedua orang tuanya.


"Nagita, kita nikah, kamu mau?"


"Hmm, tentu,"


"Tapi bukan demi Rey lagi kayak dulu. Kita saling menyakiti dan memaksakan diri dulu dan itu semua demi anak itu. Sekarang kita akan menikah demi perasaan kita masing-masing, aku mencintai kamu, pun begitu dengan kamu,"


"Dari dulu aku mencintai kamu, Mas,"


"Iya aku tahu. Tapi waktu mau ngajak kamu balik, susah banget. Berantem melulu, berusaha baik-baik aja di depan tuh anak. Sekarang gede, malah bandelnya minta ampun"


"Itu karena kamu yang bandel, Mas,"


"Aku bandel karena aku sayang sama kamu dan anak kita. Buktinya aku rela dipukulin dari dulu demi kalian berdua. Dimas selalu mukulin aku setiap kali mau ketemu, Rey. Waktu Rey lahir bahkan, aku bahkan menyesal waktu kamu dan Rey bertaruh nyawa di ruang operasi. Koma beberapa hari dan Rey harus dirawat karena lahir dengan keadaan kamu yang jatuh dari eskalator,"


Lagi, Azka mencium Nagita dengan mesra. Sesekali bercanda memeluk Nagita. "Aku nggak akan sejauh apa pun Nagita. Kita akan menikah, meresmikan hubungan kita. Kita beli rumah baru, rumah lama kita jual. Kita hidup bersama dan mulai dari awal lagi, kamu mau?"


"Aku mau, Mas. Tapi buktikan sama kak Dimas kalau kamu itu sayang sama aku,"


"Iya sayang. Setelah ini aku lamar kamu,"


Azka mengangkat tubuh Nagita hingga duduk di pinggir kolam. Sedangkan Azka masih berada di dalam kolam. Reynand, berdiri di balik bunga yang besar hingga tubuhnya tak terlihat. Karena tak ingin orang tuanya melakukan kesalahan sebelum menikah. Rey datang menjadi penengah dan mengambilkan Nagita jubah mandinya.


"Mama, pakai ini, hanya karena kalian mau nikah. Jangan sampai kebablasan! Daddy itu pria, Ma. Mama jangan dekat-dekat sama Daddy! Daddy juga buktiin kalau benar mau nikah,"


Keduanya melepaskan pelukannya saat Rey berkata demikian. "Aku senang kalian mau balikan. Cuman pesan aku, baik Mama maupun Daddy. Jangan lagi hadirkan orang baru dalam kehidupan aku, mulai dari Daddy yang tiba-tiba punya Syakila. Kemudian Mama, yang nerima ajakan Om Teddy nikah. Waktu itu aku bahkan pura-pura benci Daddy cuman nggak mau buat Mama sedih. Tapi dihadapan Mama aku selalu cengeng, diam-diam aku sering nangis sendirian di kamar mandi. Daddy pernah bilang kalau cowok nggak boleh nangis, aku nangis di toilet atau di kamar setiap kali Mama nggak ada. Iri banget rasanya waktu itu teman-teman dijemput sekolah sama orang tuanya. Setiap kenaikan kelas mereka diwakili orang tua untuk ambil raport, sedangkan aku harus ada Om Dimas. Kadang aku benci Om Dimas, karena dia selalu saja ngalah untuk Mama dan marah sama Daddy. Waktu itu aku belum ngerti gimana hancurnya hati ini karena perceraian orang tua. Aku tahunya kalian cuman pisah, terus Mama nikah lagi, di sana seolah Om Teddy bersikap sempurna gantiin posisi Daddy. Sampai aku lupa kalau aku punya Daddy yang lebih baik-"


Nagita berdiri mengenakan jubah mandi dan duduk kembali di pinggiran kolam. Keduanya mendengarkan curhatan Rey dan anak itu duduk di tengah-tengah mereka. "Kemudian suatu saat waktu aku ikut ke rumah sakit, secara nggak sengaja aku dengar pembicaraan Om Teddy mengenai Daddy yang dulunya perkosa Mama sampai hamil, mereka ngetawain Rey sebagai anak haram. Terus ngeledek Om Teddy yang nikah sama bekasnya Daddy. Waktu Mama hamil, aku nggak sengaja dengar itu semua waktu mereka ngobrol, aku buru-buru pulang. Terus waktu aku izin tinggal sama Daddy waktu itu bukan karena nggak ada alasan, itu karena Om Teddy malu karena status aku,"


Air mata Rey menetes. Untuk pertama kalinya Azka dan Nagita melihat anaknya menangis selama ini. Biasanya mereka berdua selalu berusaha untuk tetap menenangkan, akan tetapi kali ini keduanya seolah merasa bersalah atas kejadian di masa lalu. Baik Azka maupun Nagita keduanya terdiam mendengar curhatan anaknya yang sedang tumbuh ke usia remaja. Rey yang bukan anak-anak lagi, Rey yang bukan anak kecil yang bisa dibohongi lagi seperti dulu. Yang si mana tak bisa bertemu Azka justru alasannya adalah sibuk, kini sebagai orang tua tentunya Azka mengerti dengan apa yang dirasakan oleh putranya. "...juga waktu Mama hamil, aku sering lihat Om Teddy peluk dan cium perempuan di ruangannya. Nggak seharusnya dia bersikap seperti itu. Aku nggak pernah bilang karena nggak mau lihat Mama sedih dan ngalamin kesalahan yang sama lagi, tapi karena nggak tahan dan kebetulan waktu di restoran Mama nekat ketemu aku dan Aunty, di sana Mama pergoki Om Teddy selingkuh. Mama kecelakaan juga gara-gara dia, tapi aku nggak sedih waktu anak Mama meninggal. Rey nggak mau punya saudara yang ngalamin nasib serupa, cukup aku yang ngalamin,"


"Sudah sejauh mana kamu tahu tentang masa lalu Daddy?"


"Aku nggak pernah benci Daddy. Aku tahu semuanya. Tahu Daddy selalu main perempuan, tidur sana sini sama perempuan, bahkan waktu Mama hamil Rey, Daddy tetap sama perempuan lain. Syakila hadir juga karena perbuatan Daddy dulu, sama sekali aku nggak benci Daddy. Aku bangga punya Mama dan Daddy, pertama Mama yang udah pertahanin dan izinin aku hidup di dunia walaupun menanggung malu, Mama hadapi semuanya. Daddy juga, Rey tahu waktu Daddy nggak datang ke sekolah ambilin raport kenaikan kelas waktu SD dulu,itu karena Daddy lagi urus orang yang jelekin nama Mama, sebagai anak Rey nggak bisa milih harus lahir dari orang tua mana. Tentu saja nggak ada anak yang mau lahir dari hasil zina, Daddy. Karena itu adalah aib keluarga bukan? Tapi Daddy pasang punggung waktu aku dihina, Daddy ngerasa baik-baik saja walaupun hati Daddy hancur karena hinaan itu,"


"Rey, kamu tahu semuanya dari mana?"


"Diam bukan berarti aku nggak tahu Daddy. Aku tahu, tapi milih diam. Itu karena aku sayang sama kalian. Aku bangga sama Om Dimas, dia nanggung semua beban yang Mama tanggung dulu waktu hamil tanpa Daddy,"


"Rey!" Panggil Azka pelan, ingin mengakhiri percakapan itu.


"Sudah sayang!" Ucap Nagita pelan dan menarik kepala Rey ke pelukannya.


"Alasan aku pengin lihat Mama sama Daddy balik bukan karena kalian saling mencintai, bukan juga karena aku. Tapi satu hal, yaitu menebus segala dosa Daddy terhadap Mama yang sudah berulang kali Daddy buat nangis. Daddy, Rey nggak marah jadi anak haram. Cuman Rey pesan sama kalian berdua, saat kalian nikah nanti, kemudian aku punya adik. Aku bakalan kasih tahu dia kalau Mama dan Daddy itu luar biasa,"


"Rey, mau kita kumpul lagi?"


"Mau, Ma. Sangat mau,"


"Nggak malu punya orang tua kayak Mama sama Daddy?"


"Nggak, Ma,"


Air mata Nagita menetes saat memeluk Rey. Pun begitu dengan Azka saat memeluk mereka berdua. "Sayang! Pulang dari sini, Daddy lamar Mama,"


"Daddy putusin, Mama!"


"Kenapa begitu?"


"Nikah langsung Daddy. Daddy sama Mama sudah saling kenal lama, apa nggak cukup?"


"Setelah pulang, Daddy lamar Mama Rey. Daddy janji,"


"Sekarang kita pulang, Ma, Daddy,"


"Kenapa?"


"Aku pengin tidur sama Mama dan Daddy bareng. Yaitu setelah kalian nikah, cuman 1 malam saja, Ma, Daddy,"


"Rey sebenarnya kenapa?"


"Setiap hari, bahkan sebelum tidur doa aku cuman 1 yaitu Mama sama Daddy balik. Nggak ada anak yang mau rumah tangga orang ruanya retak, di sekolah teman sekelas Rey korban perceraian juga. Masih SMP, mereka ada yang ngajakin aku ngerokok,"


"Rey Daddy tahu Daddy brengsek dulu. Cuman kalau itu, Daddy mohon jangan pernah ikuti itu, Nak!"


"Itu yang Rey takutin Daddy. Maka dari itu pengin lihat kalian balik. Bisa ajari aku mana yang salah mana yang benar. Mereka hanya di didik oleh satu orang tua. Bahkan meski begitu ditinggal kerja, nggak di didik baik. anak yang sudah terlanjur rusak karena kasus orang tua sangat mudah terpengaruh Daddy, aku takut,"


Nagita mencium Rey berkali-kali dan memeluk anaknya. Sama halnya dengan Azka yang tidak bisa membendung lagi rasa sedihnya saat mendengarkan curhatan anaknya. Rey benar bahwa selama ini mereka berdua masih selalu berdiskusi tentang mendidik Reynand. Tapi tak ada yang tahu apa yang dilakukan oleh anaknya jika berada di luarm


"Anak Daddy nggak pernah kan?"


"Nggak pernah Daddy. Cukup dosa masa lalu kalian yang lakuin, biar Rey balas dengan kebaikan dengan cara berbakti. Rey ngeselin, itu karena pengin Daddy nikahin Mama, bukan pacarin Mama,"


"Iya setelah ini ikut Daddy lamar Mama,"


"Ayo balik ke Jakarta Daddy. Kita lamar Mama malam ini juga,"


"Rey? Kamu jangan bercanda!"


"Serius. Aku udah kasih tahu Om Dimas kalau kalian pacaran," Rey mengusap air mata Nagita dan air mata Azka.


"Daddy akan berusaha, Rey,"


"Awalnya Om Dimas marah. Sampai Rey cium kaki dia,"


"Sejauh itu?"


"Tapi Om Dimas nungguin kalian, aku kirim foto kalian yang ciuman," Rey mengeluarkan ponselnya dan memberitahukan kepada kedua orang tuanya.


Balasan Dimas.


"Seret Daddy ke rumah, nikahin Mama!"


"Telat lima menit, batal,"


"Salam sama Mama dan Daddy! Rey juga jangan sekongkol!"


Deretan balasan pesan dari Dimas membuat mereka bertiga saling tatap.


"Pulang, Nagita, Rey!" Ajak Azka. Mereka pun bergegas dan Azka memesan tiket untuk keberangkatan mereka bertiga. Menunggu beberapa menit dan mereka dapat jadwal terbang pukul dua siang yang artinya tinggal dua jam setengah.


"Rey tanggung jawab nanti kalau ditanya sama Om Dimas!"


"Katanya berani sama Om Dimas, malah aku yang tanggung jawab,"


"Siapa suruh ngirim foto?"


"Biar Daddy buruan nikahin, Mama. Udah dicicipin kok bibir, Mama. Jangan belajar jadi orang yang mentingin nafsu lagi, Daddy."


Keduanya bertatapan dan menarik pipi Reynand hingga anak itu mengaduh.


"Mama, Daddy!" Teriaknya. Namun keduanya tak peduli dengan hal itu justru langsung pergi ke kamar masing-masing berganti pakaian.


 


 


*NOTE: Dear pembaca, harap baca ini. Cerita dibuat semata-mata untuk memberikan pelajaran tentang hidup. Dampak psikologis anak pada perceraian orang tua. Dampak psikologis anak dari hasil "ZINA" naudzubillah. Harap baca sesuai pelajaran hidup. Bukan karena pasangan.


Apalagi : Kecewa, kenapa nggak sama Teddy?


Percayalah, bahwa ada hati yang memberikan kesempatan untuk memperbaiki. Karena ia percaya bahwa seseorang tak ada salahnya diberikan kesempatan untuk memperbaiki walaupun tak akan pernah utuh lagi.