RICH MAN

RICH MAN
DUA ORANG ASING



Di kamar, Rey terdiam di balkon kamarnya. Ketika menoleh ke arah sebelah, lampu kamar sebelah sudah mati. Sejak pertengkaran itu Reynand merasa sangat bersalah kepada istrinya. Hanya karena perempuan di masa lalunya yang sudah berhasil mengacaukan semua itu. Rey benar-benar merasa sangat kacau, dia mengingat ketika Bintang sangat menyukai makanan dan minuman dari greentea.


Rey keluar dari kamarnya mengingat bahwa piring tadi dia hancurkan di bawah belum dibersihkan. Dia perlahan keluar dari kamar dan berhenti tepat di depan kamar istrinya. Dia merasa sangat bersalah, ingin sekali masuk dan menemui istrinya untuk meminta maaf. Tetapi dia tidak ingin menambah masalah dan membiarkan hal itu terjadi. Menunggu hari esok untuk meminta maaf.


Rey mulai mengambil bak sampah dan mulai membereskan itu. Perlahan dia membersihkan piring yang pecah dan juga kue-kue yang ada di sana. Rey mencuci tangannya dan membersihkan kue yang masih bisa dimakan.


Sebagai permintaan maafnya. Dia memakan semua kue itu. Rasa sakitnya tidak sebanding dengan rasa sakit yang dirasakan oleh istrinya ketika mendapatkan perlakuan seperti itu dari dirinya. Benar bahwa apa yang dikatakan oleh Leo, bahwa masa lalunya akan tetap terulang bersama orang baru. Ujian yang akan membuatnya bertahan atau tidak. Dan kini benar-benar terbukti.


Rey memakan itu sambil meneteskan air mata. Antara rasa sakit karena Bintang dan juga rasa sakit karena telah membuat istrinya sendiri menangis.


Rey mulai membersihkan itu semua dan mencuci tangannya kemudian mengambil air minum untuk di bawa ke kamar. Sungguh sebuah sikap yang sangat fatal dilakukan oleh pria itu adalah membuat istrinya merasakan sakit itu.


Rey membaringkan tubuhnya di atas kasur. Berharap bahwa malam segera berganti ke pagi. Dia tidak tahan dengan perasaannya yang membuat Marwa menangis semalam hanya karena membuat kue greentea dan mengingatkan dia tentang masa lalu yang bodoh itu. Tidak seharusnya dia membuat Marwa menangis hanya karena kesalahan bodoh itu.


Malam semakin menua, jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Suasana di kamar sebelah pun masih sama. Rey keluar dari kamarnya dan duduk di depan pintu. Perlahan, dia mendengar suara isakan itu samar-samar.


Rey duduk selonjoran dan sebelah kakinya ditekuk dan menaruh sebelah tangannya di atas lutut. Rey bersandar sambil terus mendengarkan isakan istrinya di dalam.


Kalau dia masuk, tentu saja akan membuat segalanya menjadi sulit lagi. Dia akan membuat istrinya semakin terluka oleh perbuatan dia tadi. Apalagi belum selesai masalah itu. Urusan hatinya yang terlalu bodoh, menyakiti hati istrinya sendiri dan itu sangat keterlaluan.


Rey bangun dari tempat duduknya tadi menuju kamar dan menghempaskan diri ke atas ranjang lalu menutup dirinya dengan bantal.


Keesokan harinya. Seperti biasa rutinitas itu selalu dilakukan. Rey bangun subuh, dan selalu saja melanjutkan tidurnya. Itu sudah beberapa kali diingatkan juga oleh Marwa, tapi tetap saja dia masih sulit untuk untuk meninggalkan kebiasaan itu.


Marwa membangunkannya pagi itu seperti biasa. Seperti tidak pernah terjadi masalah sebelumnya.


Baru saja dia terbangun, Marwa langsung beranjak ke arah lemari untuk memilih setelan seperti biasa. Rey ingin sekali memeluk perempuan itu dan meminta maaf, tetapi dari sikap perempuan yang berusaha menghindar itu, membuat Rey mengurungkan niatnya.


Rey telah selesai mandi dan sedang mengeringkan rambutnya. Di sana dia menemukan istrinya tengah sibuk untuk mengganti seprai Reynand. Pria itu terus mengeringkan rambutnya, antara menghampiri atau tidak.


Dia mengambil setelah yang sudah disiapkan di atas sofa yang ada di kamarnya. Dia pun langsung menggunakannya, baru saja dia hendak mengancingkan kemeja biru yang dia kenakan, Marwa menghampirinya dan membantunya mengancingkan kemejanya seperti biasa. Rey membiarkan istrinya melakukan hal itu. Tetapi dia melihat dari mata istrinya yang sembab dan menunduk. Untuk pertama kalinya Marwa tidak menatap matanya.


"Lihat aku!"


Perempuan itu tetap menunduk sambil memasangkan dasi untuknya. Tetap saja respon dari perempuan itu tetap diam dan sibuk dengan kegiatannya.


Pria itu tidak tahan lagi ketika melihat mata sembab istrinya karena pertengkaran semalam. "Lihat aku!" nadanya mulai dingin.


Perempuan itu mengangkat kepalanya dan menatap mata pria itu. Dia merasa hatinya sangat berantakan ketika melihat perempuan yang sudah memilih untuk hidup bersama dengannya itu harus merasakan hal yang tidak menyenangkan, hal yang harusnya dirasakan begitu indah. Tetapi justru Rey membuat istrinya menangis karena kesalahannya.


"Hey," panggilnya dengan nada lembut.


Perempuan itu menunduk lagi. Rey yang melihat tingkah istrinya langsung memegang tangan kanan istrinya dan memeluknya. "Maaf atas apa yang terjadi kemarin,"


"Aku yang salah,"


"Jangan merasa salah. Aku yang salah karena sudah bentak kamu hanya karena makanan itu,"


Rey mendengarkan curhatan istrinya karena kesalahan itu. Rey sendiri tidak ingin mempermasalahkan itu lagi dan langsung memeluk istrinya dan mengelus punggung perempuan itu. Berusaha menenangkan istrinya di kala perselisihan antara keduanya. Perannya kini bukan hanya sebagai seorang suami, tetapi juga menjadi ayah untuk perempuan itu kala orang tua kandung perempuan itu jauh. Tanggung jawab kedua orang tua perempuan itu telah berpindah pada pundaknya, tidak seharusnya Rey menyakiti hati perempuan itu dengan perbuatan bodohnya.


"Ayo sarapan!" ajak Rey.


"Rambut kamu belum disisir, Mas. Aku bantuin ya,"


Rey mengangguk pelan, dia membiarkan perempuan itu melakukan apa pun atas dirinya. Dia merasakan gayanya berubah.


"Kok gini?" tanya Rey saat melihat ke arah cermin istrinya menyisir seperti buah pinang dibelah dua.


Marwa tertawa dan Rey langsung mengambil sisir itu dari tangan istrinya. "Mau coba-coba jahilin suami, hmm?" Rey menarik hidung istrinya.


"Ampun, Mas,"


Rey melepaskan tangannya ketika menarik hidung istrinya tadi. Dia berusaha untuk tidak mempermasalahkan itu, dia pun memeluk Marwa lagi dan perempuan itu membalas pelukannya.


"Pernah menyesal menikah sama aku?" tanya Rey saat merasakan pelukan itu begitu hangat.


Marwa menggeleng dalam pelukannya. "Aku enggak pernah menyesal, Mas,"


"Karena kamu akan menyesal, ketika kamu tahu aku punya masa lalu buruk tentang melupakan," ucapnya dalam hati.


"Marwa, mau sampai kapan kita begini?"


"Maksudnya?"


"Ya kita seperti ini terus,"


"Aku enggak tahu,"


"Kamu mau enggak kita bulan madu? Dua minggu aja," pinta Reynand.


"Terserah kamu, Mas,"


"Tapi ketika bulan madu nanti, aku mau aku yang buka cadar kamu, boleh?"


"Asal kamu bisa menerima aku, Mas. Menerima aku, dan ketika aku enggak secantik yang ada di pikiran kamu,"


"Kenapa mikirnya gitu?"


"Karena kamu baik, tampan. Enggak mungkin bakalan merasa nyaman sama aku,"


Rey melepaskan pelukan istrinya. "Marwa, belajar untuk tetap terus saling memahami. Kita adalah dua orang asing saling belajar menerima."