RICH MAN

RICH MAN
NAGITA & BABY



Nagita yang heran dengan


sikap Azka yang tiba-tiba saja seperti itu. ia sendiri masih belum bisa


menerima sebuah kebohongan yang telah diciptakan oleh Azka. Pertama


kalinya ia mendapati suaminya yang seperti itu, rela berbohong hanya


untuk menemui perempuan lain. Bahkan tanpa bersalahnya waktu itu Azka


berbohong dan begitu terlihat bahagia dengan perempuan tersebut.


Selesai berenang, Nagita mengelus rambut Azka yang tertidur di pahanya sambil menciumi perut buncitnya.


Wajah itu begitu tenang


dan damai. Nagita sendiri tidak pernah mampu membenci Azka selama apa


pun, ia mencintai pria itu. sangat, bahkan ia sendiri tidak bisa


membedakan cinta dan kebodohannya yang mudah luluh oleh sifat Azka.


"Mas, bangun!" Nagita membangungkan Azka yang tertidur sangat lelap tadi.


"Mmmm, ada apa Gita?"


"Pengin pipis. Mas bangun dong, berat!"


Azka segera bangun dari pahanya dan mengucek matanya. Nagita segera bangun dan berpegangan pada bahu suaminya.


Azka yang melihat Nagita


selama hamil memang sering buang air kecil itu hanya tersenyum. Ia


berjanji, tidak akan lagi membohongi istrinya entah itu untuk alasan apa


pun. Bahkan meski sudah tahu, Nagita tak membahas kejadian itu sama


sekali. Justru hanya membahas tentang persalinan.


Nagita keluar dari kamar


mandi dan mendapati suaminya yang tengah berdiri di jendela sambil


menatapi pemandangan di luar sana. Ia mendekati Azka begitu saja dan


menarik lengan kaos panjang yang digunakan Azka.


"Mas?"


Azka berbalik. Dan mereke berdua berhadapan.


Nagita berjinjit meraih bibir Azka.


"Kamu kenapa?"


Nagita menggeleng.


"Mas tanya sekali lagi kamu kenapa nangis?"


"Aku takut, Mas. Dia akan lahir beberapa hari lagi, aku takut kamu nggak jadi nemenin sesuai janji kamu,"


Kedua pipi Nagita


dipegang oleh Azka. "Denger, saya akan tetap di sini. Saya nggak akan ke


kantor sampai kamu melahirkan, saya di rumah sama kamu. kalau bisa


kemana pun kamu pergi saya ikut,"


"Mas, jangan bercanda!"


"Mas nggak bercanda. Kita akan tetap bersama-sama." Azka memegang kedua tangan Nagita.


"Kamu ingat kan, di perut aku ada anak kamu. anak kita, kamu janji akan tetap nemenin?"


"Saya janji, nggak bakalan bohong lagi,"


Azka mengeluarkan ponselnya dari saku celananya. "Ini Nagita, mulai sekarang kamu yang pegang,"


Nagita menggeleng. "Aku percaya sama kamu, Mas,"


"Kenapa nangis?"


"Belum bisa maafin kamu,"


"Sudah sewajarnya kamu benci sama saya,"


Nagita menggeleng dan


meraba dada bidang suaminya. Darah Azka berdesir hebat ketika sentuhan


itu Nagita berikan dengan sangat lembut.


Ia mendorong tubuh Azka hingga di ranjang. Ia langsung duduk diatas pangkuan suaminya.


Setelah meraba lama pada


dada bidang suaminya, ia tanpa ragu membuka kaos panjang milik Azka.


Setidaknya sebelum berpisah, ia ingin memberikan yang terbaik untuk


Azka. Membiarkan rasa bahagia itu tumbuh sebelum akhirnya benar-benar


meninggalkan Azka.


Nagita mulai menciumi Azka, ciuman yang awalnya hanya ciuman biasa, namun dibalas dengan lumatan oleh Azka.


"Nagita?"


Ia mengangguk. "Kamu


punya aku, Mas. Kenapa nyari yang lain? Aku bisa ngasih itu ke kamu,


jadi jangan pernah berpaling. Hati aku sakit dengan apa yang kamu lakuin


di luar. Aku bisa, Mas."


Azka tersenyum dan mereka kembali berciuman. Setelah berlama-lama. Kaos yang dikenakan oleh Nagita dibuka oleh Azka.


"Boleh?"


"Tentu saja, Mas."


Dengan senang hati Azka


langsung membaringkan Nagita di ranjang mereka. Yang tadinya tak


menyangka akan mendapatkan hal itu. mengingat bahwa Nagita sempat kecewa


dengan dirinya. Tetapi justru Nagita memberikan jatahnya yang beberapa


waktu lalu sempat tertunda.


"Kamu harus janji kalau


kamu nggak boleh nyari perempuan lain lagi, karena hanya aku yang boleh


kamu jamah, aku istri kamu. terserah kamu mau minta jatah berapa kalipun


aku bersedia, aku istri sah kamu. jangan pernah berpikir bahwa kamu


bisa nyari perempuan lain. Mas, aku sayang kamu,"


Azka tersenyum. Ia kembali mencium dan mengabsen barisan gigi Nagita.


*****


Setelesai percintaan


panasnya tadi beberapa kali dengan istrinya, kini perempuan itu tengah


tertidur sangat pulas disampingnya. Sesekali ia menyeka rambut yang ada


di pipi Nagita dan menyekanya ke belakang telinga Nagita.


"Terima kasih, sayang." Azka mencium kening Nagita yang masih tertidur pulas.


"Bagaimana aku tidak


punya perasaan waktu itu ninggalin kamu hanya demi perempuan lain,


sekarang aku bersyukur kamu tetap di sini. Memaafkanku, Nagita. aku


mencintaimu," Azka mengecup bibir itu sekilas. Membayangkan bagaimana


percintaannya tadi dengan Nagita ia tersenyum puas. Pasalnya seolah tak


terjadi apa-apa dengan dirinya dan perempuan itu. justru kini ia sangat


bahagia mengingat kejadian itu.


Ia menarik selimutnya


dan menutupi tubuh telanjangnya yang masih polos karena setelah


percintaan panasnya ia tak mengenakan pakaiannya. Melainkan langsung


tidur disamping Nagita yang kelelahan.


Kini ia mengerti, Nagita


tak seperti yang ia lihat. Hatinya terlalu melihat ke tempat lain, lupa


bahwa yang disampingnya adalah anugerah Tuhan paling berharga.


Satu hal yang tak pernah


dibayangkan oleh Azka. Yaitu kembali pada pelukan istrinya adalah


tempat ternyaman. Jika menemui Deana adalah membuatnya tenang, namun


Nagita jauh lebih membuatnya merasa nyaman. Selama ini hatinya terlalu


melihat ke tempat lain. Lupa bahwa yang ada di sampingnya saat ini


adalah hartanya yang paling berharga. Sesuatu yang harus dijaga.


Mengingat bahwa di perut perempuan itu ada buah hatinya yang terus saja


tumbuh. Azka sendiri menginginkan malaikat kecilnya itu segera lahir ke


dunia.


******


Azka membangunkan Nagita


untuk mandi sore. Sesekali ia menggoda istrinya. Padahal jejak


percintaannya belum juga hilang dari tubuh istrinya. Tetapi ia sangat


suka melihat raut wajah Nagita yang memerah setiap kali ia goda.


"Ayo bangun, sayang!"


"Mas, masih ngantuk,"


"Ini sudah sore, sayang. Mandi dulu yuk udah gitu jalan-jalan mau?"


"Beneran?" jawab Nagita parau dan langsung dianggukkan oleh Azka.


"Maunya ke mana?"


"Beli eskrim di mall, ya?"


"Itu doang?"


"Iya. Maunya itu, pengin banget,"


"Oke, tapi kita mandi bareng ya, udah gitu kita pergi langsung,"


Perempuan itu segera beranjak dari tempat tidurnya dan langsung menutupi tubuhnya dengan handuk.


"Kamu tambah cantik,"


"Istri kamu memang cantik, tapi kamu nggak pernah sadari itu sayang,"


Azka tersenyum. Ia


mengangkat tubuh istrinya yang begitu berat sebab ada dua yang ia


angkat. Pertama istrinya, kedua buah hatinya yang masih berada dalam


kandungan yang hingga saat ini ia nantikan kehadirannya.


****


Setelah berpakaian rapi menggunakan pakaian santai, ia pun mengajak istrinya yang sudah menunggu di ranjangnya. "Ayo, sayang!"


Mereka berdua turun dan Azka begitu memperhatikan istrinya yang turun dengan sangat hati-hati melewati tangga.


"Mau kemana?" sapa Novi kepada keduanya.


"Ini Ma, Nagita pengin es krim. Tapi maunya yang di Mall,"


"Oh. Ya udah, kalian hati-hati ya, jaga istrimu baik-baik. Jangan sampai kenapa-kenapa,"


"Tenang aja, Ma."


Mereka berdua


berpamitan. Di dalam mobil, Azka sesekali melirik istrinya yang sangat


cantik. Rambut yang dijepit di atas dan sengaja di urai. Dengan


mengenakan dress yang begitu cantik, Azka sendiri tersenyum.


"I love you,"


Nagita menoleh, "Apa, Mas?"


"Nggak ada, cuman pengin bilang itu aja sih,"


"Mas bilang apa?"


Azka memutar bola matanya, "Nggak ada,"


"Suka banget ngambek,"


"Kamu sih,"


"Aku nggak dengar,"


"Ya udah, terserah."


Nagita tak menghiraukannya. Perempuan itu justru memainkan ponselnya di dalam mobil.


"Ya ampun Nagita, suami kamu di sini, kamu malah sibuk main hp,"


"Siapa suruh ngambek,"


"Ya udah taruh hpnya, kita sudah sampai lho, kamu nggak sadar?"


Perempuan itu menoleh ke luar mobil dan menyeringai.


"Nyengir, eh iya, kamu boleh makan es krim, tapi jangan banyak ya,"


"Pelit,"


"Kok pelit?"


"Penginnya yang banyak. Anak kamu lho yang mau,"


"Kamu apa anak kita?"


"Aku sih,"


"Ya udah, ayo turun!"


jawabnya lembut. Takut suatu waktu Nagita emosi lagi. Sebab beberapa


hari ini perempuan tersebut sedikit lebih sering emosian dibandingkan


hari lainnya.


Ia tak pernah melepaskan genggamannya begitu saja pada tangan Nagita.


"Maunya di mana?"


"Maunya pizza juga,"


"Nagita, jangan makanan yang begitu, yang lain ya!"


"Penginnya itu, sayang."


Nagita mulai bermanja, pertahanan Azka selalu saja kalah jika Nagita


sudah bersikap seperti itu kepadanya. Ia hanya tersenyum dan mengangguk.


"Satu potong aja, ya?"


"Sisanya kamu makan!"


"Nggak. Saya tidak suka makan yang seperti itu, Nagita."


"Aku yang makan kalau gitu,"


Azka menutup matanya. "Oke, mommy, ayo kita ke tempat pizza, asal jangan minta yang lain. Jangan sering-sering makanan yang begituan, harus yang bergizi,"


"Iya suaminya Nagita tersayang," perempuan itu mencubit hidungnya.


"Dasar bocah,"


"Kamu lupa bocah ini tadi buat kamu mengerang di rumah, hm?" bisik perempuan itu.


"Oke, jadi nantang nih?"


"Ya nggak juga,"


"Ayo pesan!"


Nagita masih menggantung di lengan kanannya.


"Mbak, Pizza Stuffed crust jumbo satu ya!"


"Minumnya?"


"Blue ocean dua!"


Azka hanya mengelus dada mendengar pesanan Nagita.


"Kamu, Mas jatahi satu potong. Kenapa pesannya yang jumbo?"


"Katanya kamu yang habisin,"


Azka membelalakkan matanya.


"Nagita?"


"Oke, Mas yang habiskan."


Lebih baik ia yang


mengalah dibandingkan harus membiarkan Nagita makan banyak. Lebih baik


ia melihat istrinya makan makanan yang lebih banyak mengandung gizi.


Pesanan pun datang, Azka


yang melihat itu menelan salivanya. Tidak pernah selama ini ia


menghabiskan satu porsi pizza yang berukuran besar. Jika pun makan,


paling ia hanya makan satu potong dan paling banyak itu dua potong.


Namun kali ini istrinya tersebut benar-benar sedang mengerjainya.


Baru saja ia mengulurkan tangan hendak mengambil minuman, Nagita sudah merebut minuman itu terlebih dahulu.


"Mas mau minum sayang,"


"Alasan biar kamu cepat kenyang, kan?"


"Enggak, Mas haus."


Nagita tersenyum. "Berhasil habisin ini, tiga ronde nanti malam, oke?" bisik Nagita.


"Nggak harus habiskan ini Mas bakalan minta segitu juga kok," ledeknya yang membuat Nagita cemberut.


"Mau atau nggak, aku tetap dapat, ingat itu!"


Azka mulai memasukkan


potongan pizza tersebut ke dalam mulutnya. Beberapa kali Nagita


mengajaknya berbicara. Tapi ia fokus untuk memakan itu semua. Istrinya


sudah menghabiskan satu potong pizza sesuai keinginannya.


"Puas, hm?" ia benar-benar merasa sangat kenyang.


"Kenyang?"


"Belum sih, sayang.


Memangnya mau makan apalagi?" jawab Azka angkuh. Ia tahu bahwa istrinya


tak akan kuat mengkonsumsi makanan yang seperti itu.


"Bayar sana! Azka beranjak.


Azka yang melihat istrinya lebih dulu keluar hanya bisa pasrah. Kali ini apalagi?


Ia menggandeng tangan


istrinya. Saat itu juga Nagita membawanya ke tempat donat, Azka


mendorong Nagita agar menjauh dengan tubuhnya berharap perempuan itu


tidak masuk. Tetapi perempuan itu cemberut, "Mas?" rengeknya.


Tidak ada perlawanan. Azka menurut, ia pun sudah pasrah jika harus menerima keinginan Nagita yang akan masuk ke dalam sana.


"Jangan pesan yang banyak, ya! Serius Mas nggak suka,"


"Tenang saja," kali ini


mungkin Azka tidak bisa menghalangi Nagita lagi. Karena ia tahu bahwa


istrinya tersebut sangat menggilai donat, beberapa kali bahkan Azka


mengantarnya ke Mall hanya untuk membeli donat.


Perempuan itu kembali dan duduk di seberangnya.


"Ingat kamu nggak boleh makan, banyak!"


"Iya sayang,"


Azka tersenyum saat


Nagita begitu nurut padanya. Istrinya memang tidak pernah membantahnya.


Tetapi jika sudah berurusan dengan donat, lain lagi ceritanya. Namun


semoga saja kali ini perempuan itu benar-benar menurutinya.


Beberapa saat pesanan datang, seperti yang di duga oleh Azka. Bahwa perempuan itu benar-benar memesan begitu banyak donat.


"Nagita?" panggilnya pelan.


"Please, terahkir, Mas. Aku pengin,"


"Nggak,"


"Mas?"


Azka menghitung jumlah donat yang berisi satu lusin tersebut.


"Tiga aja, ya!"


"Enam, oke?"


"Tiga, Nagita,"


"Enam, Mas,"


"Nagita, lima deal nggak ada protes lagi,"


Mata Nagita berkaca-kaca.


"Mas," rengeknya.


"Ngga bisa."


"Ya udah deh."


Azka tersenyum puas saat


istrinya mengalah. Untuk pertama kalinya Nagita mau mengalah perihal


donat. Azka ikut memakan itu karena takut jika Nagita melanggar


perjanjian.


"Mas, kunci mobil mana?"


"Mau ngapain?"


"Ada yang ketinggalan, aku mau ambil bentar,"


"Apanya? Dompet sama hp kan udah,"


"Sini, Mas. Aku mau ambil sesuatu,"


Azka menyerahkan kunci mobil. "Mas antar?"


"Nggak usah. Aku tahu kok, lagian ini kan belum selesai makan. Aku balik lagi kok,"


Azka mengangguk.


Ia menatap istrinya mulai berjalan menjauhinya. Baru beberapa menit setelah Nagita pergi.


"Ada wanita hamil jatuh


dari eskalator." Tubuh Azka membatu. Ia pun mulai tidak tenang dan


langsung beranjak. ia meletakkan sejumlah uang di atas meja dan langsung


bergegas pergi begitu saja.


Ia pun melihat tubuh itu


tergeletak di lantai, Azka segera berlari. Dan benar saja, bahwa Nagita


yang terjauh. Istrinya tak sadarkan diri dengan darah yang mengalir di


kepalanya.


"Mohon maaf bapak siapa?"


"Saya suaminya," ia merebut tubuh Nagita dari orang yang hendak mengangkat tubuh Nagita.


Azka segera membawa Nagita keluar. Di parkiran ia bertemu dengan Deana, "Istri kamu kenapa, Azka?" tanya perempuan itu khawatir.


"Dia jatuh dari eskalator,"


"Oh syukurlah, sekalian aja dia mati."


"Deana!" bentak Azka.


"Aku yang mendorongnya.


Puas! Kamu yang mau ini semua terjadi kan? Kamu buang aku semau kamu,


makanya mikir jadi orang jangan cuman cari enaknya doang. Kamu sendiri


yang buat aku gini, Az. Aku cinta sama kamu, kamu malah pilih jalang


itu."


"Perempuan sialan."


Makinya. Ia pun meninggalkan perempuan itu dan langsung membawa istrinya


ke dalam mobil. Di sana sudah ada petugas Mall yang akan membantunya


melewati tempat parkir untuk bisa segera melewati antrian yang begitu


banyak. Bersyukurlah orang-orang mengerti dengan keadaannya.


Di dalam perjalanan saat


melewati lampu lalu lintas, Azka melihat begitu banyak darah keluar


mengalir di sela-sela paha istrinya. Azka semakin khawatir dengan


kejadian itu. istri dan anaknya dalam keadaan bahaya.


Tiba di rumah sakit,


Azka sudah tak kuasa membendung rasa bersalahnya membiarkan Nagita pergi


sendirian untuk ke mobil. Hingga kejadian tersebut menimpa istrinya.


"Dokter!" teriaknya. Ia


tak peduli berapa banyak mata yang menatapnya saat itu juga. Beberapa


saat kemudian ia mendapatkan pertolongan. Nagita di larikan ke ruang IGD


untuk penangan lebih lanjut. Di sana Azka mulai menangis.


"Bapak silakan tunggu di luar!"


Azka mondar-mandir dan berhenti begitu saja untuk menghubungi pihak keluarganya.


Ia pun menghubungi Damar untuk memburu Deana yang sudah kelewatan dengan kelakuannya.


"Bapak dengan kerabat pasien?"


"Saya suaminya, Dok,"


"Kalau begitu silakan urus administrasinya, Pak. Istri anda harus segera di operasi caesar pak,"


Azka sudah tidak bisa


berpikir jernih lagi. Ia pun langsung mengikuti perawat yang akan


membantunya mengisi formulir administrasi.


"Dok gimana dengan keadaan anak dan istri saya?"


"Istri anda masih tidak


sadarkan akibat benturan yang ada di kepalanya. Dan untuk penanganan


lebih lanjut harus segera dilakukan operasi untuk janinnya, Pak,"


"Dok tolong selamatkan keduanya," Azka menarik kerah seragam dokter tersebut.


"Doakan saja yang terbaik untuk istri dan anak anda, Pak,"


"Saya boleh masuk?"


"Mohon maaf tidak bisa, Pak. Karena keadaan pasien yang kurang membaik. Mungkin salah satunya tidak bisa diselamatkan."


Tubuh Azka meluruh di


lantai saat dokter masuk ke ruang operasi. Semua kenangan mulai dari


dirinya yang mengkhianati istrinya, menyakiti Nagita. bahkan membuat


istrinya menangis, semua itu terngiang bak kaset film yang diputar.


Ingatan-ingatan itu menyerang Azka begitu saja.


Beberapa saat kemudian keluarga Azka datang. Ia hanya menoleh tanpa bangun dari tempat duduknya yang meringkuk.


"Azka, Nagita gimana?"


"Dia harus caesar, Ma.


Ini belum waktunya, kan, Ma. Dia selalu berharap aku nemenin kalau dia


ngelahirin. Tapi dokter tidak memperbolehkan,"


"Yang sabar, belum waktunya gimana?"


"Dokter waktu itu bilang


Nagita belum saatnya melahirkan, tadi siang kami bicarakan itu, Ma.


tapi sekarang apa, Nagita harus mengalami kejadian ini,"


"Nagita kenapa sebenarnya, Azka?"


"Nagita di dorong dari eskalator oleh Deana, Ma. dia tidak sadarkan diri,"


"Azka, kenapa bisa seperti ini sih?"


Azka tak menjawab


mamanya. Ia tetap meringkuk menenggelamkan kepalanya pada lututnya


tubuhnya lemas. Di sana Nagita berjuang antara hidup dan mati. Jika bisa


memang antara keduanya ada yang tak bisa diselamatkan. Ia akan memilih


Nagita dibandingkan anaknya. Bukan berarti ia tidak menginginkan buah


hatinya, tetapi Nagita jauh lebih ia inginkan sebab semua penyesalan


yang ada dalam kepalanya terus saja teringat begitu saja.


Tiba-tiba Dimas datang bersama dengan Damar.


"Brengsek, lo apain dia?" Dimas langsung menyambar dirinya yang tengah duduk. Dimas memukulinya tanpa ampun.


"Papa!" teriak Novi kepada suaminya.


"Sudah Ma, Dimas berhak melakukan itu."


"Pa, anak kita,"


"Sudah dari awal kita ingatkan bukan? Semuanya kejadian juga, biarin Ma. Damar, Reno jangan lerai keduanya!"


Mereka pun membiarkan


Azka dipukuli begitu saja. Setelah lelah, Dimas bangun dari atas tubuh


Azka dan memukul tembok bahkan menjedotkan kepalanya ke tembok.


"Maafkan saya, Dimas."


"Maaf? Lihat istri lo


berjuang antara hidup dan matinya di dalam. Lo bilang maaf? Andai gue


nggak ngikutin Damar, gue nggak bakalan tahu keadaan adik gue, lo


sendiri nggak ngasih tahu. Bahkan perempuan simpanan lo itu ngaku kalau


dia dorong adik gue karena perbuatan lo, brengsek." Timpal Dimas penuh


emosi.


"Saya tahu saya salah, tapi semua ini saya juga tidak tahu akan terjadi,"


"Oke, setelah ini. dalam keadaan apa pun, lo ceraikan nagita. puas?"


Semua mata tertuju pada Dimas. Naura yang di sana memegangi suaminya dengan sangat erat.


"Pa?"


"Jangan ikut campur, Ma. Urusan Dimas dan anak kita. Kita harus hargai Dimas,"


"Andai lo nggak main-main di sana. Nagita nggak bakalan ngalamin kejadian ini, bajingan. Lo semua dalang kejadian ini,"


Azka terus merutuki


dirinya yang penuh dengan penyesalan. Bahkan rasa sakit diwajahnya tak


sebanding dengan perasaannya yang hancur ketika itu adalah hari di mana


istrinya bermanja-manja dengannya. Jika tahu kejadian ini akan menimpa,


Azka tidak akan membiarkan Nagita pergi satu langkahpun. Tapi takdir


berkata lain.


Beberapa saat kemudian.


Ceklek


Pintu ruangan operasi terbuka. Azka langsung beranjak dan mendekati dokter.


"Gimana keadaan istri dan anak saya dokter?"


"Mohon maaf, pak. Istri anda...."