
Azka kali ini harus berpikir begitu banyak beban yang dia hadapi. Terutama adalah masalah Rey yang sepertinya memang keadaan rumah tangga anaknya itu memang bermasalah serius. Azka yang sambil berkomunikasi bersama dengan Rey melalui telepon dan menjelaskan begitu banyak hal mengenai apa saja yang harus dia lakukan sebelum memutuskan kontrak apalagi pekerjaan sudah mulai dilakukan.
Setelah berbicara panjang lebar mengenai itu semua, hingga pada akhirnya Rey menyebutkan nominal yang harus dikeluarkan jika ganti rugi dan memang tidak sedikit. Takan tetapi demi putranya dan masa depan calon buah hati dari anak pertamanya itu. Azka tidak ingin mementingkan uang yang harus dikeluarkan. Apalagi itu adalah pertama kalinya semenjak memutuskan menjalankan bisnis sendiri anaknya harus meminta bantuan kepadanya. Dia dengan senang hati membantu anaknya itu.
“Papa dari tadi ngomong serius banget, ngomong sama siapa?” Azka berbalik setelah mendapati istrinya yang tengah membawakan secangkir kopi ke ruangan khusus tempat dia bekerja. Pria itu menatap istrinya dengan mesra dan langsung menarik tangan istrinya.
“Jangan kaget kalau misalnya Papa cerita!”
Nagita merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh suaminya itu. “Apa? Serius banget, Pa?”
“Mengenai Rey,”
“Rey sakit?”
Azka sudah menduga bahwa jika itu menyangkut Rey maka istrinya akan bereaksi seperti itu. “Bukan, tapi mereka berantem dan buat Marwa nangis. Kemarin Rey datang ke kantor, Papa. Dia minta bantuan sama Papa. Ya mungkin ini adalah masalah yang Papa pikir juga bukan masalah main-main, Ma,”
Nagita cemberut mendengar suaminya berkata demikian. “Mereka berantem karena apa?”
“Ada orang yang sepertinya memang sengaja ingin menghancurkan rumah tangga, Rey. Dan itu yang buat mereka berdua berantem. Mama tahu sendiri anak Mama itu jarang banget abaikan orang, dan karena tidak pernah diabaikan oleh Rey. Maka tuh perempuan ngerasa bahwa selama ini Rey ngasih harapan ke dia dan buat dia nyaman dengan semua ini,”
“Papa ke poin aja. Mama masih nggak ngerti,”
Azka harus bersabar menjelaskan itu semua kepada istrinya karena kali ini Nagita sepertinya dikuasai oleh pikiran mengenai anaknya itu. “Rey sama Marwa berantem karena adanya perempuan lain di dalam ruamh tangga mereka,” Azka tidak ingin menyembunyikan apa pun lagi dari istrinya. Karena kemarin memang benar bahwa anak tertuanya datang ke kantor untuk perihal itu.
“Papa barusan teleponan sama Rey?”
Azka tidak akan pernah berbohong jika itu menyangkut anaknya. “Iya, dan Rey minta tolong kalau dia butuh uang untuk ganti rugi semua itu, Ma. Dan Mama harus tahu, bahwa Rey mintanya nggak main-main,”
“Berapa?”
Azka hanya membalas dengan senyuman. “Nanti juga Mama tahu. Yang pentin bahagia Rey sama Marwa nggak terganggu hanya karena itu,”
Nagita tahu bahwa suaminya memang sangat peduli mengenai rumah tangga anaknya itu. Bahkan ketika Nagita ingin tahu, tetap saja suaminya berusaha mengelak itu semua. Bahkan Azka tidak memberitahunya sama sekali. Hal itu memang menyebalkan baginya. Apalagi dia berhak untuk tahu akan hal itu.
Melihat jam dinding yang ada di ruangan mereka. Nagita pun akhirnya berpamitan. “Sebentar Mama ke kamar anak-anak dulu ya. Karena mereka belum sikat gigi, jadi Mama mau cek mereka sudah tidur apa belum,” pamit Nagita kemudian Azka mengecup kening istrinya.
Beberapa lama setelah istrinya pergi. Asistennya memanggilnya, “Tuan, ada tuan muda Leo datang,” Azka langsung meminum kopinya dan keluar begitu saja untuk menemui keponakannya. Barangkali Leo nanti bisa membantu Rey ketika membatalkan kontrak itu, karena bukan hal yang main-main. Sebab itu menyangkut kepercayaan kinerja nantinya.
Azka turun ke ruang tamu dan melihat Leo sudah ada di sana bersama dengan Clara. “Assalamu’alaikum, Om,”
“Wa’alaikumussalam. Tumben adik kakak ini akur, memangnya kamu nggak bawa istri kamu, Leo?” tanya Azka karena sedari tadi dia tidak melihat adanya Amanda di sana.
“Nggak, Mama nyuruh diam saja. Dan aku bawa Clara katanya pengin ketemu sama tante,”
Azka kemudian mempersilakan Leo duduk kembali dan beberapa menit mereka berbincang mengenai bisnis yang di mana milik Leo melesat begitu cepat dibandingkan dengan Rey. Karena usaha Leo tidak pernah mudah untuk menggapai itu semua. Berawal dari di mana dia harus menjadi karyawan di kantor milik papanya sendiri. Walaupun papanya pernah menawarkan, akan tetapi Leo menolak dan memilih membuat perusahaan sendiri. Dinaungi oleh milik kakeknya, jika mengingat tentang Papanya. Azka benar-benar merindukan pria itu. Meski dulu papanya yang paling crewet menceramahinya. Tetapi sekarang sudah berbeda, pria itu hanya duduk dikursi goyang sambil menunggu kedatangan cucu. Dan itu yang membuat Azka kadang ingin tinggal di rumah orang tuanya saja.
“Oma, apa kabar?”
Leo melihat ada hal yang tidak beres dengan omnya. Di saat menanyakan kabar oma. Justru raut wajah omnya berubah. “Baik. Opa juga baik, tadi lagi main sama cicitnya. Papa juga nggak bolehin Amanda ikut,”
Azka kemudian tersenyum. “Leo nggak pernah main ke kantor kakak kamu?”
“Pernah, itu beberapa hari yang lalu sih, Om. Kak Rey ada janji temu sama orang,” tukas Leo kemudian melihat ke arah tangga. “Jadi gini, Om. Waktu aku ke sana. Kak Rey sepertinya memang ada masalah di kantor dan itu sama perempuan,”
Azka tersentak ketika Leo sudah tahu mengenai perempuan perusak hubungan anaknya bersama sang istri. “Kamu tahu sampai mana?”
“Nggak tahu sih. Karena Kak Rey sembunyikan siapa itu perempuan. Aku bahkan nggak tahu,”
Azka menggosok-gosokkan jempol tangannya dibawah dagunya. “Kalau Om minta kamu untuk bantuin kakak kamu nanti, apakah kamu mau bantuin Rey?”
“Bantuin?”
“Iya, bantuin dia urus surat pembatalan kontrak sama salah satu perusahaan. Barangkali kamu bisa nemenin dan jelasin sama orang itu juga. Tapi harus pintar-pintar ngomong!”
“Memangnya Kak Rey ada masalah?”
“Ini bukan soal masalah perusahaan. Tapi ini jauh lebih tepatnya mengenai hubungan rumah tangga dia bersama sang istri sedang terancam. Marwa tahu bahwa Rey sedang bersama perempuan selama di kantor,”
“Bukannya sama sekretarisnya?”
“Ngawur, itu sekretarisnya sudah menikah dan baru saja kembali beberapa minggu lalu karena cuti melahirkan. Dan ini beda lagi, ini perempuan memang sengaja mau rusak hubungan rumah tangga Rey. Dan perempuan itu adalah anak dari orang yang ngajak Rey kerjasama,”
Leo nampak berpikir sejenak mencari tahu apakah apa yang ada dipikirannya sama dengan apa yang sedang dialami oleh kakak sepupunya. “Berarti ini semacam bisnis keluarga gitu? Dalam artian memiliki tujuan untuk menyatukan keluarga?”
“Lebih tepatnya untuk menjodohkan. Karena perempuan itu tahu bahwa Rey sudah menikah. Tapi justru papanya mendukung mereka berdua terus berdua.”
Azka menjelaskan itu semua kepada keponakannya berharap nanti bahwa Leo akan benar-benar membantu anaknya untuk menyelesaikan semua ini.