RICH MAN

RICH MAN
Tak Ada Perbedaan



Rey mengajak mamanya untuk makan siang sebelum pulang ke rumah. Karena nanti malam dia harus berkunjung ke rumah orang tuanya. Maka dari itu dia sengaja mengajak sang mama untuk makan siang kali ini setelah mereka membeli mobil dan juga melakukan ibadah mereka di salah satu mushala di dekat restoran dan sekalian mereka makan siang.


Mamanya berkata bahwa dia harus tetap membahagiakan Marwa seperti itu. Mengingat kesalahannya dulu tidak bisa dibeli dengan uang. Tidak bisa diulur lagi waktu yang telah berjalan. Mungkin saja jika dipikir kembali, kesalahan Rey begitu besar dan hampir saja merusak hubungan rumah tangga dan menghancurkan kebahagiaan anak perempuan satu-satunya yang Rey punya.


“Jadi, kapan mau dikasih ke istri kamu?”


Rey mengunyah makanannya dengan pelan. “Mungkin nanti agak siangan, Ma. Karena kebiasaan tuh mereka tidur siang kalau nantian. Audri juga pasti tidur kalau siangan, Ma. Karena dia memang tetap tidur siang sama Mamanya,”


“Nggak pernah kan berantem karena anak?”


Rey mengingat kembali masalah dia dengan Marwa menyangkut soal anak. “Maksud Mama kayak gimana misalnya?”


“Ya kalau misalnya anak sakit atau gimana. Kamu nggak salah-salahin dia kan?”


“Hmmm, kayaknya enggak pernah deh, Ma. Soalnya kan kalau Audri sakit itu juga pasti karena memang daya tahan tubuhnya lemah. Aku sama Marwa kompak kalau urusan anak nggak boleh saling salahin. Kecuali untuk makanan, aku yang paling crewet,”


Mamanya terdiam sejenak. “Kalau itu Mama tahu banget kamu bawelnya kayak apa. Jadi nggak heran lagi kalau misalnya kamu itu paling bawel banget kalau soal anak. Kamu jangan sampai salahin istri deh kalau misalnya nanti kamu dan Marwa ada apa-apa soal anak. Mending kamu sama dia lihat diri sendiri sebelum nyalahin. Ngurus anak itu nggak pernah gampang, Rey,”


“Iya, Ma. Itu aku sudah tahu. Maka dari itu aku nggak pernah bertengkar mengenai anak. Paling berantemnya kalau dia nggak respons, kayak di rumah mertua aku waktu itu. Mereka pergi belanja, terus sampai jam sembilan malam mereka nggak respons telepon aku. alhasil aku marah, tapi aku minta maaf sama Mama mertua aku juga sih. Aku kepikiran karena mereka itu perempuan bertiga. Mereka bawa Audri lagi,”


“Lain kali jangan kayak gitu di depan mertua. Nggak baik sayang. Bagaimanapun juga mama mertua kamu itu adalah mama kamu juga. Nggak ada bedanya, toh dia yang lahirin istri kamu. Kalau nggak ada dia, nggak mungkin dong kamu bisa nikahi dia. Kamu malah kayak gitu nggak sopan tahu. Mama nggak suka ya kalau kamu bersikap seperti itu lagi di depan mertua kamu sendiri, Nak!”


Rey ingat beberapa pesan dari papanya ketika dia dan Marwa baru saja baik-baik saja. Tidak pernah ada pemikiran buruk mengenai hubungan suami istri lagi. Jadi, Marwa juga kalii ini dia perlakukan sebaik mungkin. Raut wajah Rey tiba-tiba saja senyum ketika mengingat betapa lucunya istrinya itu ketika dia goda. Padahal mereka menjalani hubungan suami istri terbilang sudah lama dan masih saja selalu berekspresi pipi merah merona ketika dia goda.


“Hmmm, kenapa senyum-senyum gitu?”


Dia tersadar bahwa sedari tadi mamanya memperhatikan dirinya. “Nggak ada apa-apa, Ma. Aku cuman ingat aja kalau dia itu lucu banget kalau di rumah,”


“Kamu sayang sama istri kamu?”


Pertanyaan itu cukup membuat Reynand terdiam. Sayang? Rasanya dia tidak bisa menjabarkan bagaimana perasaan itu begitu besar kepada istrinya. Terlebih karena kehadiran si bocah kecil duplikat dirinya dalam versi perempuan itu menambah perasaan sayangnya kepada kedua perempuan itu. Dia sangat bahagia ketika dia tahu bahwa anaknya lahir dengan sangat sehat. Sekalipun dia mendengar beberapa ucapan yang tidak menyenangkan dari beberapa tetangga yang mengatakan bahwa Marwa malas memberikan ASI, tapi cukuplah semua keluarga Rey dan keluarga Marwa yang tahu bagaimana usaha istrinya agar ASI keluar lagi. Tapi kenyataannya tetap tidak bisa dan justru itu menyakiti Marwa. Rey juga menyerah dan akhirnya memberikan susu formula untuk anak semata wayangnya.


Dengan cara seperti itu, dia menjadi lebih mudah untuk membawa anaknya ke mana saja. “Rey, kok diam?”


“Aku nggak bisa jelasin bagaimana perasaan sayang aku sama dia, Ma. Aku sayang banget sama dia. Audri menjadi pelengkap dalam hubungan suami istri ini. Pernikahan itu awalnya begitu hambar, nggak ada perasaan apa pun. Aku juga awalnya merasa bahwa berpisah lebih baik karena aku selalu mencari perempuan yang selama ini nyiksa perasaan aku. tapi ketika aku tahu dia adalah perempuan itu, rasanya aku nggak mau lagi nyari yang lain,”


“Padahal kamu sudah berusaha menjadi lebih baik lagi waktu itu. Tapi yang namanya ujian kita nggak pernah tahu bagaimana bentuknya semua itu. Mama sama Papa juga dulu kan pernah dapat ujian dan akhirnya kamu yang jadi korban. Kamu yang selalu ngerasain sakit itu dan kamu juga yang sedih,”


“Mama, kenapa Mama bilang begitu?”


“Agar kamu lebih mengerti bagaimana menghargai itu, sayang! Mama nggak mau kalau Audri jadi korban nantinya. Bertahan sebisa kamu! Papa sama Mama paling nggak suka kalau kamu main perempuan kayak dulu lagi, Mama sudah trauma yang namanya disakiti, Nak. Kalau sampai kamu lakukan hal itu sama anak dan juga istri kamu. Mama yang bakalan jadi musuh kamu,”


“Mama kok seram banget sih?”


“Lagian, kamu sudah beberapa kali dikasih tahu sama Papa kamu tentang perselingkuhan itu yang bakalan bawa petaka ke dalam hidup kamu. Nggak ada perselingkuhan berakhir dengan bahagia. Kalaupun bahagia, pasti tetap saja ada ujiannya dan bakalan lebih berat lagi. Andai saja dulu kamu tuh ya jadi nikahin tuh perempuan. Mama lebih pilih hidup sama Marwa dan Audri deh dibandingkan sama kamu,”


Rey menggelengkan kepalanya merasa ngeri dengan ucapan mamanya barusan. “Papa ngeri kalau marah, Ma. Aku kapok deh kalau Papa marahnya kayak gitu. Seumur hidup aku, aku nggak pernah dipukulin. Sekalinya mukulin, mau pingsan rasanya,”


“Padahal ya kamu tahu sendiri bagaimana rasanya dimarahin sama, Papa. Tapi kamu tetap aja gitu ngeyel banget dikasih tahu. Kamu bilang kamu sayang dan ini itu sama dia,”


“Nggak lagi, Ma. Sumpah demi apa pun. Aku nggak bakalan pernah selingkuh lagi dan nggak bakalan nyakitin hati Marwa. Aku sudah cukup untuk nyakitin dia. Nggak bakalan lagi ada perempuan lain di dalam pernikahan ini, Ma. Sudah cukup dua perempuan hebat itu di dalam hati aku. Marwa dan juga Audri merupakan kekuatan yang teramat besar bagi aku. jadi, nggak mungkin aku bisa untuk hidup tanpa mereka berdua. Kali ini aku nggak mau lagi hidup menjadi orang yang begitu egois, mementingkan perasaan aku,”


“Rey, kamu jujur sama Mama ya! Kamu nggak pernah sentuh dia? Dalam arti kalian berhubungan yang terlarang. Mama cuman nggak mau kalau nanti anak kamu sudah besar. Justru nasibnya kayak kamu dulu yang di mana tiba-tiba kamu punya adik gitu aja. Mama nggak mau kamu ngasih beban itu kepada anak dan istri kamu,”


“Hampir, Ma. Hampir aku sama dia mau lakuin itu. Tapi aku sadar, aku sadar kalau aku nggak bisa kayak gitu terus sama dia. Aku sadar kalau Marwa lagi hamil. Setelah aku sadar Marwa diam ketika tahu semuanya. Itu sangat sakit, Ma. Aku memikirkan bagaimana dia yang nggak ngomong dan nyeletuk gitu aja nyalahin aku,”


Sadar dengan salah yang dia perbuat waktu itu dan hampir membuat keluarga kecilnya menjadi berantakan. Rey tidak akan lagi melakukan kebodohan sama seperti dulu. Kali ini dia berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia tidak akan pernah melakukannya lagi. Perselingkuhan adalah gerbang menuju kesengsaraan. Mungkin saja karma memang tak berlaku ketika mereka berselingkuh. Tapi, entah suatu saat nanti keturunan mereka bisa saja mendapatkan balasan dari apa yang mereka perbuat.


Semuanya kini telah berlalu. Dia yang memang pernah melakukan kesalahan itu dan tahu rasanya bagaimana sakitnya ketika dia mempertahankan istrinya saat istrinya sudah menyerah ingin mengakhiri semua itu. Pelajaran berharga yang dia dapatkan dari perselingkuhan itu adalah, tidak semuanya orang diam itu tidak tahu apa-apa. Barangkali mereka diam untuk menyembunyikan apa yang mereka rasakan dan menumpahkan segalanya ketika mereka sudah lelah. Sama dengan yang dilakukan oleh istrinya waktu itu. Tidak pernah berkata apa-apa. Tapi justru menginginkan pisah darinya. Bagaimana dia tidak terkejut dengan semua itu. Rey yang awalnya tidak tahu mengenai apa yang dia rasakan, dan merasa begitu sakit hati ketika dia tahu bawa istrinya merencanakan perceraian begitu anak mereka lahir.


“Rey, kapan nambah anak?”


Dia yang tadinya sedang minum jus dengan hati-hati justru tersedak dengan pertanyaan dari mamanya. Entah kenapa semua orang seolah menanyakan tentang menambah keturunan. Sedangkan dia tidak mau jika anaknya yang masih kecil itu mendapatkan keturunan dan justru nantinya Audri tidak mendapatkan kasih sayang dengan adil ketika mereka menambah lagi. Kasihan juga anak mereka yang masih sangat kecil itu.


“Ma, nanti dulu dong! Aku nggak mau buru-buru dong. Kasihan juga si Audri, Mama ini ada-ada aja,”


“Mama ngomong apa sih?”


“Ya adiknya Audri, biar kamu bisa punya dua yang kembar gitu. Enak punya anak kembar, Rey,”


“Halah, Mama aja nggak bisa bedain anak sendiri. Malah nyuruh aku punya anak kembar,”


Mamanya tertawa melihat ekspresi Rey yang menyalahkan mamanya waktu mamanya memang tidak bsia membedakan yang dua itu. Padahal Rey sendiri tahu bagaimana cara membedakan kedua adiknya. Mamanya setiap hari berada di rumah dan mengawasi mereka justru tidak tahu mana si kecil dan mana kakaknya.


“Ya, Mama kan nggak bisa bedain kalau mereka itu pakai jilbab. Mereka sama-sama cantik gitu,”


“Aku bisa bedain, masa kalah sama aku,”


“Iya karena kamu bisa bedain dengan cara yang paling nempel sama kamu itu si Adik,”


“Nah itu Mama tahu. Ngomong-ngomong mereka nggak dijemput sekolah nih? Kebetulah kita di sini,”


“Mama yang jemput nanti. Kamu pulang aja,”


“Sekalian ikut ke rumah yuk, Ma. Nanti sekalian kan pulangnya ke rumah Mama. Biar kita barengan, sekalian ajak Marwa dan Audri ke sana,”


“Kamu nggak balik ke kantor?”


“Nggak, Ma. Aku nggak balik karena tadi pekerjaan udah kelar. Makanya aku kerjakan pekerjaan yang beberapa hari lalu tertunda aku kelarin semuanya kemarin. Terus sisa kemarin aku kelarin tadi. Jadi karena hari ini nggak ada yang terlalu dikerjakan, aku jadi bisa santai deh,”


“Ya udah deh. Kita barengan aja. Karena Mama juga kangen sama cucu, Mama. Ngomong-ngomong, Mama ini masih muda banget, Rey. Cepet banget kamu ngasih cucunya,”


Rey terbahak mendengar ucapan sang mama. Bagaimanapun juga itu karena Papanya yang menikah tua. Bahkan sekarang usia papanya lima puluhan lebih. Tapi neneknya masih sehat sampai sekarang walaupun sudah membungkuk dan penglihatan sudah tidak terlalu jelas.


“Nggak apa-apa. Yang pentin Mama itu sehat, Rey. Ngomong-ngomong Papa kamu masih cemburuan tahu sampai sekarang,”


“Dari dulu juga Papa kan cemburuan, Ma. Mama lupa kalau dulu Papa itu orangnya cuek, dingin banget,”


“Ingat sih. Apalagi dulu Mama masih muda, cantik. Dan akhirnya berjodoh sama orang gila kayak Papa kamu,”


Rey semakin tertawa mendengar mamanya berkata demikian. “Mama nggak boleh bilang begitu,”


“Mama bilang gitu karena faktanya, Rey. Papa kamu itu gilanya nggak ketulungan, sekali ngomong ini dibeliin. Itu yang dua, dikasih mobil buat diantar dan dijemput ke sekolah. Harganya itu lho, Rey. Astaga, gimana Mama nggak bilang dia gila,”


“Ma, Papa gitu karena dia sayang keluarga,”


“Kamu nggak lihat Mobil di garasi ada belasan, Rey. Kamu pikir Mama nggak stress lihatnya. Siapa yang mau pakai coba? Mama sudah suruh jual, katanya itu Mobil yang dulu-dulu nggak mau dijual. Katanya itu ada kenangan sama, Mama. Jadi nggak mau dijual, terus yang lainnya, dia bilang itu dipakai waktu kencan sama Mama waktu balikan. Dan yang lainnya itu waktu kamu masih kecil,”


“Biarin aja, Ma. Mungkin Papa mau koleksi kenangannya sama Mama. Jadi nggak usah dimarahin,”


“Nggak ada yang marah, Rey. Cuman Mama itu mikirnya kebanyakan,”


“Ma, kejadian itu kan lama banget, dan salah satu mobilnya itu kan hadiah untuk Mama. Jadi nggak usah dipermasalahkan. Apa Mama nggak dukung Papa tuh simpan barang berharganya semasa muda sama, Mama?”


“Iya, Rey. Mama dukung kok, ngalah aja deh, Mama. Tahu banget Mama tuh sifat kamu sama Papa kamu nggak ada bedanya. Keras kepalanya iya, tapi salutnya ya penyayangnya itu. Kalau udah sayang ya sayang banget.”


 


 


Ia tersenyum begitu mamanya mengalah dengan yang dia katakan. Dia dan papanya memang memiliki sifat yang berbeda sedikit dengan papanya. Maka dari itu, Mamanya sering meledeknya yang hampir tidak ada perbedaan dari sikap juga.


 


 


 


Jangan lupa like, vote dan komentar dibawah ya. Sebagai hadiah untuk Crazy upnya.