
Tidak pernah ada anak yang mau keluarganya retak dan
tak mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tua. Bahkan, ada anak yang
menjadi sangat nakal karena kasus perceraian orang tua. Ada pula yang menjadi
pendiam dan penyendiri. Tidak pernah mau berkomunikasi dengan banyak orang, iri
dengan kebahagiaan orang lain. Namun, ada juga sebagian anak yang justru lebih
menginginkan orang tuanya berpisah, daripada salah satunya harus menderita.
Dimas keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan
rambutnya, tidak ada istrinya di sana. Pikirnya, barangkali Viona tengah
bersama dengan Rey di kamar anak itu. Setelah berpakaian rapi, ia keluar kamar
untuk makan malam.
Beberapa saat menunggu, Viona keluar dari kamar yang
di tempati Nagita dan Rey dulu. Namun kini hanya ada Rey di sana. Sesekali Dimas
ingin menemani keponakannya untuk tidur. Tetapi tawarannya selalu saja ditolak
oleh Rey, dengan alasan tidak ada yang boleh menempati kamar itu selain dirinya
dan Nagita. Dengan alasan itu, Dimas mengerti dengan keinginan keponakannya.
“Sayang, Rey kok nggak di ajak keluar?”
“Rey tidur, kak. Dia sudah makan kok tadi, walaupun
cuman sedikit,”
“Dari tadi sepulang bekerja, aku nggak pernah lihat
dia keluar dari kamar. Dia baik-baik saja kan?”
Viona tak menjawab. “Ayo makan, nanti kita ke
kamarnya bareng!” Dimas mengangguk. Ia menyetujui ucapan istrinya. Kali ini Dimas sangat jarang untuk lembur di
kantor. Ia lebih banyak membawa pekerjaannya ke rumah. Bermain dan menemani Rey
untuk belajar, setelah keponakannya tidur, ia baru melanjutkan pekerjaannya. Ditemani
oleh sang istri, mereka berdua telah sepakat untuk memberikan waktu yang cukup
baik untuk anak itu.
Dimas selesai makan dan menemani Viona mencuci
piring bekas makan mereka. Sesekali ia bercanda dengan istrinya, tapi melihat
Viona yang tertawa dan langsung murung, Dimas merasa ada yang tak beres dengan
perempuan itu. Selesai mencuci piring, Viona langsung menempel di lengannya.
“Aku izin nggak temani kakak tidur ya?”
“Memangnya kenapa?”
Viona menggeleng.
“Sayang, ada apa?”
“Sebenarnya, Rey sakit. Dari tadi pagi panasnya tambah tinggi. Aku sudah bawa
dia ke dokter. Aku juga sudah belikan kompres pereda panas, tapi tetap saja,”
“Kenapa kamu nggak bilang?” tanya Dimas dengan nada
yang lebih tinggi.
Mereka berdua langsung masuk ke kamar anak itu. Dimas
melihat keponakannya terbaring dengan kompres yang menempel di dahi, ia
memicingkan matanya. Merasa iba dengan keadaan anak itu. Akhir-akhir ini Rey
sering sakit, dan mereka berdua berusaha menutupinya dari Nagita. Semenjak Nagita
pergi, Rey sering sakit seperti itu.
“Daddy! Itu Daddy kan?”
Dimas tak menanggapi. Ia melihat ke arah Viona. Istrinya
hanya menunduk tak berucap apa pun. “Viona, ini sebenarnya ada apa? Kenapa kamu
nggak bilang kalau Rey sakit?”
“Beberapa hari yang lalu, Azka datang kemari untuk
menemui Rey. Dia nggak ngomong apa-apa sama aku, cuman dia bawa Rey untuk
ngobrol. Setelah itu Rey bilang kalau dia pengin Azka tetap di sini, tanpa
dimarahi lagi oleh kakak. Tapi aku iseng tanya ke dia, kalau seandainya Mama
dan Papa kembali, apa dia setuju atau tidak. Jawabannya tidak, karena dia nggak
mau lagi lihat Nagita dipukul dan lihat Nagita nangis, apa perasaan Rey terluka
sangat parah?” terang Viona. Dimas berusaha mengerti dengan keadaan itu. Memang
adiknya pernah berpesan agar Rey tetap bertemu dengan Azka. Tetapi jika seperti
ini, Dimas tidak bisa tinggal diam jika Rey sakit.
“Rey, ini Om. Rey kenapa?”
“Rey mau Daddy,Om,”
“Besok ya. Besok Om antarin Rey ketemu, Daddy,”
“Nggak. Rey pengin tidur sama Daddy,”
“Rey ini sudah malam. Besok ya,”
“Nggak mau. Rey mau sama Daddy, boleh ya Om?”
ucapnya parau sambil menangis. Dimas yang tak tega dengan keponakannya itu
langsung meminta Viona untuk menyiapkan beberapa pakaian untuk Rey.
“Jangan lupa obatnya juga ya!”
“Kakak mau bawa dia ke sana?”
“Nggak ada pilihan, Viona. Selain bawa dia ke sisi
Papanya. Mungkin benar bahwa nanti itu bisa buat dia sedikit lebih baik. Kamu tetap
di sini ya! Biar aku pergi ke sana bawa dia,”
“Kita ketemu Daddy kan Om?”
“Iya, tapi harus pakai pakaian tebal ya! Biar keponakan
Om yang satu ini nggak kedinginan.”
“Nanti Mama marah kan, Om?”
“Nggak. Jangan kasih tahu Mama. Om antar Rey ke
rumah Daddy, tapi janji harus rajin minum obat di sana ya! Om nggak mau lagi
kalau Rey itu sakit. Sebentar lagi kita bakalan susul Mama, ingat ya siapa pun
yang tanya nanti di sana, Rey nggak boleh kasih tahu kalau Mama itu pergi ke
Jepang!”
“Rey janji, Om.”
Dimas tak tega terus menahan Rey. Bagaimanapun juga
anak itu butuh kasih sayang dari orang tua kandungnya. Seberapapun rasa
bencinya terhadap Azka, sebab pria itu penyebab dari kekacauan hidup adik dan
juga keponakannya. Namun baginya, kali ini Rey bisa bertemu dengan Azka kapan
pun.
Dimas membantu Rey bangun dan memasangkan pakaian
yang cukup tebal dan penutup kepala.
“Kaos kaki juga, Viona!”
Dimas meraih kaos kaki tersebut dan memasangkannya
kepada keponakannya. “Ayo bawa barangnya ke mobil, obat dan segala keperluan
lainnya jangan sampai ketinggalan, aku cuman antarin dia ke sana, nggak bakalan
lama kok, tunggu di sini ya!”
Dimas langsung masuk ke dalam mobil dan membiarkan
Viona sendirian. Sepanjang perjalanan, sesekali ia menatap keponakannya yan
tertidur sangat pulas. Wajahnya yang memerah, tidak ada alasan Dimas untuk
tidak menerima kehadiran keponakannya, saat anak itu sudah besar seperti
sekarang, hanya saja ia masih menutupi semua kelakuan Azka dulu. Tidak mungkin
baginya menceritakan keburukan Azka di depan anaknya. Karena itu dapat
mengganggu keadaan psikologis Reynand.
Tiba di rumah mantan mertua Nagita. Dimas memejamkan
matanya, berat sekali langkahnya untuk masuk ke sana. Tapi bagaimanapun juga
itu semua demi Rey, demi kesembuhan Rey.
“Pak bisa buka pintu gerbangnya?” ucapnya pada salah
satu satpam di sana.
Tanpa menunggu lama, pintu gerbang di buka. Sementara
waktu Dimas terdiam di dalam mobilnya. “Rey, bangun! Kita sudah sampai,”
ucapnya perlahan sambil membangunkan Rey. Anak itu membuka matanya dan
tersenyum.
“Tunggu dulu, biar Om yang gendong!”
Dimas keluar dari mobilnya dan langsung membuka pintu
bagian kiri, ia menggendong Rey dan sangat terasa bahwa suhu tubuh anak itu
sangat panas. Ia menggendong dan mengeluarkan barang Rey.
‘Sebenarnya aku sudah sangat malas untuk berhubungan
dengan keluarga ini lagi, Nagita. Tapi semuanya demi anak kamu, kakak nggak
mungkin biarin Rey terus nangis dan cari Papanya. Kamu sendiri pernah bilang
bahwa Rey nggak boleh banyak beban pikiran. Dan mungkin semua ini ada kaitannya
dengan hal itu’ gumamnya.
Ia meletakkan tas tersebut dan langsung menekan
tombol bel rumah beberapa kali. Hingga akhirnya mantan mertua Nagita keluar.
“Dimas? Rey kenapa?”
“Malam tante, saya cuman mau titip Rey untuk
beberapa hari ke depan. Setelah itu saya ambil kembali, dari tadi dia nangis
pengin ketemu sama Papanya. Saya harap ada niatan baik dari Azka untuk mengurus
“Nagita mana?”
“Nagita nggak ikut. Saya cuman berdua sama Rey,”
“Masuk dulu, Nak! Dimas, Rey sepertinya terlalu
banyak pikiran,”
“Saya tahu itu,”
“Ya sudah, sini biar tante yang gendong,”
“Azka mana?”
“Dia belum pulang bekerja,”
“Oh, kalau begitu saya langsung pamit aja ya.” Ucapnya
sambil menyerahkan Rey. “Baik-baik di sini ya! Rajin minum obatnya, Daddy pulang bekerja sebentar lagi, nanti
kalau ada apa-apa telepon ya!” anak itu mengangguk. Setelah berpamitan, ia
langsung pulang begitu saja. Dimas merasa khawatir dengan anak itu, semakin
hari Rey semakin banyak menjadi orang yang pendiam. Tidak seperti dulu, anak
itu lebih aktif berbicara dan menceritakan banyak hal. Namun kini, justru
keponakannya terlalu banyak menyendiri, meski dicari oleh teman-temannya. Anak itu
tetap jarang keluar rumah.
*******
Pukul satu dini hari, Azka merasa hatinya tidak
karuan. Ia yang tadinya lembur dan berusaha untuk mengembalikan perusahannya
menjadi jauh lebih baik lagi. Mengembalikan semuanya yang pernah hampir jatuh. Namun
kini semuanya telah menjadi normal.
Azka melihat ponselnya dan saat itu sedang
menggunakan mode diam. Ia melihat beberapa kali mamanya mencoba menguhubungi. Tapi
Azka tidak tahu akan hal itu, ia memutuskan untuk segera pulang karena merasa
ada yang sedang mengganjal dihatinya.
Azka langsung keluar dari mobilnya setibanya di
rumah. Ia langsung berlari dan benar saja bahwa mamanya masih menunggu di ruang
tamu. Jika tidak ada apa-apa, tentu saja mamanya tidak akan menunggu hingga
selarut itu. Di sana juga ada papanya yang tengah menunggu dengan raut wajah
yang membuat Azka merasa sangat ketakutan.
Ia berusaha mendekati mamanya dan hendak bersalaman.
Baru saja mendekat, mamanya langsung berdiri.
Plak
Azka langsung menoleh ke arah papanya yang baru saja
melayangkan tamparan untuknya. “Ke mana saja kamu, sialan?”
“Kerja,”
“Masih ingat pulang kamu?”
“Ini rumah aku juga, Papa,”
“Kenapa sekarang Papa menyesal memanjakan kamu,
kenapa sekarang Papa menyesal punya anak seperti kamu. Apa yang kamu mau Mama
dan Papa berusaha turuti, bahkan selalu mengajarkan kamu hal baik, tapi kenapa
semuanya menjadi seperti ini?”
“Maksud Papa apa?”
“Rey ada di atas, dia ada di kamar kamu. Mama dan
Papa berusaha hubungi kamu dari tadi, tapi kamu tidak pernah merespons, apa
kamu sibuk dengan wanita-wanita simpanan kamu di sana? Apa kamu sibuk dengan
perempuan yang sudah menghancurkan rumah tangga kamu? Apa kamu sibuk pacaran
dengan perempuan yang sudah membuat semuanya seperti sekarang ini?”
Kali ini Azka memilih mengalah. Meski yang dimaksud
oleh Papanya adalah Deana. Sama sekali Azka tidak merasa hatinya sakit seperti
dulu.
“Rey sakit!” Azka terkejut dengan hal itu. Ia langsung
berlari ke kamarnya untuk menemui anaknya. Baru saja membuka pintu, ia sudah
diberikan pemandangan yang teramat menyayat hatinya. Rey berada di atas ranjang
sambil memeluk guling dan juga kompres menempel didahi putranya.
Azka menyadari bahwa orang tuanya mengikuti hingga
ke kamar. Ia hanya terdiam sambil duduk di pinggiran ranjang.
“Jaga dia baik-baik, Azka. Dimas yang sudah tidak
mau lagi berhubungan lagi sama kita rela datang hanya untuk nuruti kemauan Rey,
itu artinya dia masih peduli sama kamu dan juga Rey, tolong Azka! Mama sangat
mohon sama kamu, kali ini saja, jaga Rey dengan baik!”
“Biarkan aku berdua sama dia, Ma, Pa!” kedua orang
tuanya langsung keluar dari kamar.
Azka langsung beranjak dari tempat duduknya dan
segera mandi. Setibanya di kamar lagi, Azka langsung mengelus kepala anaknya. ‘Apa yang kamu pikirkan, Nak? Sampai-sampai
kamu jadi seperti ini? Jika memang Mommy dan Daddy sumbernya, maaf. Daddy akan
berusaha cari Mommy lagi, kita akan berkumpul sayang. Daddy nggak kuat lihat
Rey terus seperti ini’ ucapnya sambil mengelus kepala anaknya yang terlelap.
Pukul tiga dini hari, Azka masih terjaga dan tidak
tidur sama sekali semenjak orang tuanya memberitahukan bahwa anaknya berada di
rumah.
“Daddy?”
“Iya sayang, Daddy di sini,”
“Daddy ayo jemput, Mommy!”
“Besok ya sayang! Kita bakalan jemput Mommy,
sekarang anak Daddy harus istirahat!”
“Daddy, peluk!” tanpa berpikir panjang. Ia langsung
naik ke atas ranjang dan memeluk Reynand. Anak itu terus saja terisak dan
bercerita kalau dia sangat menginginkan Nagita berada di sisinya saat itu juga.
Azka hanya mendengarkan setiap cerita anaknya dan berusaha menenangkan.
Perlahan, Azka merasakan tubuh Rey menggigil. Napasnya
yang tidak teratur, ia melepaskan pelukan anaknya dan mendapati Rey yang tengah
sesak. Keadaan begitu panik hingga Azka langsung melarikan menuju klinik
terdekat.
“Buka gerbangnya!” teriaknya pada satpam yang
berjaga di sana. Azka melihat napas Rey yang sangat berat. Ia tak sadar bahwa
ia menangis saat itu juga.
“Rey, tolong kali ini harus kuat!” ia tak peduli
dengan kecepatan mobilnya. Setidaknya ia bisa segera tiba di klinik terdekat.
Azka yang begitu panik langsung berhenti di salah
satu klinik, ia langsung mengangkat tubuh Rey.
“Tolongin anak saya, dok!” ucapnya saat meletakkan
Rey di atas brankar. Ia menunggu beberapa saat di luar. Cobaan yang sangat
berat bagi Azka adalah melihat anaknya yang menjadi korban. Tujuannya dahulu
melepaskan Nagita adalah agar perempuan itu bahagia dan tidak tersakiti lagi
olehnya. Namun ia lupa, bahwa anaknya menjadi korban atas tindakannya yang
waktu itu sangat gegabah.
“Permisi pak!” ucap dokter tersebut. Azka langsung
berdiri dari tempat duduknya.
“Kenapa dokter? Anak saya bagaimana?”
“Sebelumnya dia kenapa?”
“Suhu badannya sangat panas, terus dia
cerita-cerita, waktu itu dia minta dipeluk biar bisa tidur, tapi saat itu juga
tiba-tiba dia sesak, dok,”
“Mamanya mana?”
“Nggak tahu dok, semenjak bercerai untuk pertama
kalinya Mamanya bawa dia ke rumah dok,”
“Pikirkan keadaan dia! Banyak kasus perceraian
mengakibatkan anak menjadi korban, mungkin benar bahwa bukan urusan saya. Tetapi
lihat anak anda, Pak! Dia terlalu banyak tekanan yang tidak bisa diceritakan
pada siapapun, jika pun seandainya dia
bercerita, itu sangat sulit baginya. Cobalah ajak Mamanya berdiskusi,
barangkali anak itu banyak pikiran tentang orang tuanya, dia tinggal sama
siapa?”
“Sama Om dan tantenya,”
“Jika bercerai hanya memikirkan diri sendiri, jangan
lupakan jika anda sudah memiliki anak yang psikologisnya harus dijaga dengan
baik. Anak anda mungkin terbilang kuat, tapi siapa yang tahu hatinya sedih. Siapa
yang tahu hatinya menangis melihat orang tuanya seperti itu, pikirkan baik-baik
sebelum mengakhiri. Bosan, bukan pilihan yang tepat untuk berpisah. Ada kalanya
untuk di omongkan baik-baik. Tidak ada alasan bosan dalam pernikaha, barangkali
sikap yang memang agak sedikit mengganggu. Barangkali masa lalu juga bisa
menghancurkan pernikaha, Pak! Tolong jaga anak anda, saya permisi.”
Azka menunduk. Bahwa yang di katakan oleh dokter
tadi adalah benar.