RICH MAN

RICH MAN
BEBAN PIKIRAN



Tidak pernah ada anak yang mau keluarganya retak dan


tak mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tua. Bahkan, ada anak yang


menjadi sangat nakal karena kasus perceraian orang tua. Ada pula yang menjadi


pendiam dan penyendiri. Tidak pernah mau berkomunikasi dengan banyak orang, iri


dengan kebahagiaan orang lain. Namun, ada juga sebagian anak yang justru lebih


menginginkan orang tuanya berpisah, daripada salah satunya harus menderita.


Dimas keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan


rambutnya, tidak ada istrinya di sana. Pikirnya, barangkali Viona tengah


bersama dengan Rey di kamar anak itu. Setelah berpakaian rapi, ia keluar kamar


untuk makan malam.


Beberapa saat menunggu, Viona keluar dari kamar yang


di tempati Nagita dan Rey dulu. Namun kini hanya ada Rey di sana. Sesekali Dimas


ingin menemani keponakannya untuk tidur. Tetapi tawarannya selalu saja ditolak


oleh Rey, dengan alasan tidak ada yang boleh menempati kamar itu selain dirinya


dan Nagita. Dengan alasan itu, Dimas mengerti dengan keinginan keponakannya.


“Sayang, Rey kok nggak di ajak keluar?”


“Rey tidur, kak. Dia sudah makan kok tadi, walaupun


cuman sedikit,”


“Dari tadi sepulang bekerja, aku nggak pernah lihat


dia keluar dari kamar. Dia baik-baik saja kan?”


Viona tak menjawab. “Ayo makan, nanti kita ke


kamarnya bareng!” Dimas mengangguk. Ia menyetujui ucapan istrinya. Kali  ini Dimas sangat jarang untuk lembur di


kantor. Ia lebih banyak membawa pekerjaannya ke rumah. Bermain dan menemani Rey


untuk belajar, setelah keponakannya tidur, ia baru melanjutkan pekerjaannya. Ditemani


oleh sang istri, mereka berdua telah sepakat untuk memberikan waktu yang cukup


baik untuk anak itu.


Dimas selesai makan dan menemani Viona mencuci


piring bekas makan mereka. Sesekali ia bercanda dengan istrinya, tapi melihat


Viona yang tertawa dan langsung murung, Dimas merasa ada yang tak beres dengan


perempuan itu. Selesai mencuci piring, Viona langsung menempel di lengannya.


“Aku izin nggak temani kakak tidur ya?”


“Memangnya kenapa?”


Viona menggeleng.


“Sayang, ada apa?”


 


 


 


 


“Sebenarnya, Rey sakit. Dari tadi pagi panasnya tambah tinggi. Aku sudah bawa


dia ke dokter. Aku juga sudah belikan kompres pereda panas, tapi tetap saja,”


“Kenapa kamu nggak bilang?” tanya Dimas dengan nada


yang lebih tinggi.


Mereka berdua langsung masuk ke kamar anak itu. Dimas


melihat keponakannya terbaring dengan kompres yang menempel di dahi, ia


memicingkan matanya. Merasa iba dengan keadaan anak itu. Akhir-akhir ini Rey


sering sakit, dan mereka berdua berusaha menutupinya dari Nagita. Semenjak Nagita


pergi, Rey sering sakit seperti itu.


“Daddy! Itu Daddy kan?”


Dimas tak menanggapi. Ia melihat ke arah Viona. Istrinya


hanya menunduk tak berucap apa pun. “Viona, ini sebenarnya ada apa? Kenapa kamu


nggak bilang kalau Rey sakit?”


“Beberapa hari yang lalu, Azka datang kemari untuk


menemui Rey. Dia nggak ngomong apa-apa sama aku, cuman dia bawa Rey untuk


ngobrol. Setelah itu Rey bilang kalau dia pengin Azka tetap di sini, tanpa


dimarahi lagi oleh kakak. Tapi aku iseng tanya ke dia, kalau seandainya Mama


dan Papa kembali, apa dia setuju atau tidak. Jawabannya tidak, karena dia nggak


mau lagi lihat Nagita dipukul dan lihat Nagita nangis, apa perasaan Rey terluka


sangat parah?” terang Viona. Dimas berusaha mengerti dengan keadaan itu. Memang


adiknya pernah berpesan agar Rey tetap bertemu dengan Azka. Tetapi jika seperti


ini, Dimas tidak bisa tinggal diam jika Rey sakit.


“Rey, ini Om. Rey kenapa?”


“Rey mau Daddy,Om,”


“Besok ya. Besok Om antarin Rey ketemu, Daddy,”


“Nggak. Rey pengin tidur sama Daddy,”


“Rey ini sudah malam. Besok ya,”


“Nggak mau. Rey mau sama Daddy, boleh ya Om?”


ucapnya parau sambil menangis. Dimas yang tak tega dengan keponakannya itu


langsung meminta Viona untuk menyiapkan beberapa pakaian untuk Rey.


“Jangan lupa obatnya juga ya!”


“Kakak mau bawa dia ke sana?”


“Nggak ada pilihan, Viona. Selain bawa dia ke sisi


Papanya. Mungkin benar bahwa nanti itu bisa buat dia sedikit lebih baik. Kamu tetap


di sini ya! Biar aku pergi ke sana bawa dia,”


“Kita ketemu Daddy kan Om?”


“Iya, tapi harus pakai pakaian tebal ya! Biar keponakan


Om yang satu ini nggak kedinginan.”


“Nanti Mama marah kan, Om?”


“Nggak. Jangan kasih tahu Mama. Om antar Rey ke


rumah Daddy, tapi janji harus rajin minum obat di sana ya! Om nggak mau lagi


kalau Rey itu sakit. Sebentar lagi kita bakalan susul Mama, ingat ya siapa pun


yang tanya nanti di sana, Rey nggak boleh kasih tahu kalau Mama itu pergi ke


Jepang!”


“Rey janji, Om.”


Dimas tak tega terus menahan Rey. Bagaimanapun juga


anak itu butuh kasih sayang dari orang tua kandungnya. Seberapapun rasa


bencinya terhadap Azka, sebab pria itu penyebab dari kekacauan hidup adik dan


juga keponakannya. Namun baginya, kali ini Rey bisa bertemu dengan Azka kapan


pun.


Dimas membantu Rey bangun dan memasangkan pakaian


yang cukup tebal dan penutup kepala.


“Kaos kaki juga, Viona!”


Dimas meraih kaos kaki tersebut dan memasangkannya


kepada keponakannya. “Ayo bawa barangnya ke mobil, obat dan segala keperluan


lainnya jangan sampai ketinggalan, aku cuman antarin dia ke sana, nggak bakalan


lama kok, tunggu di sini ya!”


Dimas langsung masuk ke dalam mobil dan membiarkan


Viona sendirian. Sepanjang perjalanan, sesekali ia menatap keponakannya yan


tertidur sangat pulas. Wajahnya yang memerah, tidak ada alasan Dimas untuk


tidak menerima kehadiran keponakannya, saat anak itu sudah besar seperti


sekarang, hanya saja ia masih menutupi semua kelakuan Azka dulu. Tidak mungkin


baginya menceritakan keburukan Azka di depan anaknya. Karena itu dapat


mengganggu keadaan psikologis Reynand.


Tiba di rumah mantan mertua Nagita. Dimas memejamkan


matanya, berat sekali langkahnya untuk masuk ke sana. Tapi bagaimanapun juga


itu semua demi Rey, demi kesembuhan Rey.


“Pak bisa buka pintu gerbangnya?” ucapnya pada salah


satu satpam di sana.


Tanpa menunggu lama, pintu gerbang di buka. Sementara


waktu Dimas terdiam di dalam mobilnya. “Rey, bangun! Kita sudah sampai,”


ucapnya perlahan sambil membangunkan Rey. Anak itu membuka matanya dan


tersenyum.


“Tunggu dulu, biar Om yang gendong!”


Dimas keluar dari mobilnya dan langsung membuka pintu


bagian kiri, ia menggendong Rey dan sangat terasa bahwa suhu tubuh anak itu


sangat panas. Ia menggendong dan mengeluarkan barang Rey.


‘Sebenarnya aku sudah sangat malas untuk berhubungan


dengan keluarga ini lagi, Nagita. Tapi semuanya demi anak kamu, kakak nggak


mungkin biarin Rey terus nangis dan cari Papanya. Kamu sendiri pernah bilang


bahwa Rey nggak boleh banyak beban pikiran. Dan mungkin semua ini ada kaitannya


dengan hal itu’ gumamnya.


Ia meletakkan tas tersebut dan langsung menekan


tombol bel rumah beberapa kali. Hingga akhirnya mantan mertua Nagita keluar.


“Dimas? Rey kenapa?”


“Malam tante, saya cuman mau titip Rey untuk


beberapa hari ke depan. Setelah itu saya ambil kembali, dari tadi dia nangis


pengin ketemu sama Papanya. Saya harap ada niatan baik dari Azka untuk mengurus


“Nagita mana?”


“Nagita nggak ikut. Saya cuman berdua sama Rey,”


“Masuk dulu, Nak! Dimas, Rey sepertinya terlalu


banyak pikiran,”


“Saya tahu itu,”


“Ya sudah, sini biar tante yang gendong,”


“Azka mana?”


“Dia belum pulang bekerja,”


“Oh, kalau begitu saya langsung pamit aja ya.” Ucapnya


sambil menyerahkan Rey. “Baik-baik di sini ya! Rajin minum obatnya,  Daddy pulang bekerja sebentar lagi, nanti


kalau ada apa-apa telepon ya!” anak itu mengangguk. Setelah berpamitan, ia


langsung pulang begitu saja. Dimas merasa khawatir dengan anak itu, semakin


hari Rey semakin banyak menjadi orang yang pendiam. Tidak seperti dulu, anak


itu lebih aktif berbicara dan menceritakan banyak hal. Namun kini, justru


keponakannya terlalu banyak menyendiri, meski dicari oleh teman-temannya. Anak itu


tetap jarang keluar rumah.


*******


Pukul satu dini hari, Azka merasa hatinya tidak


karuan. Ia yang tadinya lembur dan berusaha untuk mengembalikan perusahannya


menjadi jauh lebih baik lagi. Mengembalikan semuanya yang pernah hampir jatuh. Namun


kini semuanya telah menjadi normal.


Azka melihat ponselnya dan saat itu sedang


menggunakan mode diam. Ia melihat beberapa kali mamanya mencoba menguhubungi. Tapi


Azka tidak tahu akan hal itu, ia memutuskan untuk segera pulang karena merasa


ada yang sedang mengganjal dihatinya.


Azka langsung keluar dari mobilnya setibanya di


rumah. Ia langsung berlari dan benar saja bahwa mamanya masih menunggu di ruang


tamu. Jika tidak ada apa-apa, tentu saja mamanya tidak akan menunggu hingga


selarut itu. Di sana juga ada papanya yang tengah menunggu dengan raut wajah


yang membuat Azka merasa sangat ketakutan.


Ia berusaha mendekati mamanya dan hendak bersalaman.


Baru saja mendekat, mamanya langsung berdiri.


Plak


Azka langsung menoleh ke arah papanya yang baru saja


melayangkan tamparan untuknya. “Ke mana saja kamu, sialan?”


“Kerja,”


“Masih ingat pulang kamu?”


“Ini rumah aku juga, Papa,”


“Kenapa sekarang Papa menyesal memanjakan kamu,


kenapa sekarang Papa menyesal punya anak seperti kamu. Apa yang kamu mau Mama


dan Papa berusaha turuti, bahkan selalu mengajarkan kamu hal baik, tapi kenapa


semuanya menjadi seperti ini?”


“Maksud Papa apa?”


“Rey ada di atas, dia ada di kamar kamu. Mama dan


Papa berusaha hubungi kamu dari tadi, tapi kamu tidak pernah merespons, apa


kamu sibuk dengan wanita-wanita simpanan kamu di sana? Apa kamu sibuk dengan


perempuan yang sudah menghancurkan rumah tangga kamu? Apa kamu sibuk pacaran


dengan perempuan yang sudah membuat semuanya seperti sekarang ini?”


Kali ini Azka memilih mengalah. Meski yang dimaksud


oleh Papanya adalah Deana. Sama sekali Azka tidak merasa hatinya sakit seperti


dulu.


“Rey sakit!” Azka terkejut dengan hal itu. Ia langsung


berlari ke kamarnya untuk menemui anaknya. Baru saja membuka pintu, ia sudah


diberikan pemandangan yang teramat menyayat hatinya. Rey berada di atas ranjang


sambil memeluk guling dan juga kompres menempel didahi putranya.


Azka menyadari bahwa orang tuanya mengikuti hingga


ke kamar. Ia hanya terdiam sambil duduk di pinggiran ranjang.


“Jaga dia baik-baik, Azka. Dimas yang sudah tidak


mau lagi berhubungan lagi sama kita rela datang hanya untuk nuruti kemauan Rey,


itu artinya dia masih peduli sama kamu dan juga Rey, tolong Azka! Mama sangat


mohon sama kamu, kali ini saja, jaga Rey dengan baik!”


“Biarkan aku berdua sama dia, Ma, Pa!” kedua orang


tuanya langsung keluar dari kamar.


Azka langsung beranjak dari tempat duduknya dan


segera mandi. Setibanya di kamar lagi, Azka langsung mengelus kepala anaknya.  ‘Apa yang kamu pikirkan, Nak? Sampai-sampai


kamu jadi seperti ini? Jika memang Mommy dan Daddy sumbernya, maaf. Daddy akan


berusaha cari Mommy lagi, kita akan berkumpul sayang. Daddy nggak kuat lihat


Rey terus seperti ini’ ucapnya sambil mengelus kepala anaknya yang terlelap.


Pukul tiga dini hari, Azka masih terjaga dan tidak


tidur sama sekali semenjak orang tuanya memberitahukan bahwa anaknya berada di


rumah.


“Daddy?”


“Iya sayang, Daddy di sini,”


“Daddy ayo jemput, Mommy!”


“Besok ya sayang! Kita bakalan jemput Mommy,


sekarang anak Daddy harus istirahat!”


“Daddy, peluk!” tanpa berpikir panjang. Ia langsung


naik ke atas ranjang dan memeluk Reynand. Anak itu terus saja terisak dan


bercerita kalau dia sangat menginginkan Nagita berada di sisinya saat itu juga.


Azka hanya mendengarkan setiap cerita anaknya dan berusaha menenangkan.


Perlahan, Azka merasakan tubuh Rey menggigil. Napasnya


yang tidak teratur, ia melepaskan pelukan anaknya dan mendapati Rey yang tengah


sesak. Keadaan begitu panik hingga Azka langsung melarikan menuju klinik


terdekat.


“Buka gerbangnya!” teriaknya pada satpam yang


berjaga di sana. Azka melihat napas Rey yang sangat berat. Ia tak sadar bahwa


ia menangis saat itu juga.


“Rey, tolong kali ini harus kuat!” ia tak peduli


dengan kecepatan mobilnya. Setidaknya ia bisa segera tiba di klinik terdekat.


Azka yang begitu panik langsung berhenti di salah


satu klinik, ia langsung mengangkat tubuh Rey.


“Tolongin anak saya, dok!” ucapnya saat meletakkan


Rey di atas brankar. Ia menunggu beberapa saat di luar. Cobaan yang sangat


berat bagi Azka adalah melihat anaknya yang menjadi korban. Tujuannya dahulu


melepaskan Nagita adalah agar perempuan itu bahagia dan tidak tersakiti lagi


olehnya. Namun ia lupa, bahwa anaknya menjadi korban atas tindakannya yang


waktu itu sangat gegabah.


“Permisi pak!” ucap dokter tersebut. Azka langsung


berdiri dari tempat duduknya.


“Kenapa dokter? Anak saya bagaimana?”


“Sebelumnya dia kenapa?”


“Suhu badannya sangat panas, terus dia


cerita-cerita, waktu itu dia minta dipeluk biar bisa tidur, tapi saat itu juga


tiba-tiba dia sesak, dok,”


“Mamanya mana?”


“Nggak tahu dok, semenjak bercerai untuk pertama


kalinya Mamanya bawa dia ke rumah dok,”


“Pikirkan keadaan dia! Banyak kasus perceraian


mengakibatkan anak menjadi korban, mungkin benar bahwa bukan urusan saya. Tetapi


lihat anak anda, Pak! Dia terlalu banyak tekanan yang tidak bisa diceritakan


pada siapapun,  jika pun seandainya dia


bercerita, itu sangat sulit baginya. Cobalah ajak Mamanya berdiskusi,


barangkali anak itu banyak pikiran tentang orang tuanya, dia tinggal sama


siapa?”


“Sama Om dan tantenya,”


“Jika bercerai hanya memikirkan diri sendiri, jangan


lupakan jika anda sudah memiliki anak yang psikologisnya harus dijaga dengan


baik. Anak anda mungkin terbilang kuat, tapi siapa yang tahu hatinya sedih. Siapa


yang tahu hatinya menangis melihat orang tuanya seperti itu, pikirkan baik-baik


sebelum mengakhiri. Bosan, bukan pilihan yang tepat untuk berpisah. Ada kalanya


untuk di omongkan baik-baik. Tidak ada alasan bosan dalam pernikaha, barangkali


sikap yang memang agak sedikit mengganggu. Barangkali masa lalu juga bisa


menghancurkan pernikaha, Pak! Tolong jaga anak anda, saya permisi.”


Azka menunduk. Bahwa yang di katakan oleh dokter


tadi adalah benar.