
Delapan hari ditinggal oleh istrinya Rey merasa benar-benar kesepian di rumah. Apalagi tidur selalu saja sendirian, apalagi jika sarapan dia selalu menghabiskan waktunya sendirian. Bahkan kali ini Rey tidak pernah menolak ajakan Alin untuk bertemu. Karena dia benar-benar merasa kesepian. Setelah membatalkan kontrak beberapa waktu lalu. Kali ini dengan bodohnya dia terus saja seperti sekarang ini. Menerima ajakan Alin keluar.
Ada hal yang mengejutkan ketika Rey mengakui suatu hal yang selama ini membuatnya tidak pernah mampu menolak Alin walaupun dia sebenarnya ingin menjadikan Alin sebagai adiknya sebab perempuan itu sangat mirip dengan almarhumah Syakila, adiknya.
Jadi, kali ini mereka memiliki janji untuk pergi ke pameran yang di mana ada pameran lukisan di sana ada pameran Alin yang akan dipampang di depan sebagai lukisan terpilih. Pameran itu cukup besar dan mengundang beberapa orang penting.
Alin yang tidak ragu lagi menggandeng tangan Rey. Bahkan pria itu tidak tahu lagi harus menghindar, maka mau tidak mau dia harus menerima itu semua. Juga untuk mempertahankan reputasinya. Tidak ada salahnya, apalagi Alin adalah perempuan yang namanya cukup terkenal di bidang ini.
“Selamat atas pemilihan juara lukisan yang paling bagus, ya,” ucap salah satu orang yang mendekati Alin dan memberikan selamat. Alin menjawab itu dengan sangat lembut. Meski pernah membuat hati perempuan itu begitu sakit. Akan tetapi setelah kesepakatan mereka berdua untuk bersahabat tanpa melibatkan orang tua lagi. Apalagi Alin yang setuju bahwa urusan papanya bukan lagi menjadi urusannya.
“Ngomong-ngomong ini pacarnya?” ucap salah satu tamu sambil tertawa. Rey di sana hanya tersenyum mendengar pertanyaan itu. Dia tidak menjawab ucapan dari orang yang mengatakan dirinya adalah pacar Alin.
Beberapa saat kemudian orang-orang berkeliling di sana untuk melihat tempat lain. Alin bahkan Rey yang ikut melihat lukisan di sana hanya bisa terpana dengan beberapa lukisan indah yang menempel pada dinding itu.
Seusai mereka menghadiri acara pameran yang dimenangkan oleh Alin. Pria itu begitu bangga kepada Alin, di usianya yang masih sangat muda dan bahkan seumuran dengan Clara, akan tetapi perempuan itu begitu membanggakannya.
Mereka berdua mampir di restoran milik Alin. “Kamu kenapa tumben mau di ajak jalan-jalan?” tanya Alin untuk membuka percakapan mereka berdua. Tanpa berat hati, Rey menceritakan mengenai istrinya yang tidak di rumah.
“Aku kesepian. Istri di rumah orang tuanya, ngurus mamanya yang sakit. Jadi mau nggak mau aku kan harus cari hiburan juga,”
“Oh, berarti aku cuman pelarian kesepian kamu?”
“Nggak juga,” ucap Rey untuk menghargai Alin yang ada di sana. Karena dia tidak ingin jika perempuan itu justru tersinggung dengan ucapan Rey yang baru saja menyinggung mengenai istrinya yang tidak di rumah dan harus menemani Alin ke pameran.
Alin mencari kesempatan untuk menjadi lebih baik. Meskipun hanya berteman dan mereka berdua telah sepakat untuk berteman dengan baik. Alin tidak pernah dengan baik menerima Rey menjadi sahabat. Apa pun caranya, dia harus memiliki pria itu. Alin sudah terlanjur mencintai Rey. Apa pun akan dia lakukan untuk membuat pria itu takluk terhadapnya.
Rey tidak sadar bahwa persahabatannya dengan Alin kali ini ada maksud tersembunyi. Apalagi Alin yang memang sedikit berubah membuat Rey percaya bahwa mereka berdua akan berteman dengan sangat baik.
Sudah beberapa lama mereka berdua ada di sana. Rey terus saja menceritakan istrinya. “Terus kalau sarapan kamu siapa yang buatin?”
“Asisten ada,”
“Makan siang?”
Alin tersenyum mendengar itu semua. Tidak seharusnya Rey menceritakan mengenai istrinya kepada orang lain. Apalagi itu menyangkut istrinya yang tidak ada di rumah. Padahal Marwa tetap di sana atas perintahnya untuk merawat mamanya beberapa hari. Tapi justru Rey mengatakan bahwa dia kesepian. Tidak seharusnya menceritakan mengenai rumah tangganya kepada orang lain.
“Oke mulai besok aku yang bakalan rutin nganterin kamu sarapan. Makan siang juga untuk beberapa hari ke depan. Sampai istri kamu pulang, begitu istri kamu pulang, maka aku bakalan berhenti nganterin kamu makanan, kamu mau?” tanya Alin degnan senyuman polosnya untuk menggaet hati Reynand. Semenjak cintanya di tolak, bahkan yang mengajukan pertemanan itu adalah Reynand. Maka, itu adalah kesempatan baik untuk Alin menjaling hubungan dengan jauh lebih baik lagi untuk sengaja berpura-pura memastikan mereka teman. Akan tetapi siapa yang akan dengan tulus berteman antar laki-laki dan perempuan tanpa melibatkan perasaan? Tidak pernah ada yang begitu tulus. Kadang ada perasaan tumbuh di dalam dada hanya saja keberanian untuk menyatakannya tidak ada.
Sangat disayangkan jika sikap Reynand yang curhat mengenai istrinya kepada perempuan lain. Tidak menutup kemungkinan bahwa keduanya akan memiliki perasaan nantinya.
Kali ini dia berharap bisa menyelesaikan masalah itu dengan baik. Justru dia menceritakan apa yang terjadi dalam rumah tangganya kepada perempuan lain. Padahal dari awal niatnya adalah untuk membangun rumah tangga berdua bersama sang istri. Tetapi Rey lupa tujuan itu. Justru dia menceritakan hal itu kepada orang lain.
Jika tidak setuju dengan istrinya yang merawat orang tuanya, tentu saja dia harus berkomunikasi terlebih dahulu kepada Marwa. Bahkan perempuan itu juga pergi atas dasar perintah Rey. Tidak mungkin Marwa diam di sana dalam jangka waktu yang lama jika bukan perintahnya sebagai seorang kepala keluarga yang harus didengarkan.
Ponsel Rey berbunyi dan dia langsung mengeluarkan ponselnya barangkali itu adalah hal yang penting dari keluarga ataupun di kantor.
Rey membuka pesan masuk, ‘Mas aku udah bawain makan malam ada di kulkas ya. Kamu tinggal panasin dikit, tadi aku pulang bentar untuk ambil beberapa pakaian. Jangan lupa di makan ya, Mas!’
Rey kembali menutup kembali aplikasi chat dan memasukkan ponselnya ke dalam saku. “Siapa?”
“Nggak penting,” jawabnya dengan jawaban dinginnya. Dia butuh istrinya saat ini. Bukan hanya pesan yang masuk ke ponselnya tentang makanan dan sebagainya. Dia merindukan istrinya. Tetapi karena istrinya anak tunggal. Dan tidak ada lagi yang merawat mamanya di sana.
Rey meraih minumannya dan meminumnya hingga tandas. “Ayo pulang!” ajaknya kepada Alin. “Aku anterin,” sambungnya dan dibalas dengan anggukkan serta perempuan itu langsung beranjak dari tempat duduknya dan langsung pergi begitu saja. Walaupun dia tidak meminta, justru Rey menawarkan diri untuk mengantarkannya pulang.
Alin sangat senang dengan perubahan Rey yang saat ini. Ternyata pria itu lebih hangat dijadikan teman dibandingkan ketika dulu dengan gamblangnya dia menyatakan cinta pada pria itu. Mungkin karena memang sangat menghargai istri, namun kali ini tanpa Alin minta pun. Rey sering menceritakan mengenai istrinya.
Setibanya di rumah, beberapa kali pangilan masuk yang di sana terpampang emoticon love yang ada di ponselnya sebagai nama untuk Marwa. Akan tetapi bukannya menjawab, justru dia mengabaikan panggilan masuk itu. Hingga tujuh kali, dan akhirnya dia mematikan ponselnya.