
Seusai makan martabak tersebut. Rey mengajak istrinya untuk berdiskusi mengenai perencanaan membeli rumah yang akan menjadi tempat mereka tinggal bertiga nantinya. Tidak ingin terlalu lama berada di rumah orang tua. Dia juga ingin sekali di sibukkan dengan kegiatannya sendiri di rumah nantinya.
“Marwa,” ucapnya mengagetkan istrinya yang sedang chatiingan dengan orang yang tidak Rey ketahui.
Perempuan itu langsung mendorong Rey menjauh sedikit dari tempatnya. “Ngagetin aja, Mas. Mas, ayo jalan-jalan!”
Rey berbaring kemudian menghadapkan kepalanya ke kiri melihat istrinya yang masih tengkurap. “Kok jalan-jalan?”
“Pengin, nanti kalau anak kita lahir aku enggak bisa lagi jalan-jalan sama kamu, Mas,”
“Malas ah,” jawab Rey disertai tawa yang ditahan, ia tahu jika tidak dituruti maka istrinya akan mengamuk saat itu juga. Rey langsung menarik hidung istrinya. “Sok-sokan mau jalan-jalan. Turun ke ruang keluarga aja bawaannya pengin muntah,”
“Yah itu kan beda sayang. Boleh ya!”
“Hmmm, nanti kita lihat dulu. Aku masih banyak kerjaan,”
“Kamu pentingin kerjaan apa aku?”
“Pentingin duit. Biar bisa beli rumah buat kita bertiga nanti,”
Marwa langsung berekspresi kesal. “Rumah? Memangnya kamu jadi mau beli rumah?”
“Ya jadi dong. Makanya aku ganggu kamu karena mau ajak kamu diskusi gitu,”
“Barusah aku chat sama teman aku, Mas. Terus dia sama suaminya pergi jalan-jalan,”
“Dan aku nggak peduli itu Marwa. Buat apa jalan-jalan disaat kondisi kamu seperti sekarang ini,”
“Kamu nggak asyik, Mas.” Marwa beranjak dari tempatnya berbaring tadi dan menghindari Rey. Sudah beberapa hari ini dia ingin marah terus menerus kepada suaminya itu. Beruntunglah Rey selalu saja sabar menghadapinya. Entah kapan kesabaran pria itu ia uji terus menerus.
Marwa turun ke ruang keluarga yang masih ada mertuanya. “Mama sama Papa belum tidur?” sapanya, “Aku boleh duduk sini, Ma, Pa?”
“Silakan sayang, enggak perlu izin malah kalau mau gabung sama kita. Ya kan, Pa?” ucap Nagita memastikan ucapannya benar dimata suaminya itu.
“Iya sayang,” jawab Azka singkat.
“Ma, Mas Rey ngajakin pindah,” ucap Marwa mengadu kepada mertuanya. Sejujurnya dia sangat betah berada di rumah itu karena kedua adik iparnya selalu saja meramaikan rumah tersebut jika Rey sibuk bekerja. Apalagi dia selalu saja diajari membuat kue dan beberapa masakan oleh mertuanya.
Nagita yang melihat raut wajah sedih dari menantunya itu langsung tersenyum. “Mau pindah kok manyun? Kenapa kalau Rey mau pindah? Kamu betah di sini, hmmm?”
“Nanti sepi kalau Mas Rey kerja, Ma,”
“Itu kemauan suami kamu. Mama malah senang kalian tinggal di sini. Tapi sifat keras kepala Rey nggak bisa dibantah kalau keinginannya sudah seperti itu. Mama justru bahagia banget kalau pada akhirnya kalian itu bakalan tinggal di sini. Tetapi, beberapa waktu yang lalu dia juga sempat ngomong kalau dia bakalan beli rumah dan ngajakin kamu pindah ke tempat lain. Awalnya Mama sama Papa enggak pernah setuju dengan permintaan dia. Tapi mau gimana lagi, kalian sudah menikah. Kalian sudah sama-sama dewasa. Jadi nggak ada hak juga bagi Mama sama Papa ngatur kalian berdua,”
Perlahan Marwa mengangguk dan melihat ke arah mama mertuanya yang menampilkan raut wajah yang selalu saja ceria. Kadang dia tidak bisa membaca ekspresi itu karena mertuanya selalu saja tersenyum ramah kepadanya setiap hari. Walaupun terkadang dia seringkali bertengkar dengan Rey dan didengar oleh mertuanya, tetapi seolah tidak terjadi apa-apa dan urusan rumah tangganya dengan Rey tidak pernah diikut campuri oleh mertuanya.
“Mama sama Papa juga dulu sih gitu, Marwa. Tinggal berdua, waktu Mama hamil suami kamu tuh ya kami tinggal berdua. Mama sakit, ya Papa rawat. Sampai Mama melahirkan,”
“Kerja. Cuman kalau urusan Mama ya Papa selalu usahakan utamain walaupun sibuk. Dan kalau ada urusan di luar kota, ya Papa minta yang lain pergi. Nggak mungkin Papa tinggalin Mama yang waktu itu hamil besar,”
“Papa jagain Mama dengan baik?”
Nagita tersenyum. “Pastinya, Papa itu orangnya romantis tahu. Walaupun tua dan hampir punya cucu begini juga masih romantis,”
“Mama kamu nih suka banget godain, Marwa. Jadi ya gini, bawaanya jadi sayang melulu nih Papa,”
Marwa tertawa kecil mendengar penuturan mertuanya itu. “Jarak Mas Rey sama yang dua itu kok jauh banget, Ma?”
“Karena Mama dulu nggak mau hamil, Marwa. Susah banget tahu kalau Papa bilang pengin punya anak lagi,” seka Azka.
“Karena dulu Papa kamu ini orangnya sibuk melulu, Marwa. Jadi Mama malas hamil dan takut kalau dia nggak bisa luangin waktunya untuk anak-anak. Sama Rey aja dia jarang dulu nemenin, apalagi mau nambah segala,”
Marwa dekat dengan kedua mertuanya, memiliki mertua yang baik dan juga adik-adik yang super nakal kadang membuat Marwa kewalahan untuk menghadapi adiknya yang kerapkali bertengkar di kamarnya. Apalagi saat ia tengah mual. Adiknya justru rebut dan bernyanyi di kamar.
“Ma, aku belum sempat jengukin anaknya Leo. Tadi Mas Rey cerita kalau istrinya Leo melahirkan,”
“Iya Mama juga belum ke sana. Dia tuh beda banget, istrinya melahirkan bukannya telepon keluarga malah urus sendiri istrinya. Nemenin persalinan dan bahkan nggak ngasih tahu yang lainnya kalau ternyata istrinya itu melahirkan. Apalagi Mamanya dia tuh ngamuk setelah tahu kalau cucunya udah keluar. Leo jadi sasaran Mamanya karnea enggak mau ngasih kabar gitu,”
“Mungkin biar jadi kejutan kali, Ma.” Ucap Marwa. Azka mendengarkan ucapan kedua perempuan itu. Sebentar lagi dia akan menjadi seorang kakek diusianya yang sekarang ini.
“Kejutan sih kejutan. Tapi yang namanya melahirkan itu nggak boleh diremehin, Marwa. Mama nggak mau kalau nanti Rey melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Leo. Kalau sampai terjadi, benar-benar Mama tarik tuh telinganya. Mama hajar dia,”
“Nanti aku yang kasih tahu dia, Ma. Semoga aja Mas Rey nggak melakukan hal itu. Karena aku juga pengin ditemani sama orang tua aku,”
“Mana bisa lebih dari satu orang, Marwa. Papa aja dulu malah pengin dipegang di sangga tubuh Papa sama yang lainnya waktu Mama kamu lahirin yang dua itu. Papa ngerasain gimana sakit-“
Azka mengaduh kala Nagita menyenggol perutnya dengan siku. “Pa, jangan cerita yang lebih dari itu. Nanti dia takut pas mau lahiran. Papa mau dia stress?” bisik Nagita kepadanya. Azka mengangguk pelan dan mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Nanti urusan rumah biar Papa sama Rey yang ngomong ya. Kamu tinggal duduk santai,”
“Papa tadi belum selesai ngomong, kalau Papa ngerasain sakitnya Mama melahirkan gitu?”
Azka dan Nagita saling tatap satu sama lain setelah mendengarkan menantunya berkata demikian. Salah Azka juga yang keceplosan berkata demikian dihadapan menantunya itu.