
“Alin, please udah! Jangan lagi kamu ganggu mereka,” bentak Dhyo, dia merupakan kekasih Alin yang dahulu pernah ditinggalkan oleh Alin ke luar negeri untuk kuliah. Tetapi pria itu kini kembali lagi dan tahu bahwa niat Alin adalah untuk mendapatkan Rey. Di mana Dhyo tahu bahwa Rey merupakan suami dari teman satu kampusnya. Dia tahu bahwa dulu Marwa pernah menjadi ejekan teman-temannya karena menggunakan cadar ketika kuliah. Bahkan saat itu juga dia pernah berusaha mendekati, akan tetapi perempuan itu justru menghindar ketika ada laki-laki yang mendekatinya.
Alin yang tidak peduli lagi dengan ucapan Dhyo waktu itu. “Dia milik aku, Yo,”
“Dia milik perempuan lain, Alin. Harusnya kamu sadar, kamu nggak pernah lihat ke aku, aku yang serius sama kamu,”
“Kamu nggak sebaik dia, Dhyo. Apa yang bisa aku harapin dari kamu? Apa yang bisa aku banggakan dari kamu?” bentak Alin ketika dia ingin mengirim pesan kepada Marwa karena tidak tahan lagi sejak beberapa hari ini Rey menghidar darinya. Seolah pria itu lupa terhadap dirinya.
“Alin, apa yang kamu lihat terbaik itu bukan hal yang tentu baik. Sekarang kamu bilang Rey baik. Tapi harusnya kamu sadar kalau dia itu milik orang lain, bahagia itu nggak harus rebut milik orang lain, Alin,”
“Apa peduliku sama ucapan kamu?”
“Alin, aku yang udah lebih dulu mencintai kamu. Tapi kamu justru berpaling dan memperjuangkan apa yang bukan menjadi milik kamu. Kamu justru akan merusak kebahagiaan orang lain demi ngasih makan ego kamu sendiri,”
“Dan apa pun yang kamu katakan, aku nggak peduli,”
Dhyo yang di sana tidak akan pernah membiarkan Alin melakukan hal bodoh itu. Dia mencintai Alin, dan dia juga tidak ingin jika Marwa dirusak kebahagiaannya oleh Alin. Bagaimanapun juga meski sempat menaruh hati kepada perempuan itu, dia tetap saja ingin Marwa bahagia dengan pasangannya. Dan kembali merebut Alin dari pelukan Rey, suami dari teman kuliahnya itu.
Alin berdiri kemudian meraih tasnya dan hendak pergi meninggalkan Dhyo yang sedang menemaninya makan siang. “Mau ke mana?”
“Ke kantor, Rey,”
“Bisakah kamu hentikan tindakan kamu itu? Apa yang kamu lakukan itu sudah salah, Alin. Apa yang kamu lakukan untuk membuat orang lain menderita bukanlah hal yang baik,”
Alin berbalik dan melepaskan cekalan tangan Dhyo yang berusaha untuk menahannya. “Lalu mengingkari janji adalah hal yang bagus untuk orang yang selalu nungguin kamu, Dhyo? Kamu bahkan pernah berjanji untuk tetap tinggal. Tapi setelah aku kembali untuk pertama kalinya, kamu ngilang gitu aja,”
Dhyo berdiri dan menghadap ke Alin. “Aku pergi untuk buktiin sama kamu bahwa aku serius. Aku persiapkan semua ini demi kamu, dan apa yang kamu lakukan? Alin, aku udah berusaha untuk terus berjuang untuk kita,”
“Aku butuh sosok yang lebih dewasa daripada aku, Dhyo. Dan itu ada pada Rey,”
“Aku seumuran sama Rey. Asal kamu ingat itu, dari aku masih sekolah, satu-satunya perempuan yang aku perjuangin dan saat itu kamu masih menjadi junior, aku udah mulai sayang sama kamu. Tapi aku masih tahan diri aku karena waktu itu kamu masih kecil, terus waktu itu kamu lulus SMA. Dan kamu bilang kalau kamu bakalan kembali buat aku, tapi lihat setelah aku berhasil dan siap untuk serius sama kamu, kamu justru sama orang lain,”
“Mana kamu yang janji bakalan nungguin aku? Justru kamu yang pergi Dhyo,” suara Alin meninggi kemudian mendorong tubuh Dhyo dari sana. “Terserah kamu mau bilang apa, satu hal yang harus kamu ingat, bahwa perasaan aku sama kamu enggak pernah ada. Bahkan dari dulu enggak pernah ada,” ucap Alin kemudian menghempaskan tangan Dhyo. Ia terlalu kecewa dengan semua ini. Pria itu pernah mengatakan bahwa akan menunggunya, akan tetapi dia kembali lagi untuk mencari Dhyo. Justru pria itu menghilang, tidak pernah mengabarinya lagi. Ketika dia sudah mencintai Rey. Justru Dhyo kembali lagi ke dalam hidupnya.
Melewati lobi, dan bertemu dengan beberapa karyawan Rey. Dia langsung masuk ke dalam ruangan pria itu tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. “Alin,” panggil Rey karena terkejut perempuan itu datang tiba-tiba.
Rey beranjak dari tempat duduknya dan perempuan itu langsung menyambar. Beberapa hari terakhir Rey menghindari Alin agar semuanya membaik. Mulai dari mencintai istrinya, akan tetapi usahanya runtuh seketika itu juga ketika melihat Alin datang menangis dan langsung memeluknya begitu saja. “Kamu kenapa?”
“Kamu ke mana aja? Kenapa kamu nggak pernah kabari aku? Kenapa kamu sama sekali nggak pernah ngerti sama aku? Kenapa kamu tega ninggalin aku?”
Rey tidak menanggapi apa yang diucapkan oleh perempuan itu. Setelah Alin melepaskan pelukannya, Rey duduk kembali ke tempatnya semula. Dia tidak mengizinkan siapapun masuk ke dalam ruangannya jika Alin yang datang. Itu sudah menjadi ketetapannya semenjak dia berpacaran dengan Alin. Satu sisi, ketika melihat fotonya bersama dengan Marwa di atas meja kerjanya. Rasa bersalah itu kian datang.
“Alin, kalau seandainya aku ngomong serius sama kamu. Apa kamu bisa nurutin ini semua?”
“Maksud kamu?”
Rey menatap Alin kemudian menggenggam tangan perempuan itu. “Maaf sebelumnya,”
“Kenapa? Kenapa kamu bilang maaf?”
“Ini demi aku dan anak aku, Lin. Bisa nggak kamu ngerti. Oke, pertama kita udah ngejalanin hubungan terlarang. Selingkuh dibelakang Marwa. Itu sudah salah besar,”
“Setelah apa yang kamu lakuin sama aku?”
Rey mengangguk. “Aku minta maaf,”
“Maaf? Kamu pikir semua ini selesai hanya dengan maaf? Pernah nggak kamu pikirin gimana rasa sakit perasaan aku,”
“Sakit kamu nggak sebanding dengan perasaan sakit yang dirasakan sama Marwa,”
“Semua ini kamu juga yang mulai, Rey. Kalau memang kamu nggak pernah mulai dengan mengajukan kita harus berteman, semua nggak bakalan kayak gini. Janji kamu mana mau nikahin aku, Rey?”
Dengan sangat menyesal dia tidak bisa melanjutkan itu semua. Rey harus menyelesaikan hubungannya dengan Alin. Itu semua karena rasa bersalah itu muncul di dalam dirinya. Apalagi setiap kali dia mencium perut istrinya. Di sana ada buah hati yang harus dia tanggung jawabi, harus dia rawat berdua. Andai saja dia tetap memilih Alin untuk tetap bertahan. Tentu saja ada hati yang akan hancur. Dan itu akan hancur sekaligus, dua perempuan hebat di dalam hidupnya akan hancur secara bersamaan.
Ketika melihat bayi kecil digendong oleh ayahnya, rasa itu muncul dalam diri Rey. Andai saja dia menyanggupi permintaan Alin untuk menceraikan Marwa nanti setelah melahirkan, tentu dia akan merasakan karma itu semua. Rey sendiri tidak ingin jika keluarga yang telah dia bangun akan hancur begitu saja.
Alin dengan sedikit emosi, “Kamu lupa sama janji kamu, iya?”
“Alin tolong ngertiin aku,”
****
Malam harinya, tiba di rumah orang tuanya. Rey langsung masuk ke dalam kamarnya dan membersihkan diri. Seperti biasanya, pakaiannya sudah disediakan di atas kasur karena dia harus mandi sebelum ikut bergabung makan malam.
Hari ini semua pekerjaannya telah tuntas. Maka dia butuh waktu bersama dengan istrinya berdua. Membicarakan mengenai aktivitas apa saja yang dilakukan seharian ini. Sudah sangat lama dia tidak berbincang dengan Marwa untuk perihal itu.
Seusai makan malam, Marwa memilih untuk pergi keluar dan duduk diayunan sambil menikmati langit malam dengan sedikitnya bintang berkelap-kelip di sana.
Pria itu keluar dari rumah dan ikut bergabung dengan istrinya. “Boleh duduk?”
Marwa mengangguk dan bergeser memberikan tempat untuk Rey. “Tadi jadi beli perlengkapan sama Mama?”
“Mama pergi sama Clara dan tante Viona,”
“Kamu nggak ikut?”
Perempuan itu menggeleng pelan. “Kata Mama nggak boleh,”
“Kenapa?”
“Mama bilang kaki aku bengkak. Jadi nggak boleh ke mana-mana,”
Dengan sedikit perasaan iba. Sudah begitu lama dia tidak mengawasi istrinya yang tengah hamil. Bahkan dia sendiri tidak tahu bahwa kaki istrinya bengkak seperti yang dikatakan oleh mamanya. “Mas boleh lihat?” ucapnya pelan kemudian berpindah tempat duduk agar bersebrangan dengan istrinya. Marwa dengan ragu memperlihatkan kakinya.
Rey mengangkat kaki istrinya dan ditaruhnya di atas paha. “Yang mana yang bengkak?”
“Bagian betis,” ucapnya pelan.
Tanpa ragu lagi, Rey mengangkat rok istrinya dan membuka kaus kaki istrinya kemudian melihat betis istrinya yang sedikit membesar tidak seperti biasanya. “Maaf ya, selama ini Mas nggak pernah tahu tentang ini,”
“Nggak apa-apa, Mas,”
“Lain kali kalau ada yang sakit ngomong ya! Mas nggak tahu kamu sakit atau gimana,” ucap Rey dan mengurut dengan pelan betis istrinya. Perempuan itu cantik, dan benar apa yang dikatakan oleh papanya. Apalagi yang membuat Rey terjatuh ke dalam perangkap Alin hingga membuatnya menyia-nyiakan istrinya yang jelita seperti Marwa. “Mama bilang kamu kemarin ngalamin kontraksi. Kenapa kamu nggak pernah cerita sama aku? Mama bilang itu adalah hal yang paling sakit,” lanjutnya.
“Kamu sibuk kerja. Keadaan perusahaan kamu lagi nggak baik. Jadi mana mungkin aku cerita di saat aku bisa kontrol itu semua,”
Rey tidak menanggapi hal itu. Tetapi dia membahas hal lain, “Uangnya cukup untuk beli semua keperluan?”
“Cukup banget,”
Rey kehabisan topi pembahasan. “Mas, setelah anak kita lahir, aku boleh kerja?”
Pria itu mengangkat kepalanya sambil terus mengurut betis istrinya dengan pelan. “Kenapa harus kerja?”
“Pengin aja, Mas,”
Dia tidak akan pernah setuju jika istrinya bekerja. “Nggak, kenapa harus kerja, aku masih sanggup untuk nafkahi kamu,”
Marwa terdiam, dia menarik kakinya agar Rey berhenti melakukan hal itu. “Aku ke kamar dulu ya, Mas. Makasih udah diurut. Aku mau rapiin barang-barang dan pakaian bayi yang dibeliin Mama tadi,” ucap Marwa.
Sejenak dia di sana setelah istrinya meninggalkan dirinya sendirian di ruang tamu. Rey baru ingat bahwa dua bulan lalu dia pernah mengatakan kepada istrinya agar mencari uang tidak menyusahkan suami. Dia benar-benar menyesal telah mengatakan hal itu. Dia langsung beranjak dari tempatnya duduk dan langsung berlari ke kamar mencari keberadaan Marwa.
Baru saja dia membuka pintu, istrinya sudah tertidur dan sudah merapikan pakaian bayi yang dimaksudnya. Di sana juga ada kasur kecil dan beberapa keperluan lain yang sudah disiapkan oleh mamanya.
Dia pun ikut bergabung ke atas ranjang dan mengecup kening istrinya sebelum tidur. Benar apa yang dikatakan oleh Om Dimas bahwa suatu kebiasaan yang dulu pernah membuatnya jatuh cinta akan mengembalikan perasaan yang pudar itu. Rey sadar bahwa kian hari perasaannya pudar. Akan tetapi dengan cara seperti itu, rasa bersalah dan menyesal itu sering menghampirinya.
Sebelum tidur, Rey mengambil ponselnya dan menghapus semua foto-foto bersama dengan Alin. Bahkan dia juga tidak segan untuk mengeluarkan kartunya dan mematahkannya begitu saja. “Karena kamu jauh lebih penting dari segalanya,” ucapnya kemudian tidur di samping istrinya dengan posisi memeluk dan mengelus perut istrinya.