
Reynand tengah belajar bersama dengan Fahmi di salah satu musholla yang tidak jauh dari rumah lelaki itu. Sengaja dia membawa Erlangga agar anak itu juga belajar dengan baik dan bisa lebih menghargai orang tuanya nanti.
Di dalam musholla dengan jamaah yang dipisah, Rey kini lebih fokus untuk belajar dibandingkan dengan hari di mana dia dipenuhi dengan pikiran kalutnya tentang seorang gadis yang sudah mengkhianatinya. Barangkali, dia akan benar-benar melupakan gadis itu dan tidak akan pernah kembali lagi nanti, belajar dengan baik agar orang tuanya tidak kecewa.
Satu jam lebih penceramah memberikan materi, dan kemudian pengajian selesai. Mereka semua pulang. Namun Rey dan Fahmi justru bercengkrama di dalam mushola hingga seorang ustadz menghampiri mereka.
"Lagi bahas apa kalian?" tanya ustadz tersebut dan bergabung bersama dengan remaja itu di sana. Sedangkan Erlangga ia suruh menunggu karena itu merupakan pembicaraan orang yang sudah cocok untuk umur. Sedangkan Erlangga masih belum cukup umur untuk mendengarkan curhatan Reynand.
"Ini ustadz, ada teman yang mau tanya perihal pasangan hidup gitu. Mungkin ada sedikit masukan dari ustadz untuk dia," ucap Fahmi sambil memberikan ruang kosong untuk ustadz tempat duduk.
Pria itu mungkin usianya sama seperti papanya. Namun untuk perihal agama, Rey masih mencarinya pada yang lain. Dia tahu bahwa papanya terlalu disibukkan dengan urusan pekerjaan. Jarang sekali dia bertanya perihal itu, walaupun sedikit demi sedikit juga papanya paham tentang agama karena masih menyempatkan diri belajar. Tetapi dia tidak ingin mengganggu istirahat papanya yang barangkali kelelahan. Dia menerima usulan papanya untuk pindah sekolah karena ingin menjadi lebih baik.
"Namanya siapa, dik?"
"Reynand ustadz,"
Pria itu mengangguk dan merangkul keduanya. "Jadi yang mau ditanyakan itu apa?"
"Bagaimana kalau seandainya saya mengharapkan seseorang untuk menjadi pasangan saya, tetapi dia memberikan luka yang teramat mendalam hingga pada akhirnya saya berada di tempat ini juga karena dia,"
"Maksudnya, patah hati?"
Reynand mengangguk malu karena dia sangat malu untuk menceritakan dirinya yang patah hati karena Bintang.
"Di usia muda apalagi remaja seperti kalian ini rentan banget ya kalau urusan hati. Lagi masa-masa pengin dekati sama lawan jenis gitu. Wajar sih kalau naksir sama orang kan ya, boleh juga loh berharap sama orang untuk bisa jadi pasangan hidup kita kelak. Tetapi satu hal yang harus di ingat. Semua itu ada di lauhul mahfudz, jodoh, rezeki, maut. Semua telah di tentukan oleh-Nya. Tugas kita di dunia menyiapkan diri untuk akhirat,"
Sejenak ustadz tersebut menarik napas panjang. "Ini kecewa karena ditinggalin atau gimana?"
"Dia pernah janji, tapi pada akhirnya dia ingkari janjinya sendiri dan buat saya menunggu,"
"Saya memilih untuk berhenti menunggunya karena waktu menunggu, dia tidak pernah datang. Dia selalu saja memberi harapan kepada saya, seolah dia menginginkan saya juga,"
Pria itu tersenyum. "Pernah dengar cerita Nabi Yusuf sama Zulaikha?"
Fahmi mengangguk, namun dia dengan Reynand. "Sekarang nih ya, semisal dik Rey berusaha untuk mengejar itu perempuan terus menerus, tanpa mengingat siapa yang telah menciptakan kita. Bahkan banyak hal yang mungkin melewati batas kita lakukan, fokus terus kan ya, sampai kita lalai terhadap tugas kita sendiri,"
"Bahkan saya berani membentak Mama saya sendiri, Ustadz,"
Pria itu mengelus punggung Reynand. "Begitulah cinta yang membuat orang buta, apa yang baik kadang kita jadikan buruk. Apa yang buruk kadang kita jadikan baik. Cinta itu terbungkus dengan sangat indah, kalau kata orang ya, tai kucing rasa cokelat. Ya udah suruh makan tai kucing pas lagi jatuh cinta, mau enggak mereka?" ucap pria itu sambil tertawa yang membuat Reynand dan Fahmi menggeleng bersamaan.
"Ketika dik Rey sudah berani membentak Mama. Melawan orang tua hanya karena cinta, tinggalkan! Cinta itu enggak buat orang baik jadi kurang ajar, hanya karena patah hati bukan berarti berani sama orang tua, dan kadang semua akan terlihat indah banget, wiih dunia serasa milik berdua, yang lain ngontrak, gitu kan ya. Kalau kita pikir-pikir emang cinta itu enak banget, seriusan. Tapi masa iya masa muda hanya untuk pacaran? Jujur saya pernah merasakan itu satu kali, dan saya menyesal pernah berharap banget dulu. Tahunya saya nikah sama orang lain yang bahkan enggak pernah saya duga akan menjadi jodoh saya, tugas kita itu untuk memperbaiki diri. Kita sebagai pria itu untuk mendidik kelak. Maka dari itu, belajarlah dengan baik. Sebagai calon pemimpin dalam rumah tangga, harus mencari ilmu. Bukan hanya untuk jodoh, tapi untuk akhirat juga. Untuk hadiahi orang tua,"
"Tapi bagaimana caranya saya meminta maaf terhadap Mama saya, ustadz?"
"Peluk, minta maaf. Apa yang selama ini dik Rey lakukan itu salah. Dan akui kesalahan, orang yang hebat adalah orang yang merasa dirinya salah ketika dia salah. Bukan dia yang salah, justru mencari pembenaran. Dan kita kembali lagi pada topik kita di awal, yang kita tahu itu Nabi Yusuf ganteng banget kan ya, sampai Zulaikha ini memiliki berbagai cara untuk mendapatkan cintanya beliau. Tetapi semakin dekat Zulaikha mendekati Nabi Yusuf, akan tetapi beliau semakin menjauh. Ada suatu hal yang Zulaikha sadari waktu itu, dia merasa hampa. Semakin dia mengejar, semakin jauh pula orang yang dia kejar, pada akhirnya ketika dia berusaha untuk mengejar cinta Allah. Tanpa di sangka-sangka, Allah gerakkan hatinya Nabi Yusuf untuk Zulaikha. Kita enggak pernah tahu jodoh kita siapa, tetapi ketika kita berusaha untuk memantaskan diri, berusaha untuk menjadi pantas agar Allah sandingkan kita dengan dia yang begitu baik. Ketika kita terus berharap, mengejar, kemudian kecewa. Semua menjadi kacau, kadang ada yang larinya ke alkohol. Pokoknya aneh-aneh gitu, ada yang bunuh diri karena patah hati juga. Ingat, kita semua punya Tuhan, tugas kita taat. Kita memang bukan manusia paling bersih, tetapi berusaha untuk menjadi manusia yang menjadi lebih baik lagi. Kadang Allah itu ngasih rasa patah hati yang sepahit-pahitnya, hanya karena Allah ngasih rasa sakit yang luar biasa pedihnya karena berharap pada manusia, bukan berarti Allah itu benci sama kita dan enggak mau ngasih kita apa yang kita harapkan. Akan tetapi barangkali Allah minta kita untuk mengerti dan lebih ingat kepada-Nya. Karena hanya kepada-Nya kita akan kembali. Berharap boleh, tapi jangan keterlaluan lah. Melebihi cinta kita kepada-Nya. Banyak orang yang menjalin hubungan bertahun-tahun, malah jadi tamu di pernikahan mantan. Banyak orang yang pandai menjalin hubungan bertahun-tahun, tapi ketika mempertahankan rumah tangga, banyak yang gugur. Di sini saya enggak mau menggurui, hanya saja kita belajar menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya, minimal itu aja deh dulu,"
Perlahan Rey mengangguk sambil mengusap wajahnya. Ingatan tentang dia membentak mamanya pun terngiang. Dia merasa sangat bersalah dengan kejadian itu.
"Terima kasih ustadz,"
"Do'akan saja dia diam-diam. Cinta dalam diam itu sakit banget, karena dia enggak pernah tahu bahwa kita mencintai dia. Tapi, ketika Allah menjawab doa kita dengan memberikan orang yang kita minta, bukankah itu adalah nikmat yang paling indah? Kadang emang enggak dikasih orang yang kita sebut namanya dalam doa, tapi pasti setiap yang dikirim Allah itu adalah orang yang sudah pasti menjadi pilihan-Nya. Apa yang kita anggap terbaik, belum tentu terbaik bagi Allah. Apa yang terbaik bagi Allah, tentu terbaik juga untuk hidup kita. Mari saling mengingatkan, memperbaiki diri. Kita semua punya dosa, punya kesalahan. Alangkah baiknya menyadari, dibandingkan mencari pembenaran saat salah, bukankah begitu?"
Kedua lelaki itu mengangguk. Terlebih Reynand yang merasa hatinya sedikit membaik, itulah mengapa dia tidak ingin bermain ponsel lagi. Dia hanya ingin menenangkan diri dan fokus belajar. Melupakan itu memang tidak mudah, tetapi bagaimanapun juga dia pernah merasakan kekecewaan yang begitu mendalam. Kita memang tidak bisa memastikan kepada siapa kita akan jatuh cinta, karena semua itu adalah tergantung hati. Bagaimana cara kita mengelolanya dengan begitu baik untuk seseorang yang pantas untuk dicintai, kelak.
*Barangkali masih banyak kekurangan yang belum disampaikan di sini. Tetapi berusaha sebaik mungkin author akan belajar lagi dan terus memperbaiki tulisan. Mohon maaf author bukan orang baik pula, jadi mengapa tulisan ini mulai dari dewasa, hingga Agama. Karena ini menyambung menjadi satu. Proses tidak baik menjadi baik. Dibandingkan dari baik kemudian menjadi buruk. Komentar di bawah ya, apa saja yang selama ini kalian bisa petik dari cerita ini. Enggak berharap semua suka, mungkin banyak yang bilang (Ah kayak sinetron, cepetan ending dong, dan sebagainya) Tapi Insya Allah chapter berikutnya masih panjang, ini hanyalah awal. Nanti akan jauh lebih menarik dan mungkin di sini, Rey banyak kecewa. Kedepannya, enggak bakalan lagi. Hehehe, jadi selamat menantikan ya. Jangan lupa tekan tanda love untuk terus mengikuti cerita ini. Biar tahu kapan authornya update.