RICH MAN

RICH MAN
JALAN TENGAH



Malam itu, Rey mendapatkan undangan dari omanya untuk makan malam bersama keluarga besarnya di rumah sang oma. Selama ini dia selalu saja menyembunyikan kemesraannya bersama dengan Marwa di depan keluarga yang lain. Berbeda halnya jika sudah berdua, dia akan lebih sering membuat istrinya kesal. Dan itu membawa dampak yang sangat baik bagi istrinya sendiri.


Suasana di rumah oma sudah mulai ramai dengan kehadiran adik-adiknya yang sudah lebih dulu datang. Baru saja dia masuk ke dalam rumah, kedua adiknya berlari menghampiri Marwa dan memeluk perempuan yang ada disamping Reynand. Dia pun mengerti tentang adiknya yang lebih dekat dengan Marwa. Semenjak kehadiran perempuan itu kedua adiknya lebih dekat dengan Marwa dibandingkan dengan dirinya seperti dulu.


Mereka berbincang di ruang keluarga sebelum makan malam karena menunggu Leo pulang bekerja terlebih dahulu. Rey tidak pernah menginap di rumah orang tuanya maupun di rumah sang Oma. Takut jika mereka tahu bahwa selama ini mereka berdua masih pisah ranjang. Akan tetapi Rey ingin bahwa dia akan membahagiakan Marwa seperti yang dia rencanakan dengan cara melupakan Bintang. Melupakan seseorang dengan menghadirkan seseorang yang baru memang bukan hal yang baik untuk itu, kadang itu merupakan suatu keegoisan yang mengakibatkan seseorang itu sakit.


"Assalamu'alaikum," Leo pulang sambil merenggangkan ototnya yang terlihat sangat lelah.


Semua orang yang ada di ruangan itu menjawab salam dari Leo dan pria itu berpamitan untuk ke kamar.


"Marwa sama Rey harus menginap malam ini Oma enggak mau tahu!"


Keduanya saling tatap, begitupun Rey yang terkejut dengan pernyataan Oma yang membuatnya sedikit tidak bisa menjawab ucapan itu.


"Oma, itu aku belum selesaiin pekerjaan tadi di kantor. Enggak bisa nginap di sini sepertinya," seka Reynand.


"Kamu selalu saja ada alasan setiap kali Oma suruh menginap, kamu ada masalah sama Marwa?" tukas omanya. Reynand dan istrinya saling tatap.


"Enggak Oma. Aku juga enggak bawa pakaian ganti,"


"Bisa pakai punya Clara," ucap Clara yang membuat Rey kesal dengan adik sepupunya itu.


"Mungkin lain kali aja, Oma," jawab Rey sedikit gugup.


Leo turun dari kamarnya sambil menggandeng istrinya yang tengah hamil besar. Marwa yang melihat itu langsung mengalihkan pandangannya.


Rey melihat istrinya yang sedari tadi menatap Amanda dengan tatapan yang melekat. Dalam benaknya apakah Marwa ingin seperti Amanda? Tapi pikiran itu langsung ia tepis. Bahkan hingga kini dia belum pernah menyentuh istrinya sama sekali, bagaimana mungkin dia berpikiran bahwa Marwa ingin hamil anaknya?


Ketika Oma mengatakan ke tempat makan, semua orang di sana langsung beranjak ke tempat makan dan mengambil posisi masing-masing.


Acara makan malam keluarga pun di mulai.


"Rey, sudah hampir dua bulan menikah. Apa enggak ada tanda-tanda Marwa hamil? Amanda dulu hamil cepat banget kok," ucap Oma.


Rey yang makan langsung tersedak. Bagaimana Marwa bisa hamil jika Rey sendiri belum pernah melakukan hubungan itu, jangankan hamil, membuka cadar istrinya pun Rey belum siap. Bahkan untuk bulan madu yang direncanakan itu batal karena Rey yang terlalu sibuk mengurus perusahaannya.


"Oma," panggil Rey pelan.


"Rey, Oma cuman pengin orang tua kamu juga bahagia kalau dengar istri kamu hamil. Oma juga pasti bakalan senang kalau dengar Marwa hamil,"


Leo melihat raut wajah Rey berubah seketika. "Mampus Kak, kalau sudah begini enggak bakalan bisa ngeles dari Oma," ucap Leo dalam hati yang melihat Rey langsung menundukkan kepalanya.


"Rey, kamu bisa konsultasi ke dokter," saran omanya.


Azka yang merasa anaknya sedikit berubah ekspresinya ketika mamanya bertanya seperti itu, dia tahu sendiri bahwa anaknya sedang berusaha untuk saling menerima satu sama lain dengan istrinya.


"Ma, sabar aja. Aku sama Nagita enggak apa-apa kok," ucap Azka memotong pembicaraan mereka.


"Azka, kamu juga sebagai orang tua harus lebih perhatian sama anak kamu, masa rumah tangga anak kamu sendiri kamu enggak tahu. Mungkin mereka punya masalah yang disembunyikan dari kamu, sampai mereka berdua bungkam. Mereka terlihat baik-baik saja itu karena perjodohan yang kalian lakukan, dan sekarang merek hanya pura-pura untuk baik-baik saja dengan hal itu,"


Marwa melepas sendok dan garpunya. "Maaf kalau aku belum bisa ngasih keturunan untuk kalian," ucap Marwa lirih.


Rey merasa hatinya sangat sakit mendengar pernyataan istrinya. Dia memejamkan matanya dan mengembuskan napas kasar. "Minggu depan aku sama dia bakalan bulan madu, enggak bakalan nunda lagi," ucap Rey yang langsung membuat orang di sana terdiam. Bahkan Azka yang hendak memasukkan makanan tiba-tiba menjatuhkan sendok karena terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Rey.


"Rey?" panggil Nagita.


"Biar kalian semua enggak nanyain hal semacam itu lagi, Ma. Mungkin memang benar aku butuh waktu berdua sama Marwa,"


Leo dan Nagita saling tatap. "Kak Rey mau bulan madu ke mana?"


"Entahlah, mungkin nanti di rencanakan sama Marwa,"


Acara makan malam pun selesai. Rey memilih untuk pulang terlebih dahulu. Nagita dan Azka masih berada di sana. Mungkin dia akan memberitahukan hal itu juga kepada mamanya agar tidak menanyakan hal yang tidak wajar kepada Rey.


"Mama, kenapa Mama ngomong gitu sama, Rey?" tanya Azka yang sedikit merasa kasihan terhadap putranya.


"Mama begitu biar dia sedikit lebih peka, Azka. Jadi mau sampai kapan mereka akan terus saling merahasiakan? Rey sudah terlalu banyak menyimpan rahasia dari Marwa. Kalau seandainya dia tahu lebih cepat, bukankah lebih baik?"


"Ma, Rey sedang berusaha untuk memulihkan ketakutan Marwa, kalau mereka berdua terlalu terburu-buru. Aku takut Marwa akan kecewa sama Rey,"


"Bahkan jika Rey tahu bahwa Marwa itu adalah Bintang? Begitu Azka? Kamu nunggu Rey tahu semua itu? Pernah enggak kalian mikirin gimana Rey? Kalau kalian hanya takut dengan kenyataan Rey kecewa, bagaimana nanti kalau dia tahu lebih lama lagi? Dia akan terus menyakiti hati istrinya dengan cara menghindar seperti itu, Azka," ucap Mamanya yang sedikit emosi.


"Oma, Kak Rey membantu Kak Marwa untuk pulih itu saja sudah syukur. Daripada Oma lihat dia abaikan istrinya,"


"Apa perlu Oma kasih tahu Rey kalau yang dia cari itu ada di sampingnya, Leo?"


"Oma jangan bertindak seperti itu!"


"Lalu apa salah Oma pengin lihat Rey segera punya anak?"


"Oma, bukan itu maksud aku. Aku cuman pengin Kak Rey itu tahu istrinya sendiri nanti, setelah dia sudah tahu bahwa Marwa itu adalah Bintang,"


"Semua akan semakin sakit, Leo. Kamu enggak bakalan pernah bayangin nanti, enggak masalah jika Rey tahu lebih dulu, dia enggak apa-apa tahu Marwa itu Bintang. Siapa tahu dia bisa bantu memulihkan ingatan istrinya ke masa lalu, pikirkan Rey. Pikirkan bagaimana Marwa, mereka berdua saling membutuhkan selama ini. Apa kalian akan terus menyembunyikan suatu kenyataan yang di mana itu sangat menyakitkan?"


Azka memilih mengalah dari mamanya dan tidak ingin memperpanjang perdebatan itu lagi.